
Sesampainya di kamar, Miana mempersiapkan apa yang harus di bawanya besok. Dan di saat sedang asik berkemas, Miana mendengar ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
"Halo Assalamu'alaikum" Ucap Miana setelah menggeser layar ponselnya.
"Wa'alaikumsalam wr wb" Jawab seseorang dari seberang telepon.
"Apa aku mengganggu? " Tanya lelaki itu lagi yang ternyata adalah Bagas.
"Tidak... Ada apa? " Miana memencet tombol loud speaker lalu melanjutkan berkemas. Tinggal sedikit lagi iya harus menyelesaikannya.
"Boleh ngobrol? " Tanya Bagas kembali.
"Silahkan" Miana mempersilahkan Bagas untuk memulai percakapan.
"Kamu jam segini belum tidur? Apa masih banyak pekerjaan? " Tanya Bagas memulai obrolannya.
"Ngga, ini hanya berkemas saja. Besok ada acara di luar kota" Jawab Miana.
"Wah... Sayang sekali ya. Padahal aku mau mengajak kamu ke luar kota juga. Tapi kamu malah ada acara ternyata" Bagas menyayangkan waktu yang bersamaan dengan acaranya Miana.
"Ngga bisa Bagas. Aku ada urusan" Miana menjawab dengan baik.
"Memangnya mau ke mana? " Tanya Bagas ingin tahu.
"Menghadiri undangan mantan" Jawab Miana tanpa ragu untuk menutupinya.
"Maksud kamu ke acara pernikahan Prasetyo? " Tanya Bagas lagi.
"Kamu tahu hal itu? " Miana semakin penasaran karena Bagas bisa mengetahui jika Prasetyo mau menikah.
"Desas desus itu sudah beberapa hari yang lalu tersebar di kalangan rekan bisnis. Apa kamu tidak tahu? " Tanya Bagas.
"Tahu... Tapi aku mencoba untuk tidak mau tahu" Miana menjawab dengan suara dingin nya.
"Kamu acara nya juga mau ke sana? " Bagas mencoba bertanya.
"Iya..."
"Kita bisa berangkat bersama" Tiba-tiba Bagas mengatakan tujuannya.
"Apa kamu sedang merencanakan sesuatu? " Tanya Miana.
"Kurang lebih seperti itu" Jawab Bagas dengan enteng nya.
"Apa itu? " Miana masih terus bertanya.
"Rencana untuk kita, Rendy dan juga Parlan" Jawab Bagas.
"Kita? " Miana mengulangi apa yang di katakan oleh lelaki di seberang telepon.
"Iya... Kalau boleh, aku ingin lebih dekat dengan mu seperti dulu" Ucap Bagas. Membuat Miana melongo.
"Apa aku tidak salah dengar? " Tanya Miana kembali.
"Besok aku jemput. Jangan pergi sebelum aku datang ya" Ucapan Bagas membuat Miana jadi memikirkan sesuatu.
"Oke... Aku akan menunggu. Tapi, anak-anak pagi masih sekolah" Miana langsung menyetujui.
"Oke... Karena acaranya malam, kita bisa berangkat siang saja. Pagi aku masih ada meeting dengan client. Besok aku akan ke rumahmu" Bagas mengulangi ucapannya.
"Oke..." Miana setuju. Setelah itu, Miana menutup panggilannya. Iya juga sudah selesai berkemas. Tanpa menunggu apapun lagi, Miana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Siang hari, sepulang Dara dan Jelita pulang sekolah, Bagas sudah berada di rumah Miana. Iya menunggu kedatangan Dara dan Jelita di sofa ruang tamu.
"Bagas... Kok sudah di sini aja? " Miana bertanya setelah melihat Bagas ternyata sudah ada di rumahnya.
"Setelah kamu mengabari kalau Dara dan Jelita pulang lebih awal, aku langsung ke sini" Jawab Bagas sambil tersenyum.
"Om Bagas ikut kita? " Tanya Dara. Bagas mengangguk.
"Tapi aku mau om Parlan pura-pura jadi papa ku. Boleh ya ma? " Tanya Jelita dengan penuh kepolosan. Membuat Parlan menoleh.
"Iya sayang. Nanti om Parlan juga ikut. Nanti..." Belum selesai Miana mengakhiri kata-katanya, Ada seseorang mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum" Ucap seorang lelaki. Dan ternyata itu adalah Rendy.
