
Pov Miana.
"Mama..." Panggil Jelita di saat melihat mobil yang menjemputnya sudah datang.
" Mama Dedek gemes ikut dong? " jelita mengatakan hal tersebut sambil membuka pintu mobil.
" Halo Kakak jelita, Halo Kakak Dara" suara miana dibuat seperti anak kecil sembari tangannya Melambaikan tangan kecil depan untuk menyapa Dara dan Jelita.
" Selamat siang juga Dedek gemes" jawaban balasan dari Dara membuat Devan yang berada di pangkuan miana tersenyum. Mungkin bayi itu mengira jika darah dan Jelita sedang mengajaknya bermain.
" kita pulang ya Ma. Devan nanti bisa bermain bareng kita" cerita meminta agar Devan Diajak pulang ke rumahnya.
"Boleh... Tapi nanti jangan nakalin ya adeknya. Di ajak mainan" Miana mengiyakan. Dan mereka pun dalam perjalanan pulang.
"Siaap... " Kedua anak tersebut meletakkan tangan kanannya seakan sedang hormat.
'Drrttt Drtttt Drtttt' terdengar suara ponsel bergetar.
"Itu teleponnya om Parlan ya yang bunyi? " Getaran suara ponsel itu membuat Miana dan kedua anaknya berhenti berguru dengan Devan.
" Oh iya mungkin ini pemberitahuan ada pesan masuk" dengan santai Parlan memberitahu.
" Lihat aja dulu Om siapa tahu penting! " Dengan kepolosan yang dimilikinya, Jelita menyuruh Parlan untuk melihat ponselnya di saat ia sibuk menyetir.
" Begini ya jelita, kalau sudah menyetir usahakan untuk tidak bermain ponsel. Karena di saat kita bermain ponsel, maka fokus kita akan terbagi. Itu yang sering menjadi penyebab kecelakaan. Hal itu sangat berbahaya untuk diri sendiri maupun untuk pengendara lain. Makanya kalau kita sedang mengendarai kendaraan, kita harus tetap fokus pada apa yang kita kendarai tersebut. Bukan bermain HP. Selain menyebabkan kecelakaan, ponsel saat mengendarai itu dilarang. kita akan mendapatkan tilang" penjelasan Parlan begitu gamblang. hingga Dara dan Jelita pun mudah untuk memahaminya.
" Pantas saja kalau sedang mengendarai mobil, Om sarlan tidak pernah bermain HP. ternyata itu alasannya" celoteh Jelita.
"Apa yang di katakan oleh om Parlan benar. Dengarkan baik-baik ya" Kini Miana menambahi.
"Nanti kalau aku sudah bisa menyetir mobil sendiri, aku pengen kaya om Parlan. Ngga mainan HP saat mengendarai" Dara mengungkapkan kekagumannya terhadap Parlan.
"Nanti kalau kak Dara bisa, aku mau di ajak jalan-jalan. Devan juga di ajak" Sambung Jelita.
__ADS_1
"Ya kamu harus belajar sendirilah. Biar bisa kaya kakak" Bantah sang kakak.
"Kan aku masih kecil. Kakak dulu lah yang harus bisa" Jelita tetap tidak mau mengalah.
"Kalau misalnya kita bisanya bersamaan bagaimana? Kamu bareng kakak bisanya naik mobil. Pasti lebih seru."
" Oh bener apa yang dikatakan kakak, Nanti kalau kita berdua sudah bisa nikmatir kemana-mana kita gantian dong yang di depan " Jelita tak mau mengalah. akhirnya miana dan Parlan harus mendengarkan perdebatan kecil dua bocah perempuan itu. Miana hanya bisa menggelengkan kepala mendengar percakapan dua gadisnya. mereka pun akhirnya kembali ke rumah.
Setelah Dara dan Jelita turun dari mobil, Parlan meminta Devan yang saat ini digendong oleh miana. Namun karena ingat Dara dan Jelita ingin bermain bersama Devan, Miana tidak memberikan Devan dan malah mengajaknya masuk ke dalam rumah.
" Kamu istirahatlah dulu, biar Devan main sama anak-anak! " Miana menyuruh parlon istirahat.
" Biarkan saya yang menjaga Devan karena sedang tidak ada pekerjaan. Biarkan anak-anak istirahat dulu. Anda juga butuh istirahat " Parlan pun sebenarnya tidak enak hati ketika anaknya terus-terusan diajak oleh Miana.
" Ih kamu ini, Kaya sama siapa aja udah sana Istirahat dulu" Miana pun segera masuk sambil menggendong Devan. Melihat hal tersebut Parlan pun segera menuruti apa yang dikatakan oleh Miana. Dirinya setelah memarkirkan mobil, turun lalu menuju ke kamarnya sendiri.
