
" Miana jangan asal mencubit saja. kamu tahu aku sedang mengemudi. Kalau sampai terjadi apa-apa kita berdua adalah korban. Tapi kamu adalah pelaku utama, tersangka tak terlihat" Parlan berpura-pura marah kepada Miana.
" Dikit doang Hihihi" Miana menutup mulutnya ketika tersenyum. Iya Pun kembali duduk dengan benar di kursinya. Sedangkan para kali ini bisa mengemudi dengan leluasa.
" Kalau kamu sedang galau jangan ngajak-ngajak aku dong. Akunya orangnya selalu siaga. Kalau bekerja salalu dengan profesional." Parlan masih tak bergeming untuk menatap Miana. Iya tetap fokus pada mobil yang iya kemudikan dan ke jalanan.
"Tumben marah... Sensitif amat yak" Miana tersenyum menanggapi Parlan yang tak mau melihat dirinya sama sekali.
" Sebentar lagi kita sampai. Jangan mencoba untuk mengganggu" peran masih dalam mode marahnya. Entah itu dia marah beneran atau hanya berpura-pura.
" hahaha Parlan kamu lucu banget deh kalau lagi marah." Miana Malah semakin mengganggu Parlan. dan akhirnya tak lama Setelah itu, mereka telah berhenti tepat di depan sekolah Dara dan Jelita.
Pov Atika.
" Aku tidak peduli dengan tanggapan orang-orang kepadaku. Entah itu saudara ataupun orang tua. Yang pasti aku hanya ingin bersamamu. Dan hal yang aku inginkan benar-benar sudah terjadi" ucap Atika sembari duduk di atas sofa di dalam kamar sambil menonton televisi.
" Kita akan menjalani semua ini apapun konsekuensinya." Prasetyo menanggapi Apa yang diucapkan oleh Atika.
" Sayang, kita harus segera meresmikan pernikahan ini. Kamu harus segera menceraikan Miana. Aku tidak ingin mereka menjadi penghalang diantara kita. Kamu adalah untukku. kamu milikku seorang" Atika merasa rakus untuk memiliki Prasetyo.
" Apa kita lakukan saja pernikahan itu di sini. Tapi setelah aku sudah mendapatkan akta cerai" Prasetya menatap Atika sembari mengatakan idenya.
" Kalau begitu segera urus saja semuanya. Jangan berbelit-belit dan jangan pernah mempersulit keadaan. Aku akan menantikan hari bahagia kita sebagai suami istri yang sah secara hukum dan agama" Atika merasa Jika dia benar-benar berhak atas diri Prasetyo yang saat ini bersamanya. Tanpa memikirkan kedua anak Prasetyo yang juga membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah. Mereka lupa jika apa yang mereka tanam akan mereka panen hasilnya.
" Jangan khawatir... Aku akan segera mengurus semuanya." Prasetyo menjawab dengan senyuman yang penuh arti. Hingga membuat Atika benar-benar tersenyum puas mendengar jawaban itu. Mereka pun kembali bersantai Ria dengan menonton televisi. Sombil memegang satu toples cemilan, mereka tidak ingat akan orang-orang yang sudah mereka sakiti. Dan dalam hal ini, ada banyak hati yang terluka atas keputusan yang mereka ambil.
__ADS_1
Prasetyo mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak di sampingnya. Iya mencari nomor seseorang yang akan disuruh untuk mengatur semua untuk melancarkan rencananya itu.
" Iya tuan" suara dari seberang telepon menjawab Prasetya setelah ia menjawab panggilan tersebut.
" Aku ingin kamu mengurus surat cerai untuk istriku. Aku tidak ingin kamu bekerja begitu lama. Melakukan apapun dan berikan berapapun yang mereka minta asal aku bisa mendapatkan Surat cerai" tanpa basa-basi Prasetyo meminta hal buruk tersebut kepada seseorang di seberang telepon.
" Baik Tuan Prasetyo saya akan mengurus semuanya secepat mungkin" Prasetyo mengangguk mendengar jawaban tersebut.
" Tapi tuan, dalam hal seperti ini setidaknya kami membutuhkan buku nikah untuk melancarkan semua proses" orang tersebut pun meminta buku nikah Prasetyo dan miana.