"Wa'alaikumsalam wr wb." Jawab semua orang di ruanhan itu.
"Ya sudah... Karena semua sudah siap, aku ganti baju dulu" Miana pamit lalu pergi meninggalkan ruangan tamu.
"Hampir 10 menit. Miana kembali bersama anak-anaknya. Mereka langsung ke ruang tamu. Namun ada satu hal yang mmebuat Miana terkejut.
"Desita? " Ucap Miana. Yang di panggil hanya tersenyum dengan kikuk.
"Sudah siap? Ayo kita berangkat" Ajak Bagas, dan ternyata di sana ada satu orang perempuan lagi yang tak Miana kenal.
"Ini siapa? " Tanya Miana di saata ak keluar dari rumahnya.
"Ini sepupu aku" Jawab Bagas.
"Kita bawa mobil berapa? " Tanya Miana lagi.
"2 lah. Kalau 1 ngga mungkin muat" Ungkap Bagas.
"Oke, kita naik mobil masing-masing." Miana menuju ke mobilnya. Dan Bagas juga begitu. Akhirnya Miana berdandan di perjalanan.
"Ayuk..." Bagas mengajak sepupunya yang bernama Rena dan menggandengnya masuk ke dalam gedung.
"Ayo Desita" Rendy meraih lengan Desita lalu mengajaknya masuk pula.
"Om Parlan ayo" Dara menggandeng tangan kekar Parlan dan mengajaknya masuk. Jelita pun mengikuti sang kakak meraih tangan sang mama. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan.
Sesampainya di depan pintu gedung, penjaga meminta undangan untuk di tunjukkan. Dengan baik Miana pun menunjukkan. Di susul semua yang tadi berangkat bersamanya. Acara sudah hampir di mulai. Miana mencari tempat duduk yang sekiranya muat untuk rombongannya.
"Itu ma" Tepat di depan kursi tempat duduk kedua mempelai, Dara menunjuk kursi kosong di sana. Mau tak mau Miana menuruti anak-anaknya. Bersama dengan rombongan, mereka berjalan menuju ke tempat itu.
Dari singgasana ratu dan raja sehari, Atika dan Prasetyo memandang mantan istri dan kedua anak nya yang berjalan melewatinya tanpa menyapa. Ada perasaan tersayat dalam hatinya karena sang anak tak menyapanya sedikit pu . Namun karena banyak orang, Prasetyo hanya bisa diam.
"Kemarilah..." Dara memanggil kedua putri nya saat sudah duduk.
"Kita harus memberi selamat kepada mereka ya" Ucap Miana sembari menunjuk ke arah Prasetyo dengan dagu nya. Dara dan Jelita mengangguk.
"Apa mau sekarang? " Tanya Bagas.
"Lebih cepat lebih baik" Ucap Miana.
"Parlan... Ayuk" Miana memanggil Parlan. Akhirnya mereka semua berdiri. Berjalan mendekat ke arah Prasetyo dan Atika berada. Dara dan Jelita berada di barisan paling belakang di belakang Miana dan Parlan. Yang paling duluan adalah Rendy yang menggandeng lengan Desita tanpa menyentuhnya sedikitpun. Di belakangnya adalah Bagas yang mengandeng sepupunya. terlihat begitu serasi.
"Selamat tuan Prasetyo" Ucap Rendy menjabat tangan Prasetyo.
"Terima kasih tuan Rendy. Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk datang di hari bahagia kami" Prasetyo tanpa malu mengatakan itu. Di susul oleh Bagas yang menggandeng sepupunya.
"Tuan Bagas, terima kasih atas kehadirannya. Anda sangat serasi dengan pasangan anda" Ucap Prasetyo tanpa mengetahui siapa wanita di samping Bagas. Setelah nya Bagas pun berlalu. Ada Miana yang memandang dengan tajam ke arah Atika dan Prasetyo.
__ADS_1
"Selamat" Hanya itu yang di katakan oleh Miana. Iya langsung berjalan tanpa mempedulikan Prasetyo lagi.
"Miana..." Panggil Prasetyo sembari meraih lengan Miana.
"Jangan menyentuhku. Kita bukan siapa-siapa lagi" Ucap Miana ketus. Iya memandang ke arah Atika. Terlihat wanita itu melihat tangan Prasetyo yang baru saja meraih lengan Miana.
"Selamat kakak ku tercinta. Aku turut bahagia dengan pernikahan kalian" Miana berkata dengan malas.
