
"Maaf, apa sebelumnya boleh tanya? " Bagas tiba-tiba memandang Parlan dengan penasaran.
"Iya, silahkan! " Parlan menjawab sambil menyuapi Devan namun tetap bersikap sopan.
"Tapi ini bukan tentang apa yang akan kita bahas saai ini" Bagas masih memandang Parlan.
"Oh iya, boleh silahkan" Parlan tetap ramah dan tersenyum.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu? " Bagas bertanya. Hal tersebut membuat Parlan menoleh ke arahnya.
"Pernah" Singkat jawaban si Parlan.
"Waktu tuan Bagas menolong Miana, eh maksud saya nyonya Miana" Imbuh Parlan menjelaskan.
"Bukan, bukan itu... Maksud saya sebelum itu" bantah Bagas. Dan Parlan menggeleng. Bagas terdiam. Dan Parlan masih terus menyuapi anak nya. Bagas tidak berani bertanya lagi. Iya melihat Parlan seperti bukan orang asing. Tidak terlihat layaknya seorang sopir.
"Jangan terlalu ingin tahu tuan Bagas. Kata orang terlalu ingin tahu menyebabkan cepat mati" Parlan tersenyum sambil mengatakan itu. Dan Bagas ikut tersenyum.
"Apa benar seperti itu? " Bagas bertanya.
"Kalau begitu aku tidak ingin banyak ingin tahu. supaya saya tetap awet muda dan tidak cepat mati" Bagas kembali bercanda. Iya pun tersenyum merasa senang dengan sikap farlan.
" Tunggu sebentar ya Tuan Bagas, biar saya menyuapi anak saya terlebih dahulu. kasihan dari pagi belum makan sama sekali" farlan meminta izin untuk menyuapi Devan.
" silakan silahkan Saya tidak masalah. Saya justru senang melihat anak kecil seperti Devan. sayang sekali saya belum bisa memiliki seseorang yang saya banggakan." sambil memandang ke arah Devan yang menggemaskan itu, Bagas memujinya.
" mungkin belum waktunya. Percayalah nanti kalau ada waktu yang indah" Parlan menoleh sambil tersenyum.
"Aaa... Pinter. Ini suapan terakhir ya nak. Makan jangan banyak-banyak dulu" Parlan menyudahi acara menyalati Devan. dengan segera Parlan mengelap mulut Devan yang berlepotan. dan seakan menyuapi kembali Devan kembali membuka mulutnya.
"Sudah nak. Ini papa punya buah" Parlan memegangkan ke tangan Devan sebuah empeng buah. Devan pun menerima dengan senang lalu memasukkan benda tersebut ke dalam mulutnya.
"Maaf tuan Bagas. Saya tidak biaa membiarkan anak saya kelaparan" Ucap Parlan begitu iya selesai dengan semuanya.
"Anda telaten sekali ya. Jarang lo ada hot daddy yang mau repot-repot mengurus anaknya sendiri. Biasanya mereka akan menyerahkan tugas seperti ini kepada seorang Baby sitter" Bagas memuji kelincahan Parlan dalam mengurus bayinya.
" Jangan terlalu berlebihan Tuan Bagas. Saya hanya ingin yang terbaik untuk anak saya. Saya tidak ingin anak saya kekurangan kasih sayang dari ayahnya. Maka dari itu juga hari libur seperti ini saya membawanya kemanapun" Parlan dengan jujur menjawab. Bagas pun yang mengerti hanya mengangguk.
" Jadi bagaimana... Apa yang ingin anda sampaikan kepada saya. Sehingga anda sendiri harus menemui saya? " tanya Parlan ingin tahu apa yang terjadi sehingga dirinya dipanggil oleh Bagas.
" Tunggu sebentar Randy sebentar lagi akan datang ke sini. Soalnya semua bukti ada di tangan dia" jawab Bagas.
" Kalau boleh saya menebak, anda itu asistennya Tuan Rendy. Pimpinan AIA Corporation? " tujuan farlan bertanya adalah untuk mengetahui.
__ADS_1
" Ya itu memang benar" Bagas tersenyum sambil menoleh karena saat itu juga Rendy datang.
" Selamat pagi tuan" sembari meletakkan sebuah dokumen di atas meja, Rendy menggeser sebuah kursi lalu mendudukinya.
