Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Awal kebangkitan Miana


__ADS_3

Miana membaca lagi dengan seksama tulisan di atas kertas yang ia pegang itu. sebelumnya hal seperti ini sudah pernah terlintas di pikiran Miana. Namun Ia tidak menyangka bahwa apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi.


" Buku nikah..." di saat Miana teringat ia langsung berdiri dan berjalan menuju ke lemari di mana ia menyimpan surat-surat pentingnya. Setelah mencari beberapa saat, Miana tidak menemukan apa yang ia cari.


" Jadi kamu mengambil surat nikah itu untuk mengurus perceraian ini sendirian. Baiklah... Aku tidak akan mempersulit jalan yang kamu tempuh. Aku akan mempermudah semuanya" Miana bergumam sendiri di depan kaca lemari di dalam kamarnya. Entah kenapa rasa sakit yang dirasakan di hatinya tidak seperti kemarin-kemarin. Namun ada rasa tidak enak di dalam hatinya.


" Aku akan mewujudkan impian kalian berdua. Jangan khawatir aku akan mempersulitnya" Miana memejamkan mata sembari menarik nafas dalam-dalam. Iya tahu semua takdir yang ia jalani benar-benar telah Allah rencanakan untuknya. Maka dari itu Miana meminta kepada dirinya sendiri untuk menjadi kuat.


Pov Prasetyo.


Di saat sedang duduk di sofa ruang tamu setelah mengantarkan Firman sekolah, Atika dan Prasetyo mendengar ponsel berdering. Dengan cepat prasetyo yang meraba saku celananya mengambil ponsel yang berdering itu.


"Iya." ucap Prasetya ketika dia sudah menggeser layar ponselnya.


" Semua yang Tuan minta sudah selesai kami laksanakan. Dan hari ini adalah pengiriman undangan surat sidang kepada nona Miana. Dan sidang diadakan besok pagi tuan" orang suruhan Prasetyo mengabari jika urusan akan segera selesai.


"Kerja bagus. Lakukan yang terbaik agar surat cerai itu bisa segera keluar. Tanpa perlu aku menghadiri sidang itu" Prasetyo tidak ingin susah-susah melakukan banyak hal. Iya hanya ingin menunggu semua beres dan menerima hasilnya. Biarkan uang yang bekerja. Fikir Prasetyo.


"Baik tuan. Saya akan mengusahakan semaksimal mungkin" Prasetto yang mendengar itu pun merasa bangga. Karena sudah mendapatkan informasi, Prasetyo menutup panggilan tersebut.


"Aku tidak sabar untuk melihat kalian berdua berpisah secara sah. Dengan begitu aku akan memilikimu seutuhnya. dan tidak akan ada lagi tembok penghalang yang menjulang tinggi di antara kita. Atau pun jurang pemisah yang memisahkan kita" Atika terlihat begitu bahagia terdengar dari ucapannya. Iya tidak pernah memikirkan Bagaimana jika orang lain yang ia sakiti merasakan semua luka yang telah Ia ciptakan. Atika begitu bersemangat merajut hidup baru bersama suami sang adik. Mungkin hatinya telah dikeraskan oleh rasa iri yang terus terpupuk. Hingga tumbuh subur di dalam dirinya penyakit hati yang sulit untuk disembuhkan. Bahkan di saat dirinya benar-benar bersalah dalam suatu hal, Iya tetap tenang dan tidak merasa berdosa. Dan tidak menutup kemungkinan juga, ia akan melakukan hal-hal yang lebih menyakitkan lagi kepada orang lain daripada apa yang ia lakukan kepada adik kandungnya.

__ADS_1


Pov Miana.


"Parlan... Besok anak-anak biar di jemput sama kamu ya. Aku ada urusan penting" Miana mencoba tidak memberitahu Parlan.


"Memangnya mau ke mana? " Tanya Parlan ingin tahu.


"Aku ada urusan penting Parlan. Kamu jangan mau tahu" Miana tak pandai menyembunyikan dari Parlan. Hingga untuk berbohong saja terasa begitu sulit.


"Anuu... Prasetyo menceraikan aku. Dan besok adalah hati persidangan. Aku mau menghadirinya" ucap Miana sambil menunduk.


"Sudah ku duga." Balas Parlan.


"Apa kamu mau hadir di sana sendirian? " Tanya Parlan.


