
"Apa? Sekarang juga? " Tiba-tiba bu Yanti berkata dengan seseorang di sbalik telepon.
"Oke oke... Saya akan kesana sekarang juga" Bu Yanti menoleh ke arah suaminya.
"Saya mau ke tembat bu Ida sekarang juga yah. Parlan kamu antarkan saya dulu ya" Bu Yanti meminta Parlan mengantarkannya.
"Ada 1 lagi sopir kan? " Ayah Heri bertanya kepada Miana. Dan Miana menjawab dengan anggukan.
"Kamu di antar sama dia saja ya ke tempat Bu Ida? " tanya ayah Heri sambil memandang istrinya.
" Siapa sajalah, yang penting saya bisa sampai ke sana" Bu Yanti menurut kepada suaminya untuk diantarkan salah satu sopir Miana selain Parlan.
" Ya sudah berangkatlah hati-hati ya" akhirnya Bu Yanti berangkat juga ke rumah temannya.
"Parlan... Ada yang ingin saya bicarakan dengan mu" setelah kepergian istrinya, Tuan Heri berkata dengan pelan sambil menepuk punggung Parlan. Parlan pun mengangguk.
"Parlan, jelaskan bagaimana Prasetyo bisa melakukan ini semua" Ucapan ayah Heri mebuat Parlan kebingungan.
"Maaf tuan..." Tiba-tiba tatapan tajam tuan Heri membuat Parlan tersadar.
"Maaf, maksud saya ayah. Jadi apa yang harus saya jelaskan kepada ayah tentang Prasetyo? Bahkan saya sendiri pun tidak tahu apa yang harus saya jelaskan tentangnya" Parlan merasa kebingungan dengan apa yang di minta oleh Tuan Heri.
"Tentang perselingkuhan Tika dengan Tiyo" Kali inin Parlan merasa lebih tenang mengatakannya.
"Kenapa tuan tidak bertanya langsung saja kepada Miana. Kan Miana juga sudah tahu yah" Parlan bisa bersikap biasa ketika tidak ada orang.
"Miana tidak bisa menjelaskan Parlan. Dia begitu sakit untuk menjelaskan semuanya. Sekarang mumpung tidak ada orang lain. Ayah mohon kamu ceritakan semua yang kamu ketahui" Ayah Heri memohon kepada Parlan.
"Baiklah... Biar saya ceritakan awal mula saya tahu"
Flash back on
"Malam itu saya di suruh sama Miana untuk menjemput Prasetyo di kantornya karena sopir Tiyo saat itu sedang cuti. Ketika saya berangkat, saya di telepon sama tuan Tiyo.Menanyakan dimana saya dan dengan siapa. saya aja kalau saya sedang sendirian. begitu sampai di kantor, saya menelpon Prasetya kalau saya sudah berada di lobby. saya terkejut karena ternyata Prasetyo sedang bersama Atika saat mereka keluar dari lift. tanpa berpikir panjang mereka langsung masuk ke mobil. Saya tidak tahu bagaimana awal mula hubungan mereka. Prasetyo meminta saya untuk mengantarkan Atika pulang terlebih dahulu. ketika sudah mengantarkan Atika pulang. dalam perjalanan menuju ke sini, Prasetyo memberikan saya uang dengan jumlah yang tidak sedikit sebagai uang tutup mulut. Saya tidak berkata menerimanya ataupun menolaknya. dia meletakkan uang itu di kursi samping Saya mengemudi. Dan sampai saat ini, uang itu masih ada di saya tanpa saya menyentuhnya sedikitpun." Arlan tak menjelaskan awal mula ia tahu hubungan antara Atika dan Prasetyo. Tuan Heri mengangguk. Dan Miana hanya diam mendengarkan ketika Parlan menceritakan tentang kakak dan suaminya.
__ADS_1
"Sudah berapa kali Prasetyo memberimu uang? " Tanya tuan Heri.
"Tiga kali" Parlan memandang Miana sambil menjawab pertanyaan ayah Heri.
"Jadi mereka sudah lama berhubungan? " Tanya Miana dengan mata sembabnya.
"kalau itu saya ngga tahu Miana. Saya tahunya juga baru saat itu" Parlan dengan terpaksa mengatakan itu.
"Drrrttt drrt drttt drrrrttt drrrttt" Ponsel Parlan bergetar beberapa kali. Namun iya mengabaikannya karena menghormati Ayah Heri dan Miana yang mengajaknya berbicara.
