
"Waah... Wanita tak tahu diri ternyata sudah bisa bersenang-senang dengan selingkuhannya" Seorang wanita paruh baya mendekat sambil menepuk meja yang tak ada apa-apanya di samping Miana. Membuat Miana langsung menoleh. Iya melihat mantan mertuanya yang terlihat tidak suka kepadanya.
"Baru saja cerai kemarin, sekarang sudah berani makan bersama. Apa ini adalah acara untuk merayakan kebebasanmu? " Nyonya Asti, sang mertua bermulut licin. Seolah selalu terpeleset dalam kata-katanya. lagi-lagi membuat Miana tersakiti dengan ucapannya yang setajam belati.
"Oh... Ada mantan mama mertua" Miana dengan senyuman membalas ucapan nyonya Asti tidak kalah sengit.
"Apa anda mau bergabung bersama kami untuk merayakan perceraian bahagia ini. Saya rasa anda dengan anak anda yang terlalu egois itu memang harus ikut merasakan kebahagiaanku" Miana kembali berkata.
"Dasar wanita tak tahu malu. Sudah di ceraikan, masih saja tidak tahu diri" Bu Asti menanggapi apa yang Miana katakan.
"Kalau tujuan anda ke sini hanya untuk membuat keonaran, lebih baik aku selesaikan makanku terlebih dahulu" Miana kembali menatap makanan di mejanya. Iya berusaha tenang agar tidak terpancing emosi. Dengan perlahan, Miana menarik nafasnya dalam-dalam agar bisa mengendalikan amarah yang hampir memuncak itu.
"Yang aku tahu, yang tidak tahu diri itu uti, kenapa masih mama yang di salahkan? " Kali ini tiba-tiba Dara berkata. Pelan tapi menusuk. Benar-benar membuat bu Asti naik pitam.
"Jadi seperti ini didikan kamu. Mendidik anak untuk bisa menyakiti neneknya sendiri." Bu Asti berkata dan menatap Miana dengan tidak suka.
"Dara harap, nenek tidak usah menyapa kami jika bertemu di lain waktu. Anggap saja Dara bukan cucu anda" Dara semakin gencar untuk bisa menjawab sang nenek.
"Kamu ya, masih kecil bicaranya seperti itu. Pasti ibu mu yang mengajari kan? " Bu Asti tetap menyalahkan Miana. Miana masih terus mencoba untuk diam dan melawan emosinya.
"Apa pernah mama ku berkata kasar kepada orang lain? " Tanya Dara yang di tatap tajam oleh nenek nya.
"Dan... Bukannya selama ini nenek yang selalu berkata kasar kepada mama. Aku mendengar semuany, jadi aku menirukan nenek" Jawaban Dara membuat Miana hampir menyunggingkan senyum. Sedangkan semua orang di sana terdiam mendengar Dara mampu berkata seperti itu.
"Sini, nenek jewer kamu" Sembari berkata, bu Asti mengulurkan tangan ke arah telinga Dara untuk memutar telinga anak itu.
"Sedikit pun anda berani menyentuh anak Miana, besok kamu akan menjadi tuna wisma dan tuna karya." Tiba-tiba Rendy berkata yang membuat tangan bu Asti kembali turun. Sedangkan Desita yang merasa kikuk dengan semua kejadian ini hanya bisa diam. Setelah Rendy mengatakan itu, iya semakin tak enak hati.
"Kenapa anda selalu ikut campur dalam urusan Miana? " Bu Asti masih berani berkata setelah di ancam oleh Rendy.
"Karena dia adalah sepupu kekasih saya sekaligus sahabat saya sejak masa sekolah" Jawab Rendy mantap.
__ADS_1
"Sepupu siapa? " Jawab bu Asti bingung.
"Sepupu jauh" Kini Miana menjawab dengan asal.
"Apa anda ingin tahu siapa sepupunya? " rendy sembari menatap bu Asti.
"Ini sepupunya" Tangan Rendy bergerak menuju ke pundak kiri Desita yang duduk di sampingnya.
"Dia kan hanya pelayan di restoran ini" Bu Asti yang melihat kemeja yang dikenakan oleh Desita masih bisa menjawab.
"Siapa bilang dia pelayan di sini. Dia adalah pemilik restoran ini" Kali ini penanggung jawab restoran tiba-tiba datang di brlakang bu Asti.
"Dia selalu mengenakan seragam yang sama dengan pelayan lain agar menyamakan pelayanan di sini." Lelaki itu masih bisa menjawab dengan santai. Sedangkan bu Asti merasa lebih jengkel dari biasanya.
"Lebih baik anda pergi dari hadapan kami saja. Dan carilah tempat duduk yang lain" Rendy berkata dengan tegas, suaranya seakan menakuti bu Asti. Tanpa berkata sepatah kata pun lagi, Bu Asti pergi ke meja yang lain.
