
" Papa tiap kali kakek sama Uti ke sini selalu marah-marah sama mama. padahal mama itu nggak pernah berbuat apa-apa ke kakek sama Uti. Kenapa mereka jahat sama mama? " jelita, si bungsu Prasetyo dan Miana yang selalu membela ibunya ketika kakek dan neneknya mengatakan hal yang tidak-tidak kepada miana.
" Sayang... Jelita nggak boleh ya bicara kayak gitu. Kakek sama Uti nggak marah-marah sama mama. Mereka hanya menasehati tapi dengan nada yang sedikit keras." Miana mencoba menasehati anaknya.
"Tapi mama kalau menasehati kita ngga pernah kaya gitu. Dalam keadaan marah pun Mama nggak pernah berkata kasar pada kita" kalian Dara ikut berbicara.
" Kan tiap-tiap orang berbeda Cara penyampaiannya. Mungkin karena kakek sama uti sedang ada masalah" Miana tetap bersikap baik dalam menyampaikan semuanya.
"Kakek sama uti ngga seperti mama. Papa harus bilang sama uti dan kakek supaya kalau menyampaikan tidak perlu dengan marah-marah" Jelita membandingkan antara orang tua Prasetyo dan ibunya.
"Iya sayang, nanti papa bakal sampaikan ke beliau berdua." Prasetyo memeluk kedua putri nya. Iya memandang ke arah Miana.
Pov Bagas.
" Maaf parlan, Apakah kita bisa bertemu? " sebuah pesan yang baru masuk dibacanya oleh Parlan. Dia mengerutkan kening tapi mengetahui sebuah nomor baru masuk ke dalam ponselnya.
" Maaf ini siapa ya? " Parlan membalas dengan singkat.
"Bagas" setelah pesan balasan dibaca oleh Parlan, Iya tidak mengerti kenapa Bagas ingin mengajak dirinya bertemu.
" Ada hal penting yang harus aku beritahukan ke kamu" Bagas kembali mengirimkan pesan.
" Oke tapi saya tidak bisa seenaknya keluar. Nanti kalau misalnya ada waktu saya akan langsung menghubungi anda Tuan Bagas" Parlan yang mengirimkan balasan tersebut. Iya sudah mengira jika Bagas Ingin Bertemu Dengannya karena alasan miana.
__ADS_1
"Parlan menyanggupi untuk bertemu dengan kita, tapi menunggu dia ada waktu" Rendy mengatakan apa yang dibalas kan oleh farlan dalam pesannya tadi.
" Kamu Atur saja bagaimana enaknya. Karena tidak mungkin jika Parlan akan meninggalkan pekerjaan nya begitu saja. aku melihat dia orang yang begitu bertanggung jawab." Bagas bisa menilai bagaimana si Parlan.
"Oke" Rendy lalu meletakkan ponselnya.
"Ada informasi baru tentang Miana, apa kamu mau tahu? " Rendy bertanya.
"Apa? " Rendy tersenyum mendengar jawaban dari Bagas. Iya tahu jika Bagas masih menyukai Miana. Walaupun status Miana saat ini adalah istri orang.
"Ini" Rendy memberikan ponselnya kepada Bagas. Bagas langsung mengabil ponsel tersebut dan membaca tulisan yang berada di sana.
" Bagaimana bisa mereka menyalahkan Miana atas apa yang telah terjadi. Bagaimana dulu kita bisa bekerja sama dengan orang yang tidak profesional seperti mereka" setelah membaca informasi yang telah dan diberikan, Bagas sedikit emosi.
" Kamu benar... Pantau saja semuanya. Aku akan melakukan sesuatu yang akan membuat orang-orang yang menyakiti Miana menyesal seumur hidupnya" Bagas merasa tidak terima jika miana diperlakukan buruk oleh mertuanya. Mengetahui jika mertua Miana menyalahkan menantunya karena kerjasama tersebut Bagas batalkan, Bagas merasa bersalah.
" Jangan pernah merasa bersalah atas apa yang terjadi. Pembatalan kerjasama ini bukan karena miana. Tapi karena sikap yang tidak pantas oleh ibu mertuanya. Dia sudah mengataimu yang bukan bukan. Sudah seharusnya mereka menerima semua pembalasan dari kita" Pak Rendi kembali mengingatkan kepada Bagas. Sebagai seorang asisten sekaligus sahabat Bagas. Rendy tidak ingin Bagas bertindak terlalu jauh untuk membantu miana. Karena itu akan melewati batas dan sudah termasuk dalam mencampuri urusan rumah tangga orang lain.
