Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Siapa Parlan?


__ADS_3

" Lama sekali sih kamu angkat telepon saja" belum sempat Prasetyo menyapa, ibunya di seberang telepon sudah memarahinya.


" Ada apa lagi Bu. Apa Ibu masih belum cukup menyalahkan Miana dengan semua kejadian ini" Prasetyo dengan tenang ia menjawab apa yang dikatakan oleh ibunya.


" Kamu itu kapan sih akan sadar. Ibu sudah bilang kalau kamu berkali-kali ya. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari" Bu Asti terdengar begitu emosi. Mata hatinya sudah tertutup oleh kebencian. Sehingga ia tidak melihat sisi baik dari menantu yang telah menemani anaknya selama bertahun-tahun tersebut.


" Sudahlah bu saya capek mendengar omongan Ibu dari pagi sampai malam. Kalau memang kerjasama itu dibatalkan, Kenapa Ibu harus menyalahkan orang lain. Seharusnya ibu mengintropeksi diri. Mengapa semua ini bisa terjadi. Bukan malah menyalahkan orang lain." Prasetyo pun mematikan panggilan tersebut. Iya kembali ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana.


Sedangkan di kamar Dara dan Jelita, Miana sedang sedang mengajari anak-anaknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya. Sebagai Teladan, miana mengajari kedua putrinya. Miana memang selalu turun tangan sendiri jika menyangkut kedua putrinya. Iya dengan telaten mengajarkan apa-apa yang wajib dipelajari oleh kedua anak itu.


" Akhirnya selesai juga pekerjaan rumah kita. Terima kasih Mama sudah mengajari kita" Jelita mengucapkan rasa terima kasihnya karena memang mengajarinya.


" Sama-sama sayang. Kan memang sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mengajari anak-anaknya yang terbaik" Miana membantu anak-anaknya untuk merapikan alat tulis yang berserakan di atas meja belajar.


" Kalian tadi sudah melaksanakan kewajiban kepada Tuhan atau belum? " Miana bertanya kepada kedua putrinya.


" Alhamdulillah sudah. Tadi kan sebelum belajar kita melaksanakan salat dulu. Dengan begitu belajar kita tenang karena tidak terpikirkan kewajiban kita kepada Tuhan" Dara pun yang menjawab dengan lugas.

__ADS_1


" Bagus sekali... Anak-anak Mama memang yang Terbaik. Sekarang sudah hampir jam 09.00. Kalian berangkat tidur" Miana menyuruh anak-anaknya untuk beristirahat.


" Oke siap Ma" jawab kedua putrinya dengan semangat.


"Sebelum tidur apa yang harus dilakukan? " Miana bertanya kebiasaan sebelum tidur kepada anak-anaknya.


" Sebelum tidur Biasanya kita cuci muka gosok gigi. Yang pasti Mama selalu mengajarkan kalau kita disuruh untuk berwudhu terlebih dahulu" Jelita menjawab.


" Anak pintar, sekarang lakukan semuanya setelah itu berangkat untuk tidur" Miana pun memuji kedua anaknya. Dara dan Jelita pun langsung berangkat ke kamar mandi setelah ia mengemas buku pelajaran ke dalam tas yang akan digunakannya untuk besok. Miana tersenyum memandang kedua putrinya tumbuh dengan baik. Tidak ada hal yang membahagiakan kecuali melihat keduanya tumbuh dengan kasih sayang yang tidak kurang.


" Mama mau tidur di sini atau di kamar mama sendiri? " tanya jelita memperhatikan mamanya.


" Mama mau tidur di kamar kalian malam ini. boleh kan? " dengan tersenyum Miana mengatakan bahwa ia akan tidur di kamar kedua anaknya.


" Hore Mama tidur di sini." kedua anak kecil itu tersenyum girang. Mereka begitu bahagia saat ditemani tidur oleh Miana. Miana pun memasangkan selimut kepada Dara dan Jelita yang tidur bersebelahan. Setelah memastikan kedua putrinya benar-benar tertidur, Miana beranjak menuju ke sofa yang tidak jauh dari ranjang anak-anaknya. Iya duduk di sana. Merebahkan punggungnya pada sandaran sofa yang begitu empuk. Diletakkan nya kepala yang terasa begitu berat hari ini. Dia memejamkan matanya sebentar. Lalu kembali membukanya dan menatap langit-langit kamar.


