
Dalam perjalanan menuju tempat baru yang mereka rundingkan sebelumnya, Prasetyo dan Atika berangkat setelah jam makan siang. Setelah menjemput Firman, Mereka mengendarai mobil yang di kemudikan oleh Prasetyo sendiri.
" Tiyo, tempatnya di sana bagaimana? Apa kita nanti akan tinggal hutan belantara? " Atika yang saat ini duduk di samping Prasetyo menanyakan hal itu.
" Rumah yang akan kita tempati nanti berada di sebuah pedesaan. Mencoba lah untuk bersabar di sana sampai keadaan membaik. Karena kalau kita tetap berada di sini, aku takut akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan" Prasetyo memberikan pengertian kepada Atika.
"Baiklah. Aku menurut kepadamu. Yang penting baik untuk kita semua" Atika menyerah atas keputusan Prasetyo.
"Yang aku fikirkan... Bagaimana keadaan Firman nanti" Atika sedikit khawatir dengan keadaan putranya.
"Jangan khawatir. Setelah kita sampai sana, besok aku akan menyuruh orang untuk mendaftarkan Firman ke sekolah barunya. Jadi dia tetap akan bersekolah" Atika sedikit lega mendengar apa yang dikatakan oleh Prasetyo. Setelahnya ia menoleh ke belakang, dilihatnya Firman yang saat ini sudah tidur.
" Jangan terlalu memikirkan hal yang belum terjadi. Aku yakin kita akan baik-baik saja di sana" sambil menyetir, Prasetyo memberitahu Atika.
" Aku percaya sama kamu. Asal kamu tidak menduakan aku saja" Atika berkata dengan suara yang pelan.
" Yang aku cari ada di kamu semua. Kenapa aku harus mencari yang lain" Atika tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Prasetyo.
" Istirahatlah, nanti kalau misalnya sudah sampai aku akan membangunkanmu" Atika mengangguk.
Desiran Angin Malam menerpal tubuh Atika yang baru saja turun dari mobil. Tiba-tiba rasa dingin menyelimutinya. saat ini sudah jam 08.00 malam. Atika dan Prasetyo baru saja sampai ke tempat yang mereka tuju.
" Dingin sekali" gumam Atika sembari menyedekapkan kedua tangannya ke dada.
" Udara di sini memang sedikit dingin dibanding dengan tempat tinggal kita sebelumnya" Prasetyo menjelaskan sedikit tentang keadaan tempat tersebut.
" Bangunkan Firman, dan ajaklah masuk terlebih dahulu. Biar aku yang membawa koper-koper ini" sembari membuka pintu jok belakang mobil, Prasetyo meminta Atika untuk membawa anaknya masuk terlebih dahulu. Begitu Prasetyo selesai mengatakannya, Atika mengangguk lalu berjalan terlebih dalu setelah mmebangunkan anaknya. Namun tiba-tiba pintu gerbang terbuka di saat Atika sedang berjalan. Atika kembali mundur beberapa langkah bersama Firman.
"Mah, kita ada di mana? " Tanya Firman.
"Kita ada di rumah baru sayang" Jawab Atika simpel.
" Mohon maaf Nyonya tuan. Saya tidak tahu kalau anda berdua sudah datang" tiba-tiba lelaki yang membuka pintu gerbang tersebut mendekat dan meminta maaf.
__ADS_1
" Jadi kamu yang menunggu rumah ini? " Prasetyo menghentikan aktivitasnya ketika ada yang menyapa. Dan ia pun bertanya.
" Benar tuan" lelaki tersebut mengangguk.
" Oke aku akan memasukkan mobilnya terlebih dahulu. Bukakan pintu gerbangnya" Prasetyo kembali menutup pintu belakang mobilnya. Ia meminta untuk dibukakan pintu gerbang. setelahnya ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang begitu rendah.
" Boleh aku minta tolong untuk membawakan barang-barang ini masuk ke dalam? " begitu ia sudah sampai di halaman rumah barunya, Prasetyo meminta lelaki tadi untuk membantunya membawakan barang-barangnya masuk ke dalam rumah. Lelaki itu pun segera membantu Prasetyo menurunkan barang-barangnya. Setelahnya mereka berempat masuk ke dalam rumah itu.
" Terima kasih atas bantuannya." Prasetyo mengucapkan terima kasih kepada orang yang menunggu rumahnya tersebut. orang tersebut mengangguk.
" Mari Tuan Saya tunjukkan di mana kamar anda berada. Tadi Istri saya sudah membersihkan semunya." lelaki tersebut berjalan terlebih dahulu. sedangkan Atika dan Prasetyo berjalan di belakangnya.
" Ini kamar utama yang ada di rumah ini." sambil menunjuk ke arah pintu. orang tersebut mengatakan.
" Baik terima kasih atas bantuannya. Biarkan kami beristirahat karena perjalanan jauh membuat kami kelelahan." orang itu pun segera mengangguk.
" Baik tuan, selamat beristirahat" Selanjutnya, orang tersebut pergi meninggalkan Atika dan Prasetyo.
Hampir setengah jam berlalu, Atika keluar dari kamar Firman karena anaknya tersebut sudah tidur. Iya berjalan menuju ke kamar utama di mana Prasetyo berada.
"Tok tok tok" Atika mengetuk pelan pintu tersebut dari luar.
" Masuk saja tidak dikunci" setelah mendengar jawaban dari Prasetyo, Atika memegang handle pintu lalu menurunkannya. Setelah pintu terbuka Ia pun masuk. Atika melihat Prasetyo yang sudah mengganti bajunya dengan pakaian santai.
"Bersih-bersihlah dulu" Prasetyo menyuruh Atika untuk membersihkan diri. Mendengar apa yang dikatakan oleh Prasetyo, Atika segera berjalan menuju ke kamar mandi.
