Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Prasetyo Kecewa


__ADS_3

Melihat Dara dan Parlan yang semakin dekat, membuat Prasetyo semakin malu. Namun tidak dengan Atika. Yang merasa semua yang dia lakukan adalah kebenaran, dan tidak ada yang salah sedikitpun.


" Jangan sembarangan berbicara ya Dara. bagaimana pun juga Prasetyo ini tetap papa kamu. Kamu tidak boleh berkata seperti itu" kali ini Atika berkata kepada Dara yang terlihat begitu memendam emosi.


" Oh ya... Jadi ini yang menjadi Ibu tiriku sekarang. Saya Ikhlas Bude kalau Papa memang harus Budhe ambil. Kami tidak keberatan tidak memiliki papa yang tidak bertanggung jawab seperti dia" ucapan Dara membuat Prasetyo semakin syok. Ia menatap ke arah Miana seolah meminta penjelasan.


" Aku tidak pernah mengajari anak-anak untuk membenci siapapun. Dan kalau mereka bisa berbicara seperti itu di depan kalian, berarti Dara sudah mengerti mana hal yang menyakitinya dan mana hal yang membuatnya nyaman" Miana berkata dengan sangat Ketus pada Prasetyo dan Atika.


" Kamu itu seharusnya menghormati kami sebagai kakak kamu. Bukan malah berkata yang tidak mengenakkan di telinga" Atika membalas Apa yang diucapkan Miana dengan berteriak.


" Kalau kalian ingin dihormati sebagai seorang kakak, maka kalian juga harus tahu bagaimana cara menyayangi adiknya" Miana tak mau mengalah.


"Mama, kita pulang saja. Kepala Jelita pusing kalau mendengar mereka bicara" Seolah tak ingin mendengar apa pun yang dikatakan oleh Atika dan Prasetyo, Jelita meminta kepada mamanya untuk segera pulang saja.


" Sayang, kalau kepalamu sakit lebih baik kita masuk lagi untuk diperiksa oleh dokter ya" Miana menanggapi bahwa apa yang diucapkan oleh Putri bungsunya itu benar-benar.


" Jelita tidak apa-apa mama. Sekarang


kita pulang saja ya" Jelita meminta untuk pulang saja daripada harus berada di tempat yang sama dengan ayah dan ibu tirinya.


"Ya sudah... Lebih baik kita pergi saja dari sini mah, daripada adik aku sakit lagi karena melihat dia" Dara berucap dengan nada yang Ketus. Miana Tak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh anak sulungnya itu.


" Miana... Jadi apa yang dikatakan oleh Mama itu benar. kalau kamu berselingkuh dengan salah satu pimpinan AIA Corporation. buktinya Sekarang kamu sedang bersama Bagas. Orang kepercayaan AIA Corporation" Prasetyo yang merasa tidak bisa langsung mendapatkan apa yang ia inginkan, langsung menuduh Miana ketika melihat Jelita berada dalam gendongan Bagas.


" Apa yang dikatakan oleh orang tuamu itu tidak ada yang benar. Dan aku sudah pernah mengatakan kepadamu sebelumnya. Kalau kamu lebih percaya kepada orang tuamu daripada aku, itu urusan kamu. Dan Saya, bahkan tidak peduli dengan prasangka buruk yang ada di otakmu saat ini" Miana dengan santai menjawab apa yang dituduhkan oleh mantan suaminya itu.


" Lihat saja, sekarang kamu sudah pandai menjawab" Prasetyo berkata untuk mencibir Miana.


" Kalau aku pandai menjawab, Apakah semua ini harus menjadi urusan kamu? Apa kamu tidak sadar diri, aku sudah bukan istrimu lagi" Miana merangkai kata yang terakhir dengan sedikit penekanan.


" Jadi kamu menyetujui pemutusan perceraian itu hanya demi laki-laki lain? " Ucap Prasetyo lagi.


"Apa kamu masih peduli kalau aku menyetujui perceraian itu dengan cepat hanya demi laki-laki lain?" Miana menjawab apa yang dituduhkan oleh Prasetyo kepadanya.

__ADS_1


" Yang Bahkan di saat aku masih menjadi istri sahmu saja, kamu sudah tidak peduli denganku dan anak-anak. Lalu di mana letak kesalahanku sehingga kamu masih merasa berhak atas diriku" Miana sudah tak peduli lagi berapa banyak orang yang menyaksikan obrolannya dengan mantan suami brengsek nya itu. sedangkan Prasetyo masih terdiam. mungkin iya Masih memikirkan alasan apalagi yang akan ia katakan untuk menyalahkan miana.


" Mama ayo... ini sudah malam, kita tidak seharusnya membuang-buang waktu di sini hanya untuk menanggapi lelaki tua yang mengaku sebagai Papaku itu" ucapan darah tidak kalah sengit dari apa yang dikatakan oleh miana. sehingga apa yang diucapkan oleh dara, jauh lebih menyakitkan daripada miana.


" Jangan pernah lagi memperlihatkan diri di hadapan kita. Aku sangat membenci papa" saat berada di dekat Prasetyo, cara mengucapkan hal tersebut. akhirnya darah dan semua yang berada di sana pergi meninggalkan Prasetyo dan Atika. Prasetya mengepalkan tangannya menahan emosi dan sakit hati karena ucapan Putri sulungnya.


