Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Menyelinap


__ADS_3

Miana sulit mengartikan tatapan Ayah tirinya. Seolah mengulitinya hidup-hidup. Bukan Miana tidak mau bercerita, tapi, bagaimanapun juga bu Asti dan Tuan Adi adalah mertua nya. Miana tidak sampai hati untuk menceritakan keburukan mertuanya. Karena ia sadar bahwa dirinya sendiri memiliki keburukan.


" Miana... kenapa kamu tidak pernah bercerita kepada ayah ataupun ibu. Kalau kamu seperti ini kamu bisa terkena tekanan batin" sang ayah begitu memperdulikan Miana walaupun ia bukan anak kandungnya.


" Ayah masalah ini bukan masalah berat. Miana Masih sanggup untuk menyelesaikan masalah ini sendiri. Ayah tidak perlu khawatir seperti itu. " Miana mencoba membuat hati ayahnya tenang.


" Bukan apa-apa, tapi kami saja sebagai orang tua kamu tidak pernah membentak apalagi menjambak rambut kamu. Sudah pastor ayah saya tidak terima kalau kamu diperlakukan buruk di rumah suamimu" tiba-tiba saja air mata Miana menetes.


" Kenapa kamu menangis? " tanya Tuan Heri kepada putrinya.


"Ayaaahh..." Tiba-tiba Miana memeluk ayahnya.


"Terimakasih... Aku tahu ayah begitu menyayangiku. Hingga tak mau aku disakiti siapa pun" Miana memeluk erat ayah nya. Awan yang memandang itu juga ikut meneteskan air matanya. Iya merasa terharu atau sikapnya yang dari dulu belum berubah jika ke ayahnya.


" Bagaimana mungkin Ayah bisa membiarkanmu disakiti oleh orang lain Miana. Sedangkan ayah dan ibu tidak pernah menyakitimu" tangan Tuan Heri bergerak untuk mengusap punggung Miana.


" Terima kasih atas segalanya yah. Aku seberuntung ini memiliki ayah dalam hidupku." Miana kembali terisak, ia teringat akan keburukan Prasetyo yang begitu tega menyakiti hatinya. Bukan hanya Prasetyo, bahkan kakak kandungnya pun tega melakukan hal yang sama.


" Sekarang ceritakan Apapun masalahmu pada ayah dan ibu. Ayah akan selalu siap membelamu. Tapi kalau kamu salah kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu perbuat" tuan Heri bener-bener sosok Ayah yang bijaksana. Iya tidak akan membenarkan yang salah.


" Miana baik-baik saja yah. Jangan terlalu mengkhawatirkan Miana di sini" Miana masih erat memeluk ayahnya.


" Kan saya sudah bilang kalau kamu sedang merindukan ayah dan ibu, lebih baik kamu datang ke rumah" Tuan Heri masih setia menenangkan m2iana.

__ADS_1


Lain halnya dengan Atika. Iya yang tidak pernah dekat dengan ayah tirinya. Padahal Tuan Heri tidak pernah membedakan antara anak kandung dan anak tiri. Semua sama-sama dianggap titipan dari Tuhan yang harus dijaga dan dirawat dengan sebaik mungkin. Namun tidak bagi Atika. Iya secara lahiriah menganggap Tuan Heri adalah ayahnya. Dalam hatinya tidak. Hanya Ayah kandungnya yang ada di dalam hatinya. padahal Tuan Heri selalu mengajari yang terbaik kepada mereka. Awan, Atika dan Miana adalah segalanya bagi Tuan Heri.


" Mian gitu banget sih sama ayah" ucap Atika dengan nada yang sangat ketus.


" Kamu itu udah dewasa bukan dewasa lagi tapi udah tua. Udah punya anak 2 Seharusnya kamu itu bisa dewasa dong. masih aja kayak anak kemarin sore. Apa-apa ngadu apa-apa ngadu. Ih nggak banget deh kamu itu" Atika mencibir Miana yang sedang meneteskan air mata dipelukan sang ayah. Mendengar itu pun, Miana melepaskan pelukan dari ayahnya.


" Kakak mau mencoba berada di Posisiku sebentar saja. jan2gan lama-lama satu minggu saja" kini Miana berani menjawab apa yang diucapkan oleh Atika.


" og2ah banget ngapain aku berada di posisi kamu. Kalau di posisi Aku saja aku sudah merasakan banyak kebahagiaan. kenapa aku harus bertukar posisi dengan anak cengeng sepertimu" kali ini Atika Dengan terang-terangan mengatai Adiknya sendiri.


