Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Papa Muda


__ADS_3

"Haah... Bisa-bisanya Prasetyo lebih takut kepada istri dan anak-anaknya itu. Mereka benar-benat penghalang." Suara amarah Atika di dalam kamar terdengar. Iya merajuk karena merasa cemburu di saat tahu Prasetyo sedang pergi dengan keluarga kecilnya.


" Oke aku harus lebih terus bersabar lagi menunggu hingga waktu datang" ketika mengepalkan tangannya.


"Atika ada apa? " sesaat kemudian Atika menghubungi tante Aya.


" Tante kita harus cepat melakukan sesuatu. Tante tahu nggak hari ini Prasetyo sama Miana sedang jalan-jalan menuruti keinginan dua bocah itu. Hatiku serasa terbakar rasanya panas banget" begitu tantenya menjawab panggilan, Atika langsung mengutarakan apa maksudnya.


" Aduh Tika Tika... Kamu itu jadi orang sabar dulu napa. Kalau waktunya sudah tepat kita bakal ngelakuin sesuatu. Kalau saat ini kita melakukan sesuatu yang nggak bisa. Kamu tahu sendiri kan keadaannya bagaimana" tante Aya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa bahwa kali ini belum waktu yang tepat.


" Yah tante kenapa lama sekali. Aku benar-benar nggak sabar sesuatu yang akan kita rencanakan berjalan dengan lancar" Atika mendengus kesal mendengar jawaban dari tantenya.


" Ya udah tante sibuk ini... Kamu itu hal kayak gini nggak penting juga pakai menghubungi tante segala. Tante kira Ada hal penting apa. Udah dulu tante matikan" Atika bertambah Kesel ketika tante Aya mematikan panggilannya di saat ia belum selesai berbicara.


"Oke... Kali ini kamu menang Miana. Tapi lain kali kamu akan merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan" Atika bergumam sendiri. Karena merasa malas dan tidak ingin melakukan apa-apa. Atika merupakan tubuhnya kembali ke atas ranjang.


Pov Parlan.


" Selamat pagi Tuan Bagas. Saya ingin memberitahu anda bahwa saat ini saya berada di cafe XIX. Kalau ingin bertemu saya, saya tunggu saat ini juga" Parlan Meninggalkan pesan sebelum ia berangkat cafe yang ia maksud. Sambil menggendong Putra semata wayangnya, Parlan membuka pintu mobil dan meletakkan Devan di sampingnya. rasanya ia tidak tega meninggalkan Devan di saat dirinya tidak dalam keadaan bekerja. Akhirnya untuk menemui Bagas, ia mengajak serta Merta putranya yang masih kecil itu. Dalam perjalanan menaiki mobil, Devan terlihat begitu anteng dan tidak rewel. farlan yang begitu safety kepada putranya, memasangkan sabuk pengaman juga.


Ada 20 menit perjalanan dari rumah menuju Cafe XIX. Kini Parlan dan Devan telah sampai di halaman Cafe tersebut. Sebelum turun dari mobil Iya mengambil ponselnya. Setelah dilihat ternyata ada balasan dari Bagas.


" Baiklah aku akan ke sana sekarang juga" sekitar 9 menit yang lalu pesan tersebut tersampaikan kepada Parlan. Parlan segera mengambil tas kecil yang dibawanya untuk kebutuhan sang anak. Setelah turun dari mobil Ia berlari ke sisi kiri lalu membuka pintu mobilnya. Dilihatnya Devan yang tersenyum memandang dirinya.


" Duh anak Papa... Hari ini kita jalan-jalan berdua ya" sambil mengangkat putranya ke dalam gendongan, Parlan mengajaknya berbicara.


" Ayo kita masuk" sembari menggendong Devan, Parlan masuk ke dalam Cafe dan mencari tempat yang nyaman. Namun kedatangan Parlan benar-benar mencuri perhatian pengunjung di sana. Bagaimana tidak, paras tampan dan rupawannya di padukan dengan style yang benar-benar cocok untuknya. Celana casual di bawah lutut, kaos oblong berwarna biru muda serta topi yang menambah kesan elegannya. Satu lagi, Devan di dalam gendongannya. Banyak wanita melirik dirinya.

__ADS_1


Dilihatnya sebuah meja kosong yang berada di pinggir. Parlan merasa jika tempat itu cocok untuk dirinya. Segera ia menuju ke tempat yang dilihatnya tersebut.


" Kita duduk di sini dulu ya nak. Sambil nunggu temennya Papa datang" Parlan sengaja menyebut Bagas adalah temannya. Tak berselang lama pelayan pun datang.


