
Parlan melirik ke kursi penumpang disampingnya. Dipandangnya Miana yang sedang melamun.
"Miana... Kita sudah sampai" Terkejut. Miana tersentak dari lamunannya. Iya menoleh. Dipandangnya Devan yang berada dalam pelukannya. Ternyata iya tertidur. Tiba-tiba pintu terbuka. Parlan ternyata sudah terlebih dahulu keluar dan membukakan pintu untuk Miana.
"Biar aku gendong Devan" Berniat mengambil Devan dari gendongan agar Miana bisa turun dengan baik. Namun Miana menggeleng.
"Jangan! Nanti terbangun kasihan. Kayanya dia baru saja tidur" Miana terlebih dahulu menurunkan kedua kakinya untuk menjaga keseimbangan.
"Kamu bangunkan anak-anak saja" Miana melenggang meninggalkan Parlan. Dengan segera iya membangunkan kedua putri Miana.
"Dara... Jelita. Bangunlah" Dara menggeliat Lalu membuka matanya. Namun Jelita masih pulas terbuai di alam mimpi.
" Jelita bangun" cara mencegah membangunkan adiknya. Dia sudah mencoba beberapa kali namun Jelita masih pulas dalam tidurnya.
"Biar saya yang menggendongnya" Parman mendekat dan langsung mengangkat Jelita.
"Biar biar aku yang nutup pintunya Om" Dara dengan cepat menutup pintu ketika bawaan sudah berjalan terlebih dahulu.
Sesampainya di dalam rumah, Parlan meletakkan Jelita di samping Devan. Dan baru saja Miana menidurkan Devan.
"Mama... Aku juga masih ngantuk. Boleh nggak aku tidur lagi? " Jelita mengucek matanya karena masih merasa ngantuk.
"Tidur saja Nak, mau di sini sama adikmu atau di kamar sebelah? " Miana dengan sabar bertanya kepada Dara.
__ADS_1
"Tidur di kamar sebelah saja Ma, nanti Jelita sama Devan malah kebangun kalau aku naik ke tempat itu." Jawab Dara.
"Ya sudah, ke sanalah" Miana menyuruh dara untuk pergi ke kamar sebelah.
Setelah anak-anak kembali tidur siang, Miana duduk di sofa ruang tamu.
"Mau minum apa? " di saat duduk hampir 2 menit, Parlan datang bertanya kepada m1iana.
"Nggak usah Nanti kalau aku haus, aku bisa ambil sendiri" Miana menolak untuk diambilkan minum oleh Parlan.
"Saya mau ke belakang" parlan pun berjalan meninggalkan Miana yang saat ini duduk sendirian. Dalam kesepiannya, Miana kembali teringat kepada Prasetyo dan Atika.
"Kenapa harus seperti ini. Apa Aku benar-benar ditakdirkan untuk menjauh dari mereka" Miana bergumam sendiri.
"Masih banyak orang yang peduli terhadap diriku, Aku tidak sendirian menjalani semua ini" Miana merasa ada angin segar yang berhembus ke dalam hatinya.
"Setiap penggalan waktu yang tergelar tersedia ruang untuk tumbuh dan berkembang bagi segala benih yang ditaburkan. Apa yang akan kita peroleh tergantung benih yang kita taburkan dan bagaimana kita merawatnya. Merawat dengan cinta untuk setiap taburan benih ibadah dengan melibatkan kasih sayang semesta, akan berbuah kemenangan yang menenteramkan kehidupan." tiba-tiba saja Parlan mengatakan semua itu kepada Miana.
"Harmonisasi menjadi tolok ukur utama dalam menjalani kehidupan dengan sesama makhluk. Itulah pondasi dalam membangun peradaban. Kehidupan dibangun berlandaskan cinta bukan kebencian." Semua nasehat Parlan menambahkan kesejukan dalam hati Miana.
"Sekali kepercayaan dibuat rapuh, dia sulit kembali utuh. Aku bersyukur bahwa hati nurani masih setia membimbing sepanjang perjalanan hidup kita, meskipun seringkali kita mengkhianatinya." Miana menjawab apa yang dikatakan Parlan.