Sedangkan di meja yang sama, setelah kepergian bu Asti, mereka semua terdiam. Terutama Desita. Rendy masih belum sadar jika tangannya saat ini menumpang di atas pundak kiri gadis di sampingnya itu.
"Maaf tuan Rendy..." Desita mati-matian merangkai kata-kata itu untuk melepaskan diri dari lengan Rendy yang menurutnya terasa berat. Jantungnya sudah tak karu-karuan seakan ingin melompat dari tempatnya. Namun Desita berusaha untuk tak menampakkannya.
"Karena dia adalah sepupu kekasih saya sekaligus sahabat saya sejak masa sekolah" Kini Bagas mengatakan kembali apa yang tadi di katakan oleh Rendy. Namun Rendy tak menanggapi. Iya merasa darahnya seakan mengalir lebih cepat dari biasanya.
"Terima kasih sudah datang tepat waktu. Bagas, saya ke depan dulu" Miana dan Bagas saling memandang. Mereka memahami kenapa Rendy jadi seperti ittu. Parlan pun bergantian memandang Miana dan Bagas.
"Kenapa dia bisa bilang terima kasih sudah datang tepat waktu? " Tanya Parlan ke penanggung jawab restoran yang masih berdiri di sana.
"Tuan Rendy tadi mengirimkan pesan kepada saya tuan." Sembari menjawab, penanggung jawab restoran itu merogoh ponsel di saku nya.
"Ini tuan" Iya menunjukkan bagaimana pesan yang di Kirimkan oleh Rendy.
"Kemarilah, aku butuh bantuanmu untuk bilang kalau Desita adalah pemilik restoran ini. " Baca Parlan dan Bagas. Setelah membaca, mereka tahu kenapa Rendy mengakui Desita sebagai kekasihnya. Iya hanya ingin menyelamat kan nama baik Miana di depan mantan mertuanya.
__ADS_1
"Terimakasih atas infonya pak. Terima kasih juga atas bantuannya" Ucap Miana. Penanggung jawab restoran itu menunduk, dan setelah di rasa sudah tidak ada hal yang penting, iya pun mengundurkan diri setelah berpamitan.
"Desita, maaf ya karena sudah membuatmu tidak nyaman. Perkenalkan, namaku Miana. Mulai sekarang kita harus menjadi saudara" Ucap Miana setelah lelaki tadi pergi.
"Terima kasih nyonya." Jawab Desita.
"Saya Bagas, dan saya Parlan" Dua lelaki dewasa itu bersahutan ketika memperkenalkan diri.
"Berarti kita punya teman baru ya ma? " tiba-tiba Jelita ikut menyahut. Dan Miana menjawab dengan anggukan.
"Iya... Nama saya Desita." Hanya itu yang di ucapkan oleh Desita. Selanjutnya iya hanya terdiam karena tak tahu apa yang harus di katakan. akhirya setelah mereka semua berkenalan, mereka saling mengenal.
"Aku duluan ya. Rendy sudah menunggu di luar sendirian. Kasihan dia" Ucap Bagas setelah mengenalkan diri dan mengobrol sedikit.
"Miana, luangkan waktu mu untuk kita bisa bersama kembali" Sebelum Bagas pergi, iya berkata kepada Miana.
"Siaapp.. Kalau aku tidak sibuk" Jawab Miana dengan santainya.
"Oke aku pergi dulu. Assalamu'alaikum" Bagas pun perlahan pergi meninggalkan Miana dan yang lain.
"Wa'alaikumsalam wr wb." Jawab Miana dan yang lain. Miana pun melanjutkan mengobrol dengan Desita.
Di Luar restoran, Bagas dan Rendy sudah memasuki mobil. Bagas memandang Rendy yang terdiam sambil menyetir mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Apa kamu masih gugup? Atau jantung mu detakannya belum kembali normal? " Tanya Bagas tiba-tiba sehingga membuat Rendy menghirup udara banyak-banyak.
"Jangan membuat seseorang merasa kacau! " Ucap Rendy dengan dingin.
"Kacau? Apa hatimu sedang di obrak abrik sama Desita, sehingga kamu bisa sekacau ini? " Tanya Bagas kembali. Dan Rendy hanya terdiam.
"Wahhh... Maa Sya Allah ya. Baru pertama bertemu, gadis itu sudah mampu membuat hatimu resah. Aku harap, pertemuan ke dua, dia bisa melembutkan hatimu agar tidak terlalu keras untuk bisa menerimanya" Bagas berkata.
__ADS_1
"Jangan aneh-aneh. Kamu tahu aku bagaimana? " Rendy masih menjawab dengan gaya dinginnya.
"Iya, saking aku mengenal dirimu terlalu dalam, sampai aku tahu bagaimana detak jantungmu itu" Bagas bercanda dengan ucapnnya. Membuat Rendy seakan tak mampu menjawab apa yang di katakan oleh Bagas. Mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang.