Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Became A Wonder Woman


__ADS_3

Lelaki yang menjabat sebagai direktur entah dari devisi apa itu menggeleng. Namun rasa khawatir telah hinggap di dalam dada mendengar pertanyaan hari Hendra.


"Berani-beraninya kamu menyentuh anak-anak ku, silahkan kemasi barang-barangmu dan tinggalkan perusahaan ini" Kali ini Miana mengambil keputusan tanpa harus meminta pendapat kepada Hendra ataupun yang lain.


"Nyonyaa... Saya mohon... Maafkan saya karena sudah melakukan hal yang tidak seharusnya saya lakukan kepada anak-anak anda. Saya tidak tahu nyonya" Ucap lelaki itu.


"Silahkan beralasan sebanyak apapun. Aku tidak membutuhkan orang-orang sepertimu di perusahaan ini" Ucap Miana tanpa menoleh. Meraih lengan kecil Dara dan Jelita.


"Nyonya, saya hanya tidak ingin tatanan taman ini rusak, makanya saya menegur mereka. Dan karena saya tidak tahu karena mereka adalah anak-anak anda, saya bersikap seperti ini" Alasan itu muncul demi membela tatanan taman yang apik. Namun iya lupa, bahwa anak-anak yang sedang d hadapinya adalah anak-anak penting dalam perusahaan itu.


"Bahkan saya rela mati demi anak-anak saya. Kalaupun taman ini rusak hanya karena mereka memetik seluruh bunga nya, saya tidak akan rugi" Miana seakan membungkam karyawan yang merasa dirinya sangat berpengaruh itu.


"Saya mohon maaf nyonya. Saya yang salah dalam hal ini.bSaya yang terlebih dahulu menegur anak-anak nyonya. Saya mohon maaf atas ketidaktahuan saya" Satpam yang sejak tadi terdiam itu kini berkata.


"Tadi aja marahin kita terus. Tapi sekarang minta maaf begitu tahu siapa kita" Celetuk Dara.


"Iya" Dan di sahut oleh Jelita.


"Maafkan saya nona. Saya berjanji tidak aakn melakukan hal seperti ini lagi. Saya benar-benar tidak tahu jika anda adalah anak dari pemilik perusahaan ini" Satpam tersebut dengan takut meminta maaf.


"Kan tadi aku sudah bilang, kita bilang mama biat mereka d pecat. Tapi om berdua ngga percaya, malah menghina. Jadi buktikan saja kalau kalian memang tidak takut kepada kita" Dara kembali berkata. Apa yang di katakan satpan dan direktur tadi telah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


"Maafkan kami nilona cantik. Kami tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi" Ucap direktur itu.


"Tanpa kalian bilang aku cantik, Allah sudah menakdirkan kecantikan kepadaku. Jadi biar mama aja yang memutuskan" Dara berbicara. Mungkin hatinya sudah terlanjur tersinggung dengan dua orang lelaki dewasa di depannya itu.

__ADS_1


"Kemasi barang-barang kalian. Dan serahkan surat pengeunduran diri ke kepala HRD. Mulai besok, aku tidak ingin kalian berdua ada di sini"


"Hendra, kamu urus pesangon untuk mereka sesuai dengan masa kerja! " Miana kali ini bersikap seolah-olah tak memiliki perasaan. Hal itu membuat Parlan mengerutkan dahinya karena terkejut melihat sikap Miana yang berubah. Parlan menjadi bingung dengan sifat pemurah Miana yang telah hilang. Miana terlihat begitu kejam kepada orang-orang yang telah menyakiti dirinya atau pun Dara dan Jelita.


"Dara, Jelita... Ayuk kita pulang nak. Urusan mama sudah selesai" Dara dan Jelita langsung berjalan di belakang sang mama. Sedangkan Parlan langsung membuntuti mereka bertiga.


"Tuan Hendra... Tolong saya. Saya tidak ingin di pecat" Ucap Direktur yang tadi bersikap sombong tersebut dengan nada memelas.


"Saya bukan pemilim perusahaan. Jadi saya tidak bisa menolong kalian. Semua keputusan ada di tangan nyonya Miana. Makanya kalau mau berbuat sesuatu, fikirkan dulu semuanya agar tidak menyesal. Jangan menggunakan jabatan hanya untuk menindas dan menghina orang lain."


