Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Kembali Ke Tuhan


__ADS_3

"Halo miana, aku mendengar semua yang kamu katakan tadi, apa kamu sedang membutuhkan bantuan" ucap Bagas ketika Parlan dan miana sadar bahwa panggilan tersebut belum berakhir.


" Kamu masih ingat kan kalau dari dulu aku paling malas berurusan dengan mereka. Mereka selalu membuat pengendara tidak nyaman. Makanya aku tidak pernah mau mencari masalah dengan mereka" Miana yang sudah mengenal Bagas pun tidak sungkan dan tidak ragu-ragu untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.


" Don't Worry Miana, no problem" Bagas pun mengerti apa yang dimaksud Miana karena mereka berteman di bangku SMK. Bagas pun juga bukan orang asing yang tidak mengenal Miana karena mereka berteman baik semasa itu.


"Bagas boleh aku tahu sesuatu? " tanya Miana ketika ponsel Parlan masih berada dalam panggilan.


" Apapun yang ingin kamu tahu kalau aku tahu aku pasti memberitahu" kali ini Bagas sedikit bercanda dengan ucapannya.


" Kamu Ada masalah apa mencari Parlan? Apa kamu mengenal Parlan secara pribadi? " Miana yang tidak tahu bahwa sebenarnya Bagas sedang mencari informasi tentang dirinya bertanya. Dan Hal itu membuat Bagas bingung mau menjawab apa.


"Emmm... Anu. Bisa kita bertemu sebentar saja, Apa kamu ada waktu? " Kali ini Bagas tidak menjawab pertanyaan dari Miana.


" Apa kamu mau membuat sesuatu yang menimbulkan fitnah diantara kita? " Miana pun kembali bertanya dan tidak menjawab pertanyaan dari Bagas.


" Tidak akan ada fitnah diantara kita kan aku juga sama Rendy"


" Apa mertuamu melakukan hal yang buruk terhadapmu kembali" pertanyaan dari Bagas didengar oleh Parlan. Dan Parlan pun menoleh kepada Miana.


" Tidak ada hal buruk yang terjadi kepadaku."

__ADS_1


" Kalau begitu, apakah kita bisa bertemu hari ini? " Bagas mengulangi pertanyaan yang sama.


"Kapan-kapan saja. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara kita. Hari ini suamiku pulang dari..." belum sempat miana menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Bagas sudah menyala dan memotong pembicaraan Myanmar.


" Pulang dari berselingkuh? "


" Miana Aku ingin memberitahu kamu sesuatu kalau bisa kita bertemu hari ini. Kalau perlu kamu ajak suamimu yang b******* itu" Bagas merasa jika Miana benar-benar harus ditolong.


" Aku pernah berada di posisi seperti kamu Miana. Dan aku tahu bagaimana rasa sakitmu" Bagas seolah tidak ingin Miana terluka semakin dalam.


" Bagas aku baik-baik saja. Jangan khawatir" seakan tidak ingin biduk rumah tangganya diketahui oleh orang lain, Miana mencoba untuk tidak menanggapi Bagas. Miana sadar bahwa saat ini ia masih berstatus sebagai istri orang.


"Baiklah... Suatu saat aku ingin bertemu denganmu lagi" Kata-kata Bagas melirih.


"Kita pulang saja. Aku ingin tahu bagaimana sikap Tiyo kepadaku saat ini" Miana Berkata dalam diamnya. Entah apa yang iya fikirkan saat ini.


"Miana... Allah tak pernah lupa pada orang yang mendzolimimu, orang yang membuatmu menangis dan orang yang memaksamu. Yakinlah bahwa hak-hak akan dikembalikan suatu hari nanti." Kata-kata Parlan membuat Miana menoleh kepadanya.


"Terimakasih." Suara Miana tertahan mungkin akan menangis. Iya kembali terdiam.


"Sekarang persiapkan hatimu untuk bertemu dengan Prasetyo. Buat hatimu tenang. Bersikaplah tenang agar kamu tidak salah berucap" Miana mengangguk. Hingga akhirnya Parlan melajukan kembali mobil yang di kendarainya.

__ADS_1


"Jangan ceroboh dan mengedepankan emosi Miana. Ingat amarah hanya akan membuatmu lebih sakit dari luka yang kamu rasakan saat ini. Bersabarlah menghadapi Prasetyo bagaimanapun nanti sikapnya" Parlan masih mencoba terus berbicara dengan miana.


