Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Menjelaskan


__ADS_3

"Ayah sama ibu ada? " Tanya Miana yang saat ini sudah berada di ruang tamu rumah tuan Heri dan nylnya Yanti.


" Tuan sedang tidak ada Non, tapi Nyonya ada di rumah." jawab seorang art yang kini membukakan pintu untuk miana dan kedua anaknya. Miana mengangguk.Iya segera berdiri lalu berjalan berusaha mencari ibunya. Baru beberapa langkah iya mengayunkan kaki, Sudah terdengar langkah kaki yang semakin mendekat. Begitu Miana melihat siapa yang berjalan tersebut, iya langsung tersenyum.


"Ibu..."Panggil Miana. Dan bu Yanti pun segera mendekat.


"Miana... Kenapa kamu kesini? " Tanya bu Yanti.


"Anu bu... Ehmm, Kita duduk dulu ya nanti miana jelaskan" Miana berkata dengan suara terbata-bata.


" Ya sudah ayo sekarang kita duduk di situ" sambil menunjuk sofa yang berada di ruang keluarga, Ibu Yanti mengajak anaknya untuk mengikuti dirinya menuju ke ruang keluarga itu.


"Anak-anak mana? Kamu ke sini sendirian? " Karena Dara dan Jelita tidak terlalu berisik Jadi Ibu Yanti tidak melihat keberadaan kedua cucunya yang saat ini duduk di sofa ruang tamu.


"Anak-anak ada di depan bu. Mereka duduk di ruang tamu" Miana menjawab sambil berjalan di belakang sang ibu.


" Kenapa nggak disuruh untuk duduk di sini saja. Dara, Jelita Kemarilah." Sang nenek yang memanggil ke dua cucunya dengan sedikit berteriak. Dan di saat itu juga, Iya mendengar jawaban.


"Iya nek. Dara sama jelita di sini aja dulu. Ini masih lihat ikan" Ke dua anak itu menyahut. Akhirnya ketika sudah mendengar apa yang cucu nya katakan, bu Yanti terlihat begitu lega.


"Ehm... Kok mereka lihat ikan? Apa ibu punya ikan baru? " Tanya Miana yang bingung mendengar jawabn dari sang anak.


"Emangnya kamu ngga lihat di dekat ruang tamu? " Bu Yanti menjawab anaknya.

__ADS_1


"Ngga bu" Miana menggeleng.


"Ayahmu mendapatkan undian satu set aquarium yang mirip dengan kehidupan laut beberapa hari yang lalu. Memang sangat bagus, mungkin Dara dan jelita menyukainya" Bu Yanti menjawab ketidaktahuan aang anak.


"Wah.. Pasti bagus ya buk. Nanti Miana mau lihat juga" Ucap Miana.


"Kalau kamu mau terus mau di bawa pulang juga boleh" Bu Yanti tersenyum.


"Hahaha... Ngga ah bu. Di rumah Miana sudah ada" Miana seakan enggan untuk berbuat se enaknya meskipun itu rumah orang tua nya sendiri.


"Oh iya Miana. Tadi ada masalah apa kok kamu ke sini? " Tanya sang bu mulai terlihat serius. Dan Miana sedikit menunduk Sebari menarik nafas dalam-dalam. Lalu iya menghembuskan dengan kasar nafas yang baru saja di hirupnya itu.


"Ini bu..." Miana terdiam setelah menyerahkan sebuah amplop coklat.


"Pengadilan Negeri? " Ucap Bu Yanti. Iya tak berkata apa-apa lagi dan langsung melihat isi nya. Begitu iya sudah membukanya, Bu Yanti merasa terkejut dengan goresan tinta yang berada di atas kertas tersebut. Rangkaian kata-kata yang begitu runtut menuntut bu Yani untuk membacanya.


"Prasetyo menceraikan kamu? " Dengan perasaan campur aduk, Bu Yanti mampu merangkat kata menjadi kalimat tanya untuk putrinya. Melihat Miana yang mengangguk, iya merasakan lemas di seluruh tubuhnya.


"Kenapa mereka sekeras batu ingin menghancurkan kamu nak? Sebenarnya apa yang kamu lakukan ke kakak mu sehingga dia benar-benar tidak berperasaan menyakiti kamu dan ke dua keponakannya sendiri? " Bu Yanti terlihat begitu syok mendengar berita ini langsung dari sumbernya.


