
"Mama tadi ada paket ya? " Tanya Dara.
"Iya nak. Tadi mama ngeceknya belum benar-benar paham. Kalian sudah datang" Miana tidak berbohong kepada sang anak karena hal sepele.
"Memangnya mama beli di online apa? " Tanya Jelita penasaran.
"Mama ngga beli apa-apa nak. Tadi itu pekat dari budhe kalian" Miana sebenarnya ragu mau mengatakan hal ini. Namun iya tak ingin terus menyembunyikan kebenaran dari kedua anak nya.
"Budhe Tika? " Kini Dara yang bertanya dengan serius. Dan Miana mengangguk.
"Paket apa dari budhe. Kenapa mama terima. Budhe itu jahat sama kita ma" Dara masih ingat, bagaimana sang ayah meninggalkan mereka dan tak kembali demi hidup bersama keluarga baru nya.
"Membenci boleh ya nak, Dara dan Jelita. Tapi sewajarnya saja. Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan kita ke depannya. Roda itu selalu berputar" Ucap Miana untuk sedikit meredakan kebencian di hati anaknya.
"Aku sudah memaafkan budhe dan papa. Tapi Dara akan mengingat hal ini dan tidak akan melupakannya." Sahut Dara. Iya langsung menoleh ke samping disaat sudah selesai mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Miana hanya bisa terdiam mendengar apa yang anaknya katakan. Sebenarnya, ininadalah yang di takuti oleh Miana. Anak-anak akan membenci ayahnya.
Hari terus berlalu, malam pun telah datang menjelang. Miana dan anak-anaknya telah kembali pulang dari kantor. Miana harus mengurus perusahaan semenjak Prasetyo meninggalkannya. Hingga membuat Miana harus bertanggung jawab atas kehidupan banyak orang yang menjadi karyawannya. Bukan hanya anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya. Tapi ada banyak keluarga yang harus di selamatkan dengan gajinya tiap bulan.
Setelah menunggu anak-anak audah masuk kamar dan tidur, Miana kembali ke meja di mana paket dari Atika iya letakkan. Miana mencarinya. Setelah mendapatkan, Iya segera membawanya ke kamar agar tidak ada yang tahu.
"Aku tadi salah baca ngga ya? " Gumam Miana sembari melangkah masuk ke dalam kamarnya. Miana mempercepat labgkahnya, Begitu sampai di depan pintu, iya membuka lalu menutup kembali begitu sudah berada di dalam kamar. Dengan cepat Miana kembali membuka plastik di tangannya. Di baca nya dengan seksama kertas warna ungu bertuliskan undangan itu.
"Secepat ini. Baiklah... Aku akan datang ke pernikahanmu. Kalian akan melihat wanita kuat saat aku datang" Miana benar-benar sudah tidak terkejut dengan rasa sakit. Tak ada air mata yang menetes seperti pertama iya tergores pisau cinta. Undangan di tangannya tak basah. Miana tersenyum menetralkan gemuruh di hatinya.
"Berarti, anak-anak harus menerima kenyataan baru, bahwa ibu tirinya adalah budhe nya sendiri" Miana bergumam sendiri.
"Aku akan datang sebagai orang lain. Aku akan datang sebagai wanita kuat. Akan aku buat kalian terkejut atas ke tidak sakitan ku menerima semua penghianatan ini. Akan aku buktikan, bahwa aku bukan si lemah yang akan memohon dengan air mata untuk meminta mu kembali" Miana menguatkan hati nya sendiri. Menghadapi kenyataan yang dulu terasa menyakitkan. Dan kini menjadi biasa saja.
__ADS_1
Satu minggu berlalu. Hari pernikahan Atika dan Prasetyo tinggal menghitung jam. Miana malam ini mengumpulkan kedua anaknya untuk memberitahukan berita penting. Sebuah kenyataan yang harus di terima oleh Dara dan Jelita.
"Mama... Ada apa? " Dara yang terlebih dahulu bertanya membuat hatibMiana masih menyisakan sedikit ragu dalam hatinya.
"Iya, tidak seperti biasanya mama mau bicara penting ke kita" Imbuh Jelita.
"Jadi begini sayang. Kalian berdua harus berjanji ya. Kalian tidak akan menyakiti diri sendiri dengan membenci siapa pun." Miana berkata.
"Kalau masalah papa, aku tidak berjanji ma. Mama bisa katakan saja. Dara berjanji tidak akan merepotkan mama" Dara berkata dengan suara penuh kebencian.
"Baiklah... Hati kalian harus kuat menerima semua kenyataan agar tidak menyakiti diri sendiri. Obat sakit hati adalah diri kita sendiri nak." Miana memulai untuk mengatakan. Kedua gadis itu tersenyum.
