
Sebuah mobil yang baru saja Masuk ke halaman rumah Miana datangnya bersamaan dengan mobil yang ia naiki. Miana melihat dari dalam mobilnya sendiri siapa yang datang. Karena mobil itu belum Miana kenali. Dan setelah orang-orang yang berada di dalam mobil itu keluar, Miana baru mengerti bahwa mereka adalah Ayah dan Ibunya. Dengan cepat Miana pun membuka pintu lalu turun dan menyambut orang tuanya.
" Ayah, Ibu... Kenapa mau ke sini tidak mengabari miana terlebih dahulu. Miana tidak ada persiapan sama sekali. Bahkan hari ini Miana tidak masak apapun" saat mendekat Miana mengatakan sejujurnya bahwa hari ini benar-benar tidak ada stok makanan matang yang diolah.
" Kamu ini ya nak nak, ayah sama ibu ke sini itu bukan untuk mencari makan. Tapi ingin menemui kamu. Kamu baru pulang mengantarkan anak-anak? " pertanyaan dari sang Ibu membuat Miana mengangguk.
" Kalau begitu mari kita masuk" Miana pun mengajak orang tuanya untuk masuk.
" Bi Wanti tolong buatkan minuman untuk ayah dan ibu ya! " Miana meminta tolong kepada salah satu asisten rumah tangganya di saat iya sudah berjalan masuk dan menemui bik Wanti. Dan orang yang biasa dipanggil Bik Wanti itu pun mengangguk. Miana pun kembali ke ruang tamu untuk menemui Ayah dan Ibunya.
" Miana, apa kamu baik-baik saja? " tiba-tiba saja Ayah Heri menanyakan ke kabar dari Putri tirinya itu.
" Miana baik-baik saja. Memangnya yang ayah dan ibu lihat Miana kurang apa? " tanya Miana kembali kepada orang tuanya.
"Alhamdulillah kalau kamu baik-baik saja" Ayah Heri seakan lega mendengar jawaban dari anaknya.
" Ayah sepertinya ada hal penting yang ingin Ayah sampaikan. Sampai ayah jauh-jauh datang ke sini bersama ibu" Miana yang melihat gelagat aneh dari kedua orang tuanya pun bertanya. Belum mampu menjawab, orang tua Miana pun saling memandang.
"Miana... Sebenarnya ada informasi penting yang harus ayah dan ibu sampaikan kepadamu." ayah dari pun mengatakan dengan nada yang sungkan.
" Apa informasi tersebut tentang Atika dan Prasetyo yah? " Miana sudah menebak terlebih dahulu.
"Benar..." Jawab ayah Heri.
" Apa tentang kepergian Atika dan Prasetya yang membawa Firman bersamanya? " Miana masih terus berbicara sebelum ayahnya menyampaikan. Dan apa yang dikatakan oleh miana membuat orang tuanya menjadi terkejut.
"Miana... Apa kamu sudah mengetahui semuanya? " Ayah Heri balas bertanya. Dan Miana mengangguk.
__ADS_1
"Siapa yang memberitahumu nak? " Ayah Heri begitu khawatir dengan keadaan anaknya.
" Ayah dan ibu tidak perlu khawatir dengan Miana. Ada Parlan yang akan selalu menjaga Miana. dan Parlan yang sudah memberitahu Miana tentang apa yang terjadi kepada Atika dan Prasetyo. Dan juga tempat tinggal yang mereka tempati saat ini" Miana menjelaskan bagaimana ia bisa tahu informasi seperti ini.
"Parlan? " Semakin terkejut saja ayah dan ibu Miana. Seakan tak percaya dengan apa yang di katakan oleh sang anak. Namun Miana mengangguk untuk meyakinkan ayah dan ibunya bahwa orang yang telah memberitahunya benar-benar Parlan.
"Dari mana Parlan bisa tahu informasi sedetail ini? " Ayah Heri masih belum 100% mempercayai. Iya pun kembali bertanya.
"Mungkin Parlan tahu dari tetangga-tetangganya kak Tika" Jawab Miana santai.
"Miana... Apa kamu bisa kuat menghadapi hal sesakit ini. Ayah saja sangat sakit atas perbuatan mereka berdua." Ayah Heri menanyakan hati Miana apakah masih kuat atau tidak. Miana mengangguk. Tak ada air mata yang menetes sedikitpun.
" Ayah jangan terlalu mengkhawatirkan miana. Ayah tahu kan kalau Miana ini sudah dewasa. Miana sudah memiliki dua orang anak. Miana pasti bisa menyelesaikan semua masalah yang datang kepada Miana. Miana bukan anak kecil lagi" sambil tersenyum untuk menutupi luka di hatinya, gimana mengatakan hal tersebut.
