
"Mama... Itu lihat disana! Miana menoleh, dan melihat apa yang Dara tunjuk. Miana hampir pingsan karena terkejut.
"Astaghfirullahaladzim..." Miana memegang dadanya karena seorang yang berdandan menjadi badut mengintip di kaca jendela.
"Dara... Jantung mama hampir copot karena kaget" Miana masih terpaku dalam keterkejutan.
"Hahahaa hahahaha" Tawa lepas Dara dan Jelita menggema di dalam mobil. Dan Miana melihat tawa lepas mereka seakan tak ada beban.
"Mama.. Mama maafin Dara ya. Dara cuma bercanda. Ngga tahu kalau mama sampai kaget seperti itu" Dara dan Jelita masih dalam tawanya. Dan tanpa Miana sadari, Miana pun ikut tertawa.
"Haha hhahahaa... Mama ngga apa-apa sayang, sebagai shock terapi, supaya jantung mama semakin kuat hahaa" Miana ikut tertawa seakan tak ada beban. Dan tawa mereka semakin terdengar nyaring saat mengingat keterkejutan itu.
Pov Prasetyo.
"Akhirnya kita bisa bebas. Di tempat ini nanti kita bisa bebas melakukan apapun" Prasetyo yang baru turun dari mobil, merentangkan kedua tangannya untuk menghirup udara segar di villa.
"Benar sekali apa ketemu Sayang, di sini kita bebas melakukan apapun karena tidak terjangkau oleh Miana dan orang lain. Tapi... Aku ingin kita melakukan sesuatu yang berkesan untuk pertama kalinya" entah apa yang ada di pikiran Atika saat ini.
"Sesuatu yang berkesan? Memangnya kamu menginginkan apa? " sambil berjalan dan memeluk bahu Atika, Prasetyo menanyakan apa yang berkesan yang dimaksud oleh kekasih gelapnya itu.
"Sesuatu yang tidak akan kita lupakan seumur hidup" Atika berhenti dan mengatakan semuanya dengan jelas.
"Kita pikirkan itu nanti, sekarang ayo kita masuk dan kita beristirahat sejenak. Aku lelah banget" Prasetyo kembali merangkul Atika dengan mesra. Dan wanita itu setuju lalu masuk bersama Prasetyo.
Di dalam sebuah ruangan yang disebut dengan kamar tidur terlihat begitu luas. Ada satu ranjang big size, sofa, lemari, ruang ganti kamar mandi dan banyak lagi peralatan yang tersedia di dalam kamar itu. Atika dan Prasetyo merebahkan tubuhnya di atas kasur big size.
"Menyenangkan sekali ya, kenapa tidak dari dulu-dulu kita seperti ini" Atika berkata dengan memejamkan matanya.
"Aku tidak tahu kalau kamu menyimpan rasa kepadaku. Bahkan setelah suamimu meninggal, aku masih tetap tidak berani mendekatimu. Sejujurnya aku sudah lama sekali muak dengan penampilan miana." Prasetyo mengutarakan semuanya.
" Tapi sekarang kita sudah saling mengetahui kan? " pertanyaan Atika disambut senyuman oleh Prasetyo. Namun tiba-tiba ponsel Prasetyo di atas meja berdering.
__ADS_1
" Kamu itu ke mana sih sampai sekarang belum pulang juga. Tau nggak sih Ibu dari tadi nungguin kamu" saat Prasetyo mengangkat panggilan tersebut, terdengar suara marah ibunya dari seberang telepon.
"Ada apa sih Bu, kan tadi Tiyo sudah bilang kalau sedang berada di luar kota." Prasetyo menjawab dengan rasa malas.
" Kapan pulang, Ibu mau cerita nih tentang istri kamu" suara marah terdengar di saat bu Asti menelpon putranya.
"Kenapa lagi dengan wanita itu. Apa dia membuat masalah? " mendengar ibunya menelpon sambil marah-marah, amarah ibunya disebabkan oleh Miana, Prasetyo menjadi lebih jengkel.
"Jadi begini tadi pagi..." bu Asti menceritakan semua kejadiannya. Dan ada sedikit yang kita tambah-tambahi. Dan bodohnya Prasetyo, tanpa mengecek sebuah kebenaran dari berita yang ia dengar, ia mempercayai apa yang dikatakan oleh ibunya.