"Ya bagaimana lagi. Aku tidak ingin menghalangi atau mempersulit semuanya. jadi aku putuskan untuk ke sana saja. menyetujui apa yang Prasetyo inginkan" Miana mengungkapkan apa yang berada di dalam pikirannya.


"Aku akan mengantarkanmu" Parlan tiba-tiba mengatakan jika ingin mengantarkan Miana.


" Terus anak-anak nanti pulangnya sama siapa? " Miana merasa jika anak-anak membutuhkan seseorang untuk mengantar jemputnya ke sekolah selama ia tidak ada.


" Jam berapa sidangnya dimulai? " Parlan tetap bertanya tanpa menanggapi bagaimana Dara dan Jelita pulang sekolah Jika dirinya mengantarkan Miana.

__ADS_1


"Pagi... Sidang paling awal" Jawab Miana dengan ragu-ragu.


"Di jam-jam seperti itu Dara dan Jelita masih berada di sekolah. Jadi kenapa kamu harus berangkat Sendiri? " Parlan menatap miana yang terdiam.


" Aku takut sidangnya akan lama hingga waktu anak-anak pulang sekolah" Miana menjelaskan mengapa dirinya ingin berangkat sendiri ke sidang perceraian itu.


" Jangan khawatir! Aku akan mengantarkanmu untuk berangkat terlebih dahulu. Kalau memang kenyataannya waktu sidang adalah selama itu, aku akan meninggalkan kamu terlebih dahulu untuk menjemput anak-anak" Parlan mengerti jika Miana saat ini sedang tidak baik-baik saja. Makanya ia bersikeras untuk mengantarkan Miana ke persidangan itu.


" Baiklah... Aku menuruti apa yang kamu katakan saja" setelah itu miana diam tak berbicara sama sekali.


" Apa kamu memberitahu ayah dan ibu? atau mungkin Kak awan" farlan kembali bertanya ketika dilihatnya Miana sudah tidak menundukkan kepalanya lagi. Namun yang menjadi jawaban dari Miana adalah sebuah angkutan kepalanya.


" Mereka harus tahu tentang semua ini miana. Dulu di saat kamu menikah, kamu mengundang begitu banyak orang untuk memberikan doa restu kepadamu dan Prasetyo. Namun di saat Kalian mau berpisah, Kenapa bahkan orang tuamu pun harus tidak tahu tentang masalah ini. Seharusnya kamu meminta maaf kepada semua yang hadir dalam acara pernikahan mu dulu untuk meminta maaf. Karena kamu telah menyia-nyiakan do'a mereka" Parlan memberikan masukan kepada Miana yang terlihat begitu banyak beban.


" Tapi aku merasa tidak enak dengan mereka semua. Aku hanya tidak ingin membagi Kesedihanku dengan orang-orang yang menyayangiku Parlan" jawab miana. Parlan pun menoleh memperhatikan Miana yang berada di sampingnya.


" Ini adalah masalah yang besar. Kenapa kamu tidak mau meminta bantuan kepada ayah dan ibumu. Padahal mereka adalah orang yang mampu untuk membantumu. Baik untuk kekuatan lahir maupun batin. Kamu tidak bisa melewati semua ini sendirian. Dan kamu juga tidak bisa merahasiakan semua ini dari banyak orang. Mereka akan tahu secara perlahan-lahan. Aku senang dengan sikapmu yang tidak ingin bertele-tele. Ingin segera menyelesaikan urusanmu dengan Prasetyo. Aku tahu kamu ingin membuktikan kepadanya bahwa kamu adalah wanita yang tidak lemah. Tapi dengan tidak mengikutsertakan orang-orang yang mendukungmu, sama saja kamu ingin ditertawakan oleh Prasetyo dan Atika" mendengar apa yang diucapkan oleh Parlan. membuat Miana tersadar akan satu hal.


"Kamu benar... Mereka akan berfikir jika tidak ada satu pun orang yang mendukungku. Mereka pasti mengira jika aku akan menghadapi ini sendirian. Mereka akan semakin senang jika melihat aku hancur. Jadi, aku harus memberitahu orang-orang yang ada hubungannya dengan ini semua" Kini Miana kembali pada kesadaran nya.


"Nanti sepulang sekolah kita langsung ke rumah ayah dan ibu ya. Aku akan memberitahu mereka tentang semua ini. Dan juga anak-anak. Mereka harus tahu jika ayah nya sudah berpindah ke hati yang lain" Miana langsung bersemangat. Iya tak ingin menyembunyikan masalah ini kepada siapa pun lagi.

__ADS_1


__ADS_2