
"Sembunyilah di bawah ranjang" Prasetyo menyuruh Atika untuk segera masuk ke bawah ranjang. Sedangkan Miana yang telah selesai mengurusi kedua anaknya, bergegas untuk masuk ke kamarnya dan bersiap-siap. Dengan perlahan-lahan Miana memegang handle pintu dan menariknya. Setelah pintu berhasil terbuka Miana pun masuk. di lihatnya Prasetyo yang saat ini duduk di sofa dengan pakaian lengkap untuk melaksanakan ibadah. Miana pun tidak menyapa Prasetyo sama sekali. Iya langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Melihat miana yang langsung masuk ke kamar mandi, Prasetyo segera menghampiri Atika yang berada di bawah kolong ranjang.
" Cepatlah keluar sebelum Miana selesai. cepat! " Prasetyo Berkata sangat pelan sambil menunduk, menyeimbangi Atika yang berada di bawah kolong ranjang. Dengan cepat Atika pun keluar dari kolong ranjang dan segera berlari ke arah pintu yang tertutup. Iya menutup pintu lalu berjalan dengan mengendap-endap layaknya seorang maling.
" Bude Atika ngapain di kamar mama? " di saat berbalik setelah ia menutup pintu, ketika dikejutkan oleh pertanyaan seorang bocah yang bernama Dara. Begitu Iya melihat dengan jelas, Atika melihat Dara dan Jelita yang berdiri di depannya saat ini.
" oh anu... anu ini... Tadi Bude berencana mau memanggil Papa sama Mama kamu. Tapi nggak jadi takutnya malah mengganggu" alasan yang dilontarkan oleh Atika membuat Dara dan Jelita percaya begitu saja.
"Kalian kok belum ke sana, Kayaknya udah ditungguin deh sama kakek dan nenek" Atika pura-pura untuk bertanya.
" Tadi kita kembali lagi untuk mengambil Sajadah. Tapi kita lihat Bude di depan pintu kamar Papa sama Mama" Darah Menjelaskan mengapa mereka pun ada di sana.
" Kalau begitu cepat ayo ke sana. Sambil menunggu Papa sama Mama kamu" Atika pun mendekat ke arah 2 lalu menggandengnya untuk segera menuju ke tempat di mana kakek dan neneknya berada. Kedua anak itu pun mengangguk dan langsung meninggalkan kamar orang tuanya yang masih tertutup.
Sedangkan di dalam kamar, Prasetyo mendengar semua apa yang dikatakan oleh kedua anaknya dan juga istri mudanya itu. Walaupun masih berstatus sebagai istri siri, namun Prasetyo sudah menganggap Atika sebagai istri mudanya, walaupun Atika adalah orang yang lebih tua darinya. Iya bernafas lega Karena Atika sudah keluar dari situ dan ia mampu membuat alasan yang diterima oleh anak-anaknya. Saat berbelok untuk kembali ke sofa, Prasetyo dikejutkan dengan kedatangan sang istri di belakangnya.
" Kenapa Mas di situ? " dengan tatapan tajam, Miana bertanya kepada sang suami.
" Eh enggak... Nggak apa-apa" Prasetyo terlihat gugup saat Miana bertanya. Dan di saat itu pula bertepatan dengan matanya memandang ke arah sofa yang di sana ada sajadah yang telah Ia persiapkan.
" Aku... Aku mau mengambil sajadah yang ketinggalan itu" Prasetyo menunjuk ke arah sofa yang ada di kamarnya. Miana mengikuti arah ke mana tangan Prasetyo.
__ADS_1
" Kenapa gugup kalau cuma mau ngambil Sajadah? " pertanyaan Miana seolah membuat Prasetyo tidak berkutik.
" Siapa yang gugup, aku biasa saja setiap tadi" Prasetya menolak dikatakan gugup oleh istrinya. Ia pun segera berjalan ke arah sofa untuk mengambil sajadah yang ia maksud. Miana terpaksa berdiam saat mendengar apa yang dikatakan oleh suami brengseknya itu. Ia memilih diam karena di saat ia berbicara pun akan menambah sakit di hatinya.
