
Dara dan Jelita masih tetap terdiam. Entah apa yang ada di dalam hati dan fikiran 2 anak kecil tersebut. Miana pun masih terdiam dengan pandangan menuju ke anak-anaknya. Sedangkan bu Yanti juga tak mampu berkata sedikit pun. Iya ikut merasakan sesak ketika Miana berbicara dengan kedua anaknya.
"Mama... Apa kita sudah bisa berbicara" Melihat Miana yang terdiam, Dara dan Jelita mengatakan sesuatu. Di pandangnya kedua putrinya yang masih menunggu jawaban tersebut.
"Boleh sayang... Sekarang kalian bisa bertanya atau pun memprotes semua yang sudah terjadi. Maafan mama ya nak. Karena ke egoisan mama, kalian harus kehilangan papa kalian. Sebenarnya mama ingin sekali mempertahankan papa demi kalian berdua. Tapi mama gagal" Miana terisak dalam mengatakan hal tersebut. Iya benar-benar sudah tidak mampu lagi untuk menyembunyikan air mata yang terus-terusan memaksa untuk keluar itu.
"Aku sebenarnya tidak ikhlas ma jika papa harus meninggalkan kita semua. Apalagi kita sangat menyayangi papa. Tapi kalau papa sudah memiliki keluarga baru, berati papa sudah tidak butuh dengan kita lagi. Seperti kalau kita sudah memili mainan baru, kita akan membuang mainan lama kita untuk di berikan kepada orang lain. Dara berfikir jika yang baru bisa menggantikan yang lama. Papa sudah tidak membutuhkan kita lagi ma" Dara berkata panjang lebar di depan mamanya dengan suara tertahan. Iya merasakan sebuah belati seakan menggores ke dadanya berkali-kali.
"Kalau boleh Dara dan Jelita tahu, siapa orang yang sangat beruntung yang menjadi keluarga baru papa ma? " Tanya Dara. Dan pertanyaan itu seakan benar-benar membunuh Miana. Iya tak kuasa menahan tangi yang terus berjejal untuk keluar. Miana memandang ke arah bu Yanti yang juga diam mematung mendengar apa yang di tanyakan oleh cucu nya.
"Kita tidak akan membenci keluarga baru papa ma, kita hanya ingin tahu siapa mereka? " Tutur Dara sekali lagi seakan memohon kepada Miana.
"Mama... Berati kemarin papa ngga pulang karena papa tidur dengan keluarg barunya? " Kali ini Jelita bertanya. Dan pertanyaan itu semakin membuat Miana jatuh ke dalam jurang yang menyeretnya pada luka yang sangat sakit karena terus tergores. Miana hanya mampu mengangguk menanggappi apa yang jadi pertanyaan putri kedua nya.
"Mah... Jawab Dara, siapa orang yang menjadi keluarga baru papa? " karena Dara yang bertanya terlebih dahulu belum mendapat jawaban, Dara mengulangi kembali pertanyaanya.
__ADS_1
"Orang itu adalah budhe Tika" Tiba-tiba dengan cepat Miana menjawab pertanyaan anaknya.
"Apa kita tidak bisa menjadi keluarga saja dan hidup bersama jika yang orang tersebut adalah budhe Tika. Kenapa mama sama papa harus bercerai" Dengan spontan, Jelita mengatakn itu. Hal yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Budhe Tika kenapa harus menjadi orang yang menjadi keluarga baru papa ma? " Dara yang sudah bisa merasakan sakitnya kehilangan sedikit mengerti dengan pembahasan kali ini. Miana memandang putri sulungnya, iya hanya menjawab dengan gelengan kepada. Miana tak bisa menjawab pertanyaan yang membuatnya semakin terpuruk kembali.
"Berarti kita harus bisa melupakan papa ya ma. Mulai sekarang, Dara sudah tidak memiliki papa lagi. Mulai sekarang, Dara hanya memiliki mama sebagai keluarga Dara, papa bukan" Emosi dalam diri Dara seakan menambah 99% dari yang tadi. Yang semulanya tadi Dara tenang dalam menghadapi apa yang di katakan oleh sang mama, kini fikirannya menjadi emosi. Suaranya serak tertahan oleh emosi. Miana langsung menarik Dara dalam pelukannya. Berusaha menenangkan putrinya agar tidak terbawa amarah yang menguasainya.
