Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Bertemu Dedek Gemes


__ADS_3

"Dara... Jelita" Parlan tak kalah terkejut karena kehadiran 2 anak majikannya tersebut.


"Om Parlan kok dirumah. Kata papa sedang mengantar ke luar kota" Dara mengatakan apa yang ada di dalam benaknya.


"Hmmm... Anu Dara. Tadi papa nyuruh Om Parlan pulang. Jadi sekarang ada dirumah" Parlan menjawab senormal mungkin agar kedua anak tersebut tidak curiga. Miana menghembuskan nafas lega ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Parlan.


"Jadi Papa menyuruh Om Parlan pulang Untuk mengantarkan kita bertemu dengan dedek gemas? " Kali ini Jelita yang bertanya.


"Benar sekali" Parlan mengangguk.


"Berartin papa sayang sama kita kak. Buktinyabjauh-jauh dari luar kota om Parlan disuruh pulang demin kita" Sambil tersenyum, Jelita mengatakan hal tersenyum. Sedangkan Parlan melirik ke arah Miana. Terlihat Miana yang tersenyum terpaksa. Parlan mengerti apa yang dirasakan oleh wanita di depannya itu.


"Dedek gemes dimana om, kita kangen sama dia" Dara dan Jelita langsung berjalan menuju ke kamar Devan saat menunjuk kamar anaknya. Akhirnya ke dua gadis kecil itu bermain dengan Devan. Seseorang yang mereka sebut sebagai dedek gemes.


"Nyonya... Maaf" Parlan memulai percakapan dengan Miana.


"Apa yang harus di maafkan? " Miana malah bertanya.


"Seharusnya saya tidak di rumah di saat jam kerja seperti ini" Parlan menunduk.


"Apa yang membuatmu merasa bersalah Parlan. Kamu tidak bersalah sama sekali" Miana melirihkan suaranya agar tak di dengar oleh orang lain. Terutama Dara dan Jelita.

__ADS_1


"Tetaplah berpura-pura tidak tahu apa-apa. Aku juga akan berusaha untuk bersikap biasa saja. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan anak-anak demi egoku sendiri" Miana tetap berkata dengan suara lirihnya.


"Apa di sini ada baby sitter yang biasa menjaga Devan? " Miana celingukan mencari seseorang.


"Tadi saya suruh pulang nyonya. Tidak enak jika harus berduaan dengan wanita yang bukan muhrim dan tidak ada orang lain. Devan masih belum mengerti apa-apa" Jawaban Parlan seakan menghantam hati dan fikiran Miana. Iya langsung teringat kepada suaminya yang kini tengah berdua dengan kakaknya.


"Ternyata... Uang tidak bisa membeli ilmu dan adab. Buktinya kamu lebih terhormat dari pada lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu" Tanpa sadar air mata Miana kembali menetes.


"Maaf nyonya. Lebih baik anda istirahat terlebih dahulu. Saya akan mengambilkan minum" Parlan segera menyuruh Miana untuk duduk. Sedangkan iya sendiri berjalan dengan cepat untuk mengambil air minum.


Setelah kembali dari dapur. Parlan melihat Miana sedang melamun. Dengan segera iya menghampiri.


"Ini air putih nyonya. Minumlah agar hati nyonya sedikit tenang" Setelah meletakkan satu gelas air putih di atas meja. Parlan kembali masuk ke dalam dapur. Dan tak lama juga iya kembali lagi. Di lihatnya Miana yang masih dalam posisi semula. Yaitu melamun.


"A.. Iya.. Maaf maaf..." Miana tergagap disaat sudah tersadar.


"Ini aor putih. Minumlah agar sedikit tenang" Parlan mengambilkan gelas berisi air putih yang iya letakkan di atas meja tadi lalu memberikan kepada Miana.


"Terimakasih Parlan" Ucap Miana.


"Sama-sama nyonya" Dipandangnya Miana disaat meneguk air satu gelas yang telah iya sajikan. Perlahan namun pasti Miana menghabiskan air yang berada di dalam gelas tersebut.

__ADS_1


"Terimakasih" Miana kembali mengucapkan kata terima kasih. Mereka berdua duduk di atas sofa yang berbeda. Terdengar suara Riuh canda tawa dari kamar Devan. Dara dan Jelita terdengar begitu bahagia.


