Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
kasih sayang Bagas


__ADS_3

Di rumah sakit tempat di mana Wafa Aidil Prasetyo dirawat, Prasetyo berlari setelah mendapat kabar bahwa sang istri kecelakaan menabrak sebuah tiang listrik. Dengan penuh kekhawatiran, Prasetyo berlari menuju meja resepsionis untuk menanyakan Di mana letak ruang yang ditempati istrinya saat ini.


" Permisi mbak, pasien kecelakaan atas nama Atika Marcella berada di mana ya saat ini? " pertanyaan Prasetyo terlihat begitu gugup di saat mengutarakan pertanyaan tersebut kepada petugas resepsionis di rumah sakit itu. Dadanya naik turun karena nafas ngos-ngosan setelah berlari.


" Pasien kecelakaan atas nama Atika Marcella saat ini masih berada di ruangan ICU. Luka yang terjadi sedikit serius, sehingga dokter memutuskan untuk merawatnya di ruang ICU terlebih dahulu. Keadaannya masih belum stabil" jawab petugas resepsionis tersebut menjelaskan kepada Prasetyo yang saat ini benar-benar dilanda kekhawatiran yang berlebihan.


" Terima kasih " tanpa berkata apapun lagi, Prasetyo berlari menuju ke ruang ICU. Mencari sang istri di sana.


" Atika" Prasetyo mencoba memanggil Atika di saat ia telah menemukan di mana istrinya. Dilihatnya Atika yang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.


"Atika... Bangunlah! " Dengan perasaan hancur, Prasetyo menyentuh tangan Atika yang tidak bergerak sama sekali. Tak terasa air matanya menetes menatap wanita yang dicintainya tersebut terbaring tak berdaya di rumah sakit.


" Permisi tuan, Apa Anda anggota keluarga dari Nyonya Atika Marcella? " tiba-tiba Seorang perawat dan dokter datang ke ruang ICU dan bertanya kepada Prasetyo yang saat ini sedang berada di dekat Atika.


" Saya suaminya Atika" jawab Prasetyo tanpa menoleh ke arah dua orang yang baru saja datang tersebut.


" Bisa ikut saya sebentar saja, Saya ingin menjelaskan keadaan Nyonya Atika yang saat ini" dokter berkata dengan pelan karena takut mengganggu pasien yang lain.


" Apakah tidak bisa menjelaskan di sini saja? Aku ingin tetap berada di samping istriku" Prasetyo dengan wajah sayu nya meminta ke dokter untuk menjelaskan di ruang itu saja.


" Tidak bisa tuan. Karena kalau saya menjelaskan di sini akan mengganggu pasien yang lain. Lebih baik anda ikut saya ke ruangan dan saya akan menjelaskan semuanya" dokter pun menolak permintaan Prasetyo untuk menjelaskan di ruang tersebut. Dengan berat hati Prasetyo pun menuruti apa yang Dokter katakan. Iya perlahan menjauh dari ranjang Rumah Sakit Atika untuk mengikuti sang dokter ke ruangannya.


" Bagaimana keadaan istri saya dokter?" belum sempat dokter tersebut duduk dengan baik di kursinya, Prasetyo sudah mengajukan sebuah pertanyaan yang sebenarnya memang ingin dijelaskan oleh sang dokter.


"Duduklah terlebih dahulu Tuan, baru saya akan menjelaskan" tangan kanan dokter tersebut menunjuk sebuah kursi di depannya dan menyuruh Prasetyo untuk duduk terlebih dahulu.


" Keadaan Nyonya Atika benar-benar memprihatinkan. Saat ini nyonya Atika mengalami cedera yang benar-benar serius. Yang dengan berat hati saya akan mengatakan, bahwa kedua kaki Nyonya Atika patah. Dan untuk proses penyembuhannya pun memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit" dokter menjelaskan keadaan Atika kepada Prasetyo. Prasetyo mendengar itu pun menunduk kan kepalanya. Rasanya dunianya berhenti berputar mendengar penjelasan sang dokter.


" Lakukan semua yang terbaik, agar istri saya bisa sembuh seperti sedia kala. Masalah biaya jangan khawatir, aku akan melakukan semuanya demi istriku" ucapan Prasetyo dijawab anggukan kepala oleh dokter di depannya.

__ADS_1


" Baiklah Tuhan Prasetyo kalau begitu, kami akan mengusahakan perawatan yang terbaik untuk Nyonya Atika" dokter tersebut pun menyanggupi.


" Tapi kalau misalnya rumah sakit ini tidak mampu untuk melakukan perawatan yang lebih baik, saya sarankan lebih baik Tuan Prasetyo membawa Nyonya Atika ke rumah sakit lain yang lebih memadai dengan perlengkapan yang lebih lengkap" kata-kata sang dokter membuat Prasetyo harus memutar otak dua kali. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan semuanya sendirian. Sedangkan anaknya pun juga memerlukan perhatian ekstra darinya.


" Baiklah, lakukan semua yang terbaik untuk istri saya" akhirnya Prasetyo menyerah dengan mengucapkan kata tersebut kepada dokter.


Setelah penjelasan dokter yang panjang lebar di depannya, Prasetyo keluar dari ruangan itu dengan langkah yang gontai. Iya bingung harus minta tolong kepada siapa lagi.


" Prasetyo" seorang wanita memanggil Prasetyo yang sedang sendirian di sana. setelah menoleh Prasetya mendapati Ibu mertuanya yang saat ini berjalan mendekatinya.


