Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Refreshing


__ADS_3

"Nyonya Miana, mohon maaf, hari ini saya libur? " Parlan mengirimkan pesan kepada Miana. Iya meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Di pandangnya lelaki kecil yang dsaat ini sedang tertidur pulas di dalam baby box.


"Tumbuhlah menjadi anak yang baik ya nak. Ketika kamu dewasa nanti, jadilah orang yang bermanfaat untuk banyak orang. Karena sesungguhnya itu adalah arti dari sukses yang sebenarnya." Parlan menyandarkan tubuhnya di samping box bayi. Iya tersenyum memandang Devan yang begitu menggemaskan.


" Papa akan menjadi Ayah sekaligus ibu untuk kamu Sayang" Parlan tetap mengajak anaknya berbicara. Walaupun tak menyahut. Tiba-tiba anak itu menggeliat. Dan semakin membuat Parlan tersenyum bahagia. Hanya menggeliat, Devan kembali tertidur dengan pulas. Karena tadi malam iya tidur sudah sangat larut.


Parlan terlihat berdiri untuk pergi mandi. namun di saat akan melangkah ponselnya berdering tanda pesan masuk. Iya kembali lagi dan melihat. Pikirannya sudah tertuju pada balasan pesan dari miana. Setelah membuka ponselnya Ia pun mengetahui jika pesan tersebut ada dua. Satu pesan dari Bagas dan satu pesan lagi dari Miana.


"Parlan kabari aku sewaktu-waktu kamu bisa untuk bertemu" pesan yang dikirimkan oleh Bagas telah dibaca oleh Parlan. Setelah itu ia membuka satu pesan lagi dari Miana.


" iya Parlan. hari ini kamu libur" pesan dari miana kan sudah dibaca oleh farlan. tanpa membalas, Parlan meletakkan kembali ponsel itu. Iya segera mandi sebelum anaknya bangun.


Pov Miana.


Pagi ini terlihat begitu cerah. Miana merasa malas untuk bangun dari tidur. Iya masih bersantai Ria di atas tempat tidur bersama kedua anaknya. hari ini ia berniat untuk menuruti apa yang diminta anak-anaknya kemarin sepulang sekolah. Miana juga ingin mengajak anaknya untuk sarapan di luar pagi ini. Namun ia teringat akan kejadian kemarin yang membuat hatinya kembali tergores.


" Mama yakin kalian akan baik-baik saja sayang" Miana bergumam sambil memandang kedua putrinya. Dia tersenyum memikirkan nasib ke depan kedua putrinya. Keadaan masih terus membuat Miana berfikir, apakah pantas ia mempertahankan. Atau apakah buruk jika Iya mengikhlaskan. Karena tidak ingin terisak di samping anak-anaknya, Miana segera bangun dan menjauh. sungguh memikirkan anak-anaknya lebih sakit daripada melihat kenyataan bahwa Prasetyo sudah tidak mencintainya lagi.


"Mama akan bertahan sekuat hati sampai mama mampu. Kalau misalnya Mama sudah tidak mampu, Mama minta maaf kepada kalian" dari sofa Miana memandang kedua putrinya kembali.

__ADS_1


" Mama akan bersiap-siap terlebih dahulu. Jadi nanti kalau kalian bangun, Mama sudah siap." Miana pun akhirnya memutuskan untuk mandi.


Pagi menjelang siang, anak-anak Miana sudah bersiap untuk pergi. Namun sebelumnya tidak lupa miana menyiapkan sarapan Agar anak-anaknya tidak kelaparan. Melihat suaminya yang ikut bergabung di meja makan. Miana terdiam tak menyapa sedikitpun. Hingga akhirnya Prasetyo pun memulai pembicaraan.


" Kalian nanti mau jalan-jalan ke mana? " sambil menyiapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya, Prasetyo bertanya kepada kedua anaknya"


" Ke mana ya? " kedua anak tersebut terlihat Sedang berpikir.


" Bagaimana kalau kita ke taman hiburan saja. Nanti kalian berdua bisa naik Wahana sepuasnya" demi menutupi rasa kesal di hatinya, Miana memberikan ide.


" Wah Sepertinya seru ya mah. Okelah Kita ke taman hiburan saja" Dara dan Jelita terlihat begitu girang. Jarang mereka akan bepergian bersamaan seperti ini.