" Aku duluan ke sana. Kamu jangan lama-lama di sini. Nanti dikiranya sama Ayah kita ada apa-apa. Sedang marahan atau bagaimana" sebelum Prasetyo meninggalkan kamar itu, ia berkata pelan kepada istrinya. Namun tidak ada jawaban sama sekali dari Miana. Prasetyo pun membuka pintu dan langsung keluar dari kamar itu.
Setelah kepergian Prasetyo, Miana langsung menggunakan mukenanya dan segera menyusul semua orang yang berada di ruang salat. Namun di saat akan membuka pintu, Iya melihat ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Dalam hati, miana berniat untuk mengecek sesuatu di ponsel tersebut. Akhirnya ia pun berjalan mendekati ranjang yang di atasnya terdapat ponsel miliknya. Di saat ia mulai membuka pola untuk mengunci ponsel itu, tiba-tiba miana mendengar suara iqomat dari masjid yang tak jauh dari rumahnya. Miana mengurungkan niatnya. Iya meletakkan kembali ponselnya di atas ranjang lalu berjalan keluar dari kamar dan menuju ke ruang salat menyusul semua yang sudah menunggu. Ternyata benar dugaannya, Bahwa ia sudah paling terakhir datangnya.
" Ayo miana suara iqomat sudah terdengar" sang ayah menyuruhnya untuk segera bergabung. Miana pun berdiri menjadi satu shaf bersama ibu, kakak, anak-anaknya serta dua orang art yang bekerja di sana. Mereka pun melaksanakan kewajiban yang di imami oleh Tuan Heri.
Di meja makan.
" Kok Bude duduk di situ sih, ini kan tempat duduk Mama. Bude bisa duduk di mana saja asal jangan di situ. Terus nanti..." tiba-tiba jelita menegur Atika yang baru datang sudah langsung tutup di meja yang biasanya diduduki oleh miana di samping tempat duduk Prasetya. Namun ucapannya berhenti ketika Miana memanggilnya.
" Mama jangan diam saja, kan biasanya yang duduk di tempat itu mama sama papa. Kalau ada orang lain duduk di itu kan seharusnya tidak pernah boleh" kali ini Dara ikut membela adiknya.
" Iya sayang, mama tahu maksud kalian. Tapi kan kita ini satu keluarga. Tidak boleh seperti itu ya" kali ini Miana mencoba untuk menasehati anaknya dengan pelan-pelan. Dan semua yang dikatakan atau yang dilakukan oleh miana tidak luput dari pandangan orang-orang yang berada di sana.
" Oke oke... Bude Akan berpindah tempat" Atika yang mendengar itu pun ternyata sadar diri. Iya segera bangkit dari duduknya lalu berpindah ke kursi yang berada di depannya. Terlihat wajahnya begitu masam. Ia pun juga berkata dengan sedikit Ketus.
" Daripada Kalian ribut-ribut nih Bude udah pindah" seakan begitu terlihat jika larangan yang dikatakan oleh Dara dan Jelita membuat Atikah marah. Ia mengatakan dengan nada tidak ramah.
" Sudah Ayo sekarang kita makan dulu. Kak Tika Tolong maafkan anak-anak ya. Mereka masih kecil dan mereka terlalu polos" ini Miana harus turun tangan untuk meminta maaf kepada kakaknya. Atika yang mendengar itu pun melengos.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong Prasetyo, Bagaimana bisnis yang kamu jalankan? " sambil makan tuan Heri menanyakan bagaimana keadaan bisnis Prasetyo.
" Perusahaan cabang sedang tidak baik-baik saja yah. Saat ini ada masalah besar yang menimpa perusahaan. Dan Tiyo belum bisa menemukan jalan keluarnya" Prasetyo berkata bersamaan dengan Memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
" Kalau Ayah boleh tahu masalah apa itu? tanya Tuan Heri mencoba untuk mengetahui.