" Aku harus bertahan atau mengakhiri semuanya. Kalau aku bertahan Hatiku sudah tidak sanggup. Tapi jika aku mengakhiri semua ini, Bagaimana dengan anak-anak nanti? " Miana merasa ini adalah hal yang terberat dalam hidupnya. Ingin pergi sulit namun, bertahan pun juga sakit. Miana kembali memejamkan mata, ia menghembuskan nafas panjang. Untuk menghilangkan beratnya penat dalam hati dan pikirannya. Tak terasa air matanya menetes kembali. Iya kembali terisak dalam diam.

__ADS_1


Pov Parlan.


"Devan kamu Kenapa Nak kok sudah malam tapi belum tidur. Maaf ya tadi papa tinggal kerja" Parlan mengajak berbicara Putra semata wayangnya yang masih berusia hampir 8 bulan. hanya Devan yang tersisa di dalam hidupnya setelah Arum meninggalkannya untuk selama-lamanya. Malam ini terasa begitu menyayat bagi hati Parlan. Entah mengapa putranya sejak tadi belum mau tidur. Sedangkan saat ini waktu sudah menunjukkan jam 10.30 malam. Parlan yang merasa sedikit lelah pun merasa matanya seperti dibebani oleh sesuatu yang berat.


" Jangan menangis ya Devan, Papa di sini sama Devan. Kamu kalau mau main, main saja ya. Papa di sini menemani kamu, tapi sambil tidur. Papa capek banget" karena tetap mengajak anaknya berkomunikasi meskipun anak itu belum bisa menanggapi apa yang dia katakan. Parlan mencoba memejamkan matanya. namun di saat akan terlelap, kaki dan tangan depan kembali bergoyang-goyang. Membuatnya tidak tega untuk meninggalkan Devan tidur. Akhirnya Arlan bangkit dan mencuci mukanya. Setelah itu ia pergi ke dapur untuk membuat satu gelas kopi supaya matanya kembali Tidak mengantuk. begitu selesai dia kembali mendekat ke arah Devan.


" Lebih baik aku mengerjakan pekerjaanku saja. Daripada aku menunggu Devan tapi tidak melakukan apa-apa" Parlan bangkit lalu mengambil laptopnya. Setelah menyalakan dia mengambil charger laptop yang tertinggal. Sambil menunggu loading OS dari laptop apel kegigitnya yang tidak terlalu lama itu, Parlan memperhatikan buah hatinya yang sedang menggerakkan kaki dan tangan. Parlan terus ini melihat tingkah laku anak nya itu. Kembali lagi ia terfokus pada laptop yang telah Ia Nyalakan.


" Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Tapi aku juga tidak tega membiarkan Miana sendirian menghadapi semuanya. Kalau aku mengundurkan diri dari pekerjaan ini, berarti aku telah menyia-nyiakan Miana yang telah Ayah kandungnya amanahkan ke aku" gumam Parlan sendirian.


" Tapi aku juga tidak bisa membiarkan anakku sendirian terus tanpa pengawasan dariku. Keduanya sama-sama penting. Huffttt... Kenapa Miana harus terlahir di tengah-tengah keluarga yang ingin menyakitinya. Kasihan sekali kamu Miana" Parlan masih terus bergumam kepada dirinya sendiri.


" Oke aku akan melakukan yang terbaik untuk Devan anakku sendiri, juga untuk miana" dalam perkataannya, seakan Parlan berjanji kepada dirinya sendiri. Dan ia kembali disibukkan dengan layar laptop di depannya. Entah apa yang dilakukan oleh parlen di depan layar laptop tersebut. yang pasti, Parlan bukanlah orang sembarangan. Iya memang seorang sopir. Namun dalam pendidikan, Dia adalah seorang lulusan S2. Sudah banyak yang menawarkan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaannya saat ini. Yang terlihat Parlan adalah seorang sopir. Namun sopir hanyalah pekerjaan sampingan untuknya. Ada pekerjaan tetap Parlan yang dia miliki.


Hayoo readerku tercintaah, jangan lupa tinggalkan jejak ya.


Like dan coment dari reader begitu berarti untuk mengetahui kualitas dari novel ini. Jangan lupa yaa, tinggalkan jejak.

__ADS_1


__ADS_2