
"Mama... Kita naik lift? " Tanya Jelita di saat mereka berada di depan lift yang di khususkan untuk petinggi perusahaan. Bukan karena tak ingin bersama dalam satu lift dengan karyawan yang lain. Tapi karena ada banyak karyawan takutnya lift akan berdesak-desakan.
"Iya sayang. Ayo kita masuk" Ajak Miana kepada kedua anaknya. Mereka ber 4 masuk ke dalam Lift.
Saat berada di depan ruangan yang biasa di tempati oleh Prasetyo. Miana menarik nafas panjang. Iya berusaha menetralkan hati nya yang merasa sedikit perih mengingat tempat ini.
"Ayuk sayang" Miana menggandeng lengan kecil kedua anaknya. Saat iya akan membuka pintu, tiba-tiba Parlan sudah mendahuluinya.
""Makasih" Miana langsung melenggang masuk ketika pintu sudah terbuka. Dan saat di dalam ruangan, iya melihat Hendra yang sedang duduk di kursi menhadap ke laptopnya.
"Nyonya Miana" Hendra langsung bangkit dan berjalan mendekati sang boss.
"Nyonya kenapa tidak mengabari terlebih dahulu" Tanya Hendra.
"Apa itu penting? " Miana membuat Hendra langsung terdiam.
"Mohon maaf" Gendra lansgung bertanya.
"Mama... Boleh ngga kita jalan-jalan ke di sini? " Tanya Jelita meminta izin.
"Tapi nanti kalau kesasar gimana sayang? terus kalian nngga tahu jalan kembali ke sini" Miana mengkhawatirkan itu.
"Om Parlan ikut kita ya ma" Dara mengungkapkan keinginanya.
"Sayang... Om Parlan ada di sini saat ini karena untuk menemani mama. Karena kan tidak mungkin mama ada di ruangan ini berdua saja dengan om Hendra" Ucap Miana.
"Oh begitu... Tunggu sebentar ya ma. Dara ada ide" Ucap Dara sembari keluar dari ruangan tersebut. Tak ada 5 menit, Dara kembali dengan seorang wanita yamg berjalan di belakangnya. Semua memandang ke arah Wanita tersebut.
"Loh, kenapa Dara mengajak tante ini ke sini? " Tanya Miana heran.
"Untuk menemani mama dan Om Hendra" Jawab Dara spontan. Membuat semua yang berada di sana menggeleng heran dengan keputusan kedua anak kecil itu.
"Ayo om, sekarang mama sudah ada temannya." Dara dan Jelita menarik lengan Prasetyo.
"Oke-oke... Mari" Parlan mengikuti kedua bocah yang menarik kedua tanyannya itu.
__ADS_1
Di ruangan dimana Miana berada. Hendra sedang memegang sebuah dokumen.
"Maaf nyonya, apa yang harus saya lakukan? " Tanya Wanita yang tadi di bawa oleh Dara.
"Kamu lagi banyak kerjaan? " Tanya Miana.
"Iya nyonya. Saya sedang menggarap pekerjaan saya" Jawab wanita tersebut.
"Bawa masuk semua berkasmu. Kerjakan di sini untuk sementara sampai anak-anak kembali" Tanpa membantah, wanuta tersebut langsung mengangguk dan mengatakan iya. Iya langsung keluar untuk mengambil apa yang perlu di ambil.
"Maaf nyonya. Ini ada beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani." Ungkap Hendra.
"Ini dokumen apa? " Tanya Miana yang belum mengerti.
"Itu dokumen persetujuan anggaran kegiatan selama bulan agustus nyonya" Jawab Hendra. Dan Miana langsung membaca tanpa menoleh lagi ke arah Hendra.
"Anggarannya sebesar ini. Kenapa tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu? " Ucap Miana.
"Saya sudah memberitahu tuan Prasetyo nyonya. Dan beliau juga setuju" Jawab Hendra.
"Baik, untuk kali ini saya akan menyetujui semuanya. Tapi pastikan jika Dana ini benar-benar di gunakan untuk kepetingan seperti yang tertulis di dalamnya. Saya akan melakukan pengecekan untuk semuanya" Miana berkata dengan penuh ketegasan.
"Baik nyonya, saya akan memastikan bahwa anggaran dana tersebut tidak akan di aalah gunakan" Jawab Hendra yakin. Setelah Miana menandatangi dokumen tersebut. Hendra memberikan dokumen lagi.
"Dan ini nyonya. Perjanjian kerjasama dengan perusahaan Multi Perkasa." Miana menerima dokumen tersebut.
