Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Perhatian Awan


__ADS_3

Miana dengan perlahan kembali ke depan pintu, mengambil sebuah tongkat yang sengaja iya letakkan di sana. Miana memperhatikan siapa yang saat ini berada di dapur. Namun penglihatannya tidak begitu jelas karena penerangan yang temaram. Dengan penuh kehati-hatian, Miana berjalan mendekati meja makan, yang di mana saat ini di sana ada seorang lelaki bertutupkan sarung di kepalanya. Miana menganggap bahwa laki-laki itu adalah seorang maling dilihat dari bayangannya.


Miana melangkah tanpa mengeluarkan suara. Di saat sudah mendekat, Miana mengangkat tinggi-tinggi tongkat yang di bawahnya. Saat akan memukulkan tongkat tersebut, lelaki itu menoleh.


" Miana jangan ini Awan" teriak lelaki tersebut yang ternyata adalah kakaknya.


" Kak Awan malam-malam begini ngapain di dapur? Bikin miana kaget dan berpikir yang tidak tidak saja tahu nggak" Miana yang mendengar bahwa lelaki tersebut adalah Awan, malah ganti mengomeli kakaknya.


" Hehe... Aku terbiasa makan sebelum tidur Miana. Jadi kalau belum makan rasanya aku nggak bisa tidur. Jadi ya Aku nyari makanan aja siapa tahu masih ada" Awan menjelaskan Kenapa dirinya bisa berada di sana.


" Terus kenapa itu pakai sarung? " Miana masih penasaran kenapa kakaknya itu berada di dapur malam-malam seperti ini dengan menggunakan sarung.


" Ini tadi aku habis salat isya, daripada aku tinggalin di ruang salat. Lebih baik aku bawa aja. Ya akhirnya aku gantungin kayak gini." Miana mengangguk saat mendengar penjelasan Kakak tirinya itu.


" Lah kamu sendiri di sini ngapain? Bukannya tidur Ini kan udah hampir tengah malam" gantian awan yang bertanya kali ini.


" Air galon di kamar Miana habis, Terus yang di dalam gelas juga habis. Jadinya miana ambil ke dapur. soalnya haus banget" Miana juga menjelaskan kenapa dirinya bisa berada di dapur malam-malam seperti ini.


"Hahaha... Terus kamu ngira kakak maling? Makanya kamu bawa-bawa tongkat kaya gini" Awan yang mendengar penjelasannya pun tertawa terbahak-bahak.


" Ih Kak Awan mah gitu. Ya udahlah miana mau ngambil minum dulu" Miana segera berjalan menuju ke kulkas lalu mengambil satu botol air dingin dari dalamnya. Dia meneguk air itu seakan dahaga benar-benar menyerangnya.


"Haus banget neng? " Awan menggoda adik tirinya yang sedang berusaha menelan air di mulutnya.


" Kalau nggak haus nggak bakalan ke sini" miana berkata dengan pelan. Iya mengembalikan kembali botol yang dipegangnya ke dalam kulkas. Lalu mengambil satu botol yang berisi penuh air minum.


" Ya sudah Kak, Makan aja tuh di sana masih ada nasi sepertinya. Kalau nggak mau nasi kalau nggak mau nasi, buat aja sandwich di meja itu ada bahan-bahannya. Tinggal oles-oles nggak perlu masak langsung dimakan" Miana memberitahu Di mana letak semua makanan yang disimpannya.


" Oke siap..." Awan mengacungkan satu jempolnya ke arah Miana. dan si Miana, saat tahu lampu dapur yang telah mati, segera berjalan dan mencari saklar lampu tersebut. Setelah menekannya, ruangan tersebut menjadi terang benderang.


" Kalau makan jangan di tempat gelap. Nanti kalau keliru yang dimakan cicak jatuh bagaimana? " Miana mencoba memprovokasi Kakak tirinya itu. Suatu hal yang sering ia lakukan ketika mereka masih hidup bersama dulu.


" Nggak lah, gini-gini Kakak juga masih normal penglihatannya Miana" Awan mencoba menanggapi candaan adiknya tersebut. Ia menjadi teringat ketika dulu mereka sering bercanda seperti ini.


"Hahaha... Kakak dari dulu ngga berubah. Tetap aja kaya gini" Miana tertawa lepas. dam hal tersebut tidak lepas dari tatapan Awan.

__ADS_1


"Kamu juga... Masih aja suka menggoda kakak seperti dulu" Awan pun kembali teringat kisah mereka sewaktu kecil.