"Jelita makanannya ditelan dulu baru bicara. Jangan bicara sambil makan. nggak baik" Dara yang melihat adiknya seperti itu langsung menegur dengan pelan.


" Maaf Kak, Jelita begitu senang hari ini." jawab cerita dengan begitu polos.


" Karena hari ini hari Minggu, dan kita kan butuh quality time. Lebih baik Bibi kita suruh jalan-jalan saja. Mereka berdua pasti butuh waktu untuk istirahat dan refreshing juga" Miana dengan bijak mengatakan hal tersebut. Bukan tidak ingin mengajak mereka, namun Miana ingin hak anaknya menikmati waktu libur bersama sang ayah.


" Wah betul juga apa yang dikatakan mama. Biarkan Bibi berdua jalan-jalan sendiri. Dan kita juga jalan-jalan sendiri. ditemani Papa suasananya berbeda" ketika Dara mengucapkan itu, Jelita ikut tersenyum dan mengangguk. Mereka terlihat begitu bahagia.

__ADS_1


" Kalau begitu cepat habiskan sarapannya, setelah itu nanti kita berangkat. Mama sudah mempersiapkan semuanya" Miana tidak ingin membuat anak-anaknya merasa kecewa. Jadi ia memanjakan mereka hari ini.


Begitu miana telah siap untuk berangkat bersama keluarga kecilnya. Ia memberitahukan kepada kedua art-nya.


" Bik Wanti Bik Desi, hari ini kan hari Minggu. Kita mau keluar jalan-jalan. bukan bermaksud untuk tidak mengajak kalian, tapi aku ingin anak-anak menghabiskan waktu bersama papanya yang jarang bisa menemani. Jadi hari ini kalian libur dan kalian juga butuh refreshing. Pergilah jalan-jalan berdua. Ini ada sedikit uang saku untuk kalian" Miana tidak mungkin membiarkan kedua art-nya pergi tanpa memberikannya saku. Dia memasukkan uang tersebut ke dalam amplop dan memberikannya kepada kedua art tersebut.


" Alhamdulillah... Terima kasih nyonya Miana." kedua art tersebut terlihat begitu senang.


" Kalian bagi dua ya. Jangan berebut" Miana bercanda ketika mengatakan itu. dan kedua art tersebut pun tersenyum.


" Kita berangkat dulu nanti kalau kalian mau berangkat Jangan lupa tutup pintunya ya. Oh ya itu masih ada makanan. kalian makan dulu sebelum berangkat. Jangan lupa Pak satpam diberi juga" Miana berpamitan setelah memberikan uang kepada kedua art-nya. Ia pun segera menyusul suami dan anak-anaknya yang telah dulu menunggu di mobil.


" Akhirnya kita jalan-jalan bersama Papa juga Iya Kak. Biasanya Papa selalu sibuk dengan pekerjaannya. Tapi kali ini papa ada waktu untuk kita" Celoteh jelita membuat Prasetyo rasa malu.


" Maafin Papa ya sayang, kan papa kerja juga untuk kalian" sambil menyetir Prasetyo meminta maaf kepada kedua putrinya yang duduk di kursi penumpang di belakangnya.


" Papa harus sering-sering seperti ini lagi ya" kali ini Dara yang meminta.


" Oke siap, Kalau papa tidak sibuk papa akan mengajak kalian jalan-jalan lagi." Prasetyo merasa bersalah kepada kedua anak nya. Sedangkan Miana, ia merasa tidak akan bisa lagi seperti ini. Hatinya sudah terlalu kecut untuk bisa bersama lagi dengan Prasetyo. Iya merasa hubungan ini terlalu hambar. namun Miana masih bisa menaik turunkan pemikirannya. Kalau Iya Bertahan, dirinya akan terluka semakin dalam. sedangkan kalau ia memilih untuk mundur, maka anak-anaknya akan kehilangan sosok seorang ayah. Miana menoleh ke arah kiri pintu mobilnya. Iya menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa getir di hatinya. bukan tanpa sebab Miana merasakan itu semua. Namun sekali kepercayaan itu telah dirusak. Maka ia tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. Ibarat kaca yang telah retak. Mau direkatkan dengan lem paling kuat sedunia pun, dia tidak akan bisa kembali sempurna seperti semula. Dan hati miana sudah diletakkan di atas dua pilihan yang sulit.

__ADS_1


__ADS_2