" Sudah dua hari ini, seluruh sistem yang kita gunakan di kantor mengalami penguncian secara permanen tidak bisa dibuka sama sekali, serta jaringan yang terus down. Bahkan staff IT dari kantor pusat pun belum bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Aku masih bingung bagaimana cara menyelesaikannya yah" seakan mengadu kepada orang tuanya sendiri, Prasetya menceritakan keadaan perusahaan yang saat ini.
" Kamu tidak tahu apa penyebab dari itu semua? " Ayah Heri sedikit memberikan perhatian kepada Prasetyo. Sedangkan yang lain hanya terdiam. Prasetyo hanya menjawab dengan hanya menggelengkan kepalanya.
" Tapi kata Andre, ada seseorang yang mau membantu kita dengan catatan ia meminta imbalan yang begitu besar. Aku Masih memikirkan hal ini yah" Prasetyo mulai nyaman bercerita kepada ayah mertuanya. Tuan Heri yang terkejut mendengar perkataan menantuya pun menoleh ke arah menantunya itu.
" Imbalan yang begitu besar? " Tuan Heri menatap menantunya dan langsung mengulangi apa yang dikatakan oleh Prasetyo sebelumnya.
" Iya imbalan yang besar. Orang itu meminta separuh dari saham perusahaan cabang. Aku benar-benar pusing memikirkan semua ini. Kalau sampai Andre tidak bisa menemukan jalan keluar yang tepat, perusahaan akan hancur dalam sekejap, Dan aku akan Kehilangan salah satu sumber penghasilan yang selama ini sudah Prasetyo bangun dengan mati-matian. Tapi kalau aku menyetujui permintaan orang yang dimaksudkan oleh Andre itu, maka aku hanya akan memperkaya orang lain." Prasetyo menyatakan kebingungannya di depan keluarga.
" Kalau boleh Ayah bicara, ayah akan memberikan nasehat kepadamu sedikit" Ayah Heri yang bijaksana itu ingin memberikan masukan kepada menantu putranya.
" Silakan, Ayah emang seharusnya menasehati kami semua. Sebagai seseorang yang sudah banyak makan garam tentunya lebih banyak pengalaman dibandingkan dengan kita" Prasetyo terlihat begitu baik dan terlihat sebagai lelaki yang berwibawa di depan mertuanya. Sedangkan Miana yang mendengar itu semua, sedikit memutar bola matanya karena merasa malas mendengar apa yang diucapkan oleh Prasetyo.
" Perbaiki semua kesalahan yang pernah kamu perbuat ke Tuhan, istri kamu serta ke anak-anakmu" seakan dihantam bebatuan besar, Apa yang diucapkan oleh ayah Heri benar-benar menyentuh relung hati Prasetyo. Ia meletakkan sendoknya sesaat setelah mendengar itu. Iya menatap Miana dan kedua anaknya. Miana yang ditatap tidak mau balas menatap suaminya. Iya Malah fokus pada makanan dan menundukkan kepala. anak-anak yang Mendengar hal itu, memperhatikan papa dan Mamanya.
" Mungkin ini adalah salah satu peringatan supaya kita berbuat lebih baik lagi" Tuan Heri mengatakan hal tersebut di depan anak dan menantunya. Di mana hal tersebut sangat sesuai dengan keadaan Miana dan anak-anaknya. Prasetyo yang merasa benar-benar menjadi orang jahat dalam keluarganya hanya bisa menundukkan kepala. Sedangkan Miana memperhatikan Prasetyo dengan tatapan dinginnya. Dan disaat yang bersamaan, tiba-tiba saja saat Jelita mengambil tisu yang sedikit jauh dari jangkauannya, tisu Itu terjatuh. Karena jatuhnya tisu tidak menimbulkan suara, Jelita mengambil tisu tersebut dengan turun dari kursinya. Saat ia melihat ke bawah meja, sebuah pemandangan yang membuatnya terkejut benar-benar terjadi. Jelita menjerit sekeras-kerasnya.
__ADS_1
"Aaaaa..." Entah kenapa jeritan itu seolah menandakan sebuah rasa ketidaksukaan terhadap apa yang di lihatnya. Dan Dara yang duduk di sampingnya, segera turun dari kursi untuk mengetahui apa yang terjadi kepada adiknya.