Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Kesempatan


__ADS_3

" Kak Tika lihat apa? " pertanyaan miana membuat Atika gugup.


" Enggak... Enggak lihat apa-apa kok. Ini tas kamu yang ini tuh bagus banget loh." Sambil menunjuk sebuah tas yang berada di lemari kaca, Atika menjawab pertanyaan miana.


" Kita keluar dulu yuk Kak. Sekarang udah jam 10.00 lebih, nanti jam 10.30 aku bakal jemput anak-anak." sambil berjalan keluar kamar, Miana mengatakan hal tersebut. Dia melirik Prasetyo yang terdiam tak berkata sedikitpun.


" Oh iya Mas Tio, nanti temenin aku jemput anak-anak mau? " pertanyaan miana membuat Prasetya langsung bangkit dari duduknya.


" Jam berapa? " Prasetyo bertanya balik.


" 10.30 an sih. Iya tapi kalau Mas Tio lagi banyak pekerjaan Nggak papa kok aku jemput sendiri. Soalnya tadi anak-anak bilang kalau misalnya Papa nggak sibuk, mereka mau dijemput sama papa" Miana menghaluskan dan melembutkan suaranya di depan Atika dan Prasetyo.


" Ya udah nanti aja Ini kan masih jam 10.00. nanti kalau Mas bisa sambil ke sini aku panggil Mas ya" Miana langsung berjalan keluar kamar meninggalkan Prasetyo. Namun Atika masih tetap berdiri di tempatnya memandang ke arah Prasetyo. Prasetya yang dipandang pun malah terdiam. Akhirnya Atika menyusul miana keluar dari kamarnya. Sesampainya di luar kamar Atika dan Miana langsung menuju ke ruang tamu menemui tante Aya yang sedang duduk sendirian di sana.


" Maaf ya Tante lama... Tante sih tadi nggak mau diajak masuk" ucap Miana yang semenjak datang langsung duduk di samping tantenya, mengatakan maaf.


" Nggak apa-apa miana" setelah itu kan mereka duduk bertiga dan mengobrol.


Pov Bagas & Rendy.


" Mohon maaf tuh Nyonya Asti dan Tuan Adi. Ada masalah apa yang datang ke sini? " tanpa menoleh ke arah mertua Miana bertanya secara langsung setelah kedua orang tersebut masuk ke ruangannya.


" Jadi begini Tuan ready. Saya ingin menanyakan perihal pembatalan kerjasama antara perusahaan kita. Mengapa anda memutuskan secara sepihak semua ini. Padahal kami tidak melakukan kesalahan apapun? " tuan Adi berkata dengan sedikit takut dalam hatinya.


" Oh masalah itu... Saya rasa semua itu tidak perlu persetujuan dari pihak anda" jawab Rendy sambil memandang ke arah dua orang tersebut.

__ADS_1


" Tapi apa Anda masih ingat perjanjian kita Sebelum menandatangani surat kontrak itu? " kali ini Tuan Adi lebih berani mengatakan apa yang menjadi angan-angannya.


" Ingat... Saya jelas-jelas masih mengingat Apa isi dari kontrak tersebut. Saya tidak lupa dan tidak akan pernah melupakannya. Bahwa tertulis di dalam surat perjanjian itu, siapapun diantara kita yang membatalkan kerjasama ini secara sepihak, maka kita akan dikenakan sanksi atau denda. Saya masih ingat itu semua Tuan. Dan saya sudah mentransfer semua denda ke rekening perusahaan anda. Apa masih ada masalah? " Rendy mengatakan dengan tegas.


" Yang menjadi masalah saya bukan hanya itu saja Tuan Rendy. Saya merasa Ada hal lain yang membuat anda membatalkan kerjasama tersebut. Kalau boleh saya tahu, Apa alasan anda membatalkan kerjasama tersebut? " Tuan Adi seakan kewalahan menghadapi sikap dingin Rendy. Sedangkan Bagas saya memandang dan mendengarkan serta memantau apa yang akan dan dikatakan kembali sambil berpura-pura tetap melaksanakan pekerjaannya.


