
Hampir setengah jam setelah Miana dan keluarganya masuk ke ruangan sidang. Hakim yang bertugas pun juga sudah hadir di kursi kebesarannya hampir 10 Menit. Namun tidak ada tanda-tanda Prasetyo datang.
"Bagaimana pihak penggugat, apakah belum ada kabar? " ucap seseorang di kursi depan. Miana yang mendengar ucapan itu hanya bisa menghembuskan nafas secara kasar.
"Sepertinya pihak penggugat belum ada tanda-tanda datang yang mulia" Jawab seseorang yang tak di kenali di ruangan itu. Baiklah, kita tunggu sampai penggugat datang" Ucap hakim kembali. Akhirnya mereka menunggu kembali.
Detik demi detik beralu dan menit berjalan terus terlewati. Sudah hampir 1 jam mereka menunggu. Akhirnya terdengar seseorang mengetuk pintu ruang sidang. Semua orang yang di dalam pun menoleh setelah ada seseorang yang membuka pintu. Jantung Miana seakan berdetak sangat cepat. Iya merasa gugup karena akakn bertemu dengan suami bajingannya itu. Tapi pada kenyataan nya, yang masuk bukanlah Prasetyo yang sudah di tunggu-tunggu, melainkan Hendra dengan seseorang yang tak Miana kenal. Miana menatap ke belakang Henda memastikan jika Prasetyo benar-benar akan datang setelah mengirim undangan sidang itu. Namun di saat Hendra sudah masuk ke dalam ruangan tersebut, tidak ada Prasetyo di belakangnya.
"Apakah anda yang bernama Tuan Prasetyo? " tanya Hakim. Namun Hendra menjawab dengan gelengan.
"Mohon maaf tuan, tuan Prasetyo sedang sibuk dan berada di luar kota. Jadi dia tisak bisa hadir." Jawab Hendra.
"Miana mendengus kesal di atas kursi yang di dudukinya.
"Nyonya Miana. Maaf saya harus mewakili tuan Tiyo. Dan ini adalah pengacara tuan Prasetyo. Tuan hakim yang terhormat. Saya mewakiki tuan Prasetyo. Hendra langsung duduk. Dan persidangana akan segera di mulai. Dan Yang sebenarnya terjadi adalah Prasetyo sudah mengeluarkan banyak uang untuk melakukan cara kotor untuk memenangkan persidangan ini.
"Baiklah... Persidangan akan segera di mulai..." Hakim mendadak berhenti berbicara ketika Miana memprotesnya.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin tanpa Prasetyo bisa? " Miana yang berdiri membuat perhatian semua orang tertuju kepadanya.
"Maaf nyonya Miana. Duduklah kembali ke kursi anda. Persidangan ini sudah terjeda begitu lama. Dan masih banyak persidangan lainnya" seseorang dari depan berkata. Miana tidak bisa menjawab. Iya yakin jika Prasetyo pasti sudah menyuap orang-orang ini. Sehingga mereka dengan mudah bisa menyetujui persidangan tetap berlanjut tanpa ada Prasetyo di sana. Miana merasa kesal, namu iya tidak bisa berbuat banyak. Iya sangat ingin persidangan hanya hanya terjadi sekali saja dan urusan sudah langsung kelar. Tapi dalam hatinya iya juga ingin melihat si pengecut yang tidak berani menemui dirinya dan anak-anak nya.
"Tapi, bagaimana mungkin Prasetyo tidak hadir dalam persidangan ini? " Awan berkata dengan suara lantang.
"Kak Awan, biarkan saja Prasetyo berbuat sesukanya. Aku tidak keberatan jika dia tidak datang ke persidangan kali ini. Kalau tanpa dia saja persidangan akan berjalan lancar dan tidak berbelit-belit, aku akan sangat bersyukur" Miana merasa sudah dangat di permainkan oleh Prasetyo, maka dari itu iya tidak ingin menunda-nunda untuk segera terlepas dari Prasetyo yang tidak pernah menghargai dirinya.
