Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Sikap Miana


__ADS_3

"Aaaaa" Jeritan Jelita mengundang perhatian semua keluarganya. Dara yang sudah di bawah bersamanya pun juga melihat jika kaki Atika saat ini berada di atas kaki papanya.


"Apa yang budhe lakukan dengan meletakkan kaki di atas kaki papa? " Pertanyaan Dara membuat seluruh keluarga yang berada di situ memandang heran kepada Atika dan Prasetyo. Serta Miana pun memandang Prasetyo dengan tatapan kebenciannya.


"Ehh, maaf Dara, Jelita. Tadi budhe ngga sengaja" Alasan Atika benar-benar di luar nalar. Sehingga dua gadis kecil itu sulit untuk percaya.


"Kan sakit kalau tertindih seperti itu. Papa juga kenapa diam saja? " Dara berani sekali mengomentari Atika dan Prasetyo. Kini air mata Miana hampir saja menetes. tapi miana menghentikan air mata itu supaya tidak terlihat oleh siapapun. seperti yang diucapkan oleh Parlan. Bahwa air mata yabg tulus adalah air mata yang menetes saat iya sendiri. Miana tetap menahan supaya buliran bening itu tidak jatuh.


"Alasan budhe tidak sengaja. Tapi kasihan kaki papa ditindih kayak gitu. sakit" yang ada di dalam pikiran Dara dan Jelita adalah rasa sakit di kaki Papanya. Namun yang ada di dalam pikiran Miana, adalah rasa sakit yang kini benar-benar menggores di hatinya.


" Dara, jelita... Kaki papa nggak papa sayang. Ayo sekarang dilanjut lagi Makanya. mungkin Bude Atika memang tidak sengaja." kali ini Prasetya ikut berbicara karena dia sekilas memandang Miana yang memperhatikan dirinya dan Atika terlalu dalam. Seolah meminta penjelasan.


" Iya dara, tadi Bude kira kalau kaki papamu itu adalah tempat kaki. Jadi bude tidak sengaja meletakkan kaki di atas kaki papamu." penjelasan Atika seakan-akan membuat perut Miana mual serasa ingin muntah. Miana benar-benar salut kepada dua orang di samping dan di hadapannya itu. Iya memutar bola matanya Karena rasa malas.


" Kalian lihat saja nanti, kalau aku sudah berniat membuka semua kebusukan kalian, Kalian pasti akan menyesal telah berani bermain-main di belakangku" gumam Miana dalam hati. Miana benar-benar telah bersahabat dengan rasa sakit dan juga telah bersosialisasi dengan kebahagiaan. Iya tidak ingin kewarasannya perlahan menghilang hanya karena sikap penggoda dan penghianat di dalam hidupnya. Saat ini mereka telah berani sedikit demi sedikit menunjukkan hubungannya. Miana pun juga harus bisa menerima resiko atas keputusan yang ia ambil.


" Ya sudah kalau kaki Papa tidak apa-apa. lain kali Bude Atika Jangan melakukan hal seperti ini lagi. kasihan papa" Atika benar-benar kesal kepada Dara dan Jelita yang sudah membuat dirinya malu di hadapan keluarga besar. Kini perhatian berpusat kepadanya.


"Siaall bocah-bocah ini. Bagaimana kalau ada yang curiga? " Atika bergumam mengumpat anak-anak itu di dalam hati. dan kini pandangan Tuan Heri tertuju kepada Atika dan Prasetyo.


" Apa yang sebenarnya terjadi. sejak awal tadi miana benar-benar terdiam Tidak seperti biasanya sikapnya kepada suaminya. Dan apa itu tadi yang membuat jelita berteriak karena kaki Atika berada di atas kaki Prasetyo. sepertinya ada yang tidak beres dengan semua kejadian ini" Tuan Heri hanya bisa menebak-nebak Ada apa sebenarnya Di balik semua kejadian yang terjadi saat ini. Tapi ia pun juga belum bisa menyimpulkan melalui angan-angannya sendiri. Iya takut salah dalam menilai orang lain.


