
"Miana? " seseorang yang memandang miana dan awan dari balik tembok tersebut memanggil miana.
" Ayah..." saat menoleh miana dan awan terkejut karena yang memanggilnya adalah sang ayah.
"Miana... Ayah sudah mendengar semuanya" Tuan Heri perlahan berjalan ke arah putrinya. Iya mendekat lalu tiba-tiba memeluk Miana.
"Miana... Maafkan ayah nak. Ayah terlalu bodoh sampai-sampai tidak tahu penderitaan kamu di sini" Tuan Hwri melangis sambil mendekap putrinya. Walapun bukan anak kandung dan Miana sudah dewasa, tapi tuan Heri masih menganggap Miana adalah gadis kecilnya dulu. Masih sama seperti dulu.
"Kamu adalah putri ayah yang ayah besarkan dengan kasih sayang. Tanpa ayah berani menyakitimu karena selain janji ayah kepada ayah kandungmu, ayah tulus menyayangimu selayaknya anak kandung ayah. Tapi, Prasetyo yang baru saja hadir dalam hidup mu sudah beraninya menyakitimu" Suara tuan Heri terdengar serak saat mengatakan itu.
"Ayaah... Miana baik-baik saja. Mianaa..." Ucap Miana. Namun suaranya seperti tertahan di tenggorokkan. Hanya air mata dan isak tangis yang terdengar.
"Maaf kan ayah nak. Maafkan ayahmu yang belum bisa melindungimu" Kali ini terdengar tangis dari tuan Heri.
"Ayah tidak bersalah. Karena Miana selalu merepotkan ayah. Bahkan menangis dan selalu menyusahkan ayah" Miana juga masih menangis. Sedangkan Awan mengusap sudut mata ketika menyaksikan itu.
"Apa kamu tidak ingin menceritakan lebih detail kepada ayah? " Ayah Heri melepas pelukan putrinya lalu memegang kedua pundaknya. Miana hanya menggeleng.
"Kalau kamu lebih nyaman bercerita kepada Parlan tidak apa-apa" Kini apa yang di ucapkan oleh Ayah Heri membuat Miana menunduk.
"Karena Parlan tahu tentang semuanya. Bahkan mas Tiyo menyuap Parlan untuk tidak mengatakan hal tersebut kepada siapa pun. Tapi karena Parlan masih setia kepada kita, dia lebih mendukung Mian. Bahkan uang yang di berikan oleh Tiyo sama sekali tidak di sentuhnya" Miana memberitahu ayahnya.
"Benar-benar brengsek prasetyo itu. Berani-beraninya dia melakukan hal serendah ini. Kenapa pula harus dengan Atika. Ayah harus berbuat sesuatu" Kini tuan Heri ikutan merasakan emosi. Iya benar-benar merasakan sakit atas apa yang Tiyo lakukan.
"Jangan yah, Miana mohon. Biarkan saja dulu seperti ini. Biarkan Miana mengahdapi masalah ini. Biarkan Miana menyelesaikan masalah ini sendiri" Miana memohon kepada ayahnya. Iya menggenggam erat tangan tua yang sudah merawatnya sejak dulu itu. Hingga akhirnya, tuan Heri di buat luluh oleh putrinya itu.
" Baiklah, ayah akan menuruti Apa yang kamu katakan. Tapi tolong, Jika kamu benar-benar sudah tidak sanggup untuk menghadapi ini sendirian, cepat bilang ke ayah" Tuan Heri benar-benar sosok Ayah yang sangat bijaksana. Iya Rela membiarkan putrinya terluka terlebih dahulu untuk membiarkan putrinya belajar. belajar tentang luka yang saat ini dirasakannya.
__ADS_1
" Ayah tidak perlu khawatir. Miana baik-baik saja. Demi anak-anak, semua akan miana lakukan walaupun harus merasakan sakit" Miana Berkata sambil mengusap air matanya yang terus menetes.
" Jangan takut menghadapi hal seperti ini. Kamu bisa merasa kalau luka itu benar-benar akan membunuhmu. Tapi kamu harus yakin bahwa Allah maha penyembuh yang lebih dari apapun." kali ini Awan mencoba memberikan nasehat.
"Iya kak, Miana mengerti" Miana tersenyum dalam tangisnya. Iya mengangguk mencoba bersahabat dengan kepedihan. mungkin setelah ini akan ada luka yang lebih menyayat hati daripada yang saat ini ia rasakan.
" Tapi ayah benar-benar tidak rela kamu disakiti oleh suamimu. Biarkan Ayah melakukan sesuatu untuk memberi pelajaran kepada Prasetya" Tuan Heri masih belum menerima jika putrinya disakiti seperti itu.
" Ayah miana mohon, kalau bukan untuk Miana setidaknya untuk anak-anak Miana. Miana mohon yah. Jangan lakukan apapun? " Miana kembali memohon di saat ayahnya berubah fikiran.
"Ayah tidak ingin kamu merasakan sakit yang lebih dari ini nak. Ayah tidak ingin kamu menderita hanya karena mempertahankan orang bodoh seperti Prasetyo itu. Kurang apa kamu ini.? " Ayah Heri benar-benar murka di saat melihat air mata Miana yang kembali mengalir.