" Jangan khawatir untuk masalah itu, nanti akan ada orang yang mengantarkan ke kantor. Kamu tunggu saja di sana" Prasetyo seakan sudah benar-benar bertekad bulat untuk menceraikan Miana yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Iya pun juga tidak memikirkan hal tentang kedua putrinya, Dara dan Jelita.
Dan di sampingnya, terlihat Atika yang senyum-senyum sendiri mendengar percakapan antara Prasetyo dan orang yang dihubunginya itu.
" Aku tidak menyangka kalau kamu akan bertindak secepat ini sayang" Atika dengan bangga menyatakan itu kepada Prasetyo.
"Sekarang cepat hubungi tante Aya. Minta kepadanya untuk menyerahkan buku nikah yang sudah iya ambil kepada orang suruhan ku. Aku sudah menghubungi nya. Supaya semua cepat selesai." Prasetyo menyuruh Atika. Dan Atika pun segera melakukan apa yang di katakan oleh suaminya.
Beberapa hari kemudian.
'Tok tok tok' Suara pintu gerbang di ketuk. Satpam yang berada di sana segera mendekat.
"Mohon maaf pak. Ini ada paket atas nama Miana Damayanti" Seorang kurir berkata kepada satpam yang telah mendekat tersebut.
" Sebentar ya Pak, saya harus menanyakan dulu kepada ibu Miana yang bersangkutan" satpam tersebut segera pergi setelah mendapat anggukan dari sang kurir.
__ADS_1
Di depan pintu rumah Miana, satpam tersebut mengetuk pintu.
'Tok tok tok'
"Nyonya Miana." Panggil satpam yang saat ini berdiri di depan pintu. Iya menunggu Miana datang untuk mengkonfirmasi paket yang saat ini berada di depan.
" Pak satpam ada apa? " setelah Miana keluar karena mendengar panggilan dari satpam tersebut. Iya segera bertanya ada apa.
" Anu nyonya... Di depan ada paket atas nama Nyonya miana Damayanti. Diterima atau tidak? " Tanya satpam tersebut saat miana sudah berada di depannya.
" Paket dari mana ya? " tanya Miana yang merasa tidak memesan apapun.
" Paketnya COD atau tidak ya? " Miana kembali bertanya.
" sepertinya tidak nyonya, soalnya tadi kurir yang mengantarkan mau langsung memberikan dan ingin segera ditinggal pergi. Saya menolak karena saya harus memberitahu Nyonya terlebih dahulu" Pak satpam tersebut dengan sopan memberitahu Miana.
" Terima saja deh Pak. Biar nanti saya lihat Apa isinya" Miana menyuruh satpam tersebut untuk menerima saja paket yang datang itu. Dan satpam tersebut pun menganggap sambil menjawab iya. Setelahnya ia berlalu dari hadapan Miana untuk mengambil paket yang datang itu.
Tidak ada 5 menit, satpam yang tadi berlalu untuk mengambil paket kini telah kembali.
"Ini Nyonya paketnya" sambil menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Miana, orang tersebut mengatakan.
" Terima kasih ya Pak. Bapak bisa kembali ke pos satpam" setelah menerima amplop coklat tersebut, Miana mempersilahkan satpamnya untuk kembali berjaga lagi di depan. Miana merasa terkejut dengan apa yang tertulis di luar amplop coklat yang kini sedang dipegangnya itu. Sekali lagi ia membaca dengan seksama.
" Aku tidak salah membaca kan? ini benar-benar surat kiriman dari pengadilan negeri. Apa mereka salah kirim atau bagaimana ya? " Miana dengan segera membuka segel yang mengunci amplop coklat tersebut. Dengan perlahan ia mengeluarkan sebuah surat dari dalamnya. Dan betapa terkejutnya miana ketika membaca isi dari dokumen yang dikirim oleh Prasetyo kepadanya.
__ADS_1
" Surat undangan sidang cerai? " seakan tidak percaya dengan kenyataan yang saat ini benar-benar terjadi. Miana mengulangi membaca tulisan yang tertera di atas lembaran yang berada di dalam amplop coklat tersebut.