
Awan merasa jika Prasetyo dan Atika benar-benar sudah keterlaluan. Iya merasa geram dengan apa yang di lakukan dua orang manusia yang seenaknya sendiri itu.
"Besok apa kamu mau datang ke sidang itu? " Pertayaan Awan di jawab anggukan kepala oleh sang adik. Sedangkan tuan Heri dan nyonya Yanti yang tak habis fikir dengan kelakuan anak serta menantunya hanya bisa terdiam.
"Apa selama ini kita yang salah mendidik Atika? " Tiba-tiba tuan Heri mengatakan itu ketika duduk di samping istrinya. Pasangan paruh baya itu telihat saling memandang.
"Kalau kita yang salah mendidik anak-anak, berarti Miana seharusnya juga memiliki sifat yang sama dengan Atika. Tapi kenapa mereka berdua sangat berbeda. Bagaikan langit dan bumi. Aku tidak tahu apakah ini salah kita dalam mendidik, atau memang sikap bawaan dari lahir" Bu Yanti menjawab ucapan suaminya yang terlihat begitu menyalahkan diri sendiri.
"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Kita sebagai orang tua sudah memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Dan kita tidak pernah memberikan kesempatan kepada mereka untuk saling melukai' Ucapan bu Yanti di dengarkan oleh sang putra sulung, si Awan yang saat ini duduk di depannya.
"Kalian jangan terlalu menyalahkan diri sendiri yah, bu. Aku yakin ini semua bukan hanya karena sikap bawaan Atika. Namun karena ada kesempatan yang membentang di hadapan mereka berdua. Sehingga mereka melakukan hal yang tidak seharusnya terjadi' Awan mencoba membuat ayah dan ibunya untuk tidak berifikir yang berlebihan. Iya takut jika fikiran-fikiran berat itu akan berdampak pada kesehatan keduanya. Apalagi mengingat semakin hari kesehatan sang ibu dan ayahnya yang akhir-akhir ini tidak terlalu baik.
"Kalau begitu, biarkan ayah memikirkan hal yang ringan-ringan saja. Kamu fikirkan jalan keluar agar Miana tidak semakin larut dalam kesedihannya.
"Miana..." Miana yang masih terdiam menoleh ke arah Awan yang memanggilnya. Iya tersenyum, namun air matanya masih terlihat menetes.
"Usap air mata kamu ini. Satu tetes yang keluar untuk menangisi lelaki tidak tahu diri itu sangat berharga. Kamu tidak pantas menangisinya" Awan merasa Miana tidak pantas menangisi Prasetyo yang bahkan tidak pantas di sebut dengan manusia itu.
"Aku bahkan sudah tidak peduli lagi dengan apa yang Prasetyo dan Atika lakukan kak Awan. Tapi aku memikirkan anak-anak ku. Bagaimana kehidupan mereka setelah ini" Miana menatap kedua putri nya yang saat ini terlelap di atas sofa setelah lelah menangis. Dengan air mata yang mungkin sudah tak sanggup untuk di bendung lagi, Miana mengatakn mengapa dirinya masih saja menangis.
__ADS_1
"Apa kamu tidak percaya diri untuk bisa membesarkan kedua putrimu seorang diri? Kakak rasa kamu bukanlah wanita lemah yang akan mudah menyerah dengan keadaan. Satu lagi Miana, kamu itu masih terlalu muda untuk membiarkan dirimu terjatuh dalam jurang kesengsaraan. Jadi kakak mohon, bersikap sedih yang sewajarnya saja. Anak-anak memiliki kehidupan sendiri. Hidupnya sudah di jamin oleh sang maha hidup. Kenapa kamu terlalu mengkhawatirkan mereka dengan berlebihan? " Awan yang menginginkan adiknya itu tidak semakin terpuruk, memberikan wejangannya. Dan di saat mendengar itu semua, Miana menatap sang kakak. Miana merasa heran dengan dirinya sendiri. Terkadang iya sudah tak merasakan sakit mengetahui semua tentang Prasetyo, Namun jika sudah menyangkut Dara dan Jelita, Miana akan menjadi sangat lemah.
"Jangan membuat dirimu menjadi wanita lemah Miana. Apalagi di depan anak-anakmu" Perkataan Awan yang terakhir ini benar-benar membat miana melek. Iya merasa ada sebuah kekuatan baru yang tiba-tiba memasuki hati dan fikirannya.