"Ayah... Jangan memaksa Miana. Hal ini hanya akan menambah beban fikirian nya saja. Lebih baik kita biarkan dulu Miana untuk berfikir. Dan juga yah, ayah jangan hanya menyalahkan Tiyo dalam kejadian ini. Atika juga bersalah karena dia sudah mau menjadi perusak hubungan antara Prasetyo dan Miana. Dia sudah menjadi orang ke tiga dalam rumah tangga adiknya sendiri. Kenapa dia juga begitu kejam menghancurkan syurga yang sudah di bangun adik nya selama bertahun-tahun" Kali ini Awan merasa geram juga terhadap adik yang satunya. Ayah Heri terdiam mendengar apa yang di katakan oleh putra nya.
"Lalu apa ayah harus diam saja melihat putri ayah tersakiti seperti ini. Apa yang harus ayah lakukan Awan untuk melindungi adikmu. Sedangkan kamu tahu kan, Atika juga anak ayah. Dia adalah adik kamu juga. Salah sayu orang yang menyebabkan Miana terluka seperti ini" Awan baru kali ini melihat air mata yang begitu banyak menetes darkm sudut mata lelaki paruh baya yang kini berada di hadapannya itu. Selama ini belum pernah Awan melihatnya.
"Demi kamu nak. Jaga dirimu baik-baik. Ayah akan memantau mu dari jauh. Akan membantu mu dari jauh supaya kamu tidak sendirian" Kali ini tuan Heri kembali luluh. Di tatapnya putri bungsu yang berdiri mrmatung di depannya itu.
"Baik yah. Terimakasih untuk semuanya. Kak Awan... Terima kasih" Miana kembali tersenyum.
"Kenapa kamu begitu pandai menyembunyikan luka di balik senyum mu? Belajar dari mana kamu? " Awan menatap Miana yang tersenyum.
"Sudah malam, kembalilah ke kamarmu. Jangan membuat orang lain curiga dengan keberadaan kita di sini. Apalagi jika Tiyo tahu kamu menceritakan boroknya, dia pasti akan bersikap berbeda. Kembalilah nak. Jaga diri baik-baik" Seperti akan melepaskan Miana jaih-jauh. Tuan Heri memberikan nasehatnya.
"Miana akan baik-baik saja. Tolong jaga rahasia ini. Biarkan anak-anak menikmati masa kecilnya bersama sang ayah. Itu pun kalau Miana sanggup. Kalau tidak, Miana akan membawa mereka pergi saja" Miana tersenyum.
"Miana masuk dulu" Setelah mengatakan itu, Miana kembali ke kamar nya dengan menenteng 1 botol penuh minuman. Dan tuan Heri serta Awan pun kembali ke kamarnya masing-masing.
__ADS_1
Di dalam kamar dengan pencahayaan yang remang-remang. Miana kembali merebahkan tubuhnya di sofa kecil yang sejak awal iya gunakan. Dalam hati kecilnya iya ingin segera tidur. Namun fikirannya kembali berkelana entah kemana. Miana berganti posisi tidur. Dari miring ke kanan ganti ke kiri, dan sebaliknya. Namun tetap, mata itu tidak dapat terpejam dan merasakan nyenyaknya tidur.
"Huuffttt... Ngga bisa tidur lagi. Kenapa harus teringat ayah lagi sih" Miana menggerutu. Iya merasa bersalah karena ayah dan kakaknya tahu masalah ini. Miana memikirkan kembali, bagaimana jika Ayah dan kakaknya berubah fikiran. Miana takut. Miana tidak ingin sesuatu terjadi.
Beberapa jam berlalu, dan Miana masih tetap terjaga. Karena tak ingin telat bangun esok hari, iya pun berusaha keras memejamkan matanya. menutupi kembali tubuhnya dengan selimut.
Di kamar Awan.
"Bajingan kamu Tiyo. Kamu sudah berani menghancurkan adikku" Tangan Awan menggenggam, Iya saat ini sedang berada di depan jendela. Membukanya untuk mencari udara dingin. Supaya rasa emosi di dalam dada nya tidak terus melonjak.
"Kenapa takdir seperti ini harus menghampirimu Mian." Awan masih bergumam dalam kesendiriannya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat prasetyo jera. Bukan hanya Prasetyo, tapi juga Atika" Gumam Awan.
"Aku harus mencari tahu sejauh mana hubungan mereka" Awan merogoh baju koko yang iya kenakan. Setelah mendapatkan ponselnya, iya segera menghubungi seseorang.
"Selamat malam tuan" Ucap seseorang di balik teleponnya.
"Malam..." Awan berkata dengan dingin.
"Apa ada yang biaa saya lakukan tuan. Sehingga selarut ini anda mengjubungi saya? " Orang tersebut dengan sopan menanyakan apa tujuan Awan menghubunginya malam-malam seperti ini.
"Ada tugas untukkmu. Selidiki adik ipar ku, Prasetyo Nugroho dengan Adik tiriku, Atika Marcella. Cari tahu sejauh mana hubungan mereka! " Pelan namun terdengar begitu serius.
"Baik tuan... Saya akan secepatnya mencari tahu." Jawab orang tersebut.
"Lakukan dengan segera. Jangan mengulur waktu" Awan segera mematikan panggilan itu. Begitu iya membalikkan badan, iya langsung melihat ke arah ke dua putranya. Sendi dan Rengga.
__ADS_1
"Kehidupan memang selalu mengajarkan kedewasaan. Dan kalian harus tumbuh menjadi lelaki kuat di masa depan nanti. Lindungilah Dara dan Jelita. Karena papa merasa jika ayahnya sebentar lagi akan meninggalkannya" Awan berbicara kepada kedua putranya yang kini sedang tertidur pulas.