"Sekarang lakukan apa yang di katakan oleh nyonya Miana tadi. Jangan sampai membuat beliau marah kembali" Hendra melanjutkan ucapannya. Dua orang berda jabatan itu di tinggalkan oleh Hendra dengan keadaan kecewa. Mereka menghela nafas berat karena harus kehilangan pekerjaan.


Pov Miana.


"Lain kali, kalau ada yang berani berbuat tidak baik kepada kalian di perusahaan, kalian harus lebih berani ya nak" Miana mebgatakan itu, membuat Parlan yang berada di sampingnya membulatkan mata karena terkejut. Terkejut karena perubahan Miana yang tiba-tiba menjadi keras kepala.


"Annu... Miana? "Panggil Parlan.


"Kenapa? " Miana menyahut.


"Kamu sedang baik-baik saja kan? " Parlan dengan ragu-ragu mengutarakan apa yang menjadi beban fikiran nya sejak tadi.


"Apa kamu tidak melihat aku yang baik-baik saja? " Tanya Miana ganti.


"Maksud aku, kenapa kamu tibactiba berubah. Dari Miana yang ramah dan penuh kasih sayang, menjadi Miana yang tegas dan tak kenal ampun" Parlan dengan hati'hati mengungkapkan.

__ADS_1


"Pada hakikatnya, wanita akan bisa menjadi singa ketika iya terusik dan di sakiti. Karena kenyamanan dalam sikap baiknya hanya akan menyakitinya. Demi tidak terjatuh pada kubangan luka yang sama, iya akan mengeluarkan sisi bar-barnya" Miana menjawab dengan santai.


"Mama terlihat keren sekali. jadi nanti kalau misalnya kakek dan uti menyakiti mama, mama bisa bersikap keren seperti tadi" Dara yang merasa bangga dengan apa yang dilakukan Miana mengungkapkan rasa kagumnya.


"Kalau kamu bersikap seperti ini terus, aku yakin kamu akan menjadi wanita tangguh yang di segani banyak orang. Bukan hanya di segani, kamu pasti akan di takuti oleh oranf-orang yang tidak berpihak kepadamu" Parlan berkata.


"Aku tidak akan membiarkan diriku dan anak-anakku di sakiti oleh siapapun. Termasuk... Ayahnya sendiri" Miana menjeda apa yang di katakannya.


"Jadilah wanita tangguh" Parlan menyambung.


"Bukan hanya wnaita tangguh. Aku juga janda tangguh dan kaya. Kamu lihat kan aku punya banyak aset di perusahaan. Separuh dari seluruh perusahaan itu adalah milikku. Dan mulai sekarang, aku akan mengelolanya sendiri. Akan aku buktikan ke mereka yang sudah merendahkan dan menghinaku, bahwa aku bukan wanita lemah" Apa yang di ungkapkan oleh Miana membuat Parlan dan kedua anaknya melongo.


"Jadi sayang... Kalian berdua harus berusaha semaksimal mungkin untuk biaa membantu mama kelak kalau kalian sudah besar di masa depan. Kita harus tumbuh menjadi wanita kuat" Miana menoleh ke belakang, lalu mengatakan itu kepada anak-anaknya. Dara dan Jelita pun mengangguk. Entah mereka mengerti atau tidak yang di ucapkan Oleh sang mama. Yang pasti, mereka juga mengerti, di balik berubahnya sikap Miana, berarti dengan perlahan iya pamit pada bayangan masa silam yang menyakitkan. Iya bangkit dan berjalan menuju ke masa depan penuh harapan. Miana akan tumbuh menjadi wanita tangguh.


"Mama, kita akan menjadi seprti apa yang mama inginkan. Tapi biarkan kita bisa mengambil keputusan sendiri" Dara berkata dengan serius. Dan Miana tersenyum lalu mengangguk. Mereka ber empat menaiki mobil yang melaju menuju arah pulang.


Salam kepada seluruh readers ku. mohon maaf karena hanya bisa up 1 bab saja. Karena kesibukan menyambut hari Raya idul Fitri.


Selamat membaca, selamat menunaikan ibadah puasa.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.


Aithor selalu siap menerima saran dan kritik yang membangun.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2