Di dalam kamar tersebut, Atika celingukan mencari Di mana kamar mandinya berada.
" Kamar mandinya di mana ya? " karena tidak menemukan kamar mandi di dalam kamar itu, etika bertanya kepada Prasetyo.
" Di dalam kamar ini tidak ada kamar mandi. Kamar mandinya di luar.
" Yah prasetnyo apa-apaan sih kamu. masa iya rumah di kamarnya nggak ada kamar mandi." ketika menggerutu sembari memegang handuk di tangannya.
__ADS_1
" Kamar mandinya di luar, bukan di luar rumah tapi hanya di luar kamar itu saja" Prasetyo menjelaskan kepada Atika.
" Ya sudah aku ke sana dulu" dengan wajah yang cemberut, Atika keluar dari kamar tersebut untuk membersihkan diri.
" Rumah sebesar ini kenapa Kamar mandinya di luar. Kenapa nggak di dalam aja sih" padahal kamar mandi yang dimaksud oleh Prasetyo berada dekat dengan kamar yang mereka tempati. tapi karena memang Atika Orangnya sedikit gengsian. ia merasa kesal.
Hampir 10 menit membersihkan diri. Atika tidak berani mandi karena cuaca di tempat itu sangatlah dingin. Iya kembali ke dalam kamar. Setelah meletakkan handuk yang tadi di bawanya, Atika segera menuju ke tempat tidur untuk istirahat.
" Pokoknya aku mau kamar mandi di dalam. Kalau di luar begitu kalau aku takut bagaimana? " Atika bergumam kesal kepada Prasetyo.
" Iya, kapan-kapan aku akan meminta seseorang untuk membuatkan kamar mandi di dalam kamar" Prasetyo menanggapi kekesalan Atika dengan santai. Ya begitulah seorang wanita yang bernama Atika. terlihat begitu sempurna di mata Prasetyo. Hingga akhirnya semua keinginannya harus dituruti. Karena kelelahan mereka berdua pun akhirnya memutuskan untuk tidur tanpa ada obrolan lagi.
Pov Miana
" Sayang kenapa malam-malam seperti ini di luar? ini sudah hampir jam 09.00 ya. kamu kenapa belum tidur? " Atika melihat Dara yang keluar dari kamarnya. Iya pun segera bertanya.
" Mama sendiri Kenapa jam segini belum tidur. Papa belum pulang ya. kok mobilnya belum ada di garasi" pertanyaan dari Dara membuat Atika Harus berpikir Mencari Alasan. Sebenarnya Ia senang Prasetyo tidak pulang. Karena ia tidak perlu repot-repot melihat orang yang saat ini dibencinya itu. Tapi melihat putrinya menanyakan keberadaan sang ayah, Miana jadi berpikir lain.
" Aku harus menjawab apa ke Dara? " gumam niana dalam hatinya.
" Papa tadi bilang kalau dia sedang ada urusan sayang. Kalau urusannya Belum selesai, Papa malam ini tidak pulang." penjelasan miana membuat darah mengerti.
" Papa kerja sampai larut malam seperti ini ya Ma. kalau begitu, Dara mau tidur dulu" Dara akhirnya masuk ke dalam kamar lagi.
"Iya sayang. Selamat tidur" Miana mengucapkan. Setelah sang anak menutup pintu kamar nya. Miana menunduk. Tak terasa air matanya tiba-tiba menetes dari sudut mata itu. Iya takm menghapusnya.
"Maafkan mama nak. Mama tidak bisa membuat papa mu bertahan di sini. Mungkin saat ini kalian harus kehilangan papa kalian" Miana terisak dalam gumamnya. Iya tak sanggup lagi membendung air mata itu.
"Sakit ya Allah... Sakiiiit sekali. Apa salahku sehingga prasetyo tega melakukan ini. Kenapa baru sekarang? Di saat anak-anak sangat membutuhkannya." Miana masih terisak di depan kamar sang anak. Dan tanpa iya sadari, ada yang mendengar apa yang dirinya katakan. Miana berlari menuju ke kamarnya sendiri. Dan langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Fikirannya benar-benar kacau. Hatinya hancur. Iya meremas seprai kuat-kuat. Tangis yang di tahannya dia lepaskan begitu saja. Hingga air mata itu membuat seprai yang berada di bawahnya menjadi basah.
"Kenapa Ya Allah... Kenapa? Sebenarnya apa salah dan dosaku? Aku benar-benar tidak tahu kenapa..." Miana kembali menangis di dalam kamar itu. Dan seseorang telah menjadi saksi atas tumpahnya air mata Miana malam itu. Karena di saat masuk, Miana lupa untuk menutup dengan rapat pintunya. Masih ada celah untuk mengintip. Dan suara yang terdengar begitu jelas. Membuat seseorang di balik pintu itu ikut meneteskan air mata.
"Astaghfirulahaladzim... Astaghfirullahaladzim... astaghfirullahaladzim." Miana hanya bisa beristighfar menghadapi semua cobaan yang menimpanya. Lama sekali Iya menangis. Menumpahkan seluruh air mata dan rasa sakitnya. Hingga tanpa ia sadari, Ia pun tertidur di atas ranjang yang empuk itu. Miana kali ini sudah terlelap. Namun seseorang dibalik pintu itu masih tetap tegar untuk berdiri di sana. Menyaksikan Miana menghadapi sendiri rasa sakitnya. Karena dirasa Miana sudah diam dan tak ada pergerakan sama sekali. Dia pun masuk dan merebahkan diri di samping Miana yang telah tertidur lelap. Dia menggenggam tangan miana erat. Air matanya juga tak bisa berhenti untuk tidak mengalir. Tangisan itu terjadi di dalam diamnya.
__ADS_1