"Dara, Jelita... Ayuk nak habiskan makananya. Kaki papa tidak apa-apa" Kali ini awan mencoba menyakinkan kedua keponakannya yang masih lugu dan polos itu.


"Iya pakdhe" Jawab Dara dan Jelita bersamaan.

__ADS_1


"Kaki papa itu kuat sayang, mana mungkin bisa sakit kalau hanya di tindih sama kaki budhe. Iya ngga pah? " Kini Miana menyenggol lengan Prasetyo yang berada di sisinya.


" Ayo sudah lupakan saja semuanya. Ini Mas aku ambilkan lagi makanannya" Miana yang merasa jengkel kepada suaminya mengambilkan dua centong nasi langsung ke piring Prasetyo tanpa menunggu persetujuan. Begitu mengembalikan sendok nasi tersebut, iya juga mengambilkan beberapa jenis lauk pauk yang tersedia di sana. Miana bisa tersenyum di saat melihat makanan yang menumpuk di piring Prasetyo.


" Lihatlah, Papa aja makanya banyak tiap hari. Masa cuma ketindihan kaki aja ngerasa sakit. ya nggak pah? " Miana benar-benar sengaja ingin mengerjai suaminya.


" Wah Papa makannya banyak banget. Ayo pa di makan kita balapan ya Pa" Kini Jelita berkata dengan nada yang bergitu girang disaat iya mengetahui porsi makan di piring prasetyo. Dan akhirnya, mau tidak mau Prasetyo pun terpaksa menyuapkan suap demi suap nasi ke dalam mulutnya. Walaupun keadaan perutnya saat ini sudah lumayan kenyang. Miana pun tersenyum melihat kejadian ini. Lain halnya dengan Atika yang memandang sinis keluarga kecil itu.


" Kalau begitu kakek juga mau nambah lagi. Ayo nek kita menambah makanan lagi. biar kuat seperti Papanya cucu kita ini" Tuan Heri yang melihat tingkah Miana sejak tadi pun ikut berkata. Iya yang memperhatikan Bagaimana perubahan ekspresi di wajah Miana, seakan mengetahui bahwa di sana di dalam hatinya ada masalah berat yang sedang dihadapinya.


" Wah kakek juga ikut makan banyak." Dara dan Jelita bertepuk tangan pelan memandang kakeknya yang menambahkan nasi ke piring namun tidak sebanyak milik Prasetyo.


" Kalian ini ada-ada saja. Nenek sudah angkat tangan karena perut nenek sudah kenyang" kali ini Nyonya Yanti pun ikut bicara sambil mengangkat tangannya, Pikirannya juga tertuju kepada kedua cucunya. Untuk membuat Dara dan Jelita lupa akan apa yang terjadi. Mereka pun akhirnya tersenyum girang kembali. Seakan berkumpulnya keluarga ini menjadi kebahagiaan tersendiri Dalam hati mereka. Kecuali Atika yang hanya di lahirnya saja senang, tapi di hatinya kesal bukan main.


" Tika kamu nanti menginap di sini kan? " tiba-tiba saja Nyonya Yanti bertanya kepada Putri sulungnya.


"Aakuu... Aku nanti saja mikirnya. Perutnya kenyang masih belum bisa berfikir dengan baik" Jawab Atika yang kini menyandarkan tubuhnya di sofa. Miana memperhatikan terus bagaimana aikap sang kakak.nIya ingin tahu bagaimana jawaban nya.


"Kalau aku tidur di sini, otomatis aku bakal tidur sendirian. Dan prasetyo pasti akan tidur dengan Miana di kamar utama. Jangankan melihat mereka masuk kamar. Membayangkan saja rasanya aku sudah tidak Sanggup " Atika bergumam di dalam hatinya sendiri. Dia sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaan menginap di sini atau tidak. Iya melirik ke arah Miana yang sejak tadi menatapnya dengan datar.