"Ini, ada undangan untuk kita" Miana memberikan beberapa lembar kertas undangan pernikahan yang bertuliskan nama Prasetyo Nugraha dan Atika Marcella. Dara dan Jelita menerimanya. Dengan seksama Dara membaca undangan itu.
"Jadi... Apa kita akan menghadiri undangan ini ma? " Tanya Dara tanpa deraian air mata.
"Aku siap," Dara dengan cepat menyahut.
"Aku siap... Kita tidak perlu takut atau malu untuk datang. Kita tidak salah apa-apa" Miana mendengar perkataan sang putri bungsu serasa ingin menumpahkan air matanya.
"Mama pernah bilang, kalau kita tidak salah, kita harus berani." Jelita berkata lagi.
"makasih ya nak. Kalian berdua, jadilah anak yang hebat. Dan buktikan kepada ayah kalian, kalau kalian bukan anak-anak yang lemah" Miana berkata, namun suaranya terdengar serak ingin menangis.
"Mama jangan khawatir. Aku akan membuktikan kepada papa ku yang tidak tahu diri itu, bahwa aku bisa hidup tanpa dia" Dara berkata dengan begitu ketus. Sepertinya, rasa benci kepada ayah nya sudah merasuk ke dalam jiwa nya.
"Dara... Sebenarnya mama tidak ingin kamu bersikap seperti ini nak. Mama tidak ingin kamu membenci lelaki yang menjadi ayahmu" Ucap Miana.
__ADS_1
"Aku tidak membencinya ma, aku hanya tidak akan pernah lupa untuk semua yang sudah membuat kita merasakan sakit. Mama tenang saja" Dara masih kekeh bahwa dirinya tidak membenci Prasetyo. Miana tak bisa berbuat apa-apa selain menasehati.
"Mencintai secukupnya dan membenci sewajarnya saja ya nak. Mama takut semua itu hanya akan menjadi batu pemberat untukmu" Miana tetap menasehati.
"Baik ma. Dara akan selalu ingat apa yang mama katakan" Dara memeluk sang mama. Sesangkan Jelita hanya mendengarkan pembicaraan kedua orang yang di sayanginya itu.
Benar-benar kering air mata Miana. Tak ada setitik pun air mata yang terjatuh. Setelah melepaskan pelukan sang putri, Miana tersenyum. Miana tahu putri sulungnya benar-benar terluka. Miana sangat memahami akan hal itu. Tapi iya hanya bisa terdiam. Tekatnya dalam hati tak ada yang harus di sembunyikan lagi. Anak-anaknya berhak tahu yang sebenarnya.
"Dara, Jelita... Kita harus bersiap. Setelah pulang sekolah, besok kita langsung berangkat ke tempat di mana undangan itu berada" Miana memberitahu putrinya.
"Apa tempatnya jauh ma? " Tanya sang anak sulung. Miana mengangguk.
"Tapi mama ngga mengizinkan sekolah kita untuk libur kan? " Dara bertanya.
"Dara ngga ingin karena hal sepele seperti ini, Dara harus kehilangan kesempatan menuntut ilmu" Ucap Dara. Fikiran Miana benar-benar merasa jika sang putri sudah sangat membenci ayah nya. Hingga menyebut jika pernikahan sang ayah dan budhe nya adalah hal sepele.
"Ngga sayang. Lebih baik kita berangkat siang saja sepulang sekolah. Supaya kalian tidak ketinggalan pelajaran" Ucap Miana. Kedua anak tersebut menngangguk.
"Karena ini sudah malam, kalian istirahat dulu ya. Biar mama menyiapkan semuanya" Ucap Miana kembali.
"Dara mau membantu mama saja dulu" Dara berkata seperti itu karena tak ingin mamanya kerepotan.
"Mama akan minta sama bi Wanti untuk membantu mama. Jadi kalian jangan khawatir. Kamu temani adikmu saja istirahat. Kasihan Jelita lelah" Miana mencari alasan supaya tidak membuat Dara kelelahan malam ini.
"Baiklah ma. Kalau begitu, Dara ajak adik ke kamar untuk istirahat terlebih dahulu ya ma"
"Ayuk dek, kita istirahat" Dara mengajak adik nya dengan menarik lengan kecilnya. Jelita pun menurut.
__ADS_1
Setelah kepergian kedua anak nya, Miana menghembuskan nafas secara kasar. Iya menyadari, luka yang di goreskan Prasetyo benar-benar membekas di hati Dara. Karena tak ingin kembali larut dalam kesedihan kembali, Miana segera bangkit dari tidurnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar.