
" Astaghfirullahaladzim" semua yang berada di ruangan itu terkejut bukan main. mereka langsung berdiri dan mencari Dari mana sumber suara tersebut berasal. Miana yang paling duluan berlari ia segera keluar rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Di saat mereka semua sudah berada di luar rumah, mereka melihat seseorang tergeletak di samping mobil Miana. Miana datang dengan cepat iya berlari tanpa memperdulikan apa-apa yang ada di sampingnya. Hingga akhirnya ia melihat bahwa seseorang yang tergeletak di samping mobil itu adalah Parlan. Miana histeris melihat Parlan yang sudah tak terlihat lagi rupanya.
" Parlan ada apa? " Miana mengguncang-guncang tubuh Parlan yang saat ini tergeletak di tanah. Hingga akhirnya Parlan membuka matanya perlahan namun tidak bisa sempurna.
" Parlan bangun buka mata kamu, apa yang terjadi? " Miana begitu gemetar dan ia sangat takut melihat keadaan Parlan saat ini.
" Nyonya miana Boleh saya minta tolong untuk menuntun saya ke arah tempat air yang mengalir. Mata saya sangat sakit terkena tumpahan oli" jawaban membuat semuanya bernafas lega.
" Ayo aku bantu bangunlah! " Miana membantu parlen untuk segera bangun. dan di saat masih membantu Parlan seorang satpam datang.
" Nyonya Miana, Ada apa ini? Kenapa Parlan sampai kayak gini" satpam itu pun juga khawatir dan takut dengan keadaan Parlan yang terlihat berlumuran oli nampak begitu hitam menakutkan.
" Nanti saya ceritakan sekarang Tolong Bawa saya ke tempat air, mata saya sangat perih" Parlan meminta bantuan kepada satpam itu. Akhirnya satpam itu pun menggandeng tangan Parlan dan segera membawanya ke tempat kran air yang berada di halaman rumah miana.
Parlan mencuci mukanya begitu Ia mendapatkan air yang mengalir. Namun rasa perih masih menjalar di dalam matanya. Dia pun berusaha untuk menghilangkan rasa perih itu dengan terus membilas matanya dengan air bersih.
" Mohon maaf saya telah membuat keributan. saya tidak sengaja melakukannya" Parlan yang merasa bersalah segera meminta maaf kepada semua keluarga Miana yang berada di sana saat ini juga.
" Kamu nggak apa-apa kan? " Tuan Hery dan Miana begitu khawatir dengan keadaan Parlan saat ini.
" Saya baik-baik saja Tuan, Nona, jadi tidak usah khawatir. Saya hanya perlu membersihkan tumpahan oli yang berada di badan saya. Nanti juga akan kembali seperti semula, kembali tampan" Parlan pun tersenyum sambil mengatakan itu semua. membuat yang berada di sana tersenyum.
" Saya izin ke belakang terlebih dahulu untuk membersihkan diri" tanpa menunggu jawaban, Parlan segera melarikan diri dari hadapan mereka semua. Iya segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sambil mengguyur tubuhnya yang berlumuran oli, Parlan menertawakan diri sendiri. Iya tidak menyangka akan membuat semua orang terkejut dengan apa yang terjadi.
Semua orang yang berada di rumah miana pun kembali ke ruang tengah. Mereka tertawa karena merasa terkejut dengan kejadian tadi.
" Bisa-bisanya Parlan membuat semua orang terkejut seperti" Tuan Heri mengatakan itu sambil tertawa.
" Bener yah, bagaimana mungkin Parlan bisa ketumpahan oli sebanyak itu hingga mukanya hitam sekali" pernyataan Tuan Heri dijawab oleh Miana juga sambil tertawa.
" Apanya yang lucu sih kayak gitu juga kalau diketawain" tiba-tiba Atika menyeletuk ketika mendengar ayah dan adiknya tertawa sambil membicarakan Parlan.
" Bagaimana nggak ketawa sih Kak, kakak lihat sendiri keadaan Parlan" Miana pun menjawab dengan santai. Atika terlihat tidak menyukai Miana yang tertawa begitu girang .Dan di saat yang bersamaan pula, seorang art datang dengan membawakan beberapa minuman.
__ADS_1
" Makasih ya Bi" apa yang dikatakan oleh Miana disambut senyuman oleh art-nya.
" Sama-sama non, Mari saya ke belakang dulu" dengan sopan Bi Wanti mengatakan itu lalu ia beranjak meninggalkan ruang tengah dan berjalan menuju ke dapur.