"Miana, tidak sedikit keburukan nampak dalam bentuk kebaikan, bahaya berhiaskan manfaat, racun dalam tampilan madu, sementara engkau tidak tahu akan dampak dan rahasianya. Karena itu jika semua yang kau inginkan kau usahakan untuk terlaksana, maka yang tercepat terjadi adalah engkau terjatuh dalam kerusakan, sedang engkau tidak merasa akan hal itu." Parlan masih memberikan nasehat terbaiknya kepada Miana.
__ADS_1
"Ekspektasi dan harapan menentukan mobilitas diri. Mobilitas tinggi menunjukkan tingginya ekspektasi dan harapan dari upaya yang dirancang. Namun realitas merupakan diri tersendiri yang tidak selalu berpihak. Realitas itu bergeser mengikuti alur sentuhan yang diterimanya. Dia menjadi kerdil karena disentuh pikiran-pikiran sempit, meskipun dirancang dengan pikiran-pikiran besar dan luas." Miana menyadari betapa kerdil fikirannya saat ini.
"Sekedar pengingat, kejadian saat ini, hanya yang terdokumentasi. Yang tersirat lebih dari yang tersurat. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Jangan biarkan dirimu tenggelam terlalu dalam dalam kesedihan. Kamu wanita kuat Miana. Biarkan mereka menyakitimu, tapi yakinlah, jika suatu saat semua akan berubah" Parlan mengatakan hal benar, sesuai dengan pemikiran Miana. Akhirnya Miana pun kembali kuat dari kerapuhan hidup. Luka yang menyakitkan itu perlahan sirna karena saat ini Parlan terus menguatkan Miana sebagai seorang kakak, bukan sopir. Parlan yang sedari dulu selalu ada untuk Miana. Dan bahkan disaat Miana disakiti oleh orang yang begitu dia cintai. Parlan masih tetap berada di sampingnya dan menguatkannya.
"Terimakasih Parlan. Aku tidak tahu jika kamu tidak ada di sini. Mungkin aku akan melakukan hal bodoh yang tak seharusnya kulakukan. Terimakasih telah menjadi kakak terbaik untukku. Atika memang kakakku, tapi kamu lebih dari kakakku. Bahkan luka yang aku rasakan disebabkan olehnya. Aku sudah mengikhlaskan semua. Biarlah ini menjadi takdirku." Miana yang menyadari semuanya, terlihat lebih cerah pandangannya.
"Miana, kita sudah bersama sejak kecil sebagai kakak dan adik. Dulu ketika kamu menikah dengan Prasetyo, aku merasa bahagia dan terharu karena kamu sudah dewasa. Dan kita sama-sama memiliki sandaran hati. Tapi disaat aku juga rapuh, kamu juga selalu ada, bahkan kamu yang merawat Devan. Terimakasih" Parlan kembali mengingat di saat mereka saling menguatkan. Dan mereka saling tersenyum.
Pov Atika.
Ponsel Atika bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Dengan cepat Atika mengambil ponselnya dan melihat Siapa yang mengirimkan pesan. Dilihatnya nama tante Aya dalam layar ponselnya.
"Tante Aya..." gumam Atika Di saat dia membuka pesan tersebut.
"Kenapa dengan tante Atika? " Prasetyo yang berada di sampingnya bertanya.
" Ini Tante Ayah mengirim foto. Tapi ini masih loading" sebelum berangkat ke Villa, Atika dan Prasetyo mampir ke toko emas untuk membelikan Atika perhiasan. Dan saat ini mereka kembali naik ke dalam taksi untuk melanjutkan perjalanan ke Villa.
" Coba apa yang dikirimkan sama tante ayah? " Prasetyo bertanya.
" Foto buku nikah... Sama Ada pesannya ini. 'Tika hari ini Tante sudah berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan. Saat ini wanita bodoh itu tidak ada di rumah bersama kedua anaknya. Jadi tanpa ambil.' ini pesan dari Tante" Atika menunjukkan fotonya kepada Prasetyo.
" Maksud tante ayah apaan sih... Itu kan foto buku nikah" dengan nada malas Prasetyo melihat foto yang berada di ponsel Atika. Dan mengomentarinya dengan ogah-ogahan.
__ADS_1