"Sepertinya aku butuh asupan amunisi. Aku ingin sesuatu yang bisa membuat pikiranku fresh. Apa ada? " Miana menatap Parlan seolah meminta bantuan untuk berfikir.


"Oke... Akan saya antarkan ke suatu tempat, dimana kamu bisa merileks kan fikiranmu" Saat berhenti di lampu merah, Parlan berhenti.


"Oke... Aku tahu kamu pasti akan memberikan yang terbaik. Memberikan aku pencerahan. Berangkatlah" Miana berkata dengan serius. Setelah lampu berubah warna menjadi hijau, Parlan segera menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya. Miana tak mengerti akan dibawa ke mana oleh Parlan. Namun Miana percaya kepada Parlan.


Tepat di depan sebuah masjid besar, Parlan membelokkan mobilnya. Setelah masuk di pelataran masjid, Parlan menghentikan lalu mematikan mobil yang dinaikinya.


"Turunlah... Laksanakan salat Dhuha 2 rakaat. Lalu memohonlah kepada Allah. Mintalah petunjuk apa yang harus kamu lakukan di sana. Aku akan menunggu di sini. Kalau kamu sudah selesai hubungi aku" Parlan menyuruh Miana untuk turun dari mobil. Dan Miana mengangguk. Dia pun segera memegang handle pintu mobil dan menariknya. Ada hal luar biasa yang seakan masuk ke dalam hatinya saat ini. Miana segera turun lalu menuju ke tempat wudhu wanita.


Tak ada 5 menit. Miana keluar lagi dengan wajah dan tangan yang basah. Iya lalu masuk ke dalam masjid. Di ambilnya sebuah mukena dan sajadah. Dengan perlahan, Miana mengenakan mukena tersebut. Selanjutnya iya menggelar sajadah di depannya. Suasana masjid terlihat begitu sepi. Hanya ada satu atau dua orang di sana. Mereka terlihat melaksanakan salat sunnah Dhuha. Di saat memandang mereka yang melaksanakan salat, air mata Miana menetes kembali. Miana pun menghadap ke kiblat lalu Membaca niat salat Dhuha.


"Ushallii sunnatadh dhuhaa rak'ataini lillaahi ta'aalaa. Allaahu akbar." (Artinya: "Aku niat mengerjakan sholat sunah Dhuha dua rakaat karena Allah Ta'ala). Di saat Miana mengagungkan kalimat takbir, tak terasa air matanya perlahan menetes. Dalam sholatnya iya terus menangis. Bukan menangisi keadaan dirinya yang sedang terluka. Namun menyadari semua kekeliruannya.


"Assalamu'alaikum warohmatullah" rekaat terakhir dalam salat Dhuha 2 rakaat yang dilaksanakan oleh Miana telah selesai. Entah apa yang membuat miana kembali bersujud. Dalam sujudnya ia menangis sesenggukan.


"Astaghfirullahaladzim..." Hanya itu yang diucapkan oleh niana berulang-ulang kali. Banyak hal yang membuatnya menangis. Hingga akhirnya, kurang lebih 9 menit, ia kembali duduk setelah di rasakan dadanya begitu sesak.


"Allahumma innadhdhuha-a dhuha-uka, walbahaa-abahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwaatuka, wal qudrota qudrotuka, wal 'ishmata ishmatuka. Allahuma inkaana rizqii fissamma-i fa anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa-akhrijhu, wa inkaana mu'siron fayassirhu, wainkaana harooman fa thohhirhu, wa inkaana ba'idan fa qoribhu, bihaqqidhuhaa-ika wa bahaaika, wa jamaalika wa quwwatika wa qudrotika, aatini maa ataita 'ibaadakash shoolihiin."

__ADS_1


Artinya :


"Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu dan kekuatan-Mu, berikanlah kepadaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hambaMu yang shalih." Air mata Miana terus mengalir tanpa henti selama sholat. Setelahnya iya terdiam. Sambil duduk bersila iya menejamkan mata menghadap ke kiblat. Di renunginya semua yang terjadi. Hampir 9 menit Miana melakukan itu. Hingga akhirnya iya menghapus air sisa air mata di pipinya. Iya menghembuskan nafas panjang seolah merasa lega. Setelah selesai, iya melepas mukena yang iya pakai. Lalu melipat dan mengembalikan di tempatnya yang semula. Miana baru keluar dari masjid dan saat ini berjalan menuju ke parkiran dimana mobilnya berada.


__ADS_2