"Kakak benar, aku tidak boleh terlihat lemah di depan abak-anak ku. Siapa lagi yang akan mereka andalkan jika bukan aku" Miana akhirnya mau bangkit dari menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Iya memandang kedua Putrinya.
'Mama akan melakukan semua yang terbaik untuk kalian nak. Mama akan kuat demi kalian berdua" Miana bergumam sendiri. Awan tersenyum melihat adiknya yang langsung menjadi bersemangat ketika iya mengatakan hal yang menyangkut tentang Dara dan Jelita.
Beberapa jam telah berlalu, Dara dan Jelita yang tadi tertidur kini telah bangun. Dan Miana mengajak kedua putrinya untuk pulang.
'Miana... Apa kamu yakin akan pulang dengan keadaan seperti ini? " Pertanyaan tuan Heri menghentikan langkah Miana yang sudah hampir melewati pintu ruang tengah. Miana mengangguk kepada sang ayah tiri yang begitu menyayanginya melebihi anak kandung nya sendiri itu.
"Boleh ayah mengantarkan kamu? " Pertanyaan tuan Heri langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh Miana.
"Ayah jangan berlebihan. Miana tak apa-apa. Jadi jangan terlal mengkhawatirkan Miana" Miana mencoba untuk memaksakan senyumnya. Hingga akhirnya panggilan Dara dan Jelita dari depan rumah mengejutkannya. Kedua anak tersebut berjalan terlebih dahulu meninggalkan sang mama ketika kakeknya memanggil. Alhasil, mereka harus menunggu Miana di depan.
"Iya sayang, mama akan segera ke sana" Miana menyahut panggilan sang anak dengan sedikit berteriak karena anak-anak berada di tempat yang sedikit jauh darinya.
"Anak-anak sudah memanggil yah, Miana ke sana dulu ya. Ayah jangan khawatir kan Miana secara berlebihan. Miana baik-baik saja" Miana tersenyum sembari menarik punggung tangan sang ayah lal menciumnya.
__ADS_1
"Hati-hati nak, jaga cucu-cucu ku dengan baik. Ayah akan sering bermain ke rumah mu" tan Heri mengatakan itu sebelum Miana pergi. Dan Miana hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Miana..." Panggil awan ketika Miana melewati ruang tengah menuju ke ruang tamu. Akhirnya Miana menolh ke sumber suara.
'Kak" Miana menyahut panggilan sang kakak.
"Besok kakak akan menemanimu. Kakak ingin tahu bagaimana Prasetyo yang tidak berperasaan itu menghadapi keluarga kita. Dan kakak juga ingin tahu apa alasan dia menceraikanmu" Ucap Awan yang membuat Miana mengangguk tanpa memikirkan jawaban kembali.
"Miana akan pulang, kalau kakak besok menemani Miana. Miana akan menunggu. Terimakasih atas semuanya. Miana pulang terlebih dahulu" Miana langsung meninggalkan sang kakak tanpa menunggu jawaban. Iya menuju ke mobil yang sudah menunggu tepat di depan pintu. Awan memandang kepergain adiknya dengan penuh rasa iba. Hingga sebuah suara menyadarkan nya.
"Awan... Kenapa kamu diam seperti patung seperti ini? " Tanya sang ayah yang ternyata sudah berdiri di sampingnya itu.
"Aku hanya kasihan menatap Miana yang seperti ini ayah. Aku tak menyangka jika takdir seperti ini akan ada dalam suratan takdir Miana" Awan mengatakan rasa iba nya kepada tuan Heri.
"Semoga kelak Miana akan mendapatkan pembelajaran dari apa yang sekarang terjadi. Kita bisa lihat hikmah di balik semuanya. Tugas kita hanya berbaik sangka kepada yang pemilik hidup." Tuan Heri menepuk pundak sang putra kandung yang teramat iya sayangi itu.
"Awan memiliki rencana untuk membuat Prasetyo jera dengan perbuatannya yah. Kalau ayah setuju, Awan akan melaksanakan rencana ini" Awan memberitahu sang ayah.
"Apa itu? " Tanya tuan Heri, dan Awan mendekati sang ayah, selanjutnya iya membisikkan sesuatu di dekat telinga sang ayah. Hingga membuat tuan Heri mengangguk.
__ADS_1