
"Jangan khawatir, aku yang akan bertanggung jawab atas semuanya" Parlan masih dengan santai menjawab kekhawatiran Miana.
"Oke, aku percaya ke kamu. Tapi..." ucapan Miana terhenti.
"Jangan khawatir, biarkan mereka menikmati saat ini" Miana langsung terdiam mendengar apa yang di katakan oleh Parlan. Parlan hanya ingin memberikan kejutan saja kepada Miana dan anak-anaknya.
"Susi, kamu makan aja dulu" Parlan mendekati Devan dan mengambil makanan yang berada di dekat Devan.
"Baik Pak" Susi mengangguk. Iya langsung mengambil sebuah piring berisi makanan yang sudah di pesannya tadi.
"Susi, Parlan ngga jahat kan sama kamu? " Tanya Miana secara tiba-tiba. Membuat Parlan yang akan mencoba menyuapi Devan kembali menatap ke arah Miana.
"Bapak baik banget nyonya." Susi yang akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya pun berhenti melakukan aktifitasnya.
"Kalau dia jahat sama kamu, kamu bilang aja ke saya ya. Biar saya yang membalas" Miana mengatakan itu sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya
"Mana ada aku jahat Miana? Kamu tahu kan, selain tampan di rupa, aku selalu baik di akhlak" Parlan dengan bangga mengatakan hal itu.
"Jangan berbangga diri. Kamu tahu? Aku bosan mendengar kamu mengatakan kata tampan." Miana melengos, dan mereka mulai lagi dalam mode kakak adik yang suka mengolok-olok.
"Kenyataan Miana. Kamu jangan mengelak dari kenyataan. Mau kamu bertanya kepada siapa pun, sudah pasti jawaban nya adalah iya, dia memang tampan" Parlan masih saja sama.
"Hahaha... Sudah lah. Kalau kamu bicara seperti itu lagi, kamu bisa membuat aku semakin mau muntah? " Miana terus menjawab apa yang di katakan oleh Parlan.
"Hahaha..." Akhirnya mereka bertiga yang berada di meja itu tertawa. Tidak terkecuali Susi.
Hampir 20 menit berlalu, Miana, Parlan dan Susi sudah menyelesaikan acara makannya. Dan di saat Miana sedanng menikmati hidangan penutup, Ada seuara yang mengejutkannya.
"Mama Mama" Panggilan dari suara yang begitu di kenalinya. Dara dan Jelita memanggil secara bersamaan.
"Dara, Jelita... Ada apa? " Miana yang menoleh melihat putrinya membawa banyak bunga.
__ADS_1
"Dara... Jelita" Miana langsung berdiri karena kedua anaknya mmebawa bunga yang sangat banyak. Dan bunga itu terlihat sangat bagus.
"Sayang, kenapa memtik bunga sebanyak itu. Bisa merusak. Nanti yang pinya restoran bisa marah nak" Miana langsung berdiri dan mendekat ke arah kedua putrinya.
"Tidak masalah nyonya. Anak kecil yang sangat menyukai bunga dan cantik seperti mereka tidak menjadi masalah memetik bunga-bunga ini. Anggap saja sebagai hadiah. Saya senang melihat anak-anak nyonya yang sangat cantik. Dan saya menyuruh mereka untuk memetik bunga sebanyak yang mereka mau" Dan disaat akan mengeimbangkan tinggi dengan kedua anaknya, Miana mendengar seseorang berkata. Miana yang mendengar pun segera menoleh dan lalu berdiri kembali.
"Tapi pak, mereka memetik bunga terlalu banyak. Dan bung-bunga ini tampak bukan bunga yang biasa. Bunga ini sebagai Hiasan. Kalau sampai di petik sebanyak ini pasti akan berkurang keindahannya" Miana masih merasa tidak enak, apalagi kepada seseorang yang baru saja berkata kepadanya itu. Lelaki berjas dan terlihat begitu rapi. Miana menyangka jika lelaki itu adalah pemilik tempat makan yang saat ini di tempatinya.
"Nanti saya akan mengganti, masukkan semua yang sudah di ambil oleh anak-anak saya ke dalam bill ya" Miana merasa tak enak hati.
"Nyonya jangan sungkan seperti itu. Pemilik restoran ini sudah mengizinkan anak-anak nyonya untuk megambil bunga apa yang mereka sukai. Jadi jangan merasa tak enak hati nyonya" Parlan hanya mendengar kekhawatiran Parlan.
"Pemilik? Siapa pemiliknya? Aku mau bertemu langsung kepadannya. Biar anak-anak langsung bisa minta maaf kepada beliau. Tolong pertemukan aku kepada pemilik resto ini" Miana malah ingin bertemu dengan pemilik resto untik meminta maaf. Dan lelaki ber jas itu malah terdiam. Iya malah menatap ke arah meja di mana Parlan berada. Sedangkan Parlan hanya kembali menatap. Iya tersenyum lalu menggerakkan kepalanya sedikit.
