
Acara makan malam yang dirangkap dengan lamaran tersebut berjalan dengan sangat lancar. Bagas merasa bahagia mendengarkan apa yang diinginkannya telah tercapai. Iya jadi merasa tidak sabar untuk segera bisa mempersunting miana menjadikan istri sah.
" Miana... Terima kasih sudah menerima lamaranku. Aku tidak bisa berjanji untuk membahagiakanmu selalu. Tapi aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kita dan anak-anak kita. Besok pagi-pagi sekali aku akan berangkat untuk melihat tempat yang telah aku sebutkan tadi. Semoga Jelita cepat ditemukan" Bagas merasa sangat berkesan dengan hari ini. Ia pun merasa semangat untuk mencari jelita kembali.
" Bagas, Apa kamu tidak menyesal telah melamar seorang janda beranak dua seperti aku? " miana bertanya kepada bagian yang saat ini duduk di sampingnya di dalam mobil Untuk mengantarkan dirinya ke pulang ke rumah. tapi miana berani bertanya setelah dilihatnya darah tertidur di kursi belakang.
" Kalau aku boleh jujur. Sebenarnya sudah lama aku mencintai kamu. Dulu saat aku lulus sekolah aku berencana untuk melamarmu dan kita akan menikah muda. Tapi kenyataan berkata lain. Kamu lebih memilih menerima lamaran dari Prasetya yang saat ini yang saat itu jauh lebih mapan di atasku" Bagas mengungkapkan kekecewaannya saat ini kepada Miana tentang masa lalunya.
" Mana ada Prasetyo yang lebih mapan dari kamu. Yang ada aku terlalu takut untuk menerima cintamu Karena Kamu benar-benar terlahir dari keluarga konglomerat. Aku merasa tidak pantas untuk bersanding dengan seorang Putra bangsawan sepertimu. Putra dari keluarga orang terhormat yang membuat aku benar-benar ingin mundur untuk mendapatkan cintamu" Miana baru berani jujur kepada Bagas. Membuat hati Bagas kembali menghangat.
" Tapi aku masih ragu untuk menerima cintamu. Sekarang keadaannya sudah berbeda. Kamu tahu sendiri kan keadaan aku bagaimana" Miana merasa rendah berada di depan Bagas.
" Kamu juga tahu kan Bagaimana keadaanku. Kita sudah sama-sama dewasa untuk bisa saling memiliki. Kita tidak merusak hubungan satu sama lain. Bahkan kita membangun sebuah hubungan antara kota berdua, mempererat satu sama lain" Bagas juga ikut merendah mendengar apa yang dikatakan oleh miana.
" Tapi tetap berbeda Bagas. Aku memiliki dua anak yang akan ikut bersamaku. Sedangkan kamu tidak ada. Apa kamu juga bisa menerima anak-anakku di dalam hidupmu" Miana menjelaskan keadaan Bagaimana yang ia maksud.
__ADS_1
" Aku bisa menerima mereka. Kalau aku tidak menerima mereka, kenapa aku harus mencari jelita. Menghabiskan banyak waktu. Aku menerimamu dengan semua kekurangan dan kelebihanmu. Aku pun juga berharap kalau kamu mampu menerimaku dengan semua kekurangan dan kelebihan yang aku miliki. Jadi jangan merasa kalau kamu tidak pantas untukku" Bagas terus meyakinkan miana.
" Aku tahu kamu bisa menerima aku dan anak-anak di dalam hidupmu. tapi aku masih ragu Apakah orang tuamu juga akan bisa bersikap sepertimu" kini miana Berkata sambil menundukkan kepala.
" Papa dan Mama mendukung aku untuk menikahi wanita siapapun itu. Asalkan wanita yang aku nikahi mau menerima diriku dengan apa adanya. Mereka telah Jera menjodohkanku dengan wanita seperti yang mereka inginkan. Ternyata harapan mereka Pupus setengah tahun mantan istriku berkhianat" Bagas terus meyakinkan bahwa ketakutan yang dihadapi oleh Miana bukanlah hal yang sulit untuk ditaklukan.
" Papa sama Mama bahkan meminta maaf karena mereka berdua memaksaku untuk menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Mereka takut akan membuat aku kecewa dan merasakan sakit kembali seperti dahulu" Bagas menceritakan bagaimana orang tuanya yang saat ini telah berubah.