" Awalnya saya ragu untuk memberitahu kamu tentang hal ini. Tapi dengan melihat kamu yang bisa tersenyum dalam menghadapi masalah seberat ini, Ayah yakin kamu akan melewatinya dengan baik-baik saja. Jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan kepada kami. Karena bagaimanapun juga, kamu tetap putri kami yang harus kami jaga meskipun kamu sudah dewasa dan sudah menjadi orang tua" Ayah Heri sanggup untuk tersenyum di depan putrinya. Entah itu terpaksa atau tidak. Yang pasti di saat melihat senyum di bibir ayahnya tersebut, Miana juga merasakan bahagia. Karena bagi miana, melihat kebahagiaan orang tuanya juga penting.
" Terima kasih banyak ya Bi." ucap Miana di saat asisten rumah tangganya itu sudah selesai menaruh semuanya di atas meja.
" baik non sama-sama" balas Bi Wanti. setelah itu Bu Wanti kembali ke belakang. Miana hanya memandang kepergian wanita yang sudah mengerahkan tenaganya selama bertahun-tahun untuk bekerja kepadanya itu dengan senyuman.
"Melihatmu baik-baik saja membuat ayah bisa bernafas lega. Ayah akan selalu mengawasi Prasetyo dan Atika untukmu" Ucap ayah Heri serius.
"Untuk apa yah. Miana tidak butuh informasi tentang mereka lagi. Miana akan semakin sakit jika tahu semuanya. Lebih baik tidak usah tahu dan tidak perlu mencari tahu. Kalau ujung-ujungnya harus hati lagi yang menjadi korban sasaran kekejaman mereka berdua. Sudah cukup Miana bisa melewati. Tanpa harus di gantungi dengan perasaan yang sakit" Miana menolak di saat ayahnya ingin membantunya.
"Pemikiran yang bagus. Ayah akan selalu mendukungmu. Jangan khawatir" Miana tersenyum. Dengan adanya sang ayah di sampingnya membuat Miana lebih kuat lagi. Miana tersenyum. Walau di dalam hatinye menangis sejadi-jadinya. Kenyataan ini memang begitu sulit untuk di hadapi. Tapi bagaimana pun juga Miana harus kuat.
Hampir 3 jam Tuan Heri dan Nyonya Yanti berada di rumah sang anak. Dan kini mereka pamit untuk pulang.
__ADS_1
"Jaga diri baik-baik ya nak. Kalau ada apa-apa tolong kabari ayah. Ayah akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kamu. Anak dan cucu-cucu kakek tidak boleh menderita." Ucap Ayah Heri. Miana mengangguk mendengar apa yang di ucapkan oleh ayahnya. Dan akhirnya orang tua nya pun pergi dengan menaiki mobil. Miana kembali masuk.
"Miana" Baru mau melangkahkan kaki ke dalam rumah, Parlan memanggil Miana. Spontan Miana menoleh ke arah sumber suara.
"Ada apa? " Tanya Miana di saat iya melihat Parlan yang berjalan ke arahnya.
"Ada yang harus aku sampaikan kembali." Parlan mengatakan tujuannya ketika iya sudah berada di dekat Parlan.
"Apa itu? " Miana langsung bertanya.
"Perusahaan cabang milik prasetyo yang di pegang oleh ayah dan ibu mertua mu, sekarang sudah krmbali normal. Aku mendengar dari Bagas" Ucap Parlan.
"Bagus dong. Jadi mereka tidak harus menuduh ku yang bukan-bukan" Miana merasa tidak peduli dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh Parlan.
"Tapi... Ada hal yang tidak kita tahu" Parlan kembali menginformasikan.
"Parlan... Aku sudah tidak peduli dengan mereka. Bahkan jika perusahaan itu hancur, aku sudah mengikhlaskan nya" Jawab Miana.
"Oh iya, kenapa kamu bisa terus berhubungan dengan Bagas? Jangan sekali pun menggosipkan diriku ketika kalian bertemu" Miana cemberut di depan Parlan.
"Aku bukan tipe lelaki yang suka menggosip. Lebih baik aku bekerja jika harus menggosipkan kamu" Parlan pun menjawab dengan candaan.
"Lah kamu kerjanya di sini. Apa jangan-jangan... Kamu punya bisnis sampingan yang tidak aku ketahui ya? " Miana mencoba menebak. Namun ekspresi Parlan begitu sulit untuk di artikan.
"Jawab! Benar kan tebakan aku? " Miana memaksa Parlan untuk menjawab.
"Sebenarnya..." Ucapan Parlan terhenti.
__ADS_1
"Maaf nyonya, ada telepon" Bik Wanti menyerahkan ponsel nya ke Miana.