
Satu minggu telah berlalu, Hari pernikahan Bagas Dan Miana tinggal menghitung menit. Di lantai bawah sana sudah banyak orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi ijab qobul antara Miana dan Bagas.
"Apa kamu gugup nak? " Tanya nyonya Asti kepada Miana.
"Miana masih gugup yah. Walau pun ini bukan pernikahan pertama untuk Miana." Miana menjawab ibu nya dengan grogi.
"Pernikahan pertama kamu sudah 10 tahun yang lalu. Wajar kalau kamu merasa gugup" Bu Asti berkata dengan pelan. Membuat Miana tersenyum.
"Ya sudah... Ibu ke depan dulu ya. Menemui tamu undangan" Bu Yanti keluar dari kamar Miana setelah berkata seperti itu. Sedangkan Miana masih merasa Grogi.
"Mama" Kini ganti kedua putrinya yang masuk. Kedua anak itu sudah di make up sehingga membuat Miana pangling di buatnya.
"Kalian... Dara dan Jelita? " Miana bertanya karena wajah kedua anaknya terlihat begitu cantik dengan polesan make up yang sederhana.
"Apa aku secantik bidadari ma? Mama menatap kami sampai gitu? " pertanyaan dari Jelita membuat Miana mengangguk.
"Kalian berdua sangat cantik sayang" Miana memuji ke dua anaknya sendiri. tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Seseorang yang bertugas menjadi bridesmaid masuk untuk memanggil Miana.
" Mari Nyonya semuanya sudah siap" Wanita yang bertugas sebagai bridesmide itu akan menemani Miana menemui sang mempelai pria. Jantung Miana semakin berdegup kencang karena gugup. Wanita tersebut membantu Miana untuk berdiri. Dan disaat miana akan berdiri, ada 3 perempuan lagi yang datang untuk membantunya keluar dan turun dari lantai atas.
Setelah Miana sudah berdiri tegak dan siap untuk berjalan, Keempat bridesmaid tersebut mengangkat gaun yang dikenakan Miana di belakangnya. Sedangkan Dara dan Jelita berdiri di depan Miana.
" Mari nyonya" dengan perlahan-lahan Dara dan Jelita melangkah terlebih dahulu keluar dari kamar. Miana pun Melangkah dengan hati-hati karena gaun yang dikenakannya begitu besar. Mereka mereka bertujuh perlahan-lahan menuruni anak tangga satu persatu.
__ADS_1
Setapak demi Setapak jalanan anak tangga dilalui oleh Miana dan kedua anaknya. Hingga pada saat tiba di tangga yang membuat semua pengunjung terkesima dengan penampilan janda beranak dua itu. Tak nampak jika Miana adalah ibu dari 2 anak.
"Cantik sekali pengantin perempuan."
"Sangat serasi dengan Bagas yang terlihat begitu tampan" Orang-orang di sana memandang dan berkomentar.
"Sungguh pasangan yang sempurna" Sambung seseorang lagi.
"Bisa kita mulai? " Tanya penghulu di depan banyak orang. Dan orang-orang di sana menjawab dengan serempak.
"Saya terima nikah dan kawinnya...(DST)" Dengan lantang, Bagas mengucapkan janji suci pernikahan di depan banyak orang.
"Bagaimana saksi? Sah? " Tanya penghulu. Serempak Kata sah di ucapkan oleh orang-orang di sana.
Satu jam telah berlalu ketika ijab Qobul itu di laksanakan. Kini semua tamu undangan menikmati pesta yang di buat oleh Bagas dan Miana yang begitu mewah. Pesta tersebut diadakan dengan tema outdoor. Di rumah Miana yang memiliki halaman begitu luas.
"Selamat tuan Bagas" Awan menjabat tangan bagus yang kini telah menjadi saudara iparnya itu.
" Jangan memanggil saya tuan lagi. Panggil saja Nama saya Bagas. malah saya sekarang yang harus memanggil anda kakak" Bagas merasa tak enak hati karena Awan adalah kakak dari Miana. walaupun awan bukanlah kakak kandung, Tapi Bagas tetap menganggapnya sebagai ipar.
