Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Bangun Kesiangan


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.47. Namun Miana masih dalam buaian mimpi indahnya di atas sofa sempit di kamar. Entah semalam iya tidur jam berapa. Yang pasti, iya masih tertidur sangat pulas. Beberapa kali Prasetyo memanggilnya namun tak ada respon sama sekali. Hanya sesekali menggeliat. Beberapa kali Dara dan Jelita datang ke kamar. Namun belum juga membangunkan Miana.


"Mama pasti lelah. Kita berangkat sama om Parlan saja ya dek" Perkataan Dara membuat Dara mengangguk.


"Kita berangkat bersama saja ya" Karena mendengar perkataan Dara barusan, Prasetyo menawarkan untuk pergi bersama.


"Apa papa sedang tidak sibuk? Kok tumben mengajak kita untuk berangkat bersama? " Jelita yang masih sangat polos itu bertanya dengan kepolosannya tanpa di buat-buat. Seakan menyadarkan Prasetyo bahwa iya selalu sibuk hingga lupa bahwa iya sudah memiliki 2 pujaan hati setelah Miana.


"Ya sibuk sayang. Kalau ngga sibuk bagaimana dengan uang jajan, uang bulanan dan uang lain-lainnya. Karwna mungkin mama ketiduran karena kelelahan. Hari ini yang mengantar papa saja. Dara dan Jelita mau? " Prasetyo seakan membuat anak-anaknya antusias menanggapi ucapannya.


"Horeee... Hari ini di antarkan papa" Teriak kedua bocah tersebut kegirangan.


"Sayang, jangan kencang-kencang. Nanti mama terbangun. Kalian tunggu di bawah luar duluya, appa ambil tas dulu" Prasetyo meninggalakan anak-anaknya ketika mereka mengangguk. Setelah mengambil tas kantornya, iya beranjak meninggalkan Miana yang masih tertidur. Sekali lagi di pandangnya sang istri sebekum pergi. Hingga akhirnya, iya menutup kembali pintu yang tadi terbuka lebar menjadi rapat tanpa celah.


di depan pintu utama, dua buah mobil yang setiap hari mengantar Prasetyo dan miana sedang menunggu. dan hal tersebut ternyata membuat darah dan Jelita kebingungan. mereka bingung harus menaiki mobil yang mana. begitu terlihat Papanya keluar dari pintu, darah dan cerita kembali untuk bertanya.


"Pah... Kita naik mobil yang mana? Mereka semua menunggu kita." Dara bertanya dan Jelita menunggu. Mereka berdua menunggu jawaban dari sang ayah.


"Kita naik mobil mama saja ya, biar pak Edi di rumah saja dulu" Prasetyo akhirnya menjawab.


"Oke" Akhirnya kedua bocah itu langsung masuk ke mobil yang akan di kemudikan oleh Parlan. Sedangkan Prasetyo duduk di samping Parlan.


Setelah menurunkan Dara dan Jelita, Parlan melajukan mobilnya menuju ke kantor pusat.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu Parlan? " Prasetyo tiba-tiba bertanya.


"Alhamdulillah tuan. Luar biasa baik" Parlan menjawab. Prasetyo mengangguk.


"Apa kamu sedang membutuhkan sesuatu? " Prasetyo yang tiba-tiba bertanya kepada Parlan membuat Parlan kebingungan. Namun tak lama, iya langsung paham kemana arah tujuan Prasetyo.


"Saya tidak butuh apa-apa dari tuan" Parlan langsung menjawab dengan sopan.


"Kalau kamu butuh apa-apa bilang saja kepada saya. Tapi ingat, jaga semua rahasia yang telah kamu pegang" Kini Prasetyo mengatakan alasannya kenapa iya menanyai Parlan sedang butuh sesuatu apa tidak. Dan Parlan hanya diam. Dan dengan perasaan dongkol, Parlan sedikit menambah laju kendaraannya ketika jalan terlihat sedikit lenggang. Rasa jengah terus bertambah ketika Prasetyo mengatakan hal tersembunyinya kembali.


Pov Miana.


"Astaghfirullahaladzim... Sudah jam berapa ini? " Miana terbangun dari tidur lelapnya. ia merasa terkejut karena sudah begitu terang di luar sana. bahkan masih ada cahaya matahari yang masuk ke kamarnya lewat celah jendela. setelah mengerjakan mata beberapa kali, Miana bangkit dari tidurnya. dipandangnya ke arah tempat tidur, dan ternyata Prasetyo sudah tidak ada di sana. Iya saya tidak berjalan keluar membuka pintu. Miana langsung berlari ke kamar anak-anaknya. Ternyata anak-anak sudah tidak ada juga


" Duh gimana sih aku ini, masa iya 08.30 baru bangun." Miana langsung berjalan menuju ke dapur mencari orang untuk ia tanyai.


