
"Kamu tunggu saja kapan waktu itu akan tiba" Tante Aya menulis pesan dan mengirimkannya kepada Atika.
"Maksud tante bagaimana? " Atika yang masih belum terlalu paham kembali bertanya.
"Jangan tunjukkan pesan ini kepada Prasetyo" Balas tante Aya. Dan Atika melirik ke samping, Dilihatnya jika Prasetyo sedang memejamkan mata. Mungkin sedang tertidur.
"Perhatikan baik-baik apa yang tante kirimkan! " Saat menoleh kembali ke ponselnya, Atika membaca pesan tersebut. Terdapat foto buku nikah. Atika memperbesar foto tersebut. Setelah di perhatikan dengan seksama, ternyata itu adalah buku nikah Miana dan Prasetyo. Tiba-tiba Atika teringat dengan sesuatu.
Seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Atika membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.
"Tante sudah berhasil dapetin apa yang Tika mau? " Balas Atika dengan cepat.
"Sudah dong... Kan tante memang mendukung kamu Supaya bisa bersatu dengan Prasetyo" Atika tersenyum ketika membaca pesan tersebut. Sebuah kebahagiaan menghampirinya.
"Satu per satu rencanaku berhasil. Semakin cepat maka akan semakin bagus. Prasetyo harus aku dapatkan. Aku tidak peduli dengan Miana" Gumam Atika dalam hati.
"Oke tante, tunggu rencana selanjutnya. Terimakasih tante Aya tersayang ku" Atika membalas dengan perasaan senang.
" Oke... Untuk keponakanku tersayang, Aku akan melakukan apapun supaya kamu bisa mewujudkan mimpimu. Selamat bersenang-senang" setelah tante Aya mengirimkan pesan tersebut. Atika mengarsipkan pesannya supaya tidak dibaca oleh Prasetyo.
"Siap tante" pesanan pun terbalas. Atika memasukkan ponselnya ke dalam tas. Iya pun tersenyum bangga merasa menang.
" Setelah aku bisa mendapatkan Prasetyo, maka Miana akan pergi" senyum jahat Terukir di bibir Atika. Iya bergumam di dalam hatinya. Dan mobil yang ditumpangi oleh Atika bersama Prasetyo terus melaju menuju ke Villa tujuan mereka.
Ponsel Prasetyo berdering menandakan panggilan masuk. Dengan cepat Prasetyo melihat Siapa yang menghubungi. Setelah melihat layar ponselnya, ternyata nama Ibunya tertera di sana.
" Halo ibu..." begitu Prasetyo menggeser layar ponselnya, ia menjawab panggilan tersebut.
"Tiyo, kamu dimana? " Tanya bu Asti.
"Aku sedang di luar kota bu, ada apa? " Prasetyo pun membohongi ibu kandungnya.
__ADS_1
"Kamu tahu Tiyo... Istri kamu si Miana, dia berselingkuh dengan laki-laki lain. Tadi pagi Dia mempermalukan ibu dan ayahmu. Dan asal kamu tahu, ternyata dia adalah temannya Tuan Rendy pimpinan AIA Corporation. Ibu tidak berani melawan dia. Takut kalau kerjasama dengan kita di batalkan. Sungguh semua ini membuat ibu kesal" Ibu Mertua Miana bercerocos saat menceritakan kepada putranya.
"Sebentar bu, tolong kalau cerita yang jelas. Aku ngga paham apa maksud ibu" Prasetyo yang masih merasa mengantuk belum bisa memahami cerita sang ibu.
"Kamu pulang saja lah. Nanti ibu cerita. Kalau kamu sudah di rumah biar jelas" bu Asti mematikan panggilannya.
"Ibu kenapa sih... Ngomel-ngomel ngga jelas, huffttt" Prasetyo segera memasukkan ponselnya ke saku kembali.
Pov Bagas.
"Rendy, cari tahu semua yang terjadi pada Miana. Aku ingin menolongnya" Bagas memberikan perintah kepada Rendy.
"Bagas... Kamu yakin mau ikut campur dalam masalah rumah tangga Miana? " Kali ini Rendy sedikit ragu untuk melaksanakan apa yang Bagas perintahkan.
" Aku merasa kalau Miana sedang butuh bantuan. Aku tak ingin melewatkan kesempatan ini" Bagas pun menjawab tanpa memikirkan resikonya.
" Tapi kamu tahu kan kalau Miana itu masih punya suami? " Rendy berusaha untuk mengingatkan sahabatnya itu.
