Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Menjadi Teman


__ADS_3

"Maafkan aku..." Tiba-tiba Bagas mengucapkan Maaf di depan Miana. Hingga Parlan yang mendengar itu ikut menatap Bagas di depannya.


" Bagas Kenapa kamu tiba-tiba minta maaf? Aku merasa kamu nggak pernah melakukan sebuah kesalahan kepadaku" Miana merasa heran dengan lelaki yang berada di depannya itu.


" Bukan apa-apa Miana. Aku mau minta maaf karena sudah membatalkan kerjasama dengan perusahaan mertuamu. Dan karena ulahku itu, kamu harus menanggung akibatnya." kini Miana mengerti apa yang dimaksud oleh Bagas.


" Bagas... Aku kasih tahu kamu ya. Kerjasama antara kamu dan mertua aku itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Jadi bukan salahmu kalau kamu ingin membatalkan kerjasama itu. Aku yakin kamu pasti punya alasan tersendiri untuk melakukannya. Dan masalah Mertuaku menyalahkan aku dalam hal ini. Bukan sebuah masalah besar untukku. Bahkan aku sudah lupa dan menganggapnya tidak pernah terjadi apa-apa" sambil menjelaskan Miana mencoba untuk tersenyum. Bagas tahu miana berbohong. sorot mata itu tidak akan bisa membohongi Bagas.


" Kalau aku menganggap kamu wanita yang benar-benar kuat, berarti selama ini aku tidak salah" Bagas tersenyum memandang miana.


" Miana, aku sudah tahu semuanya. Aku tahu ceritanya dari awal hingga akhir. Dan aku juga tahu... Hari ini hatimu benar-benar patah dan hancur" Bagas tak melewatkan memandang Miana sedikitpun.


" jangan sok tahu Bagas. Terlalu ingin tahu hanya akan membuatmu tidak akan nyaman" Miana tetap tersenyum.


"Hahahhaa... Miana Miana. Kamu itu sejak dulu tidak berubah sama sekali" Bagas tertawa. Parlan memandang ke arah Bagas.


"Oh iya Parlan. Aku berharap kita bisa menjadi teman baik" Tiba-tiba saja Bagas menepuk pundak Parlan.


"Parlan, apakah kamu mau punya teman setengah gila seperti dia? " Miana menyeletuk.


"Hahhaa... Setengah gila pun tapi aku tampan kan? " Bagas dengan Penuh percaya diri mengatakan bahwa dirinya tampan.


"Kenapa hari ini aku di kelilingi dengan orang yang over PD nya ya? " Akhirnya mereka bertiga tertawa bersama.


"Mama..." Baru saja mereka berhenti dari tawanya. Sebuah suara yang sangat di kenali oleh Miana memanggil.


"Dara, Jelita. Ada apa? " Tanya Miana yang langsung berdiri dari duduknya.


" Ada anak nyebelin banget ma. Masa dia minta mainan Jelita. Dara dorong aja akhirnya dia jatuh" Dara yang membela adiknya mendorong anak laki-laki yang mengganggunya. Ia pun menceritakan semua kejadian kepada Miana.


" Terus di mana anak itu? " tanya Miana sambil melihat ke sekelilingnya.


" Itu dia..." Dara dan Jelita menunjuk seorang anak kecil yang berumur sekitar 10 tahunan. Anak itu pun sedang asyik bermain sendiri.


" Tapi dia kuat banget mah. Kak Dara dorong dia sampai jatuh. Tapi dia nggak ngerasa sakit sama sekali" kali ini jelita yang menjelaskan. Miana merasa bingung kenapa anak-anaknya bersikap seperti itu.

__ADS_1


" Dara, Dara nggak boleh ya dorong-dorong temennya sampai kayak gitu apalagi sampai dia jatuh. Kalau sampai terjadi apa-apa nanti Dara yang dimarahin sama orang tuanya" Miana menasehati putrinya.


" Tapi dia nyebelin banget mah. Masa dia main rebut-rebut aja mainan kita, Dara nggak suka loh" Dara yang dinasehati pun terdiam sambil menunduk. Dan di belakang Miana, Bagas tersenyum-senyum sambil memandang ke arah anak kecil yang dimaksud oleh Dara dan jelita tadi.


" Yang kalian maksud anak laki-laki yang sedang main di sana sendirian itu? " Bagas tiba-tiba mendekat ke arah darah dan Jelita lalu menunjuk ke arah anak laki-laki itu.


" Iya Om dia itu nyebelin banget tau nggak. Main rebot-rebut mainan kita aja. Aku nggak suka sama dia" mendengar jawaban dari Dara, Bagas pun tersenyum.


" Nah ini nih anaknya ke sini" perkataan dari Bagas membuat orang-orang yang berada di sana menoleh ke arah anak laki-laki itu.


" uncle... You are in here" anak laki-laki itu berbicara dengan Bahasa Inggris.


" Kemarilah Ken! " Panggil Bagas dan anak lelaki itu pun mendekat ke arahnya.


" Ini anak Om ya? " tiba-tiba Dara berkata seperti itu.


" Apa tadi kamu mengganggu mereka berdua? " katanya Bagas ketika anak laki-laki yang bernama Ken itu mendekat.


" yes, I like disturb beautiful girl like they" jawabnya kembali.


"Ini Indonesia. Berbicaralah menggunakan bahasa Indonesia" Dara terlihat begitu tidak suka kepada Ken.


