
" Miana... Kamu Berharga. pakailah ini" Parlan membuka lipatan kerudung berwarna coklat susu dan langsung memakaikannya kepada Miana. Miana pun tersenyum lalu menunduk.
"Ah, bagaimana aku bisa melupakan kerudung sih" Miana tersenyum kikuk. Iya malu kepada Parlan karena lupa untuk membeli kerudung.
" Aku tahu kamu sedang banyak pikiran. masa iya hal seperti ini saja kamu bisa lupa" kali ini Parlan berkata sedikit memprovokasi Miana yang berada di sampingnya.
" namanya juga orang lupa, Ya sudah pasti tidak ingat lah" Miana masih punya alasan untuk membantah Parlan.
" Udah udah ayo kita berangkat." Parlann pun melajukan mobilnya ke Jalan Raya kembali. Sekitar 10 menit perjalanan menuju ke makam.
Langkah kaki Miana terayun ketika ia telah turun dari mobil sambil menggendong Devan dalam pelukannya.
" Miana biar saya yang menggendong Devan. Kamu ke sanalah terlebih dahulu" Parlan meminta Devan dari Miana. Miana pun mengangguk sambil menyerahkan Devan kepada Parlan. Dia langsung berjalan menuju tempat di mana makam ayahnya berada. Namun Parlan malah berjalan berlawanan arah dari Miana. dan miana pun tidak menyadari akan hal itu.
" Bu saya mau bunganya satu, Berapa ya? " Parlan mencari Tukang bunga yang biasanya berjualan di sekitar makam. Iya langsung menanyakan harganya.
" 25.000 saja tuan" jawab penjual bunga tersebut sambil tersenyum. Parlan meletakkan uang berwarna biru di atas bunga-bunga yang berjajar di atas meja.
" sayang mengambil dua ya" setelah itu Parlan pun pergi kembali mencari Miana.
Sesampainya di makam tempat ayah niana berada, Parlan meletakkan bunga yang baru dibelinya di samping Miana. Parlan memandang ke arah Miana yang menunduk menatap ke tanah di depannya. Terlihat air mata miana menetes membasahi pipinya.
" inilah Kenapa wanita dimakruhkan untuk datang ke makam" Parlan berkata seperti itu untuk membuat Miana terdiam.
" Maaf Parlan aku sangat merindukan ayah. Aku tidak bisa membendung air mataku untuk tidak mengalir " Miana meminta maaf kepada Parlan karena menangis.
__ADS_1
" Tidak masalah... Sekarang hapus air mata kamu, setelah itu kirimkan doa untuk ayah. Lalu taburkan bunga ini di atasnya." Parlan sudah seperti kakak kandung yang siap menemani adiknya dalam suka maupun duka. Miana pun mengangguk dan mengusap air matanya ketika Parlan selesai mengucapkan kalimatnya. Selebihnya Ia melakukan apa yang dikatakan oleh Parlan.
Hampir 10 menit Miana berdo'a, Parlan tak berani mengganggu sedikitpun. Iya malah sedikit menjauh agar Miana bisa khusyu' dalam berdo'a. Begitu selesai, Miana menaburkan bunga di atas pusara sang Ayah.
"Ayah... Semoga Allah memberikan tempat yang terbaik untuk ayah. Aku sangat merindukan ayah" Miana mengusap air matanya lalu bangkit setelah mengucapkan itu.
"Parlan, ayo! " Miana memanggil Parlan.
"Tolong ajak Devan sebentar ya. Saya juga ingin mengirim do'a untuk tuan" Parlan menyerahkan Devan ke Miana. Dan iya berjalan mendekat ke arah makam.
"Assalamu'alaikum ya ahli qubur" Ucap Parlan kembali setelah iya sudah mengatakan.
"Tuan... Saya tahu anda melihat semuanya. Tapi saya sudah berjanji untuk menjaga Miana. Anda jangan Khawatir" setelah mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya, peran mengirimkan doa untuk ayah miana. begitu selesai Ia pun menaburkan satu bungkus bunga ke atas makam tersebut. setelah itu iya berdiri dan mundur untuk pergi. Iya mendekati Miana yang memandangnya sambil menggendong Devan, Sang putra.
" Ayo... Berikan Devan kepadaku biar aku yang menggendongnya" Parlan meminta agar miana memberikan Devan di gendong dia sendiri. Namun Miana menolak permintaan Parlan.
