
'Tok tok tok' Permisi" Ucap seseorang di luar ruangan Prasetyo.
"Mohon maaf tuan, saya kembali lagi" Teman Hendra yang pergi hampir 1 jam yang lalu kembali lagi.
"Kamu kenapa kembali lagi? " Tanya Prasetyo penuh heran.
"Saya hanya ingin mengembalikan ini tuan" Jawab lelaki tersebut.
" Cepat sekali kamu kembali. Apakah laki-laki bernama Arlando itu berada di sekitar sini saja" pertanyaan Prasetyo membuat lelaki itu terhenti.
"Benar tuan. Dia berada tidak jauh dari sekitar sini" Jawabnya.
"Kalau boleh saya ingin bertemu dengan dia. Apa bisa? " Prasetyo ingin bertemu dengan Arlando.
"Maaf tuan. Bahkan sampai saat ini pun saya juga belum bisa melihat wajahnya yang asli. Dia bilang kalau privacy nya harus benar-benar terjaga. Jadi akan saya sampaikan permintaan tuan kepada Arlando" Jawab lelaki itu kembali.
"Oke... Saya tunggu kabar baiknya" Prasetyo mengangguk. Iya sangat penasaran dengan lelaki bernama Arlando itu.
"Kalau begitu saya pamit undur diri tuan" Lelaki itu pun keluar.
Di saat fikirannya sedang bercabang, Tiba-tiba lamunan Prasetyo terkoyak oleh panggilan Atika.
"Tiyo... Kita harus bagaimana? Aku tidak bisa menemui keluargaku. Aku tidak mau mereka mengatakan hal tidak-tidak kepadaku" Atika menepuk pundak Prasetyo yang sedang melamun itu.
"Kamu fikir kamu saja yang berfikiran seperti itu? " Prasetyo menjawab dengan tenang.
"Tadi kamu bilang kalau kamu ada rencana. Rencana apa itu? " Tanya Atika penasaran.
" Salah satu cara adalah dengan kita pergi dari sini" Atika melotot mendengarkan ide dari Prasetyo.
" Kamu gila? Kalau kita pergi Lalu bagaimana dengan anak-anak? " Atika bergumam seakan tidak setuju.
__ADS_1
" Kamu tenang saja, ada kakek dan neneknya yang mengurusi. Atau kamu ingin dicap pelakor oleh mereka semua? " Prasetyo kembali mengatakan hal yang membuat Atika menjadi takut.
" Lalu siapa yang akan mengurus perusahaanmu? " Atika bener-bener tidak tahu pemikiran seorang Prasetyo.
" Aku punya asisten yang bisa diandalkan. Kenapa harus memikirkan hal yang membuat kita menjadi pusing? " Prasetyo dengan santai menjawab.
"Lalu kita akan kemana? " Tanya Atika kembali.
"Kita cari tempat yang aman. Kita beli perumahan di daerah yang sulit di jangkau oleh mereka" Prasetyo tersenyum.
"Misalnya? " Atika masih belum memahami dengan benar.
"Kita beli salah satu rumah di daerah perkebunan. Aku yakin mereka tidak akan mencari kita sampai kesana" Ide yang di keluarkan oleh Prasetyo membuat Atika tersenyum puas
"Baiklah... Asal bersamamu, aku akan ikut kemana pun kamu pergi" Atika tersenyum memandang suaminya yang siri itu.
"Ayo kita berangkat, jangan buang-buang waktu" Prasetyo bangkit dari kursinya lalu menarik tangan Atika. Namun iya kembali lagi karena ada yang tertinggal.
"Aku harus membawa semua ini. Agar nanti bisa bekerja di sana." Prasetyo mengambil laptop dan semua perlengkapannya. Termasuk seluruh surat-surat berharga yang iya simpan dalam kantor itu. Dia kembali duduk saat teringat sesuatu.
"Fadli kemarilah! " Panggil Prasetyo lewat sambungan telepon. Tanpa menunggu lama. Fadli pun sudah datang.
"Iya tuan... Anda memanggil saya? " Tanya Fadli.
"Kemarilah..." Setelah Fadli duduk, Prasetyo mulai berbicara.
"Fadli, untuk beberapa hari ke depan, kamu handle perusahaan. Aku percayakan semua kepada kamu. Kalau ada hal yang penitng kamu bisa menemuiku di tempat yang nanti akan aku Tentukan" Prasetya memberikan instruksi kepada Fadli, seorang asisten kepercayaan Prasetyo selama ini.