" Kalau kamu tidak suka diganggu, aku minta maaf" tiba-tiba saja Ken mengulurkan tangannya ke arah Dara untuk meminta maaf. Dara membuang muka karena ia masih merasa kesal kepada Ken.


" Dara, Ken sudah berbaik hati untuk meminta maaf loh nak. Kalau kamu tidak mau memaafkan, berarti kamu yang jahat" Miana menakut-nakuti anaknya. akhirnya, dengan terpaksa darah menerima uluran tangan dari Ken.


" Hai kamu adik kecil, kamu juga harus memaafkan saya" Ken kembali mengulurkan tangannya ke arah Jelita ketika Dara sudah melepaskan tangannya. Dengan senyuman tulus di bibirnya. Jelita menerima uluran tangan tersebut.


" Jadi ini keponakan kamu? " tanya Miana kepada Bagas.


" Apa Om yang di sana itu Papa kalian? "Ken tiba-tiba saja menunjuk ke arah Parlan lalu bertanya kepada Dara dan Jelita.


" Bukan, itu om Parlan" jawab Jelita dengan polosnya.


" Aku kira dia papa kamu, Soalnya kalian berdua terlihat sangat cantik dan Om itu terlihat so handsome" Bagas, Miana dan Parlan saling beradu pandang ketika mereka mendengarkan apa yang diucapkan oleh Ken. Di detik berikutnya, miana kembali tertawa.

__ADS_1


" Miana Jangan tertawa, apa yang aku bilang dari tadi benar kan. Ucapan anak kecil itu tulus dan selalu jujur. Jadi apa yang mereka katakan itu adalah sebuah kebenaran. Jadi kamu Jangan meragukan ketampanan Saya lagi" Parlan pun menanggapi tawa Miana dengan perkataan yang sarkastik.


" Aku rasa, Ken ini sedang butuh vitamin A" Bagas pun menanggapi ucapan Parlan yang sarkastik tersebut dengan candaannya.


" Hahaha... Sudah sudah ayo kita duduk dulu! " Miana yang hampir tidak dapat berhenti karena tertawa mengajak Bagas dan keponakannya serta kedua putrinya untuk duduk. Mereka pun akhirnya duduk di sana berenam.


"Anak-anak memang selalu tulus dalam berucap" setelah duduk Parlan mengucapkan kata-kata itu.


" Sudahlah jangan seperti itu. Aku pengen ketawa aja rasanya" Miana tersenyum menanggapi ucapan Parlan yang barusan.


" Jadi Ken ini anaknya om? " cara bertanya setelah mereka semua sama-sama duduk.


" Bukan... Bukan " Bagas dan Ken menjawab secara serentak.


" Kompak banget" kali ini Parlan mengomentari kekompakan Ken dan juga Bagas.


" Oh iya Om ini namanya siapa sih. Om ini dari mana. Dan kenapa bisa ada di sini? " pertanyaan beruntun dari cara membuat Bagas menoleh.


" Om ini namanya Om Bagas. dia temennya Mama waktu SMK dulu" jawab miana menjelaskan.


" Oh jadi ini yang namanya Om Bagas. Yang selalu membuat Mama dimarahin sama nenek dan kakek. Tapi kelihatannya Om orang baik" Jelita mengucapkan kata-kata yang membuat Bagas terkejut.


"Jelita. Ngga boleh berbicara kaya gitu. Om Bagas ngga tahu apa-apa tentang semua ini" Miana tetap berkata dengan lemah lembut. Iya tidak ingin anak-anaknya memiliki rasa dendam.


"Habis nenek sama kakek suka marah-marah sama mama. aku kasihan sama mama" Jelita menjawab namun sesaat kemudian ia kembali menundukkan kepalanya.


" Jelita, Om minta maaf ya kalau Karena Om mama jadi dimarah-marahin terus sama kakek dan nenek kamu. Ini hanya sebuah kesalahpahaman. Miana aku minta maaf kalau membuat kamu tidak nyaman" Bagas tetap meminta maaf kepada miana walaupun itu bukan salahnya.


" Kalau kata Mama Om Bagas tidak bersalah. ya berarti Om Bagas memang nggak salah, Bagaimana kalau kita berteman Om. kalau semua ini karena kesalahpahaman antara kakek dan nenek." Dara tersenyum saat mengatakan itu kepada Bagas.


" Dara minta maaf ya Om" Iya mengulurkan tangan ke arah Bagas. dan dengan cepat pula Bagas menerima uluran tangan itu. Mereka akhirnya mengobrolkan banyak hal. Dan itu membuat Dara dan Jelita mendapatkan teman baru. Yaitu Ken. Hingga sore hampir menjelang, Mereka baru pulang ke rumah masing-masing.


"Kak Ken orangnya baik ya mah. Ngga kaya pas tadi bermain." Dara dan Jelita memuji ketika mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang.


"Iya, om Bagas juga orangnya baik" Kali ini Jelita menyela.

__ADS_1


"Lain kali, kita bisa ngga ya ketemu sama Kak Ken lagi? " Pertanyaan Jelita membuat Miana tersenyum.


"Kalau ada waktu, Insya Allah biaa sayang" Miana tersenyum. Iya bersyukur hari ini rasa sedih yang menghampirinya perlahan-lahan menghilang. Iya sudah tak terlalu memikirkan Prasetyo. Suaminya yang brengsek itu.


__ADS_2