" Mohon maaf saya terlambat dan Anda berdua harus menunggu" Rendy meminta maaf atas keterlambatannya.
" Tidak ada yang perlu dimaafkan. Rendy tolong sekarang Jelaskan kepada Parlan Apa tujuan kita memintanya untuk bertemu. Tidak enak kalau karena terlalu lama di sini sambil mengajak anaknya" Bagas merasa tidak enak Kepada farlan, karena harus merepotkannya.
" Baik tuan" Rendy segera membuka sebuah Map yang entah itu apa isinya Harlan belum mengetahui.
"Sebentar-sebentar. Jadi sebenarnya yang tuan mudanya siapa ya? Kok tuan Bagas memanggil nama saja kepada tuan Rendi. Sedangkan Tuan Rendy memanggil Tuan kepada Tuan Bagas" sebenarnya Parlan merasa bingung dengan panggilan mereka berdua.
" Saya akan menjelaskan masalah itu nanti di belakang. Tapi kali ini saya ingin memberitahu sesuatu kepada anda" Rendy mencoba menghilangkan kebingungan di pikiran farlan.
" Jadi sebenarnya seperti ini. Ya ini yang ingin saya tanyakan kepada anda. Anda terlihat begitu dekat dengan Nona miana" tanya Rendy sekali lagi. Parlan hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
" Kami sudah mencari tahu semuanya. Dan kami mendapatkan informasi, jika anda adalah orang yang paling dekat dan paling disegani oleh nona Miana." Parlan kembali mengangguk.
" Nona miana sudah menjelaskan semuanya kepada Tuan Bagas perihal rumah tangganya. Dan Kami sebenarnya adalah sahabat nona Miana sewaktu SMK dulu." Parlan masuk menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Jadi kalau anda sudah sedari dulu bersama Nona Miana, seharusnya kami mengenal anda" Rendy memulai.
"Sayangnya dulu kami beda sekolah. Nona Miana melanjutkan ke SMK nya, dan saya melanjutkan Ke MAN. Dan disaat itu kita jarang bertemu karena saya nge kos di dekat sekolah." Parlan menjelaskan.
"Oh begitu" Bagas ikut mengangguk mendengar jawaban Parlan.
"Saya sudah tahu tentang semua ini. Tapi aku bingung cara menyampaikan kepada Miana. Aku tidak sanggup melihatnya terluka lebih parah lagi. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Prasetyo menggandeng Atika masuk ke dalam hotel. Hal itu sudah cukup membuatnya hancur" Parlan menceritakan apa yang ia ketahui.
" Tapi kalau kita tidak memberitahu Miana. Akan sampai kapan suami bajingannya itu menyakiti dia? " Bagas bertanya kepada Parlan.
" Aku sudah membersamai miana sejak ia kecil. Aku sudah menganggap nya seperti adikku sendiri. Ayah kandungnya pun mengamanahkan Miana kepadaku dulu sebelum iya meninggal. Dan aku berjanji di saat itu untuk menjaga Miana hingga dia menemukan sandarannya kembali. Namun pada kenyataannya, sandarannya saat ini merapuhkan diri. Bagaimana mungkin hati Miana tidak hancur berkeping-keping bersama dengan hidupnya. Kenyataannya Miana harus merasakan sakit karena orang yang dicintainya" Parlan sedikit menceritakan kisah tentang miana.
" apa kita perlu turun tangan untuk membantu miana? " Bagas bertanya. dan pahlawan langsung menatap Bagas. entah apa artinya tatapan itu.
" Selama miana masih menjadi istri sah dari Prasetyo. aku berpikir bahwa tidak akan bisa menolongnya dengan leluasa. karena itu akan menyalahi sebuah aturan" Parlan menjelaskan Kenapa dirinya tidak berterus terang dalam membantu Miana.
" Kalau Boleh saya tahu, Apakah tuan Bagas menyimpan rasa kepada Miana? " pertanyaan Parlan membuat Bagas menunduk.
"Bukan hanya menyimpan rasa, tapi aku merindukan kedekatan dengan Miana sewaktu dulu." Bagas berkata dalam hati. Iya tidak berani mengatakan itu.
"Ada hal lain yang membuat aku melakukan ini semua" Jawab Bagas. Parlan mengangguk. Setelah mendapat jawaban atas pertanyaannya, kini Parlan mengerti jika ada hal yang tidak ingin di ketahui oleh orang lain dari Bagas.
