Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Informasi Dari Bagas


__ADS_3

Selesai sarapan dan menghabiskan makanannya, Mbok Darmi mengajak Jelita untuk ke kebun belakang rumah untuk mengumpulkan kayu bakar. Sedangkan Jelita duduk di atas batu besar menunggu Mbok Darmi.


" Mbok di sini banyak bunga yang bagus-bagus. di sini juga banyak kupu-kupu. Jelita merasa senang sekali tinggal di sini" Jelita merasa kagum atas ciptaan tuhan yang begitu sempurna. Tumbuhan dan hewan yang hidup menyatu di alam bebas. Itu menjadi hiburan tersendiri untuk Jelita.


"Di sini suasananya masih asri cah ayu. masih natural seperti yang berada di dalam lukisan-lukisan zaman dulu. Itulah sebabnya Kenapa Mbok Darmi betah sekali tinggal di sini walaupun sendirian." Sambil sibuk mengumpulkan kayu bakar, Mbok Darmi menjawab apa yang diucapkan oleh Jelita. Pekarangan rumah yang menjadi tempat tinggalnya benar-benar terawat. Hingga membuat Jelita tidak pernah bosan untuk menatap keindahan alam yang begitu sempurna.


" Tempat ini akan menjadi sejarah untuk hidup Jelita" Mbok Darmi mengatakan hal tersebut sambil membopong kayu bakar di tangan kirinya.


" apa Mbok sudah selesai mencari kayu bakarnya? " Jelita bertanya karena Mbok Darmi sudah kembali dengan membawa kayu bakar.


"Sudah.. Ayuk kita masuk" mbok Darmi mengajak Jelita masuk. Jelita pun menurut. Iya mengikuti mbok Darmi dari belakang.


"Setelah ini mau apa mbok? " Tanya Jelita. Mbok mau metik sayuran untuk besok nak" Jawab Mbok Darmi. Mereka pun masuk dan mengambil sesuatu.


Tiga bulan Kemudian.


"Tiga bulan Berlalu, Miana Masih memikirkan hilangnya Jelita yang belum juga ditemukan hingga saat ini. Miana terus mengkhawatirkan keadaan putrinya yang tidak diketahui keberadaannya tersebut.


" Kalau misalnya kamu masih hidup, kembalilah nak" di dalam kamarnya, Miana merenung karena kepergian Jelita yang tiba-tiba. Hingga akhirnya ia memejamkan mata karena lelah. Iya tidur karena rasa ngantuk sudah menyerangnya.


Sore hari setelah semua pekerjaannya selesai, Miana ingin pulang dari kantor, Miana membaca Pesan yang di kirimkan oleh Bagas.


"Apa kamu sibuk? " Tanya Bagas dalam pesan nya.

__ADS_1


"Baru mau pulang. Ada apa? " Tanya Miana.


"Boleh aku menjemputmu? " Pesan tersebut baru di baca oleh Miana.


"Boleh. Kebetulan sekali Parlan anaknya sedang sakit. Sehingga dia tidak bisa menjemput" Balas Miana.


"Oke... Kamu tunggu ya" Bagas mengirimkan pesan tersebut.


Tak ada 1 jam setelah Bagas mengirimkan pesannya kepada Miana. sekarang laki-laki itu sudah berada di lobby perusahaan milik Miana. Bersandar pada pintu mobil yang dikendarainya, Bagas menanti Miana untuk keluar dari kantor.


"Miana" Pqnggil Bagas di saat melihat Miana baru saja keluar dari lift. Miana yang melihat Bagas di depan pun segera menghampirinya.


" Kamu sendirian aja? " katanya Miana kepada Bagas. Karena ia tidak melihat siapapun di mobil tersebut. Bagas pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Ayo, keburu malam." Bagas membukakan pintu mobil yang disandarinnya tadi. Dengan perlahan miana pun masuk ke dalam mobil di samping kursi kemudi. Bagas berputar menuju tempat dia mengemudikan mobilnya. Setelah menutup pintu, mobil yang ditumpanginya melaju secara perlahan.