"Ini semua sudah menjadi suratan takdir sayang. Sudah menjadi sebagian dari kisah hidup kita sekeluarga. Mama minta Dara dan Jelita bisa tumbuh menjadi seorang anak yang bisa di andalkan ya di masa depan. Tumbuh menjadi anak yang baik walau pun kalian hidup tanpa seorang ayah. Mama yakin kalian akan mengerti suatu saat nanti apa yang mama katakan saat ini" Sambil memeluk putrinya, Miana berkata dengan mengusap air mata itu. Sedangkan Jelita yang belum terlalu paham akan situasi dan kondisinya, hanya bisa menyaksikan. Walaupun air mata itu menetes, tapi Jelita masih belum mengerti tentang luka dan rasa sakit. Tanpa aba-aba, Jelita langsung memeluk mama dan kakak nya. Dan di saat yang bersamaan, seseorang datang mengejutkan ke empat gadis dan wanita beda generasi yang duduk di atas sofa itu.
"Apa..." ucapan tuan Heri terdiam ketika sang istri menyodorkan sebuah lembaran yang penuh dengan tinta di atas kertas ke depannya.
"Apa ini? " sembari mengulurkan tangan untuk mengambil lembaran kertas itu, tuan Heri berkata. Karena tak ada yang menjawab, maka iya pun segera membaca apa yang tertulis di dalam kertas tersebut.
"Miana... Apa ini dari Prasetyo? " Begitu selesai membacanya, tuan Heri bertanya kepada anak tiri yang sangat di sayangi nya itu untuk memastikan kebenarannya. Sebenarnya dalam hati tuan Heri berharap jika jawaban Miana bukan mengangguk. Namun ekspektsinya itu di hancurkan dengan anggukan kepala Miana.
__ADS_1
"Bajingaan... Apa mereka tidak ada puasnya menghancurkan hati dan mentalmu Miana. Dan kenapa kedua cucuku yang tak tahu apa-apa harus merasakan luka yang teramat perih ini" Tuan Heri mengumpat karena rasa kealnya benar-benar sudah memuncak. Iya merasa ingin sekali menghajar anak menantu serta anak tiri yang sudah di anggapnya sebagai anak sendiri itu.
"Kakek, jangan marah ya. Dara dan Jelita serta mama sudah mengikhlaskan kepergian papa ke keluarga barunya" tiba-tiba Jelita berkata seperti itu. Hal yang membuat tuan Heri semakin merasakan sakit seperti yang di rasakan oleh Miana.
"Miana..." Tuan Heri memeluk anak dan kedua cucunya. Iya bisa dengan jelas merasakan luka itu dari sorot mata Dara dan Miana. Tuan Heri juga merasa jika air mata yang iya bendung tadi sudah mulai menetes.
"Ada apa ini? " Sebuah pertanyaan yang belum mendapat jawaban dari seseorang yang baru datang membuat semua menoleh ke arahnya.
"Ayah... Miana" Panggil Awan kepada adik dan juga ayahnya. Namun tak mendapat respon sama sekali. IY pun berganti menatap ke arah sang ibu. Hanya air mata yang menjawab. Dan akhirnya, pandangan Awan menangkap sesuatu di atas meja. Dengan segera iya berjalan menuju ke arah meja tersebut. Mengambil lembaran kertas putih yang di atasnya terukir barisan kata.
"Apa surat ini dari Prasetyo? " Tanya Awan menatap ke arah sang ibu. dan jawabannya pun sama, hanya anggukan kepala.
"Karena kamu sudah berani menghancurkan kehidupan Miana, akan aku pastikan, kalian berdua akan merasakan hal yang lebih sakit dari pada apa yang Miana dan anak-anaknya rasakan" Gumam Awan sendiri. Iya sekarang tahu kenapa keluarganya menangis.
"Miana, Dara, Jelita... Hapus air mata kalian. Akan sangat di sayangkan jika air mata itu menetes hanya untuk menangisi orang sebodoh dan sepengecut Prasetyo dan Atika. Simpan kembali air mata itu. Biarkan kakak yang akan memberi pelajaran kepada mereka" Tiba-tiba Awan duduk dan mengatakan itu. Miana mendengar semuanya. Dan ucapan itu membuat Miana menatap ke arah kakak tiri yang sangat menyayanginya itu.
__ADS_1