" Berani sekali wanita kampung itu mempermalukan ibu. Apa dia tidak sadar kalau selama ini dia hanya menumpang hidup kepada kita" Prasetyo mengungkapkan kekecewaannya. ia menjadi semakin membenci Miana. Dan yang sebenarnya terjadi, semua kekayaan yang dimiliki oleh Prasetyo adalah hasil kerja keras dirinya dan Miana.
" Ibu tenang saja, aku akan mengurus miana. Tapi nanti setelah aku kembali. saat ini pekerjaanku lebih penting daripada wanita tak tahu malu itu" Nada bicara kasar Prasetyo begitu memperlihatkan bahwa ia sedang marah.
" Baiklah... Tapi kamu harus hati-hati. Istri Kamu yang bodoh itu adalah sahabat dari tuan Rendy" bu Asti memperingatkan putranya.
"Ibu tenang saja, aku akan mengurus semuanya dengan baik" Prasetyo mengakhiri panggilan dengan ibunya. Begitu panggilan berakhir, Prasetyo menelpon seseorang.
"Iya tuan Prasetyo" Panggil seseorang sari seberang telepon.
"Apa kamu masih mau tetap bertahan dengan wanita seperti dia. Aku rasa dia sudah tidak layak untuk dipertahankan" Atika mencoba memperkeruh keadaan dengan memprovokasi Prasetyo. Dia berpikir bahwa dengan mempengaruhi Prasetyo, maka ia akan dengan cepat mendapatkan apa yang ia inginkan.
" Lalu apa yang harus aku lakukan? " Dengan bodohnya Prasetyo meminta pendapat kepada Atika.
" Ya itu tadi... Kita harus membuat sesuatu yang berkesan setelah pulang dari sini" dengan senyum yang menggoda, ketika mengatakan hal tersebut kepada Prasetyo.
" Hal terkesan seperti apa yang kamu maksud? " kali ini Prasetyo lebih tertarik dengan apa yang disarankan oleh kakak iparnya.
" Kita menikah" singkat, padat dan jelas serta mudah dipahami, Atika mengatakan dengan mudah tanpa merasa ada beban.
"Apa kamu serius, secepat ini? " Prasetyo tidak mengira jika Atika menginginkan hal berkesan yang teramat berat.
__ADS_1
"Tapi kamu tahu kan, aku sama Miana masih punya hubungan" kali ini Prasetyo merasa bimbang.
" Ya kita tidak menikah secara sah. Kan kita bisa menikah siri" Atika menyentuh dada Prasetyo.
" Tapi menikah tidak semudah itu Tika" Prasetyo masih merasa bodoh dengan hal yang diminta oleh Atika.
" Tidak ada yang tidak mudah kalau kita mau berusaha. Kamu tahu kan aku sudah tidak punya Wali untuk menikah."
"Jadi maksud kamu, kita menikah dengan wali hakim" Prasetyo mengerti apa yang dimaksudkan oleh Atika.
" Kamu terlalu cerdas untuk menyimpulkan sesuatu" dengan senyum bangga, Atika mengusap rahang Prasetyo. Hingga akhirnya Prasetyo pun kembali tergoda dengan bius cinta yang membutakan hati itu.
Pov Bagas.
"Bagas..." Panggil Rendy ketika Bagas sedang berkemas.
"Ada apa? " Bagas yang sudah lelah menjawab dengan suara pelan.
"Perusahaan Prasetyo membeli beberapa saham milik AIA atas nama Atika Marsela" Rendy mengungkapkan keterkejutannya.
"Siapa? Atika Marsela? " Kali ini Bagas terlihat serius.
"Atika bukannya kakaknya Miana? " Rendy mengangguk.
"Apa yang sebenarnya terjadi? " Tanya Rendy ingin tahu. Dan dengan berat hati, Bagas menceritakan semua hal yang dialami oleh Miana.
"Sadis sekali wanita seperti itu. Aku tidak menyangka kalau mereka berdua mempunyai dua sisi yang bertolak belakang" Rendy menggelengkan kepala seakan tak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Bagas.
"Lakukan sesuatu agar transaksi itu batal. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Miana, termasuk suami brengseknya itu" Suara Bagas terdengar kesal.
"Ingat Gas, Miana masih istri orang" Rendy kembali mengingatkan.
__ADS_1
"Ingatkan aku terus. Tapi aku akan bertindak secara diam-diam untuk melindungi Miana" Bagas bersikeras untuk melindungi Miana.
"Satu lagi Rendy, lakukan secepatnya apa yang aku pinta kemarin! " Bagas kembali dalam mode dingin.