Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Paket Dari Atika


__ADS_3

"Sita, aku pulang dulu. Terimakasih karena sudah menemani kami. Dan ini ada sedikit tips buat kamu. Di terima ya" Miana memberikan beberapa lembar uang berwana merah berisikan foto pertama Indonesia, bapak Soekarno dan Moh Hatta yang sedang tersentum sumringah di atas lembaran uang itu.


"Tidak nyonya, terima kasih atas semuanya" Desita menolek apa yang di berikan oleh Miana.


"Jangan menolek rejeki, tidak bagus" Saat berkata seprrti itu, tiba-tiba penanggung jawab restoran datang.


"Terima saja Desita, itu tips buat kamu karena sudah melakukan pelayanan terbaik mu" Lelaki itu berkata dengan senyuman di wajahnya. Akhirnya dengan perlahan Desita menerima uang tersebut.


"Terima kasih banyak nyonya" Desita menunduk sembari mengucapkan itu" Miana pun tersenyum. Iya segera berlalu menuju ke kasir untuk membayar semua hidangan yang tadi iya makan.


"Maaf nyonya, semua pesanan telah dk bayar oleh tuan yang tadi keluar duluan" Jawab seorang yang bertugas menjaga tempat kasir.


"Oh, Sudah di bayar ya. Kalau begitu, ini kompensasi untuk restoran ini karena Desita sudah menemani anak-anak saya" Miana kembali menyerahkan uang bercat merah beberapa lembar kepada kasir tersebut.


"Tuan yang tadi sudah memberikan juga uang itu nyonya" Kasir wanita itu menjawab lagi.


"Bagas sama Rendy emang bener-bener" Miana bergumam sendiri.


"Ya sudah, terima kasih" Miana meninggalkan kasir setelah iya tak jadi mengeluarkan uang sepeser pun. Iya segera berjalan keluar menuju ke arah pintu keluar. Sembari berjalan, matanya melirik ke kana dan ke kiri untuk melihat apakah mantan ibu mertua nya itu masih di sana atau tidak. Dan ternyata, setelah menyapu seluruh ruangan dengan pandangannya, bu Asti tidak terlihat sama sekali. Iya pun nelanjutkan perjalanan menuju ke parkiran, di mana Parlan dan anak-anaknya menunggu.


Di dalam restoran.


"Desita... Kamu tahu kenapa saya panggil ke sini? " Tanya lelaki yang tadi.


"Tidak tahu pak. Mungkin saya sudah melakukan kesalahan" Jawab Desita menunduk.


"Iya... Kamu telah melakukan kesalahan. Kamu tahu apa salah kamu? " Tanya lelaki itu.


"Tidak pak" Desita dengan cepat menjawab.


"Apa kamj mau tahu? " Desita yanh di tanyai hanya menunduk sambil mengangguk.


"Karena kamu baru datang dan bekerja di tempat ini" Ucap lelaki tersebut yang menbuat Desita mendongak.

__ADS_1


"Kamu tahu, sejak ada kamu di sini, penjualan resto ini benar-benar meningkat dengan signifikan." Ucap Lelaki itu kepada Desita.


"Ini bonus untuk kamu. Tapi jangan bilang-bilang kepada siapa pun. Apalagi teman-teman kerjamu di sini. Karena mereka akan iri dan akhirnya tidak suka kepada mu. Aku tidak ingin ada persaingan di antara kalian. Aku hanya ingin kalian bekerja dengan baik" Lelaki itu memnjelaskan kepada Desita.


"Tapi pak, kenapa hanya saya. Kan yang bekerja bukan hanya saya di sini" Desita seakan sungkan untuk menerima uang itu. Iya pun memberanikan diri untuk berkata.


"Mereka sudah saya siapkan sendiri. Jangan khawatir. Sekarang kamu keluar, panggikan tim bekerja mu. Dan ingat, jangan beritahu berapa nominal yang sudah aku berikan." Lelaki itu kembali memperingatkan Desita. Desita yang paham pun segera mengangguk.


"Keluarlah, srtelah itu panggilkan teman-temanmu kesini" Desita mengangguk dan segera berjalan keluar daari ruangan itu.


"Kalian di panggil" Ucap Desita begitu sudah berada di depan teman-temannya.


Pov Miana.


"Kenapa kamu merencanakan sesuatu ke Rendy? " Tanya Parlan.