"Miana, maafkan aku" Ucap Prasetyo.
"Tidak ada yang perlu di maafkan." Jawab Miana tanpa memandang ke arah Prasetyo. Ada air mata yang jatuh ke hatinya. Bukan karena pernikahan mantan suami dan kakaknya. Namun karena mereka berdua tega menghancurkan anak-anak yang tidak bersalah itu. Miana langsung mempercepat langkahnya.
"Selamat tuan" Ucap Parlan.
"Terimakasih" Prasetyo emmandang ke arah Miana yang meninggalkan anak-anak di sana.
"Selamat" Dara berkata dengan ketus. Ada rasa sakit dan kecewa yang melebur jadi satu.
"Sayang, Maafkan papa" Prasetyo tak bisa membendung air matanya. Namun Dara telah berlalu dari hadapannya. Tak ada air mata yang menetes.
"Papa? " Panggil Jelita yang masih di sana.
"Jelita..." Prasetyo mengusap titik bening di sudut matanya.
"Papa jahat, papa ngga sayang sama aku. Benar kata kak Dara, kita sudah tidak punya papa lagi. Papa kita sudah mati. Bukan mati raganya, tapi mati hatinya. Dan budhe, kata kak Dara, budhe adalah setan yang seperti ulat. Di mana pun berada, pasti merusak. Mulai detik ini, aku tidak punya papa, sama seperti yang di ucapkan oleh kak Dara." Ucapan Jelita di dengar oleh banyak orang. Sehingga Atika dan Prasetyo menjadi sedikit malu. Banyak bisik-bisik di tempat itu.
"Sayang, papa minta maaf. Budhe juga minta maaf" Ucap Prasetyo dan Atika bergantian. Terlihat Jelita mengusap air mata yang membasahi pipi nya.
"Papa jahat, budhe jahat" Teriak Jelita sehingga menyita perhatian banyak orang di gedung itu. Jekita berlari keluar dari gedung. Di saat Prasetyo akan mengejarnya, Atika menahannya.
"Jangan pergi" Cegah Atika. Dan Prasetyo pun kembali terdiam.
Di luar ruangan, Jelita menangis meraung. Miana dan yang lain langsung mengejarnya. Parlan yang lebih sigap mengejar anak itu.
"Jelita" Panggil Parlan.
"Om Parlan, om saja yang menjadi papaku. Papa jahat. Dia lebih memeilih budhw dan Firman daripada kita dan Mama." Jelita memeluk Parlan sambil menangis.
"Sabar ya. Om akan menjadi ayahmu" Ucap Parlan. Tak lama kemudian, Miana dan yang lain datang. Air mata menetes dari beberapa pasang mata yang melihatnya.
"Mama... Jelita benci sama papa. Papa jahat" Jelita memeluk Miana dengan tangisnya. Dara hanya terdiam. Dan Miana membalas pelukan sang putri.
Beberapa menit berlalu. Jelita sudah sedikit tenang dari keadaan nya yang semula.
"Tenang ya sayang. Masih ada mama dan..." Ucapan Miana terhenti ketika melihat Prasetyo berdiri di sampignnya.
"Jelita..." Panggil Prasetyo.
"Papa jahat, Jelita ngga mau sama papa" Jelita melengos tak mau menatap sang papa. Membuat Prasetyo beralih tempat.
"Jelita, Dara..." Panggil Prasetyo.
"Papa jahaaat" Teriak Jelita, iya langsung berlari. Dan semua orang yang di sana langsung mengejar Jelita lagi. Kali Ini Jelita berlari ke arah jalan raya.
Jelita menyebrang jalan raya tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan ketika sudah berada di pinggir, Ada sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi.
"Tiiin tkn tiin tiiiiiiiin"
"Jelitaaaaa" Miana, Parlan, Bagas dan Rendy berteriak. Alhamdulillah, Jelita tidak tertabrak. Akhirnya mobil itu pun kembali berlalu.
"Jelita..." Setelah mobil yang hampir menabrak Jelita tadi berlalu, Miana segera berlari mencari anak nya ada di mana. Setelah berada di pinggir jalan, Miana berteriak karena ternyata seberang jalan itu adalah jurang.
__ADS_1
"Jelitaaaaaaa" Miana histeris. Semua orang panik karena Jelita tak ada di seberang jalan. Termasuk Prasetyo.