"Sepertinya tuan Prasetyo ingin pergi dalam waktu yang lama. Kalau Boleh saya tahu, Tuan mau ke mana? " tanya Fadli dengan penuh kehati-hatian.
" Kamu tidak perlu mengetahui kemana aku akan pergi. Kamu hanya perlu bekerja dengan sebaik mungkin" Prasetyo mengatakan hal tersebut sambil memandang tajam ke ke arah Fadli.
__ADS_1
" Baik tuan saya mohon maaf" Fadli yang selesai mengatakan hal itu segera menunduk.
" Kembalilah ke ruanganmu, lalu handle semua tugas yang telah aku berikan kepadamu" Prasetyo menyuruh Fadli untuk kembali ke ruangannya.
Pov Miana.
"Parlan..." di saat akan berangkat menjemput darah dan Jelita, Miana berlari dan mengetuk-ngetuk kaca mobil yang dikendarai oleh Parlan. Maka Parlan pun dengan segera membuka kaca mobil yang diketuk oleh Miana tersebut.
" Ada apa Miana? " tanpa embel-embel nyonya, Parlan memanggil Miana dan menanyakan apa maksudnya mengetuk pintu mobil.
" Aku mau ikut. Aku bisa mati sakit hati kalau terus-terusan berada di rumah" Miana membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil. Parlan hanya bisa terdiam menanggapi majikannya yang saat ini benar-benar bangkit dari keterpurukan. Baru beberapa jam yang tadi Miana menangis sesenggukan meratapi nasib yang begitu kejam kepadanya. Namun saat ini wajahnya sudah terlihat sedikit cerah. Parlan ikut tersenyum menyaksikan pemandangan seperti ini. Miana yang duduk di samping Parlan melihat senyumnya. Ia merasa aneh karena Parlan tiba-tiba tersenyum sendiri.
" Apa otak kamu sedang tidak baik-baik saja Parlan? Kenapa kamu senyum-senyum sendiri seperti itu? " Miana tiba-tiba berkata dengan kardus di saat tahu Parlan tersenyum.
" Saya baik-baik saja... Kenapa Anda mengatakan kalau otak saya sedang tidak baik-baik saja? " kali ini Parlan kembali bertanya kepada miana.
" Ya kamu kenapa senyum-senyum sendiri. Ayo berangkat nanti kita telat lagi jemput anak-anak" Miana mengajak Parlan untuk segera berangkat. akhirnya Parlan melajukan mobilnya.
" Miana..." panggil Parlan ketika mereka berada di perjalanan.
"Iya" Miana menjawab sembari menoleh ke arah parlemen yang berada di sampingnya.
" Kamu baik-baik saja kan? " Parlan bertanya tanpa menoleh ke arah miana. Iya tetap fokus pada kendali setirnya.
" Alhamdulillah kalau aku terlihat baik-baik saja Parlan. dan memang seharusnya aku harus baik-baik saja. Agar aku bisa melewati semua keadaan yang menurutku tidak sesuai dengan keinginanku. Aku harus baik-baik saja demi anak-anak yang selalu membutuhkan. Dan aku sadar, bahwa aku tidak pantas menangisi lagi b******* seperti Prasetyo. Aku sudah lama bertahan dan sudah banyak berkorban untuk hidup yang kita jalani selama ini. tapi ternyata rasanya memilih jalan lain. Iya tidak ingin menempuh jalan yang dulu pernah kita janjikan untuk terus bersama-sama. Aku tidak ingin menjadi wanita lemah" tak terlihat air mata menetes di sudut mata Miana. Parlan yakin, jika air mata itu telah dihabiskan Miana untuk menangisi suatu hal yang sia-sia.
" Aku ikut senang mendengar apa yang kamu katakan saat ini. Tetaplah menjadi Miana yang periang seperti dulu. Benar apa yang dikatakan oleh ayah. Kamu memang tidak pantas menangisi lelaki tak bertanggung jawab seperti Prasetyo" Parlan tetap pada fokusnya untuk mengemudi mobil. Namun mulutnya tidak berhenti untuk berbicara dengan miana.
" Aku yakin... Badai Pasti Berlalu" Miana mengataka hal tersebut dengan air mata yang hampir jatuh.
"Jangan menangis Miana. Maaf aku telah mengingatkanmu pada hal menyakitkan seperti ini" Parlan meminta maaf ketika menyadari bahwa suara wanita di aampingnya itu terdengar serak. Hingga di saat berhenti pada sebuah lampu merah, Miana menyadari sesuatu. Ada pemandangan yang membuatnya teringat akan sesuatu.
__ADS_1