"Tapi aku tidak biaa berlama-lama membiarkan Tiyo dan Miana terus-terusan bersama" Kini hati Atika merasa bimbang.


" Aku mau ke kamar terlebih dahulu ya. Karena kekenyangan perut aku jadi sedikit sakit" Prasetyo yang sedikit menahan begah di perutnya meminta izin untuk ke kamar terlebih dahulu. Dan semua yang berada Disana pun mengangguk.


Di dalam kamar

__ADS_1


Prasetyo merasakan lemas di dalam dirinya. Bagaimana tidak, ia harus menghabiskan dua piring nasi sekaligus karena Miana menambahkan tanpa memberitahu sebelumnya.


" Aduh perut aku begah banget. rasanya mau meledak karena kebanyakan makan" sambil menyandarkan punggungnya ke sofa di dalam kamar, Prasetyo mengeluh perutnya yang terasa begah.


" Miana itu sengaja atau bagaimana sih, masa nambahin nasi segitu banyaknya nggak kira-kira. Perut aku rasanya mau meledak" sekali lagi Prasetyo merasakan perutnya yang begitu sakit. Karena kekenyangan, Prasetyo pun merasakan rasa kantuk yang menyerang dengan tiba-tiba. Karena ia telah menyandarkan punggungnya di sofa, Iya Pun berusaha memejamkan matanya.


" Mama nanti tidur di kamar darah dan Jelita lagi ya" samar-samar Prasetyo mendengarkan suara permintaan dari anaknya. Iya segera membuka matanya dan menatap ke sekelilingnya. Iya masih berada di atas sofa. sedangkan miana dan kedua anaknya saat ini berada di atas ranjang.


" Jam berapa ini? " saat Prasetyo bangkit dari duduknya, Iya berjalan menuju ke arah tempat tidur. Iya pun bertanya kepada istri dan anak-anaknya berada di sana


" Jam 09.00 papa. Papa tadi ketiduran ya di sofa." Dara menjawab dengan santai.


" berarti aku ketiduran ya Dari tadi" Prasetyo yang tidak mengingat apapun mencoba bertanya.


" Papa lama banget tahu tidur di sofa tadi. Kita aja yang dari tadi bermain di sini dan berisik tapi Papa tidak mendengar. Papa capek ya? " pertanyaan cara membuat Prasetyo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Perasaan Papa baru sejak tadi papa kembali ke kamar dan duduk. tapi ternyata Papa ketiduran selama kurang hampir 2 jam. maafin Papa ya sayang. apa bener-bener capek sekali" Prasetyo mencoba memberikan penjelasan kepada kedua putrinya. Ia pun juga berharap bahwa Miana juga akan mengerti dengan penjelasannya.


" Ya sudah kalau begitu papa tidur saja. papa cepat istirahat ya kalau capek. Dara sama Jelita mau kembali ke kamar. Selamat malam papa mama" Dara dan Jelita pun membuka pintu kamar miana dan Prasetyo. Begitu mereka sudah berada di luar, mereka kembali menutup pintu tersebut.


Setelah kepergian kedua anaknya dari kamar, miana pun bangun dari ranjangnya dan menuju ke kamar mandi. Iya bener-bener tidak ingin berada di dekat Prasetyo. Setelah kembali dari kamar mandi, Miana langsung mengambil bantal guling dan selimut dan membawanya ke sofa. Prasetyo yang memandang itu pun hanya bisa terdiam.


"Miana? Kenapa kamu selalu diam. Apa kamu belum bisa memaafkan aku? " Prasetyo mengikuti Miana yang berjalan ke arah sofa. Dengan berani iya mengatakan itu.


"Kamu mau tahu mas? Iya kamu mau tahu apakah aku bisa memaafkan mu atau belum. Baik, biar aku kasih tahu ya" Miana yang merasa jengkel pun bangun lagi dan mendekat ke arah suaminya yang menurutnya sudah hilang dari hatinya.

__ADS_1


__ADS_2