" Selamat pagi tuan... Silakan putranya didudukkan di kursi yang kami sediakan khusus untuk bayi" seorang pelayan yang datang tersebut dengan ramah melayani Parlan yang baru datang. Parlan mengangguk lalu mendudukkan Devan dalam kursi bayi di sampingnya.


" Terima kasih" kata yang diucapkan farlan terkenal begitu elegan di mata pelayan tersebut.


" Silakan Tuan ini adalah buku menu yang berada di sini." pelayan tersebut dengan ramah dan baik memberikan satu buah buku menu kepada Parlan.


" Tidak usah lama-lama. Saya mau jus avokad jangan menggunakan es. Satu makanan untuk anak saya, apa saja menunya? " Parlan bertanya menu untuk anak bayi.


" Kami ada bubur ikan salmon dan sayuran. Mungkin Tuan menginginkan itu? " ucap pelayan tersebut


" Iya itu satu porsi... Terus saya juga mau udang saus tiram. Nasinya satu. Oh ya tambah satu air putih ya" setelah cukup memesan Parlan kembali memperhatikan putranya.


" Sabar ya Devan, sebentar lagi makanannya akan datang" ucap Parlan kepada putranya.


" Iya Tuan ada yang bisa kami bantu kembali? " karyawan itu kembali dan dengan sopan bertanya.


" Tidak pakai lama ya, anak saya Kelihatannya sudah sangat lapar" Parlan mengatakan itu dengan suara yang rendah.


" Baik Tuan kita akan segera membawa pesanan kalian ke sini. Saya permisi dulu" pelayan itu pun dengan cepat membungkukan badan lalu berbalik untuk menuju ke dapur mengambilkan pesanan Parlan. Inilah yang disukai oleh farlan dari Cafe ini. Pelayanannya begitu cepat. Rasanya tidak kalah dari cafe-cafe mahal. Dan yang pasti tempatnya begitu nyaman.


Ketika sedang asyik berbicara dengan putranya, ponsel Parlan tiba-tiba berbunyi. Setelah dilihatnya ternyata itu adalah Bagas.


" Iya Tuan Bagas" dengan sopan Parlan menyapa Bagas dari seberang telepon.

__ADS_1


" Saya sudah berada di cafe XIX. Kamu ada di sebelah mana? " tanya Bagas.


"Menolehlah anda ke meja sebelah kiri. Saya sedang bersama anak bayi" Parlan melihat bahwa Bagas sudah di depan dan celingukan mencari dirinya. Begitu Bagas melihat dirinya, Iya segera Melambaikan tangan.


" Oke oke Saya sudah melihat" Bagas menutup ponselnya lalu menuju ke tempat farlan.


" Selamat pagi Parlan. Maaf aku merepotkan kamu nggak datang ke sini" Bagas menjabat tangan Parlan.


" Sepertinya aku sebelum ini pernah melihat dan menjabat tangan Parlan. Tapi dimana? " Gumam Bagas dalam hati. Dan Bayangan Parlan terlintas saat Bagas teringat waktu menolong Miana malam itu.


"Tapi saat itu aku tidak menjabat tangannya. Ah sudahlah, mungkin hanya sama dengan seseorang" Bagas tidak mau ambil pusing.


" Silakan duduk tuan Bagas. Maaf saya harus mengajak Putra saya karena tidak ada yang menunggunya" farlan mengucapkan permintaan maafnya.


" tidak masalah. Memangnya Mamanya ke mana? " tanya Bagas Karena Dia belum mengerti jika istri Parlan sudah meninggal.


" saat ini dia berada di Kotabumi" jawab Parlan.


" Kotabumi Sumatera kah? " Bagas masih terus bertanya karena belum mengetahui.


" bukan tuan, istri saya sudah bertempat tinggal di Kotabumi untuk selamanya. dia tidak akan pernah kembali ke sini. karena Allah lebih menyayanginya dibandingkan dengan saya" Dan di saat itu Bagas mengerti apa maksud perkataan yang diucapkan oleh Parlan.


" Ya ampun saya mohon maaf. Saya tidak tahu kalau Ibunya sudah meninggal" Bagas menunduk lalu mengucapkan permintaan maafnya.


" tidak masalah tuan" farlan tersenyum dan memaklumi. di saat yang bersamaan, pesanan yang diminta oleh Parlan telah datang.


" Oh iya Mbak... tolong layani teman saya ini ya" Parlan menunjuk Bagas yang berada di depannya. akhirnya pelayan itu pun beralih kepada Bagas.

__ADS_1


" Saya mau 1 es cappucino. jangan terlalu manis ya" Bagas langsung mengatakan apa yang diinginkan.


" baiklah... Tunggu sebentar ya tuan" Pelayan itu mundur kembali untuk mengambilkan pesanan Bagas.


__ADS_2