" Aku yakin, kalau kakak berada di posisiku, Kak Tika pasti sudah putus asa" Miana tersenyum seolah meremehkan kekuatan batin sang kakak. Memang Atika terlihat dewasa dibandingkan dirinya. Namun sekali Atika dilanda masalah, besar maupun kecil, ia akan tumbang secara perlahan. Inilah dua kepribadian dalam satu jiwa. Berbeda dengan Miana yang terlihat manja kepada orang tuanya. Di landa masalah hati seberat itu pun ia masih mampu untuk bertahan. Dan apa yang diucapkan niana yang terakhir itu, berhasil membungkam mulut sadis Atika.


" Terserah kamulah... Aku bahkan tidak peduli" ketika dengan sewot menjawab.


" Ayo kita makan dulu, sudah hampir sore tapi ayah sama ibu belum makan apa-apa di rumah Miana. Ibu ayo! " Miana berpindah tempat dari yang semulanya berada di dekat ayahnya, ini Iya duduk di samping ibunya.


" Memangnya Hari ini kamu masak apa? " Ibu Yanti menanyakan kepada putri bungsunya.


" Miana nggak masak Bu, yang masak kan mereka" Miana tersenyum sambil menunggu dua orang yang saat ini berada di dapur.


" Hahaha... Buat apa ya ada mereka kalau yang masak kamu" kali ini Awan tertawa dengan keras. Iya menertawakan adiknya yang benar-benar memanfaatkan keadaan.


" Kan nggak mungkin kan, kalau misalnya Kalian sedang di sini terus aku tinggal masak sendirian di dapur. Itu sama aja aku tidak menghargai kalian yang datang jauh-jauh ke sini" kali ini alasan Miana mudah dimengerti oleh semua orang yang berada di dekatnya. Alhasil, semua yang berada di sana pun tertawa kembali.

__ADS_1


"Hahahha Hahahha... Memang Kamu selalu bisa" kali ini Bu Yanti mengatai anaknya yang seperti itu. Dan di saat yang bersamaan, Prasetyo kembali ke rumah.


" Assalamualaikum..." ucap Prasetyo di depan pintu masuk ruang tengah.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh" semua yang berada di sana menjawab salam yang disampaikan oleh Prasetyo.


"Tiyo... Kemarilah! " Tuan Heri segera memanggil menantunya untuk mendekat. dan Prasetyo pun mengangguk lalu mendekat ke arah mertuanya. Iya meraih tangan Tuan Heri dan langsung menciumnya. Begitu selesai, dia pun berpindah ke ibu mertuanya. Dia melakukan hal yang sama. selanjutnya kepada awan. Prasetyo duduk diantara mereka. Iya menatap Miana dan beralih menatap ke Atika.


" Bagaimana kabarmu Prasetyo? " Tuan Heri menanyakan keadaan Prasetyo yang saat ini berada di depannya.


" Alhamdulillah ayah, Tio baik-baik saja. ayah sendiri bagaimana kabarnya? " Mereka pun lanjut berbasa-basi dan mengobrol kan banyak hal. hingga tidak sadar, magrib pun hampir menjelang.


" lebih baik kita mandi dulu. Karena ini sudah hampir hampir maghrib " Miana mengatakan hal tersebut. Dan saat itu juga obrolan antara Prasetyo dan ayahnya terhenti.


" Nanti kita salat berjamaah. Seperti biasa ya" dengan kata lain, ayah Miana mengajak anak-anak serta cucu cucunya untuk melaksanakan salat magrib berjamaah nanti setelah semuanya selesai mandi. dan saat itu juga mereka mengangguk.


Setelah maghrib menyuruh mereka untuk bubar, Miana masih harus mengurusi kedua anaknya. Iya tidak langsung ke kamarnya namun menuju ke kamar Dara dan Jelita. sedangkan Prasetyo kembali ke kamarnya sendiri.


" Karena kalian sudah selesai mandi, bersiap-siap ya untuk ke ruangan salat. nanti di sana kakek sama nenek sudah menunggu. Mama juga akan bersiap-siap terlebih dahulu" Dara dan Jelita menangguk mendengarkan apa yang dikatakan oleh mamanya. Mereka pun menurut, setelah mengenakan mukena yang biasa mereka pakai, mereka berjalan menuju ke ruang khusus salat. dan di saat itu juga Miana harus kembali ke kamarnya.


"Kamu kenapa ke sini? kalau sampai miana tahu kalau kamu ada di sini, bisa gempar seluruh isi rumah" Prasetyo berkata sedikit berbisik tak di saat tahu bahwa etika diam-diam memasuki kamarnya. Dan Miana yang tidak tahu dan tidak mengerti Kapan Atika masuk ke kamarnya itu terus berjalan mendekati pintu dan ingin membukanya.


" Kamu tenang saja sayang, Miana sedang sibuk dengan anak-anaknya. Dia tidak akan tahu kalau aku berada di sini untuk menemuimu" selesai berkata seperti itu, Prasetyo dan Atika mendengar pintu terbuka dari luar. dengan buru-buru, Prasetyo menyuruh Atika untuk bersembunyi.

__ADS_1


__ADS_2