Di dalam kamar yang dikhususkan untuk Parlan, Parlan telah selesai membersihkan tubuhnya dari guyuran oli yang membuatnya begitu terlihat menakutkan. Hampir 30 menit dia membersihkan semuanya.
" Uh bisa-bisanya kejadian memalukan seperti ini terjadi" gumam Parlan sambil menyisir rambutnya. begitu selesai Parlan segera keluar dari kamarnya dan menuju ke tempat di mana mobilnya berada.
Beberapa menit berdiri di samping mobil, Parlan memperhatikan mobil tersebut. bannya yang meledak tadi membuatnya geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, iya terlalu banyak mengisi angin sehingga menyebabkan ban tersebut meledak secara tiba-tiba. Dan karena ada oli di samping ban itu yang ikut meledak yang disebabkan oleh apa Parlan pun tidak mengetahuinya. Tiba-tiba dari belakangnya seseorang sudah berdiri.
" Kok bisa sih kamu tadi, kenapa bisa sampai meledak? " seorang satpam yang tadi membantu Parlan bertanya dengan ekspresi penasaran. Akhirnya Parlan pun menceritakan semuanya.
" Terus ini bagaimana mobilnya? " Tanya satpam tersebut.
" Ya aku mau ganti Bannya dulu. Takutnya nanti kalau buru-buru dipakai." jawab Parlan sambil mengotak-atik ponselnya.
" Dengan bengkel ABC. Maaf ini dengan rumah nomor A9 perumahan Citra Kusuma. Mau mengganti ban" Parlan pun segera mengatakan apa tujuannya menelpon bengkel tersebut setelah sambungan teleponnya terhubung.
" Baik kami akan segera ke sana. Terima kasih telah menghubungi bengkel ABC" begitu mendapat jawaban dan selesai mengatakan apa tujuannya, Parlan pun mematikan panggilannya.
" Boleh" akhirnya satpam tersebut berniat untuk membantu.
" Eits tapi nggak usah... Sana kamu di depan aja nunggu nanti kalau montirnya datang. Nanti panggil-panggil terus nggak ada orang pulang lagi, bagaimana dong" Parlan yang bercanda mengajak satpam tersebut ditanggapi dengan serius. Hingga akhirnya menyuruh satpamnya untuk kembali ke pos lagi. Setelah satpam itu kembali Parlan pun memulai untuk membersihkan mobil yang terkena cipratan oli.
Di dalam rumah Miana, orang-orang di sana memandang Parlan yang sedang membersihkan mobil tersebut.
"Parlan masih rajin aja ya dari dulu. Sayang banget dia cuma mau jadi sopirnya Mian. Padahal dia orangnya cukup berbakat di berbagai hal" Tuan Heri menyesali keputusan Parlan yang tidak ingin bergabung dengan perusahaannya.
" Biarkan saja lah. dia punya pilihan hidup sendiri" Miana menyahut apa yang dikatakan oleh ayahnya itu.
" Oh iya dari tadi ayah tidak melihat suamimu, di mana dia" tanya ayah Heri kepada miana.
" bekerja... Sedang bekerja" jawaban Atika dan Miana bersamaan. Hingga membuat orang tuanya menoleh ke keduanya. Dengan tatapan tajam Miana memperhatikan Atika yang terlihat menundukkan kepalanya.
"Eehmmm... Maaf saya sok tahu. Saya tadi hanya asal menjawab saja" Atika berkilah.
__ADS_1
" Kalau memang Kak Tika tahu juga Tidak apa-apa kok. Semua orang juga tahu kalau Suamiku di hari dan jam seperti ini pasti sudah sibuk bekerja" Miana menekankan pada kata semua orang juga tahu. Hingga membuat Atika sedikit tidak nyaman dengan tatapan sekaligus ucapan adiknya tersebut.
" Dan kamu Tika... Kenapa tidak mencari pasangan hidup kembali. Padahal suamimu sudah lama meninggal" Miana merasa hatinya teriris ketika mendengar apa yang diucapkan oleh ayah tirinya. Bagaimana tidak, saat ini Miana kembali Teringat Apa Yang dilakukan oleh Atika dan Prasetyo saat itu.
" Itu bukan masalah besar yah. Aku Masih betah untuk hidup sendiri" jawab Atika.
" Wah hebat sekali ya Masih betah untuk hidup sendiri. Apakah Kak Tika merasa kalau kakak sudah Memiliki seseorang yang di incar. Kalau kakak sudah memiliki orang yang kakak sukai kembali, dan kakak sudah bisa melupakan kak Romi, lebih baik kakak bilang saja biar ayah membantu kakak. Atau aku juga bisa membantu Kakak mewujudkan impianmu. Aku perhatikan, semakin hari Kakak terlihat semakin sibuk." Miana bertanya sambil menatap tajam ke arah Atika.