" Baiklah, tapi nanti pulang capek jangan nyalahin aku ya" Parlan pun berjalan terlebih dahulu. begitu sampai di mobil, ia membukakan pintu untuk miana.
" Apa Devan sudah makan Parlan? " tanya Miana ketika mobil sudah berjalan.
" Tadi dia hanya minum susu, karena saat saya suapin dia belum mau" Parlan berkata jika anaknya memang belum sarapan.
" Apa sebaiknya kita cari bubur dulu untuk Devan? " Miana bertanya.
" Iya nanti kalau ada bubur, biar saya berhenti" Parlan menjawab sambil fokus ke setir yang dikemudikannya. Mereka pun kembali ke rumah miana.
__ADS_1
Pov Prasetyo
" Jadi kalian tidak bisa mengatasi semua permasalahan yang ada? " dalam rapat yang diadakan dadakan pagi ini, Prasetyo mengumpulkan seluruh staff it dan seluruh direktur yang berada di kantor cabang.
" Maaf Tuan Prasetyo, jadi dari kemarin kami sudah berusaha dengan keras untuk menstabilkan sistem yang error tersebut. namun pada kenyataannya Semua usaha kita sia-sia saja" jawab Salah satu direktur staff it.
" kalau begitu Apa gunanya aku mempekerjakan kalian semua di sini. kali aku kira kalian begitu kompeten dalam menghadapi semua masalah yang ada. Namun nyatanya seperti yang kamu bilang barusan, semuanya sia-sia " ucapan Prasetya terdengar begitu marah.
" Kalau kalian tidak bisa menyelesaikan seluruh masalah yang ada, lebih baik kalian buat surat pengunduran diri" begitu Prasetyo menyelesaikan kalimatnya, keluar dari ruangan meeting. mendengar apa yang dikatakan oleh Prasetyo, seluruh yang hadir di ruangan itu merasa kecewa. tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Belum sempat hilang rasa kekecewaan karena apa yang diucapkan oleh Prasetyo. Kini mereka harus menanggung rasa kecewa yang lebih dalam ketika mendengar ucapan Tuan Adi dan Nyonya Asti.
" Dasar kalian semua tidak berguna berada di sini. Percuma kita membayar kalian menggaji kalian setiap bulan. Ada masalah seperti ini saja kalian tidak bisa menyelesaikan. Apa saja sebenarnya pekerjaan kalian selama ini" tiba-tiba pintu terbuka, lalu Tuan Adi dan Nyonya asli masuk sambil mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya iya ucapkan di depan para karyawan. Tak ada satupun karyawan yang berani menjawab. Karena mereka tahu mereka tidak bisa menyelesaikan masalah seperti ini. Namun dalam hati kecil mereka juga merasakan sakit hati karena umpatan nyonya Asti.
" Lebih baik kalian semua pergi dari sini." kali ini Tuan Adi yang berkata. Akhirnya seluruh karyawan berdiri dan perlahan-lahan mereka keluar dari ruangan meeting.
Karena melihat dalam ruangan itu sudah tidak ada siapapun kecuali mereka berdua, Tuan Adi dan Nyonya Asti pun keluar. Mereka berjalan menuju ke ruangan Prasetyo.
" Prasetyo apa sebenarnya yang telah terjadi. Kenapa seluruh kegiatan di perusahaan ini harus berhenti" tanya Tuan Adi kepada putranya yang saat ini duduk termenung memikirkan sesuatu di kursi kebesarannya.
" Aku juga tidak tahu yah. Tiba-tiba saja seluruh sistem kita terkunci secara permanen. Dan seluruh staff it tidak bisa membukanya. Jelas ini bukan masalah kecil yang terjadi. Kita sudah kehilangan perusahaan ini. Kerugian kita sudah tidak dapat dihitung." jawab Prasetyo dengan suara yang lemah.
" Kenapa Perusahaan kita bisa hancur dalam hitungan detik. Apa semuanya terjadi karena disengaja? " Tuan adik tiba-tiba berkata seperti itu. dan membuat Prasetyo menoleh kepadanya.
" Maksud Ayah ada seseorang yang dengan sengaja ingin menghancurkan Perusahaan kita" katanya Prasetyo dengan mata menelisik ke wajah ayahnya.
__ADS_1
" Itu yang ayah pikirkan saat ini" mendengar obrolan anak dan suaminya, bu Asti hanya bisa terdiam. Iya bahkan tidak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka bahas.