Masuk ke kamarnya lalu menuju ke kamar mandi. Parlan mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat zuhur. Tidak sampai 10 menit untuk mendirikan kewajiban di tengah hari yang terik itu. Parlan merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai untuk menghilangkan pegal-pegal. Sembari merebahkan tubuh, Parlan meraba-raba saku celananya. Ia mencari ponsel yang sejak tadi tidak ia lihat. Begitu didapatkannya, ia segera menyalakan layar HP tersebut. Ada sebuah pesan penting yang masuk ke dalam aplikasi hijaunya. Parlan tidak menyangka akan mendapatkan pesan tersebut.
" Miana di mana kamu? " Tuan Adi dan nyonya Asti masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Mereka saat ini mencari keberadaan Miana. Dan saat melewati ruang tengah, ia mendengar suara riuh dari dalam kamar anak-anak, sepertinya sedang bermain. Akhirnya Tuan Adi pun menghampiri cucunya yang berada di sana.
" Dara, Jelita, di mana mama kalian? " tanya Tuan Adi yang tidak melihat miana bersama anak-anaknya.
" Mama sedang menidurkan Devan." jawab Jelita sedikit Ketus.
"Devan? Siapa dia? " Tanya tuan Adi penasaran.
"Anaknya Om Parlan" Jawaban Dara yang seketika.
"Oh.., Anak si sopir itu? " Bu Asti mengatakan dengan nada tidak Suka.
" kalian ini sedang apa? " pengennya pasti yang memandang ke arah kedua cucunya.
"Kita mau ganti baju uti. Uti bisa nunggu mama di depan." Tiba-tiba Jelita mendekat ke arah kakek dan neneknya.
__ADS_1
"Maaf kakek, uti. Kita mau ganti baju dulu. Pintunya Dara tutup dulu ya. Soalnya kita baru pulang sekolah." dan disaat itu juga, niana baru keluar dari kamarnya. Iya melihat kedua mertuanya sedang berada di depan pintu anak-anaknya yang tertutup.
"Ayah... Kenapa disini? Anak-anak tidak membukakan pintu? " kata nya Miana yang baru saja keluar dari kamar.
"Ini dia... Kesini kamu..." Tiba-tiba saja bu Asti mendekati Miana dan menarik kerudung yang iya gunakan. Karena Miana belum sempat mengganti bajunya sejak dari pemakaman tadi.
"Ikut aku" Bu Asti menarik kerudung Miana hingga hampir terlepas.
" Bu lepaskan. Ini sakit. Kita bisa bicara baik-baik" Miana maronta meminta untuk melepaskan kerudung yang dicengkeram oleh ibu mertuanya.
"Sakit, Iya? Ini tidak seberapa sakitnya dibanding dengan semua hal yang suda kamu lakukan Miana" Ucap Bu Asti sedikit berteriak.
"Apa maksud ibu sama Ayah? " Miana yang masih belum mengerti pun bertanya.
"Rasakan ini..." Bu Asti mendorong Miana hingga terjatuh.
"Astaghfirullah..." Teriak Miana.
"Mamaaaa..." Dara dan Jelita yang baru keluar kamar karena mendengar keributan terkejut. Iya melihat sendiri bagaimana neneknya mendorong sang ibu.
"Mama... Mama ngga apa-apa? Kenapa nenek mendorong mama sampai terjatuh? " Dara dan Jelita bertanya secara bersamaan.
"Sayang, mama ngga apa-apa" Miana menjawab sambil berusaha untuk berdiri.
"Kalian masuk ke kamar dulu ya. Tolong jaga Devan. Tutup pintunya. Mama mau bicara sama kakek dan uti" Miana mencoba untuk tidak menangis. Iya pun menyuruh anak-anaknya supaya tidak melihat atau pun mendengar semuanya.
"Ngga mau... Kita tahu kakek sama Uti mau menyakiti mama Lagi. Kita mau di sini aja nemenin Mama" Bantah Dara dan Jelita.
"Sayaang. Dengarkan mama ya. Ini adalah hal penting yang harus di bahas oleh orang dewasa. Anak kecil masih belum boleh mengerti. Paham sayang? " Miana mencoba membujuk anak-anaknya. Karena apa yang dikatakan oleh Miana adalah tentang oleh dewasa. Maka Dara dan Jelita pun menurut. Iya mengangguk kemudia n berjalan menuju ke kamar orang tuanya. Namun mereka juga bukan anak-anak yang bodoh. Mereka mencari ponsel Miana lalu menghubungi Parlan.
Sedangkan di luar kamar, Miana mengajak orang tuanya untuk ke ruang tamu saja.
"Mari bu, Yah. Kita ke sana saja. Saya tidak ingin anak-anak mendengar atau pun melihat apa yang kalian lakukan. Karena itu bisa merusak mentalnya. Saya yakin, tanpa mengajari mereka pun, mereka pasti akan membenci kalian sebgai kakek dan nenek yang jahat. Karena setiap kali ayah sama ibu kesini selalu menyakiti saya" Ucap Miana. Begitu selesai mengatakan semuanya, tanpa menunggu Miana berjalan duluan.
__ADS_1