
"Parlan, sebenarnya siapa pemilik resto itu. Kenapa dia membiarkan anak-anak mengambil bunga yang begitu banyak. Sedangkan bunga itu bukan bunga murah. Lalu siapa yang membayar semua tagihan makanannya.? " Saat berada di dalam mobil, Miana masih bingung memikirkan semua kejadian di resto tadi.
"Kenapa masoh di fikirkan sih? " Parlan kembali bertanya.
"Ya aku hanya ingin tahu saja. Kenapa dia bisa menjadi orang baik seperti itu" Miana berkata.
"Aku kenal sama orang pemilik resto itu. Tapi dia bilang kalau aku jangan memberitahukan kepada siapapun tentang dirinya. Dia juga bilang, kalau aku mengajak orang-orang kesini seperti sebuah keluarga, mereka akan menuruti apapun keinginanku dan akan menggrastiskan semua hidangan yang kita makan" Parlan menjelaskan. Miana lanhsung menoleh.
"Apa itu teman mu? " Miana masih merasa penasaran. Dan Parlan hanya menjawab dengan mengangguk.
"Ah... Pantas saja kalau begitu. Dan tentunya kamu harus menyampaikan ucapan terimakasih ku kepadanya." Setelah menjelaskan kepada Miana. Akhirnya Parlan bisa diam menjawab pertanyaan-pertanyaan Miana. Dan Miana bisa tenang melanjutkan perjalanan pulang.
"Oh iya, Susi pulangnya kita antarkan dulu kan? " Miana tiba-tiba teringat dengan Susi yang masih bersamanya di dalam mobil itu.
"Iya, kita antarkan dulu dia pulang. Apa kamu tidak keberatan? " Tanya Parlan kepada Miana.
"Ngga lah. Ayo kita antarkan Susi terlebih dahulu" Miana malah mengajak. Akhirnya mereka sepakat mengantarkan Susi terlebih dahulu.
Perjalanan hampir 15 menit mengantarkan Susi ke rumah kontrakannya. Setelah tiba tepat di rumah sang pengasuh, Parlan menghentikan mobilnya.
"Makasih ya Susi" Ucap Miana mewakili Parlan setelah Devan berpindah ke pangkuannya.
"Sama-sama nyonya. Saya turun terlebih dahulu" Susi segera turun dari mobil lalu menutup pintunya kembali. Setelah di pastikan Susi sudah tiba di rumah kontrakannya, Parlan melajukan mobilnya untuk mengantarkan Miana dan anak-anak.
"Susi kira-kira umurnya berapa ya? Apa seumuran dengan aku? " Tanya Miana yang sejak tadi sudah penasaran ingin tahu berapa usia Susi. Wanita yang mengasuh Devan itu.
"Kalau ngga salah dia kelahiran tahun 92-93" Parlan menjawab namun tetap fokus pada jalanan yang di lalui nya.
"Oh, lebih tua an dia ya dari pada aku." Iya, selisih berapa tahun aja" Parlan masih setia menjawab pertanyaan Miana yang terus beruntun.
__ADS_1
"Kenapa kamu ngga biarin Susi untuk menginap saja? " Tanya Miana. Dan terdengar Parlan menghirup udara dalam-dalam.
"Di rumah hanya ada aku dan Devan. Kalau Susi menginap di rumah tanpa ada ikatan apapun, aku takut aku akan khilaf. Karena aku adalah lrlaki normal" Miana melotot mendengar jawaban Patlan.
"Jadi maksud kamu, kamu tidak ingin hal-hal yang tidak di inginkan terjadi? " Miana masih terus bertanya.
"Ya tepatnya seperti itu" Miana mengangguk mendengar penuturan Parlan.
Setelah berjalan lebih dari 30 menitan. Parlan membelokkan mobilnya menuju ke rumah bergerbang di sebelah jalan. Setelah di pastikan tidak ada mobil yang melintas, iya membelokkan mobilnya untuk menyebrangi jalanan.
"Anak-anak tidur Parlan. Aku bawa Devan masuk dulu ya. Tolong kamu bangunkan mereka" Miana segera berjalan tanpa menunggu jawaban dari Parlan. Iya ingin segera menidurkan Devan agar merasa lebih nyaman.
"Tidur yang nyenyak ya nak. Malam ini kamu tidur sama tante. Jangan rewel" Miana berbicara kepada Devan yang masih tertidur pulas setelah di tidurkan di atas tempat tidur. Setelahnya iya keluar untuk menyusul Parlan.
