Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Hilangnya Jelita


__ADS_3

"Jelita..." Setelah mobil yang hampir menabrak Jelita tadi berlalu, Miana segera berlari mencari anak nya ada di mana. Setelah berada di pinggir jalan, Miana berteriak karena ternyata seberang jalan itu adalah jurang.


"Jelitaaaaaaa" Miana histeris. Semua orang panik karena Jelita tak ada di seberang jalan. Termasuk Prasetyo.


"Jelita... Jelita jatuh. Jelita ngga ada di sini" Miana hampir saja ikut melompat turun ke jurang untuk mencari putrinya. Namun dengan sigap, Parlan menarik lengan Miana dan langsung memeluknya.


"Jangan ikut masuk. Itu jurang dalam banget Miana" Ucap Parlan.


"Tapi... Tapi Jelita ke mana? " Ucap Miana terbata-bata karena air mata menetes di pipinya. Kali ini hatinya hancur kembali karena sang putri.


"Kita cari bersama-sama" Ucap Parlan. Dan saat itu juga, Bagas dan Rendy datang.


"Tolong cari bantuan. Jelita tidak ada di Sini. Aku takut Jelita masuk ke jurang" Parlan segera berkata. Rendy segera mengambil ponselnya untuk menghubungi pihak yang bisa di mintai pertolongan. Sedangkan Bagas, iya menghubungi orang-orang yang berada di dekat sana untuk meminta bantuan.


"Mama... Jelita kemana? " Dara memeluk sang mama. Mereka tak ingin diam di tempat itu. Mereka ikut turun ke dalam jurang untuk mencari Jelita. Saat akan turun, Prasetyo datang.


"Lebih baik papa pergi dari sini. Karena penyebab semua ini adalah papa" Dara berkata dengan sangat tajam. Membuat Prasetyo tka mampu menjawab.


"Dara, papa..." Jawab Prasetyo.


"Jangan mengatakan apapun. Aku tidak mau mendengar apapun. Pergilah dari sini. Jangan membuat aku semakin muak" Ucap Dara yang tak kalah menyakitkan dari ucapannya yang pertama untuk Prasetyo.


"Pergilah... Aku tidak ingin membuang tenagaku hanya untuk menangisi ayah bajingan sepertimu. Aku harus mencari adikku" Dara berkata lagi. Namun Prasetyo tak bergeming dari tempatnya.


"Pergi, atau aku akan menjatuhkan diri menyusul Jelita ke jurang" Ancaman Dara benar-benar membuat Prasetyo goyah. Iya langsung naik kembali ke atas.

__ADS_1


"Jangan pernah menyusul kami mencari Jelita" Ucap Dara Dengan penuh kebencian. Dan Prasetyo hanya terdiam.


"Jelita... Jelitaa.. Jelita..." Suara bersahut-sahutan mencari Jelita di dasar jurang. Namun hasilnya masih nihil. Tak ada tanda-tanda Jelita di sana.


"Tahu begini, aku tidak akan menuruti egoku untuk datang ke sini mengajak kalian nak" Miana merasa menyesal, entah kenapa hatinya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa.


"Miana, istighfar"Parlan berkata. Namun Miana seolah tak mendengar apa yang di ucapkan oleh Parlan.


Malam sudah berlalu, namun Jelita belum juga di temukan. Bahkan polisi sudah ikut turun tangan untuk mencari keberadaan gadis kecil itu.


"Maafkan mama Jelita, maafkan mama. Tidak saeharusnya mama mengajak kalian ke sini" Miana berkata dengan suara yang amat lirih, dan air matanya terus menetes.


"Mama... Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini semua salah papa. Kalau papa tidak menikah lagi, pastiĀ  Jelita tidak akan berlari dan masuk jurang seperti ini." Dara mengatakan dengan suara yang terdengar sangat pilu. Miana hanya terdiam, iya tetap merasa bersalah atas apa yang menimpa putri bungsu nya.


"Miana, ini sudah hampir pagi, ayo kita kembali ke atas dulu untuk beristirahat. Biarkan orang-orang ku yang baru datang mencari keberadaan Jelita" Bagas yang berdiri di samping Miana mengajak Miana untuk beristirahat.