"Tapi sekarang udah ngga sama kak. Semua sudah berbeda" Bantah Miana.


"Kamu dulu itu selalu menjadi pesaing kakak yang pertama. Karena ayah sangat menyayangimu, melebihi rasa sayang ke anaknya sendiri. Bagaimana kamu tidak menjadi saingan terberat ku " Awan yang berkata dalam candaannya membuat Miana merasa bangga.


"Ya tapi kan sekarang kak Awan sudah ngga punya saingan. Tetap saat ini ayah bersama kakak" Jawab Miana.


" Tapi dalam hati ayah tetap ada kamu dan Atika. Ayah pernah bilang, kalau kamu dan Atika Adalah anaknya sendiri. Ayah itu begitu tulus menyayangimu. Jujur saja, aku dulu merasa kalau ayah lebih menyayangimu daripada aku, yang notabene adalah anak kandung sendiri. Dulu, aku pernah merasakan benci yang sangat mendalam kepadamu sebelum Ayah menjelaskan semuanya. Tapi setelah ayah memberitahu, aku baru sadar saat itu bahwa kita adalah saudara." Awan menjelaskan bahwa dulu rasa benci pernah hinggap di hatinya,


" Pasti hilangnya benji karena melihat Aku imut ya? " Miana mencoba untuk menggoda kakaknya kembali.


" PD amat... Hahaha. Bukan karena itu, Tapi karena emang saat itu kakak sadar kalau kita benar-benar saudara. Jadi ya mau nggak mau kakak harus menerima kalian dalam hidup kakak. Dan kata ayah saat itu, kita harus saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain" Awan pun menceritakan sesuatu yang belum Miana ketahui saat mereka hidup bersama sebagai saudara tiri.


" Ah sudahlah semua sudah berlalu. Kalau boleh mengulang, Aku pengen saat-saat itu bisa terulang kembali Kak" Miana mengenang masa-masa mereka masih kecil.


" Semua sudah berlalu, tidak ada waktu yang berputar kembali ke belakang. Untuk kedepannya lagi, Semoga kita semua diberikan kebaikan" Awan mencoba menghibur adik perempuan tirinya itu.


" Okelah... Miana ke kamar dulu ya. ngantuk nih udah malam" Miana pun berdiri dan bergegas meninggalkan awan yang masih menikmati makanannya.


" Dih GR amat" Miana membalas ucapan awan dengan mengebaskan rambutnya. Dan di saat Miana sudah hampir jauh berjalan meninggalkan awan, Awan teringat sesuatu.


" Miana..." awan kembali memanggil miana. dan ia pun berhenti karena mendengar panggilan dari kakaknya.


" Boleh aku tanya sesuatu? " awan berdiri di depan Miana sambil menatap mata adiknya itu.


" Tanya? Mau tanya apa kok kayaknya serius banget? " Miana masih menganggap bahwa kakaknya tersebut bercanda.


" Aku serius Miana, Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu" Awan pun kali ini berkata dengan serius.


" Apa Kamu sedang ada masalah dengan Prasetyo? " kali ini Awan bertanya sambil menelisik kejujuran di mata sang adik.


" Masalah apa? " Miana kembali bertanya. Iya pura-pura tidak tahu dengan arah tujuan pertanyaan dari sang kakak.


" Saat itu, di hotel tempat kakak sedang mengadakan meeting dengan investor, kakak melihat kamu menangis di hotel itu. Dan Parlan datang setelah kamu menelponnya. Saat itu kamu hampir berjatuh, Untung ada Bagas yang dengan sikap menangkapmu agar kamu tidak terjatuh. Awalnya kakak ingin sekali membantumu dan mengetahui apa masalah yang sedang kamu alami saat itu. Tapi karena Parlan dan Bagas ada di sana, kakak mengurungkan niat itu. apa Prasetyo...? " awan bercerita di depan miana membuat Miana menutup mulutnya karena terkejut.

__ADS_1


" Kakak kenal sama Bagas? " tanya Miana kembali.


" Bagaimana aku tidak kenal dengan dia, dia itu rekan bisnis yang selama ini membantu perusahaan Kakak dan ayah. Dia orang yang baik. Saat itu perusahaan ayah sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Tapi Bagas datang mengulurkan tangannya" penjelasan awan membuat Miana teringat akan sesuatu.


" Kakak tahu kalau Bagas adalah pemilik AIA Corporation? " tanya Miana kembali.