"Jahat sekali Prasetyo" Miana bergumam.
"Miana, jangan hanya menyalahkan Prasetyo. Kamu juga harus menyadari apa yang kurang dari kamu sehingga laki-laki itu bisa sampai berpaling" Kini ayah yang bijaksana itu menasehati sang putri.
"Maafkan Miana yah" Miana semakin terdiam dalam tangisnya.
"Parlan, apa kamu tahu..." Ucapan tuan Heri terdiam seketika di saat ponsel Parlan kembali berdering.
"Angkat saja dulu, siapa tahYb itu hal penting" Tuan Heri menyuruh Parlan mengangkat panggilan tersebut.
"Angkat dulu, siaapa tahu penting" Sekali lagi Miana berkata. Akhirnya Parlan mengalah. Iya segera menjauh dari Ayah Heri dan Miana.
"Halo" Parlan menjawab
"Maaf sedang sibuk. Nanti saya hubungi kembali" Tanpa menunggu jawaban, Parlan mematikan panggilan tersebut. Lalu kembali lagi ke tempat dimana ayah Heri dan Miana menunggu.
"Maaf saya harus meninggalkan ayah dan Miana" Ucap Parlan ketika sudah kembali.
"Bukan masalah besar. Duduklah" Ayah Heri menyuruh Parlan duduk. Baru juga duduk, sebuah mobil datang.
"Ayah... Mianaa" Ternyata yang datang adalah Awan. Iya dengan segera mencari keberadaan ayah dan adiknya.
"Tuan sama nona Miana ada di taman" Ucap Bik Wanti ketika mendengar ada suara orang memanggil-manggil. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Awan langsung berlari ke arah taman.
__ADS_1
"Ayah... Mianaaaa" Panggil Awan sedikit berteriak.
"Itu seperti suara kak Awan ya yah? " Miana yang mendengar menanyakan.
"Awan... Ayah di sini" Ucap ayah Heri.Dan Awan pun segera mendekat.
"Awan... Kak Awan" Ucap ayah Heri dan Miana bersamaan.
"Ada apa? " Ayah Heri langsung bertanya. Jika tidak dalam keadaan penting atau informasi yang penting juga, Awan tidak mungkin berteriak-teriak mencari dirinya.
"Ayah... Miana, kalian harus tahu suatu hal. Ini" Awan memberikan sebuah amplop coklat kepada ayah dan adiknya.
"Ini apa? " Tanya Miana yang menerima Amplop itu.
"Buka saja" Terlihat Awan sedang menahan rasa kesal. Namun Miana dan ayahnya tidak tahu apa penyebabnya. Tanpa menunggu lagi, Miana langsung membuka amplop itu.
"Haaah... Apa? " Miana menutup mulutnya ketika melihat apa yang di dalam amplop coklat itu. Iya menangis sejadi-jadinya.
"Aku tidak salah lihat kan? " Suara Miana melemah.
"Ini kenyataan Mian." Awan mendekati adiknya. Miana perlahan-lahan memegang lengan Awan. Hingga akhirnya iya serasa ingin ambruk. Namun dengan sigap Awan menarik Miana dalam pelukannya. Iya membiarkan Miana menangis dalam pelukannya. Namun, semakin lama Miana semakin melemah, hingga akhirnya iya pingsan.
"Miana... Bangun" Awan pun lalu membopong Miana dan meletakkannya di gazebo yang tak jauh dari tempatnya duduk.
Di Kantor Pusat.
Prasetyo menggeram kesal setelah mendapatkan laporan dari Andre bahwa dia tidak bisa menangani permasalahan di kantor Cabang.
"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi hasilnya masih belum ada. Andre, kamu hubungi teman kamu. Dengan terpaksa, saya meminta bantuannya untuk menyelesaikan permasalahan di kamtor cabang. Dari pada tidak bisa sama sekali." Prasetyo meminta kepada Andre.
"Baik tuan... Saya akan segera menghubungi teman saya untuk segera meminta bantuan kepada temannya itu. Tapi..." Andre mengehntikan laju bicaranya.
"Tapi apa? " Tanya Prasetyo.
__ADS_1
"Setengah dari saham perusahaan bukan hal kecil tuan" Andre melanjutkan ucapnnya.
"Terpaksa harus melakukan itu. Kita tidak punya pilihan lain" Jawab Prasetyo.