"Ibu jangan khawatir. Miana akan tetap kuat seperti yang ibu lihat. Miana bukan anak kecil lagi bu." Miana mencoba tetap menguatkan hati ketika orang tuanya meneteskan buliran bening yang melewati pipi kanan dan kirinya.


"Kamu sudah merasakan sakit yang luar biasa dari semua kejadian ini. Ibu berharap kamu tetap kuat menjalaninya." Bu Yanti memeluk sang anak di depannya. Hingga ada suara yang kini menyadarkan mereka berdua.

__ADS_1


"Nenek... Mama..." Panggil Dara dan Jelita secara bersamaan.


"Dara, Jelita" Sahut kedua wanita beda generasi itu.


"Mama, cerai itu apa? Kok nenek bilang kalau papa menceraikan mama" tanya Dara yang saat itu belum mengerti. Bu Yanti dan Miana saling memandang. Mereka bingung mau menjawab apa.


"Apa in saatnya anak-anak tahu tentang semuanya. Aku tidak ingin mereka tahu dari orang lain" Miana bergumam dalam hati sembari memikirkan. Iya masih ragu untuk emmberitahu anak-anaknya karena takut kedua anak tersebut juga akan ikut terluka.


"Sayang, sini duduk dulu di dekat mama dan nenek" Sambil tersenyum yang di paksakan. Miana mengajak ke dua anaknya untuk duduk di antara diri nya dan sang ibu. Dan kali ini juga, Miana bingung harus mulai mengatakan dari mana. Sedangkan kedua gadis kecil itu menatap lekat ke arah sang mama seakan menuntut jawaban.


"Mama... Mama akan menjelaskan kepada Dara dan Jelita kan apa itu perceraian? " Dara kembalkkb berkata. Dan akhirnya, mau tidak mau Miana langsung mengangguk.


"Bismillah... Semoga anak-anak tidak sakit hati. Maafkan mama ya nak. Kalian harus kehilangan ayah kalian" Miana menatap ke arah kedua anaknya sembari berkata dalam hati.


"Dara jelita... Mama mau bicara hal yang penting kepada kalian berdua. Tapi kalian harus janji sebelum mama berhenti berbicara, kalian tidak boleh menyela ataupun Memotong pembicaraan mama Baik itu dengan pertanyaan ataupun dengan komentar. Kalian dengarkan? " Miana merasa berdebar-debar ketika akan memberitahukan hal sepenting ini kepada kedua anaknya.


" Iya Mah kita berdua berjanji sesuai dengan apa yang mama katakan" Dara menjawab dengan tegas apa yang baru saja disampaikan oleh mamanya. Sedangkan Miana menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa berdebar di hatinya. Rasa khawatir Itu benar-benar ada dan belum mau pergi. Tapi Miana tidak akan membiarkan anak-anaknya tahu dari orang lain.


"Sayang untuk pertanyaan yang pertama, perceraian itu adalah perpisahan" Miana menjeda apa yang ia katakan.


" Perpisahan... Perpisahan antara mama dan papa" nafas Miana seakan terhenti ketika ia mengatakan itu di depan putrinya. Iya menatap kedua putrinya. Terlihat bola mata yang indah tersebut berkaca-kaca. Miana hanya mampu menunduk untuk menahan air matanya agar tidak menetes. Dara dan Jelita sama sekali tidak bertanya ataupun memprotes apa yang dikatakan oleh sang mama. Namun air mata itu perlahan menetes. Terjatuh membasahi pipi dan turun membasahi hati. Mungkin saat ini Dara dan Jelita berperang melawan luka yang baru saja ia dapatkan.


"Saat ini, Papa sama Mama sudah tidak bersama lagi. Papa sama Mama memilih untuk menempuh jalan kita masing-masing. Karena papa sudah memiliki keluarga baru di luar sana" suara Miana benar-benar tercekat di dalam tenggorokan. Seakan semua yang ia katakan benar-benar berat. Namun mau tidak mau, kenyataan pahit harus ia terima. Dipandangnya kedua anak gadis yang masih kecil di depannya itu. Mereka tidak berkata sepatah kata pun. Namun air mata itu semakin deras untuk menetes. Miana mengerti, Iya benar-benar mengerti apa yang saat ini dirasakan oleh anak-anaknya. Kehancuran di hati yang tak terlihat. Serta luka yang tidak berdarah. Dan semua itu benar-benar sungguh sangat menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2