"Sampai kapan Nyonya akan bersikap seperti ini. Bertahan jangan lupa begitu menyesakkan" Parlan memulai kembali ucapannya.


"Entahlah... Mungkin sampai aku benar-benar bisa melepaskan Prasetyo. Dan mengikhlaskan dia bersama Kakakku sendiri" pandangan Miana terlihat begitu kosong.


"Jika bertahan begitu menyiksa, maka lebih baik lepaskan saja" Parlan yang sejak dulu sudah seperti kakak Miana, berusaha untuk melindungi Miana.


"Tapi bagaimana dengan anak-anak. Apakah kebahagiaannya juga akan hilang seiring dengan kepergian ayahnya" Miana kembali memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan kebahagiaan kedua putrinya.


"Akan ada banyak kebahagiaan yang menghampiri mereka. Sekarang saya tanya, kalau misalnya apa yang dilakukan oleh Prasetyo diketahui oleh putrinya, apakah mereka juga akan tetap bertahan dengan keadaan yang seperti itu? " sikap dewasa Parlan benar-benar membuat Miana mampu berpikir dengan jernih.


"Kenapa mereka berdua begitu tega menghancurkan kebahagiaan banyak orang. Hanya untuk membangun kebahagiaan mereka sendiri" Miana masih berkata dengan pandangan yang lurus ke depan.


"Mereka bukan membangun kebahagiaan, tapi mereka membangun kesenangan mereka sendiri di atas ego. Tanpa memikirkan perasaan orang lain" Parlan mengatakan hal tersebut dengan sedikit suara yang keras.


"Bersabarlah... Akan ada waktu di mana sepandai-pandainya seseorang menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga" Miana mengusap air matanya dan berkata dengan jelas.


"Yang seharusnya bersabar itu kamu Miana. Kamu tahu betapa sulitnya orang tuamu untuk membesarkanmu. Bahkan mereka tidak berani menyakiti fisik ataupun hatimu. Tapi tanpa perasaan dan begitu kejam Prasetyo menghancurkan semua mimpimu. Menghancurkan semua kebahagiaan yang telah kamu bangun selama bertahun-tahun" Tanpa embel-embel nyonya, Parlan menyebut nama Miana.


"Miana... Tidak ada yang lebih menyayangimu selain Rabbmu. Tidak ada yang lebih mengetahui gundah dan gelisahmu kecuali Tuhanmu. Dan tidak ada yang mampu mengangkat deritamu kecuali Tuhan mu. Jangan terlalu menyandarkan hatimu kepada manusia. Akhirnya hanya kecewa yang kamu dapatkan" Kali ini Parlan terlihat benar-benar seperti kakak yang sedang menasehati adeknya.

__ADS_1


"Kamu tahu, jika kita terlalu fokus dengan duka. Maka kita akan terus menderita. Namun jika kita jadikan pelajaran, maka kita akan berkembang." Parlan terus berucap dan Miana terus mendengarkan. Hingga akhirnya tangis Miana pecah dan tak sanggup untuk di tahan.


"Parlan... Bahkan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan" Miana berkata dalam tangis, hingga suaranya terdengar serak. Dengan perlahan Parlan mendekati Miana. Mengusap air matanya. Iya tahu hal seperti ini sering terjadi. Mereka sudah bersama sejak kecil, hingga dewasa pun Miana selalu mengandalkan nasehat dari Parlan sebagai seorang kakak. Tak sanggup lagi merasakan sakitnya terluka, Miana memeluk Parlan dengan erat. Hingga entah apa yang bisa Parlan lakukan selain membalas pelukan Miana demi menenangkan hati wanita itu. Dengan perlahan tangan Parlan naik ke punggung Miana. Mengusapnya perlahan sebagai tanda agar Miana bisa tenang. Dan berharap wanita yang sudah di anggapnya adik itu melupakan lukanya. Tidak semua, satu luka yang kini benar-benar membuat Miana hancur. Parlan pun pernah merasakan hal yang menyakitkan. Ditinggalkan oleh orang yang teramat iya sayangi Untuk selamanya, karena Tuhan lebih menyayangi istrinya dibanding dirinya.


__ADS_2