"Apa kamu sudah membicarakan dengan sungguh-sungguh tentang kerjasama ini? " sambil membuka dokumen di atas meja di depannya itu, Miana bertanya.
"Toling lakukan pertemuan ulang deng Multi Perkasa. Supaya aku lebih paham dengan system kerjasama ini" Miana meminta untuk mengadakan pertemuan ulang.
"Baik nyonya, saya akan mengabari Multi Perkasa untuk melakukan apa yang anda Minta." Hendra pun menyangupi. Dan masih banyak lagi dokumen-dokumen penting yang harus Miana ketahui dan tanda tangani.
Pon Parlan.
"Om, kita ke taman yuk. Tadi Dara lihat di sana banyak bunga yang bagus" Ucap Dara. Parlan hanya bisa mengangguk menuruti keinginan anak-anak Miana. Mereka bertiga berjalan ke arah taman. Di saat melewati karyawan yang sedang bekerja, Parlan mendengar bisik-bisik. Namun iya tak bisa mendengarkan dengan baik. Parlan mencoba untuk tidak menghiraukannya.
__ADS_1
"Nona Dara, nona Jelita" Panggil seseorang. Yang merasa memiliki nama itupun segera menolwh mencari sumber suara.
"Iya, anda siapa? " Tanya Dara langsung bertanya ketika wanita tersebut menghampirinya.
"Perkenalkan, nama saya Karina" Ucap wanita tersebut sembari mengulurkan tangannya.
"Apa anda mengenal anak-anak ini? " Kini Parlan sebagai wakil dari Dara dan Jelita berusaha untuk melindungi anak-anak itu.
"Maaf tuan, anda jangan salah paham. Saya sangat menyukai anak-anak. Dan saya sangat mengagumi kedua anak ini karena sangat cantik dan manis sepertj saya" Ucap Wanita bernama Karina tersebut dengan penuh percaya diri. Membuat Dara, Jelita dan Parlan saling memandang setelah mendengar apa yang Karina ucapkan.
"Jadi jangan bertele-tele. Katakan apa yang ingin kamu katakan. Karena ini masih jam kerja, lebih baik anda kembali ke meja anda untuk bekerja kembali" Parlan terlihat sangat Cool di mata wanita yang bernama Karina itu. Sehingga saat Parlan berucap, Karina malah senyum-senyum sendiri.
"Maafkan saya tuan. Karena kekaguman saya terhadap dua nona kecil ini, saya ingin meminta foto." Wanita itu mencuri-curi pandang ke arah Parlan.
"Ya sudah, cepatlah. Jangan membuang-buang waktu" Parlan meminta Karina untuk cepat. Dan dengan sigap Karina menyalakan layar ponselnya. Parlan yang melihat menggelengkan kepala karena heran dengan makhuk yang bernama wanita. Dalam fikiran Parlan, Bisa-bisanya mereka tidak malu berselfie ria di depan umum.
"Sudah... Terimakasih nona nona cantik" Ungkap Karina.
"Oke, Dara, Jelita ayo" Parlan mengajak dua gadis kecil itu untuk segera bernajak.
"Tuan..." Panggil Karina ketika Parlan dan anak-anak Miana sudah akan melangkah prrgi.
"Ada apa lagi? " Tanya Parlan masih dengan rasa herannya.
"Boleh saya minta satu foto lagi. Tapi kali ini dengan tuan juga" Parlan membulatkan matanya dengan sempurna karena mendengar ucapan itu.
"Untuk kenang-kenangan tuan. Apalagi foto dengan tuan yang setampan ini. Pasti bisa membuat teman-teman saya iri" Wanita itu dengan tanpa rasa malu mengutarakan keinginannya.
"Boleh ya tuan... Sebagai krnang-kenangan" Wanita itu seakan tak punya rasa sungkan.
"Daripada mengganggu kita, iyain saja ya om" Dara berbisik. Akhirnya Parlan mau.
"Oke, sudah cukup. Sekarang kembalilah bekerja" Parlan langsung melangkah sembari menarik lengan Dara dan Jelita.
"Ayok" Hanya itu kata yang bisa di ucapkan oleh Parlan. Dan Karina mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
"Yes.. Aku berhasil menaklukkan tantangan pertama. Akan aku buktikan kalau aku layak untuk menjadi pemenang" Wanita itu berkata setelah Parlan pergi. Iya tersenyum penuh kemenangan. Dan segera kembali setelah misinya berhasil.