" Apa yang dikatakan oleh adikmu itu benar Atika. Kalau kamu sudah bisa mulai mengikhlaskan Romi. Lebih baik kamu bilang ke ayah dan ayah akan membantumu. Benarkah seperti itu awan? " ucap ayah tiri Miana dan Atika sambil menatap ke arah Awan, kakak tiri Atika dan Miana. Anak hasil dari pernikahan pertamanya Tuan Heri.
" Benar Tika, kamu itu masih muda Carilah pendamping hidup yang bisa membahagiakanmu kembali" awan pun membenarkan apa Yang Ayahnya katakan.
" benar sekali Kak Tika. Kakak itu sudah waktunya untuk mencari pasangan. Tapi ingat, kakak harus mencari seseorang yang bisa menerima Kak Tika apa adanya. Dan yang pasti bukan suami orang" seakan mendapatkan kesempatan untuk menyadarkan Atika, Miana menyatakan hal tersebut dengan jelas dan gamblang di depan kakaknya yang kini berusaha merusak rumah tangganya.
" Wah jangan menjadi wanita murahan dengan mau menjadi pasangan orang yang sudah mempunyai istri. Hal itu tidak dibenarkan. Dan juga ayah sama ibu tidak pernah mengajarkan kalian seperti itu. Ayah yakin anak-anak Ayah ini adalah putra dan putri yang baik" Tuan Heri belum mengetahui bagaimana kelakuan bejat anak tirinya yang satu itu. Hingga apa yang dikatakan oleh mereka semua menjadi pukulan untuk Atika. Sedangkan Miana ia merasa memang harus mengatakan hal itu walaupun tidak secara langsung.
" Oke oke... Aku akan mendengarkan Apapun kata kalian. Tapi untuk saat ini biarkan aku menentukan apa yang akan aku lakukan" Atika yang merasa tersudut dengan semua perkataan Ayah dan Kakak serta adiknya, membela dirinya sendiri.
" Kakak sama nenek baik orangnya. Tidak suka marah-marah sama mama. tapi kalau kakek sama Uti jahat sama mama" tiba-tiba Jelita mengatakan hal yang tidak ingin miana dengar ketika ada orang lain.
" Jelita bicara apa? kakek sama Uti orangnya baik sama seperti kakek dan nenek. Kan kemarin Mama sudah menjelaskan kepada kalian." Miana tidak ingin anaknya membuka aib mertuanya.
" Memangnya kakek dan Uti jahat bagaimana ke mama sayang? " karena rasa penasaran yang tinggi terhadap apa yang dikatakan oleh cucunya, Tuan Heri dan ibu Yanti bertanya kepada jelita.
" Kakak sama Uti selalu marah-marah ke Mama. Padahal mama nggak pernah berbuat jahat sama mereka. Tapi mereka kemarin sampai menjambak rambut mama juga. Aku sama Kak Dara sampai kasihan sama mama" Jelita menjelaskan secara rinci pesan Tuan Heri memperlakukan anaknya.
"Mian... Apa yang terjadi? " Tuan Heri menatap lekat ke arah Putri tirinya yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri itu.
" Ayah, di sini ada anak-anak, tidak baik jika kita membahas orang lain di depan orang banyak seperti ini. Nanti kalau ada waktu biar aku jelaskan ya" Miana dengan tenang menjawab apa yang dipertanyakan oleh ayahnya.
" jelaskan sekarang juga miana, Biar ayah tidak salah paham kepada mertuamu" kali ini Awan ikut berbicara.
" Jadi sebenarnya ini cuma tentang salah paham aja" Miana menjawab lalu terdiam.
" Awal mulanya saat itu aku bertemu dengan Bagas temanku yang SMK. Tapi di saat yang bersamaan ayah sama ibu datang di mana Aku Bagas dan Rendy sedang ada di sana. Mereka mengira kalau aku berselingkuh dengan Bagas. Ibu mertua miana memarahi Bagas dan aku di caffe itu. Terus tidak lama setelah itu, Tuan Rendy pemilik AIA Corporation membatalkan kerjasama dengan perusahaan cabang milik Mas Tio yang dikelola oleh ayah dan ibu. Mereka mengira, jika karena aku tuan Rendi membatalkan semuanya. jadinya ayah sama ibu marah-marah ke Miana" penjelasan miana seolah tidak membuat Tuan Heri menjadi puas. Iya memandang Miana, menelisik kejujuran yang berada di mata putri tirinya itu. hingga akhirnya seseorang yang datang membuat mereka berhenti berbicara.
__ADS_1