"Maaf nyonya. Hal itu tidak perlu harus dengan bos kami. Beliau sedang sibuk. Dengan saya saja sudah cukup" Lelaki itu masih tak ingin memanggilkan bos nya.
"Mama... Om nya baik. Dara dan Jelita di kasih bunga-bunga ini. Om ini juga yang sudah menata dengan rapi bunga-bunga ini" Setelah terdiam beberapa saat mendengarkan perdebatan antara mama dan lelaki berjas itu, Akkhirnya Dara dan Jelita berbicara.
"Tapi sayang, kenapa memetik sebanyak ini. Kan bisa sedikit saja" Miana masih khawatir.
"Mama suka? " Tanya Jelita. Dan Miana mengangguk dengan senyuman yang membuat wajahnya terlihat begitu cerah. Parlan ikut tersenyum melihat semuanya.
"Ini buat mama ya. Dan ini buat om Parlan yang sudah mengajak kami ke tempat sebagus ini" Dara mengulurkan tangannya untuk memberikan bunga kepada Parlan. Dan Parlan tersenyum menerima bunga yang indah itu.
"Terimakasih anak manis, cantik dan pintar" Ucap Parlan sembari mengangkat tangannya untuk mengambil bunga tersebut.
"Sama-sama om tampan" Terdengar kedua bocah itu berkata bersamaan. Parlan langsung menoleh ke arah Miana yang membulatkan matanya karena mendengar ucapan Dara dan Jelita.
"Kamu dengar kan mama Miana, apa yang di katakan oleh Dara dan Jelita sama seperti yang aku katakan. Jadi fix, aku ini tampan ngga ada obat" Parlan dengan bangga menyombongkan ketampnanannya.
"Hueekk..." Miana berekspresi seakan mau muntah. Untung saja tempat yang mereka tempati agak jauh dari meja pengunjung lain. Jadi suara Miana tidak akan menganggu kenyamanan pengunjung resto tersebut.
__ADS_1
"Om ber jas yang kita tidak tahu namanya, terimakasih banyak. Ini untuk om" Jelita mengambil satu bunga yang berada di atas meja sebagai hiasan dan di berikan kepada lelaki yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya itu.
"Hahaha..." Semua orang di sana tertawa melihat tingkah Jelita karena kepeduliannya terhadap lelaki yang tak di kenalnya tersebut. Bunga palsu itu tampak sangat indah. Dan mau tak mau, untuk menerima ucapan terimakasih dari anak kecil yang tulus itu, orang berjas yang menjadi keprcayaan di resto itu menerimanya.
"Terima kasih nona-nona yang cantik." Sembari menerima, orang tersebut mengucapkan terimakasih.
"Sama-sama om" Dara dan Jelita akhirnya kembali ke tempat duduk yang belum sempat di dudukinya itu. Mereka makan dengan lahap semua yang tersaji di tas meja.
"Mama, om Parlan. Kapan-kapan kita kesini lagi ya. Masakan di sini enak, trmpatnya bagus" Ucap Jelita ketika selesai memakan seluruh hidangan.
"Iya mah, Dara suka banget sama tempatnya. Kapan-kapan kita kesini lagi ya" Sambung Dara. Mereka pun mengangguk.
Hampir satu jam menunggu, Dara dan Jelita telah selesai makan. Karena mereka tidak langsung pulang terlebih dahulu, melainkan bersantai ria. Karena sudah merasa puas bermain dan bersantai ria, mereka akhirnya pulang. Miana memanggil seorang pelayan untuk meminta bill nya.
"Mbak, tolong ini" Miana melambaikan tangan.
"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu? " Tanya pelayan tersebut.
"Minta bill nya mbak" Ucap Miana.
"Maaf nyonya, semua ini sudah di bayar" Miana langsung melihat ke arah pelayan tersebut.
"Apa? Di bayar? Siapa yang membayar? " Miana terkejut.
"Yang membayar tu..." Ucapan pelayan tersebut terhenti.
"Wah, enak sekali ya kita hari ini. Bisa makan enak, gratis lagi" Parlan langsung menyela.
"Ya sudah mbak, terimakasih ya. Mbak bisa kembali bekerja lagi" Parlan menyuruh wanita itu untuk pergi dengan alasan bekerja kembali.
"Baik tuan" Dengan cepat wanita itu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Tap mbak, siapa yang..." Ucapannya juga terhenti ketika Parlan mengatakan sesuatu.
"Miana sudahlah. Ini adalah rezeki kita semua. Ayo pulang, sudah hampir malam. Anak-anak harus istirahat" Parlan sudah berdiri. Namun Miana masih merasalan bingung. Hingga Dara dan Jelita memanggilnya untuk segera berdiri, baru Miana berdiri dan berjalan bersama anak-anaknya.