" Tadi berangkat sama Tuan Prasetyo nyonya" sambil sedikit membungkukkan badan, Bi Wanti menjawab pertanyaan miana yang tiba-tiba.


" Tadi Tuan Heri berpesan nyonya, beliau saat ini sedang berada di taman belakang bersama Nyonya Yanti. Sedangkan Tuan awan sudah pulang karena Sandy dan Rengga harus sekolah" setelah menyampaikan pesan dari orang-orang yang menitipkan kepadanya, bila dipun mengakhiri perkataannya.


" Oke terima kasih ya" Miana menjawab setelah itu ia berjalan masuk ke dalam kamarnya kembali.


Hampir setengah jam Miana masuk ke dalam kamar. Akhirnya ia keluar dengan sudah berganti baju. Dengan segera ia menuju ke taman belakang yang dimaksud oleh Bi Wanti. Miana berjalan dengan perlahan, ia mencari keberadaan sosok orang tuanya.

__ADS_1


" Miana ayah di sini" setelah mendengar suara seseorang yang memanggilnya, miana menoleh. Dia mendapati ayah dan ibunya yang sedang duduk di atas ayunan. Miana pun segera menghampiri mereka.


" Ayah sama ibu sudah lama menunggu? maaf karena Miana baru bangun" Miana langsung menyusul duduk di kursi taman yang tersedia di dekat ayunan tersebut. Taman ini dikhususkan untuk keluarga yang ingin bersantai Ria sambil Menikmati keindahan alam.


" Kakakmu sudah pulang dari pagi. Kamu tahu kan sendi dan Rengga harus bersekolah. Jadi dia tidak bisa menunggumu sampai bangun" ucap sang Ibu memberitahu.


" Seharusnya tadi ayah sama ibu bangunin Miana saja. Miana sampai tidak bisa mengantarkan Dara dan Jelita ke sekolah. Tidak tahu kalau Kak Awan juga mau pulang bersama Sendy dan Rengga." kini Miana tertunduk lesu.


" Jangan terlalu dipikirkan, nanti Kakakmu juga bakal ke sini kembali" Ayah miana yang begitu bijaksana pun memaklumi. Iya tahu pasti putrinya tidak bisa tidur semalaman suntuk. Makanya ia menunggu miana sampai putrinya itu bangun dan mencarinya. Dan disaat mereka sedang berbicara. Terdengar suara Deru mobil yang memasuki halaman. Setelah melihat Siapa yang datang, mereka kembali berbicara.


"Parlan kemarilah! " Tuan Heri memanggil Parlan yang baru saja turun dari mobil. dan terlihat lelaki itu berjalan menuju ke arah Miana dan orang tuanya.


"Iya tuan... Ada yang bisa saya bantu? " Tanya Parlan ketika sudah berada di dekat Tuan Heri dan Miana.


"Jangan terlalu formal Parlan. Bukannya kita itu saudara. Aku sudah menganggap kamu sebagai anakku sendiri. Aku minta kepadamu, panggil saya ayah kali ini" Tuan Heri menatap Parlan penuh kagum. Lelaki bersikap sopan dan berwibawa yang hanya bekrrja sebagai sopir dari putrinya. Sejak dulu iya mengabdikan hidupnya pada Miana. Menjaga Miana bahkan saat dirinya sudah menikah.


"Biarkan seperti ini saja. Jangan ada yang berubah tuan. Saya takut jika saya akan ngelunjak" Parlan tetap bersikap sopan.


"Ingat Parlan! Ini perintah bukan permintaan. Jadi menurutlah" Tuan heri berkata dengan tegas pada lelaki tampan berusia hampir 31 itu. Namun di usianya yang sudah menginjak kepala 3, iya terlihat begitu keren di mata orang lain.


"Baiklah tuan... Ayah. Saya akan menuruti permintaan anda" Kini Parlan mencoba untuk menuruti keinginan tuan Heri.


"Bagus... Kamu memang lelaki yang profesional. Yang aku heran darimu, kenapa di usiamu yang sudah hampir 31 itu kamu masih terlihat seperti pemuda tampan berusia 25 tahunan. Tidak berubah sama sekali" Kini tuan Heri memuji Parlan yang berdiri di depannya itu.

__ADS_1


"Kemarilah, duduk di sini" Tuan Heri menepuk kursi kosong di sebelahnya. Tidak ada tanda-tanda Parlan menolak apalagi membantah.


"Ada yang ingin ku bicarakan kepadamu nak." Begitu Parlan sudah duduk, ayah Heri memulai. Parlan pun mrngangguk.


__ADS_2