"Prasetyo... Kamu baik-baik saja? " Atika yang sejak tadi melihat perdebatan antara miana dan Prasetyo kali ini berkata setelah mantan istri dari suaminya itu pergi. sang adik terlihat lebih garang dibandingkan sebelum ia merebut Prasetyo dari pelukan miana.


" aku baik-baik saja. sekarang ayo kita pergi dari sini mencari martabak yang kamu inginkan tadi. wajah Atika terlihat begitu bersemangat ketika mendengar Prasetyo akan membelikan Apa yang sedang ia inginkan. mereka berdua pun meninggalkan Rumah Sakit dengan perasaan kecewa, terutama Prasetyo yang tidak bisa menemui anak-anaknya.


" aku akan membuatmu menyesal miana" gumam Prasetyo di dalam hati ketika ia memasuki mobil untuk pulang.


Pov Miana.


" Dara Tadi kenapa kok ikut ke sini. Mama kan sudah menyuruh Dara untuk di rumah saja supaya tidak capek" tanya Miana ketika ia memasuki mobil.


" Mama lupa ya, bagaimana mama bisa pulang kalau ada di rumah saja. Tadi Dara minta sama Om Parlan supaya mengantarkan Dara ke rumah sakit untuk menjemput mama" penjelasan Dara membuat Miana tersenyum bangga kepada putri sulungnya itu. Bagas dan Parlan ikut tersenyum ketika mendengarnya.


"Om Bagas kok ikut kita? " Tanya Jelita tiba-tiba.


"Sungguh? Apa aku akan punya papa baru lagi? " Kepolosan Jelita membuat Bagas begitu bahagia. Ternyata kedua anak itu menerima dirinya.


"Iya sayang. Om Bagas bakal jadi papa kalian" Sahut Miana. Dan mereka pulang ke rumah dengan perasaan gembira.


2 Minggu kemudian


Pemutusan penyerahan harga gono gini serta hak asuh anak telah selesai di lakuKan. Miana telah memberikan semua yang menjadi hak prasetyo. Prasetyo menerima semuanya tanpa memprotes sedikitpun. Iya tak berani membantah karena Miana di temani oleh pengacara tersohor atas bantuan Bagas, calon suaminya.


"Pokoknya aku mau semuanya atas nama aku" Atika merengek meminta semua harta yang di miliki oleh Prasetyo di ubah atas namanya.


"Jangan sekarang ya sayang. Kalau waktunya sudah senggang, aku pasti akan menuruti apa keinginanmu." Ucap Prasetyo masih memikirkan semua yang di minta oleh Atika.


"Apa susahnya sih. Aku sedang mengandung anak kamu lo. Masa kamu ngga percaya sama aku? " Atika merajuk ketika apa yang di inginkannya tidak di turuti oleh Bagas.

__ADS_1


"Ya sudah kalau kamu ngga mau" Atika berdiri lalu berjalan meninggalkan Prasetyo.


"Baik-baik" Prasetyo menarik lengan istrinya yang sedang hamil itu.


"Baiklah... Aku akan mengurus kepemilikan balik nama sesuai yang kamu mau" Saking cinta nya Prasetyo kepada Atika. Membuat iya tak tega untuk tidak meuruti semua keinginan aang istri.


"Sungguh? " Atika baru bisa tersenyum ketika Prasetyo mengatakan itu. Dan prasetyo mengangguk untuk metakinkan sang istri. Tanpa memikirkan bahwa iya memiliki anak-anak yang harus di nafkahi. Anak-anak yang masih menjadi tanggung jawab nya.


5 Bulan Kemudian.


Dengan perawatan ekstra dari semua dokter recomendasi dari Bagas, membuat Jelita lebih cepat sembuh. Kini Jelita sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat. Dan rencana pernikahan Bagas serta Miana sudah semakin di ujung mata.


"Apa undangan sudah di sebar semuanya? " Tanya Bagas kepada Miana ketika mereka bertemu.


"Sudah" Senyum manis terukir di bibir Miana. Menambah kesan cantik yang tidak akan pernah membuat Bagas bosan untuk menatapnya.


"Jangan melihat aku seperti itu" Miana melambaikan tangannya untuk menutupi mata Bagas agar tak mrnatapnya lagi.


"Apa aku salah menatap calon istriku yang begitu cantik? " Sambil memindahkan telapak tangan Miana, Bagas berkata.


"Kita belum halal" Miana mengatakan itu sambil menunduk.


"Insya Allah besok 2 hari lagi menuju halal. Apa kamu siap? " Tanya Bagas. Iya mendekatkan wajahnya ke arah telinga Miana. Membuat Miana semakin merasa malu.


"Siap apa? " Tanya Miana seakan tak mengerti.


"Siap untuk memulai hidup baru denganku" Kata-kata Bagas membuat Miana tak berhenti tersenyum. Hatinya tak berhenti berdebar ketika Bagas merangkai kata demi kata untuk merayunya.


"I love you... Jangan pernah berubah ya. Mari kita menua bersama" Bisik Bagas di telinga Miana.


"Jangan dekat-dekat" Miana mendorong Bagas untuk sedikit menjauh.


"Apa sih" Bagas tersenyum bahagia menatap Miana yang seolah malu-malu. Mereka segera pulang setelah semua urusan selesai.

__ADS_1


"Akhirnya aku akan memiliki kamu seutuhnya" Gumam Bagas membuat Miana semakin tersenyum.


__ADS_2