"Miana, kamu harus memikirkan kesehatan mu sendiri dan juga Dara. Jangan sampai kalian berdua ikut sakit. Nanti kamu tidak bisa ikut mencari Jelita kalau kamu sakit' Kali ini Parlan berkata. Miana langsung menoleh menatap Parlan.


"Tapi bagaimana dengan Jelita? Bagaimana kalau dia kedinginan, bagaimana kalau dia kelaparan. Belum lagi, bagaimana nkalu ada binatang buas yang menyakiti anakku" Miana menyeka air mata yang terus mengalir melewati pipinya sembari berkata.


"Insya Allah Jelita akan baik-baik saja Miana. Allah akan di mana pun iya berada" Parlan mencoba menenangkan Miana.


"Aku akan tetap di sini Parlan, kalau kamu mau istirahat, istarahat saja" Miana masih tak bergeming dadri tempat duduknya di pos darurat yang di dirikan oleh Bagas.


"Parlan, biarkan aku yang berbicara" Bagas yang melihat Miana tak mau beranjak, mencoba untuk membujuk Miana juga.

__ADS_1


"Istirahatlah, aku sudah menyuruh orang-orangku untuk melacak tempat ini supaya mereka segera menemukan Jelita. Mereka sudah datang. Ini ada selimutt untuk kamu. Istirahatlah walau sebentar saja" Bagas mengarahkan selimut ke tubuh Miana.


"Tapi Jelita bagaimana? " Miana masih terfikirkan oleh sang anak.


"Mama istirahat dulu. Kita tidak boleh sakit ma. Besok kita harus melanjutkan pencarian" Dara semakin dewasa saja di umurnya yang baru hampir 10 tahun itu. Dan di dalam tenda darurat itu, Miana merebahkan dirinya. Hati dan raganya terasa begitu remuk menghadapi kenyataan pahit yang seakan tak ada habisnya itu. Perlahan setelah merebahkan badannya, Miana tertidur karena saking lelahnya.


"Kasihan Miana. Baru saja kehilangan suami, sekarang Jelita juga belum di temukan. Semoga kamu kuat menghadapi semuanya Miana" Ucap Bagas dalam hati setelah Miana memejamkan matanya.


"Aku akan membantu mencarikan Jelita sampai ketemu" Janji Bagas dalam hati.


Pov Prasetyo.


"Kenapa sih kamu? Sudah tahu ini hari bahagia kita, kamu malah pergi ninggalin aku" Atika merasa tak suka di tinggal Prasetyo untuk mencari Jelita.


"Kamu itu, jangan hanya memikirkan bahagiamu sendiri. Anakku hilang. Bahkan sampi sekarang belum di temukan" Prasetyo membentak Atika. Dan dalam sekejab, Atika tak berani berkata lagi. Prasetyo langsung keluar kamar untuk kembali menyusul mencari Jelita. Namun iya tak mencari di mana ada Dara di sana. Iya melewati jalan yang lain bersama beberapa orang tang menemaninya.


Hati sudah siang. Miana terbangun dari lelapnya tidur setelah mendengar suara berisik. Iya segera mengumpulkan kesadarannya untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Maaf Miana" Bagas yang berada di dekat Miana langsung berkata ketika tahu Miana sedang mencari tahu apa yang terjadi.


"Ada apa? " Tanya Miana menatap ke arah Bagas, Parlan dan Rendy.


"Maaf nyonya... Kamu sudah menemukan putri anda" Ucap seorang berseragam coklat yang mendekati Miana.


"Benarkah? " Wajah Miana langsung terlihat cerah mendengar berita itu. Iya langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari keberadaan Jelita.

__ADS_1


"Di mana anakku? " Tanya Miana. Fikirannya mulai bercabang. Ada banyak kemungkinan-kemungkiann yang melintasi benaknya. Hingga fikirannya menjadi sedikit kacau.


"Maaf nyonya, kami hatus menyampaikan berita buruk ini. Ini adalah anak anda" seorang polisi menunjuk sebuah kantong mayat berwarna kuning. Membuat Miana benar-benar syok dengan apa yang di lihatnya. Iya menutup mulutnya, mundur beberapa langkah. Hingga akhirnya sebuah tangan kekar menopang tubuhnya tang terasa begitu lemah.


__ADS_2