" Baiklah... Kalau memang menurut kamu itu adalah yang terbaik. Maka aku akan melaksanakan perintah kamu sesuai dengan apa yang kamu katakan" Rendy Tak ingin lagi membantah apa yang dikatakan oleh Bagas.
" Bagus... Lakukan semuanya dengan baik dan dengan cepat. Aku tidak ingin ada satupun kesalahan tentang informasi yang kamu dapatkan" setelah mengatakan itu, Bagas kembali fokus kepada layar laptopnya. dan Rendy pun segera memulai mencari informasi tentang apa yang diinginkan oleh Bagas.
"Oh iya, apa kamu masih menyimpan rasa kepada Miana? " Rendy mulai bertanya di saat Bagas ingin memulai menyelesaikan pekerjaannya.
"Hmmm" Hanya itu jawaban Rendy.
"Miana itu duluvsulit di dapatkan" Imbuh Rendy.
"Tapi dia berakhir melabuhkan cintanya kepada laki-laki yang salah" Kali ini fokus Bagas kembali terpecah.
"Itulah godaan rumah tangga, aku belum siap merasakan yang seperti itu" Ucap Rendy.
__ADS_1
"Makanya kamu jomblo terus" Bagas menjawab dengan ejekan.
" Biarlah, semoga nanti aku mendapatkan satu wanita yang bisa menerima aku apa adanya. Dan satu untuk selamanya" Rendy tak ingin terprovokasi. Iya pun menjawab dengan santai.
" Pemikiran kamu memang beda dengan yang lain" Bagas pun tak ingin kalah.
" Tapi... Aku merasakan jika menjadi dewasa itu begitu melelahkan. Dulu ketika kita masih kecil, pagi berantem sore bermain bersama.
"Kamu benar, kehidupan dewasa itu juga menyakitkan. Realita tentang perselingkuhan apalagi" Bagas seakan teringat masa lalunya.
"Perselingkuhan hanya dilakukan
Oleh mereka yang lemah iman. Serta tak mampu tundukan pandangan. Hatinya penuh kekosongan. Mudah tertipu oleh rayuan. Berlian jelas dihadapan rela ditinggalkan, demi mengejar pecahan kaca yang nampak berkilauan" Rendy langsung mengerti yang dimaksud oleh Bagas.
"Kamu kadang-kadang terlalu benar untuk masalah cinta."
""Kata Habib Umar bin Hafidz, Cinta terbaik adalah di saat kau mencintai seseorang yang membuat akhlakmu semakin baik, jiwamu semakin damai dan hatimu semakin bijak." Rendy mulai berkata.
"Jangan pernah lelah memperbaiki diri. meski seisi dunia sedang menertawakan masa lalumu" Rendy masih tetap berbicara dan Bagas masih setia mendengarkan.
"Dua musuh kebahagiaan seseorang adalah rasa sakit dan rasa bosan, Bagaimana aku tidak bersabar dengan semua ini" Bagas menutup laptopnya dan melanjutkan mengobrol dengan Rendy.
"Jangan sedih jika kamu memilih orang yang salah, karena tanpa memilih mereka kamu takkan pernah tahu nilai sesungguhnya dari orang yang benar" Rendy menambahkan apa yang dia katakan. Sedingin apapun hati Bagas, jika Rendy yang mengatakan, maka hatinya akan menghangat. Hingga akhirnya mereka saling senyum. Mereka memang merasa saling membutuhkan. Dan disaat yang sama, Senyuman Rendy dan Bagas kembali dingin ketika mendengar pintu ruangan itu di ketuk.
"Masuk" Setelah mempersilahkannsi pengetuk pintu untuk masuk, Bagas mrnatap ke depan. Sedangkan Rwndy pura-pura sibuk.
"Mohon maaf tuan, ada tamu yang mwncari" Sekertaris yang bertempat di luar ruangan itu mengatakan tujuannya.
"Suruh masuk" Ucap Bagas. Seperti biasa, Bagas dan Rwndy memang bertukar posisi. Jadi orang-orang mengira jika bos dari AIA corporation adalah Rendy, dan Bagas adalah asistan pribadinya. Bahkan meja dan kursi kebesaran Bagas di serahkan kepada Rendy.
"Baik tuan" Sekertaris itu pun melangkah kembali keluar.
__ADS_1
"Permisi" Suara seseorang membuat Bagas dan Rendy mengangkat kepalanya. Mereka terkejut melihat siapa yang datang.