"Iya... Aku melihat jika mereka berdua terlihat serasi. Desita juga sepertinya anaknya supel. Jadi aku ingin merencanakan sesuatu kepada mereka. Rendy itu sepertinya juga tertarik" Jawab Miana panjang lebar.


"Iya aku tahu. Semoga saja Desita tidak malu-malu lagi. Aku akan berusaha mendekatkan mereka." Ucap Miana.


"Aku akan membantumu. Aku akan mencari tahu tentang gadis itu." Parlan mengatakan.


"Oke.. Cari tahu tentang latar belakangnya" Miana menyetujui apa yang di katakan oleh Parlan.


Satu minggu kemudian.


'Tok tok tok'


'Tok tok tok'


Dua kali pintu gerbang rumah Miana di ketuk oleh seorang lelaki berhelm hitam. Orang tersebut menunggu dengan sabar ketika satpam menyahut namun belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Iya pak... Ada yang bisa saya bantu? " Tanya pak satpam ketika iya sudah membuka pintu gerbang.

__ADS_1


"Ini pak, hanya ingin mengantarkan paket atas nama Miana Damayanti" Ucap lelaki berhelm hitam yang ternyata adalah seorang kurir paket.


"Dari siapa ya pak? " Tanya Satpam ingin tahu.


"Ini di sini tertuliskan nama Atika Marcella" Jawab kurir.


"Baik pak, langsung saya terima saja" Ucap pak satpam. Setelah mendapat paket undangan tempo hari, Miana meminta kepada satpam untuk menerima paket yang datang dari orang yang di kenalnya, kecuali paket COD.


"Baik pak, ini paketnya. Saya minta foto terlebih dahulu ya" Satpam tersebut mengangguk mengizinkan pak kurir untuk mengambil foto dirinya yang sedang memegang paket.


"Sudah pak, terima kasih" Kurir tersebut langsung pergi meninggalkan aatpam setelah menyapanya.


"Baik, mari pak" Dengan sopan pula satpam tersebut menjawab.


Setelah menutup pintu gerbang kembali, Satpam itu menuju ke rumah Miana.


"Permisi nyonya, ini ada paket untuk anda" Pak satpam yang sudah bertemu Miana segera memberikan paket yang di pegangnya. Iya menyerahkan paket tersebut.


"Dari siapa? " Tanya Miana.


"Dari kakak anda nyonya. Nyonya Atika Marcella." Jawab satpam dengan suara pelan.


"Baik, mana" Miana yang duduk di sofa berdiri lalu menerima paket tersebut. Di bacanya tulisan sebuah nama pengirim.


"Atika Marcella" Gumam Miana ketika membaca paket di tangannya.


"Ngirim apa sih. Tumben banget" Tangan Miana bergerak menyobek lakban plastik bening yang mengcover paket tipis di tangannya. Karena tidak bisa untuk merobak plastik itu, Miana bergegas mencari gunting untuk memotongnya. Iya berjalan menuju meja di mana gunting berada. Matanya menyapu seluruh sudut meja. Namun gunting itu belum juga di temukan. Hingga akhirnya, Miana berjalan menuju ke maja satunya. Di sana iya melihat sebuah gunting berada di tempatnya. Dengan cepat Miana berjalan menghampiri meja itu. Mengambil gunting dengan perlahan dari tempatnya agar tak ada barang lain yang terjatuh. Miana perlahan-lahan mengarahkan guntingnya keblakban bening di paket yang masih di pegang nya itu.


Perlahan paket terbuka. Sedikit demi sedikit iya mampu melihat apa isi paket tersebut. Sebuah kertas berwarna ungu bertuliskan kata-kata yang membuat Miana hampir saja berteriak. Namun iya memastikan dengan benar. Sekali lagi, Miana membaca dengan seksama.


"Mama, kita sudah siap" Tiba-tiba suara Dara dan Jelita membuat Miana harus menyembunyikan paket yang baru saja di terimanya. Iya memasukkan kembali kertas berwarna ungu itu ke dalam plastik pembungkusnya. Setelah langsung melemparkan ke meja. Iya langsung fokus kepada anaknya.


"Sudah ya. Ayuk kita berangkat." Miana berkata kepada kedua putrinya. Mereka berangkat. Dan Miana mengabaikan paket dari kakaknya demi tak di ketahui oleh sang anak.

__ADS_1


__ADS_2