
"Tapi nanti om Parlan ikut kita ya. Biar kita kaya keluarga" Jelita mengatakan itu. Membuat Miana menoleh ke arah Parlan.
"Lebih baik om Parlan ikut dengan kita. Om Parlan pura-pura jadi papa aja. Kan om Parlan juga ganteng. Malahan lebih ganteng om Parlan dari pada papa" Jelita meminnta dengan sedikit merayu.
"Biasanya anak kecil kalau berkata jujur" Sahut Parlan.
"Kamu tahu Jelita? " Tanya Parlan kembali.
"Om ini memang tampan. Jadi, kamu tidak perlu memperjelas kembali" Parlan sambil tersenyum mengatakan itu.
"Dih, Percaya diri sekali kamu" Miana sedikit menyebikkan bibirnya sambil membuang muka dari Parlan.
"Ingat Miana. Yang mengatakan aku tampan adalah anak kecil berusia 7 tahun. Jadi aku pastikan ucapan mereka selalu jujur. Karena mereka masih begitu polos" Sambil menutup pintu mobil,
"Apaan sih kamu" Miana masih saja mengelak.
"Aku memang tampan Miana. Jadi jangan terkecoh dengan ketampanan saya" Semakin percaya diri saja si Parlan.
" Oh dari tadi bilang tampan terus. tapi nyatanya juga masih jomblo aja" tiba-tiba darah menyeletup saat melewati Parlan.
"Hahaha hahaha hahhaa haha" Seakan tak beban, Miana tertawa begitu keras. sedangkan Parlan hanya melototkan matanya ketika ia mendengar apa yang diucapkan oleh dara.
" bener Apa kata kamu Parlan. anak kecil itu memang jujur ya" miana pun meninggalkan peran yang masih terkejut dengan ucapan darah yang bisa mengucapkan hal seperti itu.
"Mamah... Kita mau makan apa? " Tanya Jelita.
"Sebelumya kita cari baju dulu ya sayang. Kita ke langganan mama" Setelah menjawab apa yang di tanyakan oleh putrinya. Miana melangkah dengan menggandeng lengan Dara dan Jelita.
Acara makan siang dan membeli baju untuk Dara dan Jelita telah selesai. setelah menyelesaikan kewajiban mereka menuju sebuah tempat yang berada di lantai atas.
" Mama aku mau ke Gamezone terlebih dahulu" Dara dan Jelita meminta untuk bermain terlebih dahulu.
" Oke ini kan juga masih siang, Mama sama Om Parlan bakal nunggu di dekat kalian sana. Nanti kalian main berdua ya" miana langsung mengiyakan apa yang putrinya inginkan. Mereka pun menuju ke Timezone yang berada di lantai atas. Setibanya di sana, miana membelikan koin untuk anak-anaknya.
" Selamat bersenang-senang. Mama sama Om Parlan nunggu di sini ya. ingat ya Dara jelita, kalau ada orang yang mengajak kalian jangan mau" Miana memperingatkan kedua anaknya.
__ADS_1
"Mama tenang aja." Mereka pun akhirnya berlari setelah menjawab pertanyaan Miana.
"Parlan mana sih. Bisa-bisanya dia menghilang" Miana menggerutu karena iya sendirian saja. Sedangkan Parlan entah kemana. Karena merasa bosan, iya pun duduk lalu mengambil ponselnya.
"Miana..." Sebuah suara mengagetkan Miana karena tiba-tiba memanggil. Setelah menoleh, iya mendapati Parlan sudah duduk di sampingnya.
"Sejak kapan kamu di sini? " Miana bertanya.
" Sejak kamu menyimpan gambar-gambar dari media sosial tadi ke dalam ponselmu" Diana membulatkan mata karena terkejut mendengar jawaban dari Parlan.
" Jangan terlalu menyimpan gambar-gambar seperti itu. Gambar dengan kata-kata yang begitu menyedihkan. Kalau kamu ingin bangkit, Seharusnya kamu mencari kata-kata motivasi yang bisa membangkitkan semangatmu kembali. Bukan malah mencari sesuatu yang bisa menjadi bumerang untuk dirimu sendiri" tiba-tiba parlan menyodorkan satu cup ice cream rasa coklat yang baru saja dibelinya.