"Orang-orang suruhanku menemukan sebuah rumah yang berada di tengah hutan yang berada di desa terpencil tidak jauh dari tempat Jelita hilang saat itu. Kalau aku boleh meminta izin kepadamu, aku akan ke sana sendiri untuk mengecek kebenaran dari informasi yang aku terima" Bagas mengatakan kepada miana.


" Apa kamu yakin kalau di tempat itu ada Jelita? " tanya Miana sembari menunduk.


" Aku takut kecewa lagi karena pencarian kita tidak membuahkan hasil" Miana kembali menyatakan alasannya mengapa ia bertanya seperti itu kepada Bagas.


" Tidak ada salahnya kan kalau kita mencoba melihat ke sana? " Bagas Tetap optimis untuk mencari dan menemukan Jelita walaupun saat ini waktu yang mereka gunakan untuk mencari gadis kecil itu sudah lebih dari 3 bulan.

__ADS_1


" Aku akan ikut ke sana untuk melihat" Miana mengatakan hal tersebut. Membuat Bagas tersenyum lalu menoleh ke arah wanita yang berada di sampingnya itu.


" Kita akan berangkat besok pagi. Aku sudah menyewa helikopter untuk kita ke sana. Ada tiga helikopter yang kita sewa untuk bisa sampai ke tempat itu" Bagas mengatakan kepada miana.


" Aku terserah kepada mu saja Bagas. Aku serahkan semua ini pada kamu. Semoga saja pencarian kita tidak sia-sia kali ini" Miana benar-benar telah putus asa. Segala cara dan usaha telah ia lakukan untuk dapat menemukan Jelita. Namun kenyataan masih belum sesuai ekspektasinya. Jelita masih belum bisa kembali ke pelukannya sampai saat ini.


" Kamu belum makan kan? Bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu. Ini sudah hampir jam 07.00 malam. Kamu terlihat sangat kurus dari 3 bulan yang lalu." Bagas menawari miana untuk mengajaknya makan malam.


" Aku memang belum makan. Aku ikut kepada kamu saja" Miana dengan suara lemahnya menjawab ucapan yang diungkapkan oleh Bagas. Dan akhirnya Bagas membawa Miana ke sebuah rumah makan tidak jauh dari kantor.


Setelah berbelok dan memasuki lahan parkir yang dimiliki oleh restoran yang dituju oleh Bagas. Iya menghentikan laju mobilnya.


" kita makan di sini saja" Bagas membuka pintu mobil lalu keluar. dan di saat akan membuka pintu di mana Miana duduk, pintu itu sudah terbuka dan menyala langsung keluar dari dalam mobil. restoran terlihat begitu sepi. Mungkin karena memang ini sudah hampir malam.


" Kok tumben sih restoran ini sepi banget. biasanya aja penuh" Miana merasa ada sedikit keanehan.


"Mungkin lagi ada acara" Jawab Bagas. Mereka berdua segera masuk ke dalam restoran.


"Selamat datang tuan Bagas, nyonya Miana" Miana merasa aneh dengan sapaan yang karyawan itu lakukan.


"Dari mana mereka bisa tahu nama kita? " Tanya Miana kepada Bagas. Begitu masuk, Miana melihat banyak orang di sana. Bagas memilih tempat terdepan yang dekat dengan panggung di resto itu. Baru saja duduk, beberapa karyawan datang membawa nampan berisi hidangan mewah. Semua serba mengejutkan untuk Miana. Namun iya tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Miana masih terdiam di tempat duduk yang saat ini di tempati nya.


"Miana... Ayo kita makan" Ajak Bagas. Miana mengangguk. Namun masih ada yang janggal di hatinya.

__ADS_1


"Ini pesanan siapa? Kenapa banyak sekali? " Miana bingung. Bagas tersenyum melihat kebingungan wanita di depan nya itu.


"Makan saja dulu. Nanti aku jelaskan" Bagas tersenyum. Iya begitu senang karena Miana tak banyak bertanya seperti biasanya. Mereka berdua pun makan dengan lahap. Makanan di piring Miana dan Bagas tinggal 2 atau 3 suap lagi, namun tiba-tiba lampu padam. Membuat Miana tak bisa melihat apa-apa kecuali kegelapan.


__ADS_2