
Sebuah mobil berhenti tepat di halaman rumah miana. Miana hanya mendengar bahwa ada mobil yang datang. Iya juga belum keluar karena ia ingin mempersiapkan hatinya.
" Selamat pagi menjelang siang... Miana kamu di mana? " Atika melenggang masuk ke dalam rumah setelah turun dari mobil. Diikuti oleh tante Aya di belakangnya. Namun yang menyambut bukannya Miana tapi malah Prasetyo. Dan Hal itu membuat Atika menjadi begitu girang.
"Tiyo" Panggil Atika. Namun Tiyo malah meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri. Mengisyaratkan kepada Atika untuk diam. Yang pasti mengisyaratkan agar tidak berlebihan.
"Tika, Miana ada di kamar, bersikaplah yang baik agar dia tidak curiga" Bisik Prasetyo. Dan Atika pun mengangguk.
"Tante Aya... Apa kabar? Lama tidak bertemu" Kini Prasetyo pura-pura menyapa tante dari istrinya itu.
"Biar saya panggil Miana terlebih dahulu" Prasetyo pun segera berlalu memanggil istri sahnya. Baru sampai di depan pintu, Miana sudah terlihat berjalan keluar.
"Miana, Kak Tika sama tante Aya datang" Ucap Prasetyo.
"Saya sudah tahu" Miana masih bersikap cuek dan dingin.
Sesampainya di ruang tamu, Miana melihat tante dan kakaknya. Kali ini batinnya benar-benar tersiksa. Iya teringat kembali pertama kali melihat Atika dan prasetyo yang masuk ke dalam hotel dengan bergandengan tangan. Belum lagi video kiriman dari pegawai hotel yang membuat hatinya luluh lantah tak berbentuk lagi. Miana tersenyum mencoba untuk menetralkan hati dan pikirannya. Setelah menarik nafas panjang, Iya perlahan masuk ke ruang tamu menghampiri Atika dan tante ayah.
"Kak Tika tante Aya? " Miana mencoba untuk tegar di saat menyapa pelakor penghancur rumah tangganya.
"Miana..." Tika segera berdiri menghampiri adiknya. Tanpa aba-aba Atika memegang lengan miana lalu mencium pipi kanan dan kiri. Selanjutnya tante Aya mengikuti apa yang dilakukan oleh Atika. Dan sungguh Miana ingin muntah oleh perilaku serigala berbulu domba itu.
" Lama nggak ketemu ya Mian, lama banget tante nggak ke sini" tante Aya basa-basi.
__ADS_1
" Iya tante. Bunda kamu juga udah lama nggak ke sini. Kak Tika juga, mungkin tante sama Kakak sedang sibuk ya" Miana tersenyum sambil menanggapi apa yang tantenya katakan.
" Kita ke ruang makan yuk, tante sama Kakak udah sarapan belum? " dalam hati sebenarnya Miana ingin mengusir kedua orang itu. Bukan hanya dua orang namun ia ingin juga mengusir suaminya. Namun apalah daya, Miana masih menahan semua emosinya. Miana masih memendam segala Luka yang ia rasakan.
" Kebetulan banget Aku juga belum makan Mian. Kamu masak apa hari ini? " Tanpa mengulangi ajakan dari Miana, Atika langsung berdiri dan berjalan menuju ke ruang makan.
"Ada beberapa jenis masakan kak. Ayo makan saja" Miana berkata dengan baik. Dan akhirnya mereka bertiga duduk di ruang makan.
"Ah, Aku kenyang sekali. Makasih ya Mian" Atika menyandarkan punggungnya di kursi.
"Maaf, nanti aku bakal jemput Dara dan Jelita. Kakak sama Tante aku tinggal nggak apa-apa kan. Soalnya pagi-pagi tadi, mereka bilang kalau mau dijemput sama aku." Miana mengatakan niatnya.
" Nggak apa-apa, kan jemput mereka nggak bakalan lama. Aku bakal nunggu kamu di sini." Atika merasa santai setelah makan.
"Oke... Ayuk ah kita nonton tv dulu" Miana bangkit lalu berjalan terlebih dahulu. karena etika dan tante Aya belum juga berdiri, Miana memperbaiki letak posisi kamera tersembunyi yang diletakkan paruhan di beberapa tempat. Dia belum bisa mengecek saat ini karena keadaannya belum pas. Miana juga mengaktifkan volume recorder supaya ia lebih jelas mendengarkan suara terkecil. Begitu selesai Ia pun kembali ke ruang tengah.