" Baiklah saya akan menuruti apa yang Anda inginkan Tuan Bagas " Awan pun mencoba untuk memanggil Bagas tanpa embel-embel tuan.
" Terima kasih Kak Awan" Miana akan memeluk kakaknya karena selama ini sudah banyak berkorban untuk dirinya.
__ADS_1
" Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu." Awab pun merentangkan tangannya untuk membalas memeluk miana. Dan di saat Awan akan membalas memeluk Miqnq, tiba-tiba tangan kokoh Bagas Menghadang mereka berdua.
" Lebih baik tidak usah memeluk istriku" sikap posesif Bagas membuat awan terkekeh. Miana menjadi merasa tidak enak dengan kakaknya tersebut. Baru kali ini ada orang yang melarang dirinya dipeluk oleh Kakaknya sendiri.
" Bagaimana pun juga, kalian bukan muhrim" kata-kata itu diucapkan oleh Bagas sebagai alasan untuk melarang awan memeluk Miana, karena tak ingin berdebat dengan Bagas, Awan pun segera berlalu setelah mengucapkan selamat kepada adik tirinya.
" Selamat ya Miana" kali ini Parlan berdiri sembari menggendong Sang putra, Devan.
"Parlan, Terima kasih banyak ya. Kamu yang selalu ada di saat aku senang maupun susah" Miana bergegas mengucapkan kata terima kasih di depan Parlan di hadapan banyak orang. Namun ia tak berani memeluk Parlan karena takut Bagas akan melarangnya kembali.
" Sekarang tanggung jawab itu aku serahkan kepadamu" Bisik Parlan di dekat telinga Bagas yang tidak didengar oleh siapapun.
" Jangan mengkhawatirkan hal yang sepele. Aku sudah berjanji akan menjaga dan bertanggung jawab penuh atas Miana dan anak-anaknya" Bagas membalas bisikan Parlan dengan membisikkan kata-katanya kembali. Setelah menjabat tangan Bagas, Parlan pun turun dengan Devan di gendongannya. Iya berjalan menuju ke meja yang berisi banyak hidangan-hidangan mewah di sana.
Parlan duduk di sebuah kursi yang berjajar 2 di dekat meja yang berisi banyak hidangan tersebut. Setelah mendudukkan Devan yang saat ini semakin aktif, Parlan memasukkan makanan ke dalam mulutnya sendiri. Iya duduk sambil mengamati para tamu undangan yang hadir di sana dan yang mendekati Miana serta Bagas untuk memberikan ucapan selamat. Namun tiba-tiba matanya tertuju kepada sepasang suami istri. Istrinya itu sedang hamil besar. Setelah memperhatikan dengan seksama, ternyata laki-laki dan perempuan itu adalah Prasetyo dan Atika.
" Asal kalian tidak membuat onar di sini, aku akan membiarkan kalian memberikan ucapan selamat kepada Bagas dan Miana" gumam Parlan sambil memandang kedua manusia tersebut. Diperhatikannya dengan seksama penampilan dua orang perusak rumah tangga tersebut.
Atika dan Prasetyo berjalan untuk menaiki panggung di mana kursi pengantin berada.
"Pelan-pelan saja. Tadi aku sudah bilang jangan menggunakan high heels. Terlalu bahaya untuk kamu dan anak kita" sambil memegangi tangan Atika yang menaiki dua anak tangga, Prasetyo berkata dengan pelan.
" Apa kamu tidak ingin istrimu tampil lebih cantik dari wanita-wanita yang lain" diingatkan bukunya menurut, Atika malah marah kepada Prasetyo. Akhirnya daripada melihat istrinya marah-marah, Prasetyo memilih untuk diam. Satu tangga lagi yang harus dinaiki oleh Atika. entah karena apa, tiba-tiba high heel yang dikenakannya terguling. Hingga membuat Atika pun jatuh. dan Prasetyo tidak bisa menangkap tubuh Atika dengan cepat. Mau tak mau tubuh Atika pun terpelanting jatuh karena tingginya high heel yang digunakan. Darah segar terlihat mengalir dari kedua kaki Atika, Prasetyo pun panik melihat itu semua.
__ADS_1