" ibu..." ucap Prasetyo ketika melihat Siapa yang memanggilnya.


" Bagaimana keadaan Atika? dan bagaimana bisa semua ini terjadi? " pertanyaan dari ibu mertuanya atau ibu kandung Atika membuat Prasetyo menjadi bingung harus menjawab bagaimana.


" Atika masih belum Sadarkan diri " jawab Prasetyo kepada Ibu mertuanya.


" Semalam Atika meminta izin untuk keluar. Katanya untuk merefresh pikirannya. Karena sudah lebih dari sebulan ia tidak keluar rumah. Saya sudah mencoba melarangnya tapi Atika tidak mau mendengarkan. Saya sudah menunggu lama hingga larut malam. namun yang datang adalah kabar kecelakaan Atika yang menabrak tiang listrik" Prasetyo tak bisa berbohong kepada Ibu mertuanya. Akhirnya ia pun berkata dengan jujur.


"Atika memang bebal. Sekarang di mana dia? " Tanya Bu Yanti dengan emosi yang melmuncak.


"Masih di ICU" Jawab Prasetyo singkat. Iya merasa takut kepada mertuanya.


"Baru saja bersama kamu, sudah mendapat musibah" Omel bu Yanti sambil berjalan pergi meninggalkan Prasetyo yang mematung karena ucapannya.


Pov Miana dan Bagas


"Papa, kita sekarang sudah punya papa baru. Aku ngga mau lagi ketemu sama papa Tiyo." Saat sarapan bersama sebelum berangkat ke aktivitas masing-masing, Dara mengatakan kepada Bagas.


"Jangan seperti itu ya nak. Bagaimana pun papa Tiyo tetap ayah kandungmu. Selama dia masih hidup, silaturahmi di antara kalian jangan sampai terputus" Bagas mengatakan kepada anaknya.

__ADS_1


"Tapi papa ngga peduli sama kita pa. Kenapa kita harus peduli sama papa. Yang selalu peduli sama kita cuma mama sama om Parlan. Kadang kakek. Uti sama kakek saja ngga pernah peduli sama kita. Mereka selalu menyalahkan mama terus" Dara mengadu kepada Bagas.


"Dara... Tolong jangan mengungkit yang lalu" Miana mengingatkan kepada Anak sulungnya.


"Papa memang ngga pernah peduli sama kita ma." Ucap Dara. Iya merasa jika Bagas telah menjadi sandarannya. Iya sudah merasa nyaman dengan Papa barunya.


"Biar papa yang sekarang peduli dan sayang sama kamu ya nak" ucap Bagas di saat ia selesai menyuapkan satu sendok makan ke dalam mulutnya.


" Terima kasih Papa" tiba-tiba Dara dan Jelita turun dari kursi dan memeluk Bagas secara spontan. Membuat Bagas merasa bahagia karena memiliki putri yang cantik seperti Dara dan Jelita.


" Terima kasih ya kamu telah menerima anak-anakku dengan penuh keikhlasan. Miana pun ikut bahagia menyaksikan kedua anaknya sangat dekat dengan ayah tirinya. Sama seperti yang ia rasakan dulu ketika ayah kandung nya meninggalkan dirinya dan Atika untuk selama-lamanya.


Di Rumah Sakit


Satu minggu kemudian.


Bu Yanti yang sejak satu minggu yang lalu datang untuk menemui Atika di rumah sakit, kini terlihat tertidur dengan duduk di sebelah ranjang Atika. Namun Prasetyo hanya bisa duduk menjauh dari kursi yang diduduki oleh ibu mertuanya tersebut.


" Atika..." Prasetyo yo merasa terkejut ketika Atika menggerakkan jari-jarinya. Iya segera mendekat ke istrinya. Dan di saat yang bersamaan Bu Yanti terbangun karena merasa terusik oleh suara Prasetyo yang memanggil putrinya.


" Apa Atika sudah sadarkan diri? " tanya Bu Yanti yang belum menyadari bahwa putrinya tersebut bisa menggerakkan jari-jarinya. pertanda Atika telah tersadar.


" Sepertinya begitu Bu. Ibu tunggu di sini dulu sebentar biar saya memanggil dokter" tanpa menunggu jawaban dari ibu mertuanya, Prasetyo segera berlari keluar dari ruangan tersebut. Iya berlari menuju ke ruang jaga para perawat yang ada di sana. Setelah diperhatikan ada beberapa perawat yang duduk sambil mengerjakan tugas mereka, Prasetyo pun segera berlari dan memanggil mereka.


" sus sepertinya istri saya sudah sadarkan diri" Panggil Prasetyo kepada para perawat tersebut. Dan dengan sigap beberapa perawat datang ke ruangan di mana Atika dirawat.


" Prasetyo, Kenapa kamu tadi harus berlari memanggil dokter dan perawat untuk ke sini. Bukannya ini adalah bel untuk memanggil mereka supaya kita tidak kesusahan mencarinya" tiba-tiba saja Bu Yanti yang melihat Prasetyo baru masuk ke ruangan tersebut memarahi menantunya itu.


" Maaf bu, tadi saya tidak bisa berpikir dengan baik. Karena saking senangnya melihat Atika yang baru sadar. Jadi saya tidak kepikiran sampai ke situ" jawab Prasetyo dengan lemah lembut kepada Ibu mertuanya. tak lama setelah mengatakan itu, pintu ruangan itu terbuka. Dan seorang dokter serta perawat datang untuk memeriksa keadaan Atika.

__ADS_1


__ADS_2