Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Seperti Keluarga Harmonis


__ADS_3

"Saya malah lebih kasihan kepada nyonya Miana. Bagaimana mungkin Tuan Adi dan nyonya Asti terus menyalahkan Miana atas kesalahan yang mereka buat sendiri. Bahkan mereka menuduh kalau Miana berselingkuh dengan Tuan Bagas. Beberapa kali saya melihat sendiri bagaimana Nyonya Asti dan Tuan Adi meluapkan kemarahannya kepada Miana" Cerita Parlan di tanggapi serius oleh Bagas dan Rendi.


" Sebenarnya dalam hati saya ingin selalu melindungi Miana. Tapi saya sadar diri dan sadar posisi siapa saya ini" Parlan masih bercerita tentang miana.


"Parlan... Bisa kamu katakan siapa kamu sebenarnya? " Tanya Bagas dengan suara tegasnya.


"Saya? Saya hanya seorang sopir di rumah nona Miana tuan. Apa yang anda fikirkan tentang saya? " Parlan bertanya.


" Aku yakin, ada sesuatu yang tidak kamu beritahukan kepada orang-orang. Dan Aku juga yakin, kamu bukan hanya seorang sopir" Bagas bertanya sembari memperhatikan Parlan.


" Tuan ini bisa saja. Apa yang harus saya sampaikan dengan posisi yang seperti ini" Parlan masih dengan santai menjawab pertanyaan dari Bagas yang seolah-olah mengintrogasinya.


"Baiklaah... Aku percaya" Bagas mengangguk.


" Jadi begini, dulu itu saya pernah diminta oleh ayahnya Nona Miana untuk bekerja di perusahaannya. Tapi saya lebih suka menjadi sopir nona Miana Karena pekerjaannya masih dalam tahap santai. Dulu saya menamatkan studi sampai ke jenjang S2" penjelasan Parlan membuat Bagas membulatkan matanya.


" Jdi kamu sopir tapi lulusan S2? "


" Iya..." Hanya itu yang bisa dijelaskan oleh Parlan kepada Bagas. Iya tidak ingin pekerjaan utamanya diketahui oleh orang lain. Biarlah orang lain memandangnya rendah dan tidak penting, yang penting dalam diri Parlan adalah sebuah kenyamanan.


"Kembali lagi ke Miana. Kenapa dia ingin bertahan disaat sudah tahu bahwa orang-orang di dekatnya selalu menyakitinya." Bagas bertanya lagi.


"Karena anak-anak. Miana memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya kelak mengetahui hal ini. Bagaimana kelak mereka berdua bisa hidup tanpa kasih sayang dari seorang ayah" Jawaban Parlan membuat Bagas mengerti, mengapa Miana masih tetap ingin bertahan.


"Aku paham sekarang." Bagas mengangguk.


"Parlan, maukah kamu tetap di pihak Miana? " Emtah kenapa Bagas bertanya seperti itu.


" Tanpa diminta pun aku akan tetap berada di pihak miana. Siapa lagi yang akan memihaknya, di saat semua orang di dekatnya menyakitinya. Bahkan untuk bercerita ke orang tuanya sendiri pun, Miana tidak berani"


"Anda tenang saja tuan. Jangan khawatir. Kita lihat saja nanti apa hal yang selanjutnya akan terjadi" Parlan mengatakan itu.


"Baiklah... Terimakasih untuk semuanya" Bagas tersenyum.

__ADS_1


"Kalau sudah tidak ada hal lain lagi, saya pamit pulang tuan. Sepertinya anak saya mengantuk" Parlan pamit undur diri. Setelah menjabat tangan Bagas dan Rendy, iya pun meninggalkan keduanya. Namun sebelumnya iya ke kasir untuk membayar apa yang telah di pesannya.


"Cari tahu tentang Parlan. Sepertinya dia bukan orang sembarangan! " Perintah Bagas kepada Rendi.


"Baik" Rendy menjawab sambil merapikan seluruh map di depannya.


Pov Miana.


Di waktu yang sama, Dara dan Jelita menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Mereka begitu bahagia dengan apa yang mereka lakukan hari ini. Nyatanya yang paling bahagia adalah Dara dan jelita. Mereka berdua begitu menikmati momen bersama keluarganya yang jarang bisa mereka lakukan.


" Semua sudah kita naiki, apa lagi ya yang belum? " cara mengingat apa yang belum mereka naiki.


"Tapi aku udah capek kak. Laper juga" Jelita mengeluh bahwa ia merasakan lapar. Benar saja karena saat ini sudah menunjukkan jam makan siang. Akhirnya miana mengajak kedua putrinya untuk mengakhiri permainan.


" Kita mainnya udahan saja ya, kita cari makan di dekat sini. Kasihan kalau Jelita sampai kelaparan." mereka semua setuju dengan apa yang dikatakan oleh Miana. akhirnya mereka keluar dari tempat bermain tersebut Lalu menuju ke parkiran.


Hampir setengah jam mereka mencari-cari tempat makan tapi belum juga menemukan yang sesuai yang diinginkan oleh anak-anak. Hingga akhirnya di saat melewati sebuah rumah makan Padang mereka berhenti.


" Mah kita masuk ke mall aja yuk, nanti di sana kita makan di foodcourt. Setelah itu kita mencari es krim untuk jelita" kali ini Dara memberikan usulnya.


" Oke kita ke mall terdekat di sini ya." kali ini Prasetyo berkata menyetujui apa yang anaknya inginkan.


" Hore... Kala gitu nanti kita bisa lanjut jalan-jalan lagi di mall sambil makan es krim, pasti seru banget" Jelita bersorak gembira mendengarkan bahwa saat ini ia akan menuju ke mall.