" Bagaimana tidak tahu, kalau Ayah dengan ayahnya Bagas, mereka adalah sahabat lama. Dan ayah mengetahui seluruh rahasia yang mereka sembunyikan dari orang lain." kali ini Awan mengatakan yang sebenarnya tentang Bagas.


" Apa masalah yang berada di kantor cabang Mas Prasetyo adalah ulah Bagas juga? " banyak hal yang ingin diketahui Miana tentang Bagas dari awan.


" Kalau untuk masalah itu kakak tidak tahu, tapi kalau untuk masalah pembatalan kerja sama, ayah memberitahu Kakak tentang masalah yang sebenarnya. Oh iya, berarti wanita yang disebutkan Bagas dalam ceritanya itu kamu? "


" Bagas bercerita, kalau seseorang telah menyinggung dirinya secara terang-terangan. Dan juga menyinggung seorang sahabat smk-nya. Berarti yang dimaksud Bagas saat itu adalah kamu. Selain seseorang yang telah menyinggung dirinya secara terang-terangan, kerjasama dibatalkan karena pihak kedua telah merubah bahan baku produk dengan mencampurinya. Itulah alasan kenapa Bagas membatalkan kerjasama dengan perusahaan ayah mertua kamu" Awan menceritakan semuanya kepada miana. niana yang terkejut pun hanya bisa terdiam.


"Jadi... Apa kamu mau memberitahu kakak tentang masalah yang membuatmu menangis saat itu? " Awan kembali mencoba membuat Miana mengaku. Namun Miana hanya terdiam sambil menunduk.


"Kamu yakin kan sama kakak? Bahwa kakak ini orang yang bisa di percaya untuk menyimpan sesuatu. Termasuk rahasiamu" Awan berusaha meyakinkan adiknya.


"Jadi... Saat aku aku berada di hotel karena mengikuti mas Tiyo. Aku penasaran apa yang sedang di lakukan dengan kak Tika" Dari awal pembaicaraan yang dikatakan oleh Miana, membuat Awan menyadari dan langsung mengetahui sesuatu.


"Jadi benar... Kalau Tiyo dan Tika menjalin hubungan spesial? " Awan langsung bertanya. Miana mengangguk karena sudah tak sanggup untuk berkata.


"Kenapa kamu tidak memberitahu kakak masalah sebesar ini? " Awan merasa geram mendengar cerita itu.


"Aku mencoba untuk menyelesaikan semuanya kak. Ini masalah rumah tanggaku. Aku tidak ingin anak-anak tahu kalau ayahnya adalah seorang penghianat. Miana takut kalau mereka akan terluka. Dan akhirnya luka tersebut harus mereka bawa hingga dewasa" Miana menangis, melepaskan semua air mata yang tertahan selama ini.


"Tapi kamu kamu juga harus menjaga kewasaranmu sebagai ibu rumah tangga Miana. Kalau sekiranya bertahan benar-benar membuat kamu sakit, kenapa harus bertahan dalam diam seperti ini? " Kali ini awan tersdengar menggebu-nggebu. Emosi semakin memuncak ketika melihat adiknya menangis karena tersakiti.


" Kurang ajar sekali Prasetyo itu. berani-beraninya dia menyakitimu. Biar kakak Hajar dia untuk menggantikan rasa sakitmu" Awan merasa tidak terima karena adiknya disakiti oleh sang suami.


"Tolong kak, jangan membuat keributan di tengah malam seperti ini. Biarkan aku bertahan hingga aku sudah tak sanggup lagi. Biarkan anak-anak masih tetap bisa merasakan kasih sayang dari ayahnya. Tolong jangan melakukan apapun... Tolong kak" Miana memohon kepada kakaknya.


"Terus siapa temanmu bercerita selama ini? " Awan kembali bertanya dengan nafas tertahan.


"Parlan... Dia juga seorang kakak untukku" Miana memberitahu.

__ADS_1


"Syukurlah... Aku yakin Parlan pasti tidak terima kamu di sakiti oleh bajingan itu. Tapi mungkin kamu juga melarangnya untuk melakukan sesuatu. Dia juga kakak yang baik untukkmu. Jika kamu merasa sudah tidak sanggup, bilang sama kakak ya" Awan memegang kedua pundak adiknya. Miana mengangguk. Sedangkan sepasang mata yang memandang dari balik tembok itu basah karena air mata. Iya tak mempu membendung air matanya ketika mendengar percakapan Awan dan Miana.


__ADS_2