" Apa ini? Kamu pikir aku anak kecil yang suka makan es krim" Miana benar-benar menolak es krim pemberian Parlan karena tidak ingin dianggap anak kecil.
" Ambil saja lalu makan. Anggap ini sebagai Mood Booster" parlan langsung meletakkan es krim tersebut di atas tangan kiri miana.
"Udah ah... Kaya anak kecil aja ice Cream. Buat kamu aja" Miana menolak.
"Aku sudah punya. Ini" Parlan menunjukkan 1 cup Ice cream yang sama seperti yang di pegang oleh Miana.
"Makan saja. Untuk mengembalikan mood mu yang sedang hancur. Aku tahu kamu suka coklat dari dulu" Parlan berbicara sambil menyendokkan es krim ke mulutnya. Dan mau tak mau, Miana pun memakannya.
"Parlan..." Panggil Miana. Iya sudah meletakkan es krim di jarinya. Dengan memanggil Parlan, iya berharap Parlan menoleh lalu akan terkena es krim di jari telunjuknya itu.
"Iya" Dan benar saja. Saat Parlan menoleh. Iya merasakan sensasi dingin di pipinya. Ternyata Miana sudah mencoreng mukanya dengan es krim.
"Mianaaaa..." Parlan memanggil Miana karena geram atas tingkahnya. Dengan tatapan dingin iya menatap wanita di sampingnya itu.
"Hahaahaha" Miana tertawa dengan leluasa. Dan Parlan memperhatikan itu.Iya tersenyum.
"Jangan ulangi hal seperti ini lagi Miana. Wajah tampan ku kan jadi ternoda" Parlan sengaja menggunakan kata tampan kembali untuk menghentikan tawa Miana. Begitu Miana mendengar itu, iya langsung diam. Parlan emang bisa mengenai sasaran dengan tepat.
"Dih kamu... Mana tissue. Aku minta" Parlan menarik 1 lembar tissue dari tangan Miana. Dan segera mengelap mukannya yang terkena es krim.
"Jangan dendaaammm" Miana kembali memprovokasi Parlan. Hingga akhirnya keduanya tertawa.
__ADS_1
Tawa Parlan dan Miana terhenti ketika seseorang memanggilnya.
"Miana, Parlan" Panggil lelaki ber jas hitam yang kini berada teapt di depan keduanya.
"Bagas, Tuan Bagas" Parlan dan Miana menjawab secara serentak.
"Kalian di sini" Bagas mendekat.
"Iya, langi nganterin anak-anak. Itu" Miana menjawab lalu menunjuk kebarah Dara dan Jelita.
"Boleh saya gabung? " Tanya Bagas.
"Boleh dong Gas. Ayo sini duduk" Miana menunjuk kursi kosong di depannya.
"Makasih ya" Bagas pun duduk di sana.
"Kamu ngapain di sini Gas? " Tanya Miana. Sedangkan Parlan masih terdiam.
"Nganterin keponakan" Jawab Bagas.
"Keponakan yang mana? " Miana ingin tahu.
"Anaknya kakak ku yang baru pulang dari Singapura. Dia pengen jalan-jalan di sini. Awalnya tadi aku mau nolak karena ada kerjaan. Eh dia malah nangis kejer di kantor. Karena merasa kasihan, mau ngga mau aku nganterin lah" Jelas Bagas.
"Waahh.. Mana ponakan kamu? " Tanya Miana.
"Mainan di timezone. Aku capek banget. Ya udah aku tinggal kesini" Jawab Bagas.
"Yang jaga? " Miana pun bertanya.
"Ada nanny nya" Bagas menjawab kembali.
Miana kembali terdiam setelah pertanyaannya terjawab. Hingga akhirnya Bagas yang bertanya.
"Miana, bagaimana kabarmu? " Tanya Bagas.
__ADS_1
"Baik... Alhamdulillah" Dengan senyum di paksa Miana mengatakan baik.
"Maafkan aku..." Tiba-tiba Bagas mengucapkan Maaf di depan Miana. Hingga Parlan yang mendengar itu ikut menatap Bagas di depannya.