" Anda tahu... Anda sudah menyinggung salah satu pemilik sah perusahaan AIA Corporation. Bukan hal sepele anda melakukan itu semua bagi orang yang telah anda singgung. Jadi anda tidak perlu lagi bertanya apa alasan Saya membatalkan semuanya. Anda melihat di sana ada pintu keluar, berjalanlah ke sana Setelah itu tutuplah dari luar. Saya masih banyak urusan penting yang harus saya lakukan daripada harus menanggapi anda yang tidak terlalu penting dalam perusahaan ini. Terima kasih" Rendy pun kembali duduk lalu menghadap ke laptopnya kembali. Terlihat wajah Tuan Adi dan nyonya Asti terlihat begitu kesal saat Rendy mengatakan itu semua. Dua orang paruh baya itu pun keluar lalu menutup pintu dengan pelan.


Pov Tuan Adi


" Pah kita menyinggung salah satu pemilik perusahaan? Siapa pemilik itu? " bu Asti penasaran siapa seseorang yang telah Ia singgung.


" Aku juga nggak tahu siapa orang itu. seingat papa akhir-akhir ini kita tidak bertemu dengan orang-orang penting. Tapi siapa ya? Apa mungkin Tuan Rendy? Apa benar semua ini ada hubungannya dengan miana? " Tuan Adi bingung memikirkan siapa orang yang dimaksud oleh Rendy.


" Ah sudahlah... Papa bingung dengan semua ini. Kita harus mencari tahu siapa orang itu. Ayo kita pulang." tuan Adi mengajak istrinya untuk masuk ke mobil.


Pov Miana.


" Tante Aya Kak Tika, ini udah waktunya nih aku jemput anak-anak. Kakak aku tinggal dulu ya sama tante. Kasihan kalau anak-anak menunggu lama" Miana pamit kepada tantenya dan juga kepada kakaknya. Saat ia akan berjalan tiba-tiba Atika memanggilnya.


" Miana..." Panggil Atika. Dengan cepat niana menoleh kembali ke belakang.


" Iya Kak Ada apa? " Miana bertanya.


" Aku lagi pengen buah kiwi. nanti kalau kamu lewat tolong belikan ya." Atika memanggil miana hanya untuk memberikan buah kiwi.

__ADS_1


" Tapi aku nggak bisa janji ya Kak. Nanti kalau misalnya anak-anak mau diajak mampir ya aku belikan. Tapi kalau anak-anak nggak mau karena sudah lelah, nggak bisa beliin buat kakak" setelah menjawab itu miana pun bergegas melangkah untuk meninggalkan Atika dan tantenya.


"Okee... Makasih" terlihat raut wajah Atika yang kesal.


Ketika masuk ke dalam kamar, Miana melihat Prasetyo yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Kamu mau jemput anak-anak? " Prasetyo mencoba bertanya kepada Miana.


"Iya" Jawab Miana singkat.


"Aku akan mengantarmu..." Prasetyo terdengar sedikit gugup.


"Tidak perlu, kita sedang kedatangan tamu agung. Kalau ditinggal semuanya, ya tidak enak sama mereka" Miana berkata setelah iya meletakkan tas selempangnya di atas bahu. Prasetyo merasa khawatir dengan ucapan Miana.


"Di rumah saja lah. Temani mereka" Miana mendekat lalu berkata dengan lirih. Selebihnya iya bergegas keluar kamar. Miana sudah memastikan semua kamera tersembunyi yang iya pasang sudah benar-benar berfungsi dengan normal.


Di halaman rumah.


"Parlan, ayo kita berangkat menjemput anak-anak. Kasihan kalau dia sampai menunggu lama" Panggil Miana kepada Parlan.


"Baik nyonya. Mari" Sambil berlari kecil, Parlan segera membuka pintu untuk Miana. Setelahnya iya sendiri berlari kecil menuj ke kursi di depan. Setelah naik, mobil itupun berjalan. Dan dari dalam, Atika dan tante Aya mengamati kepergian Miana.


"Yees... Aku bisa berduaan kembali dengan Prasetyo" Maka dengan cepat, Atika berjalan menuju ke kamar Prasetyo dan Miana.


Hayoo readerku tercintaah, jangan lupa tinggalkan jejak ya.

__ADS_1


Like dan coment dari reader begitu berarti untuk mengetahui kualitas dari novel ini. Jangan lupa yaa, tinggalkan jejak.


Terimakasih.


__ADS_2