'Kalau begitu, mari kita mulai persidangan ini" Seseorang berkata. Miana menunduk, mencoba mengutkan hatinya.
"Saudari Miana yang terhormat, di sini saudara Prasetyo Nugroho mengajukan gugatan cerai kepada anda dengan alasan sudah tidak bisa lagi menjalani kehidupan bersama anda... DST (Mohon maaf karena author tidak melanjutkan kata-kata di atas. Author tidak tahu bagaimana jalannya persidangan seperti ini. Jadi author hanya menulis sedikit saja) " Miana mendengarkan dengan seksama apa yang baru saja Hakim katakan.
"Selanjutnya, untuk hak asuh anak, Tuan Prasetyo Nugroho tidak menuntut hal tersebut" Ucap hakim dari depan. Miana tersenyum, Prasetyo benar-benar memudahkan semua tanpa harus membuat Miana menangis kembali.
"Saya bersedia mengasuh anak-anak saya. Dan saya juga tidak mempermalahkan semuanya." Miana kembali menjawab dengan tegas.
"Baiklah, karena sang tergugat sudah menyetujui semuanya, Keputusan akan kami buat" Hakim mengetuk palu untuk yang kedua kalinya tentang hak asuh. Dan Miana benafas lega karena Dara dan Jelita akan tetap bersamanya. Sidang pun berakhir. Semua yang berada di sana keluar dengan perasaan lega, terutama Miana.
__ADS_1
"Miana..." Panggil sang ayah. Miana menoleh menatap sang ayah. Akhirnya jatuh juga air mata Miana yangn sejak tadi di tahannya itu.
"Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Lelaki seperti dia tidak pantas untuk di pertahankan. Bahkan di saat yang seperti ini saja dia tidak berani menemui kita" Ayah Heri memeluk putrinya. Iya senang bisa melihat sang anak terlepas dariĀ beban mental yang memberatkanya. Namun, iya juga sangat menyayangkan kenapa perpisahan ini bisa sampi terjadi.
"Ayo kita pualng." ayah Heri mengagak Miana untuk pulang. Mereka berjalan bersama meninggalkan ruangan itu.
"Nyonya Miana" Panggil seseorang, dan setelah menoleh, Miana melihat Hendra yang berjalan semakin mendekatke arahnya.
"Nyonya, saya mohon maaf karena harus mewakili tuan Prasetyo di persidangan ini. saya hanya di suruh" Hendra menyatakan permintann maaf nya kepada Miana.
"Jangan merasa bersalah. Justru aku yang harus berterima kasih kepada mu karena sudah hadir di sini. Jadi persidangan ini berjalan dengan lancar tanpa harus berbelit-belit" Miana dengan santi menjawab peryataan maaf dari Hendra.
"Oh iya nyonya, ada beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani. Menyangkut proyek yang ada di perusahaan. Nanti saya akan mengantarkan ke rumah, atau bagaimana? " Hendra mengatakan kepada Miana. Iya meminta tanda tangan kepada Miana karena memang perusahaan yang di kelola Miana adalah atas nama Prasetyo 50% dan Miana 50%. Jadi untuk urusan perusahaan, Miana masih memiliki seluruh kekayaan sebanyak 50%.
"Nanti saya akan ke kantor setelah menjemput anak-anak pulang sekolah." Jawab Miana.
"Baik nyonya, saya akan menunggu" Hendra menjawab. Dan tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Miana langsung meninggalkan Hendra.
__ADS_1
"Oh iya, katakan kepada bosmu, kalau aku akan memegang semua yang seharusnya menjadi hak ku. Dan tolong urus pembagian saham dari perusahaan cabang pula" Baru beberapa langkah Miana berjalan. Iya kembali lagi mengatakan kepada Hendra.
"Baik nyonya, akan saya sampaikan." Hendra menunduk karena Miana menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Akhirnya, setelah semua nya selesai, Miana beranjak meninggalkan gedung itu bersama keluarganya.