Baru saja Miana tiba di depan pintu, iya melihat Parlan yang sedang berjalan sambil menggendong Jelita. Sedangkan Dara berjalan di sampingnya dengan tangan di gandeng pula oleh Parlan.
"Parlan" Panggil Miana lirih.
"Tidurkan di sebelah sini ya. Dara kamu tidur di sebelah sini" Miana membrritahu Parlan dan Dara. Parlan segera menidurkan Jelita di sana. Setelah mereka berdua sudah tidur, Parlan dan Miana segera keluar.
Di luar kamar Dara dan Jelita, Miana berjalan di samping Parlan.
"Devan di mana? " Tanya Parlan yang tak melihat sang anak.
"Ada di kamar. Sudah tidur dengan pulas" Miana menjawab.
"Tolong bawa ke sini ya. Biar aku pulang karena kalian sudah pulang" Parlan meminta tolong kepada Miana.
"Malam ini tidir saja di sini. Biar Devan tidur sama aku. Kamu tidur di kamar tamu ya" Miana mrngatakan.
__ADS_1
"Jangan protes. Biar besok pagi kita bisa berangkat lebih awal" Miana menyela saat Parlan akan berbicara.
"Tapi..." Miana tak memberi kesempatan kepada Parlan untuk berbicara.
"Ngga ada tapi-tapian. Sekarang istirahatlah" Miana meninggalkan Parlan yang malah terdiam di tempat yang sama. Iya masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya. Beruntung tadi tas yang di bawa oleh Susi langsung di bawa oleh Miana. Jadi untuk malam ini, Devan tidak perlu takut untuk masalah susu.
"Dasar Miana. Keras kepala dari dulu belum juga lunak. Lama-lama aku lunakin juga nih" Parlan bergumam sendiri ketika mengetahui Miana masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya. Iya segera berjalan menuju ke kamar yang tadi di tunjukkan oleh Miana.
"Tapi ngga apa-apa lah. Aku bisa langsung istirahat" Ucap Parlan lagi ketika iya sudah merebahkan diri di atas tempat tidur. Dan tak lama kemudian, iya memejamkan matanya.
Pagi telah menjelang. Miana terbangun lebih awal karena akan mempersiapkan semua kebutuhan anak-anaknya. Di lihatnya jam dan ternyata sudah pukul 05.00. Di lihatnya kembali Devan yang masih tertidur pulas. Iya segera beranjak meninggalkan bayi mungil itu.
Baru beberapa langlah kakinya terayun. Miana mendengar sebuah suara. Setelah menoleh kr belakang lagi, ternyata Devan sudah bangun. Miana segera berjalan kembali menghampiri anak itu.
"Kok kamu sudah bangun sayang. Keganggu ya sama tante" Ucap Miana sambil meraih Devan. Iya segera menggendong Devan.
"Ehh ehh..." Miana merasa bingung karena Devan menunjuk sambil berkata tak jelas. Karena memang Devan masih bayi.
"Kenapa sayang? " Tanya Miana.
"Ehh.." Tangannya terus menunjuk ke arah pintu keluar. Akhirnya lama-lama Miana paham jika bayi dalam gendongannya tersebut sedang meminta untuk keluar. Akhirnya Miana mengajaknya untuk keluar.
'cekrek' Pintu terbuka dan Miana keluar dari kamar. Namun Miana kembali terkejut karena ternyata Parlan sudah ada di depan pintu agak jauh.
"Ini papa" Miana menunjuk ke arah Parlan.
"Biar saya gendong. Kamu lakukan saja apa yang mau kamu lakukan" Parlan meminta Devan dari Miana. Dan iya pun menyiapkan semuanya.
Waktu sudah hampir siang. Miana mengajak anak-anaknya untuk segera sarapan dan berangkat sekolah. Di waktu yang bersamaan. Ada seseorang datang. Ternyata Susi. Iya datang sendiri sembari membawa perlengkapan untuk Devan. Miana sekalian mengajak Susi untuk sarapan.
__ADS_1
Hampir 20 menit acara sarapan, Mereka pun keluar rumah bersama. Miana meninggalkan Devan bersama Susi karena Parlan hatus mrngantarkannya.
"Jangan rewel ya nak. Papa mu harus bekerja terlebih dahulu" Setelah menyerahkan Devan, Miana berkata. Mereka pun berangkat memenuhi undangan itu.