" okay... Kamu pantau terus keadaan miana. kalau sampai terjadi hal yang buruk kepadanya, mau tidak mau saya harus turun tangan membantu Miana."
" Siap bos laksanakan" Rendy mengiyakan Apa yang diperintahkan oleh Bagas. dan mereka pun meneruskan kembali pekerjaan yang tertunda.
Pov Miana.
__ADS_1
" Miana maafkan ayah sama ibu. Mungkin mereka benar-benar stress menghadapi masalah seperti ini. Aku minta maaf atas nama mereka" Prasetyo mengungkapkan permintaan maaf nya kepada Miana. setelah Atika dan tantenya pulang, Miana masih mengurung diri di dalam kamar menemani anak-anaknya. Prasetyo langsung bicara ketika Miana keluar untuk mengambil air minum.
" Tidak ada yang perlu dimaafkan... Kalau memang keinginan orang tuamu untuk menyalahkan aku, biarkan saja mereka seperti itu. Yang penting aku tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan" sambil berjalan dan mengisi air Miana menjawab apa yang dikatakan oleh Prasetyo. Dia tak ingin berlama-lama berada di dekat suaminya. Karena rasa yang ada di hatinya kini perlahan hilang. dengan kata lain, sesuatu yang berubah, adalah kata lain dari pamit secara perlahan. Sebenarnya miana ingin mengakhiri semua ini. Cuman iya memikirkan Bagaimana keadaan anak-anaknya nanti.
" Miana... biarkan anak-anak tidur sendiri. Tidurlah kamu Di kamar bersamaku" Prasetyo memegang lengan miana yang memegang satu botol air minum.
" Aku masih ingin sendiri... Maafkan Aku. Biarkan aku bersama anak-anak yang mungkin hatinya sedikit tergores karena sikap ayah dan ibu" Miana pun melepaskan tangan Prasetyo dengan perlahan. Prasetyo pun tidak dapat menahan Miana untuk tidak masuk ke dalam kamar anak-anaknya. Akhirnya ia pun melepaskan tangan istri yang telah disakitinya itu. Iya memandang kepergian Miana yang yang menghilang di balik pintu kamar Dara dan Jelita.
" Kenapa saat berada di dekatnya aku merasa hatiku tidak mampu untuk menyakitinya. Padahal aku sudah terlalu jahat hanya menyakiti Istriku yang begitu baik" Prasetyo bergumam dalam hati. Tak ingin menunggu lama Ia pun kembali masuk ke dalam kamarnya sendiri. Merebahkan diri di atas ranjang berukuran King size, salah satu yang mengambil ponselnya untuk melihat-lihat. Dan ternyata ada pesan dari Atika.
" Sayang kamu sedang apa? " pesan dari etika yang dibaca oleh Prasetyo langsung di jadikan arsip olehnya. Iya tidak membalas pesan tersebut. Dia merasakan takut jika tiba-tiba Miana masuk ke dalam kamar. Hampir 5 menit Prasetyo merebahkan diri dan menakut langit-langit kamarnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. dilihatnya Siapa yang menghubungi, dan ternyata Atika menghubungi karena ia tidak membalas pesannya. Prasetyo pun berlari menuju ke kamar mandi sambil membawa ponsel tersebut.
" halo..." setelah panggilan terhubung Ia pun menjawab.
" Kenapa pesanku tidak kamu baca? " teriak Atika dari seberang telepon.
" Apa kamu sedang berduaan dengan miana? " kembali lagi terdengar suara Atika yang marah dan terdengar Ketus.
" Maafkan aku sayang, kalau aku ada di rumah tolong jangan hubungi aku terlebih dahulu. Aku takut Miana akan curiga. Besok kalau di kantor aku akan menghubungimu. Jadi Bersabarlah sampai waktu itu akan datang" tanpa menunggu persetujuan dari Atika, Prasetyo mematikan panggilan tersebut. Namun belum sempat Prasetyo keluar dari kamar mandi, sebuah panggilan baru masuk kembali.
Hayoo readerku tercintaah, jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Like dan coment dari reader begitu berarti untuk mengetahui kualitas dari novel ini. Jangan lupa yaa, tinggalkan jejak.
__ADS_1