Beberapa menit berlalu dan mobil yang ditumpangi keluarga kecil Prasetyo sudah memasuki tempat parkiran Mall yang ada di dekat sana. Dengan lincah kedua anak Miama dan Prasetyo tersebut langsung turun dan berlari masuk ke dalam mall. Memandang hal seperti ini membuat hati Miana menghangat. Iya tahu bahwa selama ini Prasetyo jarang ada waktu untuk menemani anak-anaknya. Namun hatinya kembali menangis ketika ia teringat akan semua kelakuan bejat Prasetyo yang telah menduakannya bersama orang yang begitu dekat dengan Miana. terlanjur sakit hati Miana dibuat oleh Prasetyo. Hingga Miana teringat dengan sesuatu. Bahwa orang yang paling akan menyakitimu, adalah mereka yang paling dekat denganmu. Miana berjalan dengan sedikit melamun. hingga tanpa dia sadari ia menabrak seseorang.


" Maafkan saya. saya tidak sengaja" ucap miana sepontan.


" Saya juga minta maaf ya, saya tadi sambil mainan HP jadi tidak melihat kalau di depan saya ada orang" orang tersebut pun juga meminta maaf kepada miana. Sedangkan Prasetyo dan kedua anaknya hanya melihat dan mendengarkan. Setelah orang yang menabrak tadi pergi, Miana langsung menuju ke anak-anaknya.


" Mama tidak apa-apa? " Dara bertanya.


" Mama baik-baik saja Sayang jangan khawatir" Miana sedikit membungkuk sembari memberikan jawaban kepada putrinya.

__ADS_1


" Kalau begitu ayo mah kita ke sana. Papa ayo" Dara dan Jelita sudah tak sabar untuk menikmati makanan siang ini.


" Pasti makanannya akan terasa lebih nikmat dibanding biasanya" Celoteh Dara membuat orang tuanya langsung menunjukkan perhatiannya.


" Emang nya kenapa kok dirasa lebih nikmat dari biasanya? " tanya Prasetyo kepada Putri sulungnya.


" Karena formasi kita lengkap" jelita pun ikut menyahut.


" Betul Pah karena formasi kita lengkap. Ada Mama ada Papa di sini dan juga ada kita berdua" cara menjelaskan apa yang dimaksud dengan formasi lengkap. Dan kedua orang tuanya pun tidak sengaja saling memandang. Terutama Prasetyo, dia merasa begitu malu dengan apa yang dikatakan oleh kedua putrinya.


" Kalian mau pesan apa? " saat berdiri untuk memilih menu makanan, Miana bertanya kepada kedua putrinya.


" Aku mau siomay, terus minumnya lemon tea, sudah itu aja Mah" Jelita yang lebih dulu mengatakan apa yang ia inginkan. Hingga akhirnya disusul oleh Dara, selanjutnya kedua orang tuanya baru memilih menu apa yang akan mereka makan. Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, Miana melihat tempat yang kosong yang cukup untuk mereka berempat.


" Kita ke sana aja yuk mah. itu tempatnya masih luas banget" kali ini Prasetyo berkata kepada Miana. Miana tidak menjawab dengan perkataan kembali, namun ia menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Mereka berempat menuju ke meja yang telah ditunjuk. setelah duduk Mereka pun menikmati makanannya masing-masing.


Waktu makan siang telah Usai. Keluarga kecil Prasetyo yang terlihat begitu harmonis itu menuruti keinginan kedua anaknya untuk jalan-jalan di mall tersebut.


" kita jadi beli es krim kan Mah pah? " Jelita menagih janji orang tuanya.


" Memang perutnya masih muat untuk tempat es krim? " tanya Miana kepada Jelita.


" Mamah tenang aja, Jelita itu kalau untuk es krim perutnya selalu ada ruang tersendiri" Dara ikut membela adiknya.


" Oh ya... Berarti dalam perut Dara juga ada ruang tersendiri untuk es krim? " Miana menanyakan hal yang sama kepada Putri sulungnya. Kedua bocah tersebut mengangguk dengan perasaan yang begitu gembira. Mereka pun berjalan menuju salah satu kedai es krim yang terkenal yang berada di dalam mall tersebut. Jelita berlari menggandeng tangan Dara. Mereka dengan segera membuntuti antrian yang hanya beberapa orang.


" Masih antri Kak, tapi orangnya nggak banyak." gumam jelita kepada kakaknya.


" Iya sambil menunggu perut kita sedikit kosong ya Dek. Jadi nggak apa-apa kita mengantri" Dara pun begitu senang hari ini. Hingga sesuatu yang membosankan seperti mengantri pun terasa begitu menyenangkan. Mereka berdua mengantri, sedangkan kedua orang tuanya duduk di kursi.


" Miana... Saya minta maaf atas semua kejadian yang telah terjadi" Prasetyo mengungkapkan permintaan maafnya yang entah itu tulus atau tidak sembari memperhatikan kedua anaknya.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan. Ini semua sudah Takdirku untuk menjalani kehidupan yang seperti ini." Miana menjawab dengan Ketus. Tanpa melihat sedikitpun ke arah Prasetyo yang duduk di sampingnya. Sebenarnya Prasetyo Juga Tahu kalau Miana marah. Tapi dalam pikiran Prasetyo, Miana marah disebabkan karena orang tuanya yang menuduh yang bukan-bukan. Tapi pada kenyataannya bukan hanya hal itu yang membuat Miana marah kepada Prasetyo. Dan bahkan Miana memilih diam daripada harus meluapkan semua emosi dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2