" Aku percaya kamu akan memberikan yang terbaik. Tapi jangan sampai hubungan kita merenggangkan antara kamu dan orang tuanya yang telah merawat dan membesarkanmu dari dulu" Miana merasa sedikit yakin kepada Bagas. akhirnya ia pun menerima Bagas.
" Jangan mengkhawatirkan hal-hal yang tidak pernah ada di dalam pikiranku. Hal itu hanya akan menjadi bumerang untuk dirimu sendiri. Mari kita menjalani semua ini dengan penuh kesadaran. Menjalani seperti air yang mengalir." Apa yang dikatakan oleh Bagas membuat Miana mengangguk. Tanpa sadar mereka telah sampai di depan rumah Miana.
" Tapi dia sudah besar. Jangan digendong biar jalan sendiri saja" Miana pun melarang Bagas untuk tidak menggendong Dara yang sedang tidur.
" Dia anakku juga. Kenapa kamu melarang seorang ayah menggendong putrinya sendiri" Miana terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Bagas. Dan tanpa menunggu persetujuan kembali, Bagas langsung membopong Dara yang tertidur pulas di dalam mobil. Miana mengekor di belakang Bagas yang sedang menggendong Dara.
__ADS_1
Setelah meletakkan Dara di atas tempat tidurnya sendiri, Bagas langsung mendekat ke arah Miana.
" Istirahatlah! ini sudah malam. Bukannya besok kita harus berangkat pagi-pagi demi mencari jelita" Bagas sebelum keluar dari kamar Dara bersama miana, menyuruh calon istrinya untuk segera istirahat.
" Aku akan membantumu untuk mengurus semuanya. Seperti yang kamu bilang kemarin. Mana yang memang harus menjadi hak kamu dan mana yang harus menjadi hak Prasetyo. Aku sudah mencarikan pengacara yang paling handal di kota ini. Jangan mengkhawatirkan hal-hal buruk yang melintas di pikiranmu. Berpikir positif lah dengan semua kejadian ini. Dan Yakinlah akan ada hal terbaik setelah kejadian buruk yang menimpa kita" Bagas meraih Kedua telapak tangan Miana dan mengatakan itu semua.
" Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak menyangka kita akan bisa sedekat ini. Terima kasih sudah menerimaku beserta semua kekuranganku" Miana menggenggam erat telapak tangan Bagas yang sedang memegangnya.
" I love you" ucapan itu masih membuat miana merasa malu terhadap Bagas. Ia pun menoleh ke kanan untuk menghindari mata Bagas yang terus menatapnya dengan dalam.
" Kita akan terbiasa menjalani semua hal seperti ini. Aku akan mempercepat pencarian Jelita agar juga bisa secepatnya untuk menghalalkanmu" Bagas tersenyum sembari menurunkan kembali kedua tangan Miana yang digenggamnya.
" Aku pulang dulu. kamu Cepatlah istirahat dan jaga dirimu dengan baik." Bagas berjalan keluar dari kamar Dara. Miana pun juga mengantarkan Bagas keluar rumah. Setelah Bagas menaiki mobilnya dan keluar dari gerbang, Miana baru masuk ke dalam rumah.
" Apa keputusan ini benar-benar sudah tepat. Bahkan aku tidak yakin jika Bagas telah melamarku" sembari merebahkan diri di atas tempat tidur Setelah mandi, miana memperhatikan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia merasa terharu apa semua pengorbanan Bagas yang tidak ada habisnya.
__ADS_1
" Tapi aku takut akan kecewa karena tidak menemukan Jelita di tempat yang dikatakan oleh Bagas tadi" hati Miana masih dilintasi rasa ragu. dia pun melamun memikirkan Bagaimana keadaan sang putri bungsu. hatinya menangis menjerit dengan keras. aman tak ada seorangpun yang tahu. hanya Parlan yang selama ini selalu menemani masa sulitnya.
" aku harus istirahat. aku harus ikut dalam pencarian mencari jelita" akhirnya miana pun malam ini berusaha memejamkan matanya. terasa sulit namun miana tetap memaksakannya.