" Mian, jam berapa anak-anak pulang? " pertanyaan dari Atika membuat Miana tersadar.
" Jam 12.00-an lebih kak" jawabnya santai.
" Oh iya... Boleh nggak aku lihat koleksi tas sama sepatu kamu? " tanpa rasa malu Atika mengatakan hal tersebut.
" Boleh dong Kak lihat aja. Ada di lemari di ruang ganti"
__ADS_1
" masa iya aku harus ke sana sendiri. kan di sana ada Prasetyo. Nanti dikiranya aku ngapa-ngapain lagi sama dia" sungguh Atika begitu pandai untuk bersandiwara.
" Kayak sama siapa aja sih. Kalau mau lihat ya lihat aja palingan juga Mas Tio sedang istirahat." Kali ini Miana berusaha merasa bodo amat.
"Ngga ah, nanti malah ganggu istirahatnya Tiyo" Atika berpura-pura.
" Ya sudah ayo aku anterin ke sana" kali ini miana tidak ingin kalah dari Atika. ia mengajak Atika masuk ke dalam kamarnya. Dan tepat di sana ada Prasetyo yang sedang duduk di atas tempat tidur.
" Miana..." Prasetyo bangkit saat melihat niana masuk ke dalam kamar. Namun dia juga terkejut ketika Atika mengikuti di belakangnya.
" Ayo kak masuk. Di sana tempat koleksi tas aku pemberian dari suamiku tercinta. Koleksi sepatu yang aku simpan selama ini. Dan di sini tempat baju-baju kami" Miana melirik ke arah suaminya yang terlihat gugup.
" Aku harus melakukan sesuatu" Miana berkata di dalam hati.
" Ayo Kak lihat aja di sana! " Miana mulai beraksi. Di ajaknya Atika ke ruang ganti untuk melihat semua koleksi tas dan sepatu mahal miliknya.
" Ini tas keluaran terbaru dari produk xxx. Mas Tio membelikanku sekitar 2 minggu yang lalu. Harganya nggak seberapa. Kalau yang ini sudah lama. tapi aku masih menyukainya. Mungkin Nanti kalau sudah nggak suka, misalnya Kakak mau ngambil, ambil aja" ketika berkata dengan niat sedikit menyindir.
" Kakak sudah punya banyak. nanti kalau misalnya Kakak mau pinjam, Bolehkah kakak pinjam yang terbaru" Atika yang tak mengerti dengan bahasa satir Miana berkata dengan polosnya.
" Oh boleh lah... Kakak ambil juga boleh. Nanti aku bakal beli yang baru lagi" jawab miana dengan entengnya.
"Ehmmm, aku mau ke kamar mandi dulu ya kak. Sebentar aja" Miana melenggang meninggalkan Atika. Disaat Atika masih sibuk melihat-lihat koleksi tas di lemari kaca yang berada di depannya, Miana meletakkan 1 kamera tersembunyi yang mampu menjangkau keadaan di kamar. Setelahnya iya masuk ke kamar mandi, menngkoneksikan antara kamera tersembunyi tersebut dengan ponsel miliknya.
__ADS_1
"Begitu aku sudah mengumpulkan semua bukti, aku akan membuat kalian menangis. Maafkan aku. Aku tidak bisa bertahan kalau aku harus terluka di batinku. Demi sebuah kewarasan, aku memilih untuk bertahan dengan perlawanan, atau mundur dengan mengkihlaskan" Miana bergumam lirih dengan tangan yang sibuk mengotak-atik ponselnya. Begitu selesai, iya pun mematikan ponselnya lalu memasukkan ke dalam saku kembali. Iya keluar dari kamar mandi. Saat melihat Atika yang memandang ke arah Prasetyo, ada gemuruh yang berguncang di dadanya. Namun Miana harus tetap bertahan.
"Brak" Miana sengaja menendang pintu kamar mandi lalu pura-pura jatuh. Supaya Atika tersadar. Dan akhirnya Atika menyadari jika Miana sudah keluar dari kamar mandi.