"Tuan Bagas, sebenarnya saya juga merasakan sakit atas apa yang dilakukan prasetyo kepada Miana. Saya sudah banyak memberikan masukan. Tapi Miana masih ingin bertahan dengan alasan Dara dan Jelita" Parlan mengatakan kenapa Miana masih bertahan.
__ADS_1
"Sudah lama sejak saat itu Parlan. Tapi kita belum bisa berbuat apa-apa." Jawab Bagas.
"Sejak tuan..."Ucapan Parlan terhenti.
"Tolong jangan memanggil tuan Parlan. Panggil Bagas saja" Bagas ingin merasa lebih dekat dengan Parlan.
"Bagaimana bisa seperti itu. Anda tahu kan saya ini hanya seorang sopir. Tidak sepadan dengan tuan Rendy dan tuan Bagas. Bagaimana bisa saya hanya memanggil seperti yang tuan katakan tadi" Parlan menolak.
"Tapi aku ingin kita bisa mengenal lebih jauh Parlan. Aku tahu usia mu tidak jauh beda dariku" Bagas mengatakan.
"Jangan Khawatir. Usia hanyalah angka" Parlan dengan percaya diri menjawab. Hal tersebut semakin membuat Bagas dan Rendi penasaran dengan sosok pria di depannya itu.
"Baiklah..." Kali ini Bagas mengangguk. Mereka akhirnya terdiam satu sama lain.
"Maaf, boleh saya mengulangi pertayaan saya kembali? " Tanpa Parlan.
"Apa? " Bagas malah di buat bingung oleh Parlan.
"Sebenarnya tuan ini siapa? " Tanya Parlan.
"Saya Bagas Nurdiansyah, dan dia Rendy Setiawan" Hanya itu yang Bagas Ucapkan.
"Tuan ini bisa saja. Saya tidak menanyakan nama lengkap" Parlan tertawa lirih.
"Hahaha... Kamu sih dari tadi mengesalkan. Di tanya apa jawabannya apa " Kali ini Bagas mulai tertarik dengan kepribadian duda tampan di depannya itu.
"Baiklah... Karena kamu adalah orang kepercayaan Miana, aku akan memberitahu kamu yang sebenarnya." Bagas mulai akan berkata.
"Tapi... Biarkan Rendy saja yang menjelaskan" Bagas menoleh ke arah Rendy.
"Bagas adalah pewaris tunggal AIA corporation. Dan saya hanyalah asistan nya"Parlan terkejut mendengar semua yang di katakan oleh Rendy.
"Jadi anda orang yang sudah di singgung sama bu Asti? " Tanpa Parlan.
"Kamu tahu masalah ini? " Rendy bertanya.
"Bagaimana mungkin tidak tahu, nyonya Asti dan Tuan Adi terus menyalahkan Miana dalam hal ini. Kalau boleh saya tahu, bagaimana bisa anda membatalkan kontrak kerja dengan perusahaan tuan Adi? " Kali ini Parlan dengan serius bertanya.
" Mereka sudah sangat keterlaluan. Bukan hanya sudah menyinggung Bagas. Tapi mereka juga berbuat curang dalam mengerjakan sesuatu. Karena kita menginginkan suatu barang dengan kualitas yang sesuai kesepakatan. Dan mereka tidak melakukan itu dengan baik. Bagas benar-benar tersinggung setelah tahu detail produk yang mereka buat. Maka dari itu Bagas membatalkan kerjasanya. Supaya perusahaan tidak terkena imbasnya" Rendy menjelaskan.
"Apa mereka melakukan pencampuran terhadap bahan bakunya? " Parlan ingin tahu lebih detail. Rendy mengangguk. Dan disampingnya, Bagas memperhatikan Parlan dengan seksama. Iya berprasangka baik kepada lelaki di depan nya itu. Dalam fikiran Bagas, bagaimana mungkin seorang sopir bisa sepandai itu. Dari cara nya berkata saja sudah ketahuan jika Parlan adalah orang yang cerdas.
"Apa mereka bodoh. Hanya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar tapi mengorbankan banyak hal" Ucap Parlan.
__ADS_1
"Mungkin" Rendy menaikkan kedua bahunya ketika menjawab.
"Aku yakin. Parlan bukan orang sembarangan" Gumam Bagas dalam hati.