
Prasetyo dengan cepat duduk lalu mengendorkan dasinya dan melepaskan sepatu serta kaos kaki. Begitu memandang ke depan, iya melihat kedua orang tuanya dengan tatapan sinis menatap ke arah dirinya.
"Apa ada masalah? " Tanya Prasetyo. Dan orang tuanya malah saling memandang.
"Ada apa? Ayah sama ibu masih menyalahkan aku tentang pembatalan kerjasama itu? " Prasetyo masih belum mengerti keadaan sebelum dia datang.
" mana mungkin kami menyalahkan kamu. sedangkan yang salah adalah istrimu" Bu Asti tetap menyalahkan miana dalam hal ini.
"Maksud ayah sama ibu bagaimana, Kenapa miana yang disalahkan? " kali ini Prasetyo tidak mengerti apa yang terjadi. dia bingung Mengapa orang tuanya menyalahkan miana.
"Kamu masih ingat sama cerita ibu yang kemarin? kalau Miana berteman dengan Tuan Rendy dan juga asistennya itu si Bagas. Ibu yakin kalau Miana sudah menyuruh mereka untuk membatalkan kerjasama dengan perusahaan. Karena dia telah ibu permalukan di depan umum" bu Asti masih tetap pada pendiriannya menyalahkan miana.
" Ibu apa hubungannya Miana dengan bersahabat dengan Tuan Rendy" Prasetyo masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh orang tuanya.
" Kamu itu jangan terlalu bodoh Tio, saat kamu tidak ada di rumah, dia bertemu dengan Rendy dan juga Bagas. Lalu apa namanya kalau bukan berselingkuh. Ibu yakin istrimu itu mempunyai hubungan spesial dengan salah satu dari mereka" rasa benci yang berada di dalam pikiranku pasti semakin memuncak kepada menantunya.
" Lalu rencana ibu apa sama ayah? "
" Pagi ini setelah dari sini ayah sama ibu berniat untuk pergi ke perusahaan AIA Corporation. Ibu mau minta penjelasan mengapa kontrak itu dibatalkan. Ibu ingin tahu lebih jelas apa yang menjadi permasalahan antara perusahaan ini" bu Asti tetap berbicara dengan nada Sombongnya.
" Apa kamu melakukan sesuatu? " tanya Tuan Adi kepada putranya. dan Prasetyo pun mengangguk.
" Apa yang kamu lakukan? " tanya Tuan Adi kembali.
" Aku hanya ingin membeli beberapa saham milik mereka. Namun transaksiku tidak disetujui. aku semakin curiga dengan semua ini" Prasetyo pun kini menjadi mencurigai Miana.
" Kamu jadi suami Jangan lemah, kamu harus tegas kepada istrimu yang tidak karu-karuan itu. Semakin lama dia semakin ngelunjak. Kalau dia sudah tidak bisa di atur, maka kembalikan saja kepada orang tuanya" Kini bu Asti malah mempengaruhi Prasetyo. namun Prasetyo malah terdiam.
" Jangan terlalu banyak berpikir untuk meninggalkan wanita seperti itu. perempuan tidak tahu diuntung, perempuan tidak tahu diri. menyusahkan saja" bu Asti berkata sambil bangkit dari duduknya. Di ikuti oleh suaminya, mereka berdua berjalan keluar rumah. Meninggalkan Prasetyo yang terdiam di atas sofa sendirian.
Pov Miana.
"Ketika ada sesuatu yang membuat kita marah. Bukan hanya sekali. Tetapi berkali-kali. Lama kelamaan diri kita akan lelah sendiri jika tetap marah. Karna yang dimarahi tidak akan pernah mau atau bisa berubah. Diam dan tidak memikirkan nya adalah jalan terbaik. Sebenarnya ketika marah, energi kita sangat terkuras dan akhirnya lelah." Sepulang mengantarkan Anak-anak sekolah. Dalam perjalanan, Parlan mengatakan itu kepada Miana.
__ADS_1
"Tapi banyak hal yang sudah membuatku marah Parlan. Kamu tahu sendiri semuanya membuatku tak berdaya" Miana mengatakan hal tersebut sambil mengusap air matanya.
" Kita mau ke mana? Pulang atau ke tempat lain? " tanya Parlan karena ia sendiri juga bingung.
"Aku ingin sendiri. Tapi tidak mungkin bisa aku lakukan. Saat ini Tiyo sudah di rumah. Aku sebenarnya ingin menjauh dari si brengsek itu Parlan. Tapi bagaimana dengan anak-anak" Miana merasa bingung harus bagaimana.
"Apa kamu akan selalu begini. Menjauh dari Prasetyo bukan jalan yang tepat Miana. Kamu harus tahu apa yang harus kamu lakukan." Sambil menyetir, Parlan masih terus memberi masukan kepada Miana.
"Tapi aku merasa jijik dengan lelaki itu. Aku merasa muak dengan semua kebohongannya. Aku..." Tangis Miana pecah hingga akhirnya iya tak mampu untuk berkata kembali.
" Tapi dia masih suaminya yang harus kamu hormati keberadaannya" Parlan menurunkan kecepatan mobilnya.
" Tempat itu tidak layak disebut rumah. Aku merasa rumah yang saat ini aku tempati bukanlah surga seperti dulu. Aku kembali ke rumah itu jika Prasetyo masih ada di sana" Miana berkata dalam Isak tangisnya. dan Parlan masih setia mendengarkan.
" Lalu sekarang kita mau ke mana? " katanya Parlan kembali.
" Kalau misalnya kita tidak kembali ke rumah itu. Aku merasa jika Prasetyo akan lebih membencimu karena dia tadi bertemu dengan orang tuanya. Aku yakin orang tuanya pasti menceritakan semuanya. Baik dikurangi maupun ditambah, perkataan orang tuanya pasti lebih dia percaya daripada kamu" kali ini Parlan mengatakan hal yang mungkin akan terjadi. Miana terdiam. Iya tak tahu harus berbuat apa.
Dalam perjalanan pulang, ponsel Parlan berdering. Di lihatnya siapa yang menghubunginya. Ternyata sebuah nomor yang tidak tersimpan di daftar kontaknya.
"Baiklah" Parlan segera menepikan mobilnya.
"Halo, selamat pagi" Ucap Parlan ketika sudah terhubung.
"Selamat pagi, assalamu'alaikum tuan Parlan" Ucap seseorang yang Parlan pun tak mengenali siapa dia.
"Maaf, ini siapa? " Tanya Parlan.
"Mohon maaf tuan Parlan. Ini saya adalah teman dari nona Miana. Nama saya Bagas" Orang tersebut memperkenalkan diri. Parlan langsung mengatifkan mode loudspeaker.
"Bagas? "Parlan berkata. Seketika itu juga Miana menoleh.
"Iya, saya Bagas Nurdiansyah. Teman nona Miana" Kembali orang tersebut memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Maaf tuan Parlan, bisakah kita bertemu. Ada yang ingin saya tanyakan" Ucap Bagas.
"Bagas? Nurdin kah? " Kali ini Miana bertanya.
"Miana? Kamu disitu? " Bagas ganti memanggil Miana. Iya mendengar namanya di panggil dengan suara yang begitu iya harapkan.
"Ada apa Gas? " Miana ganti bertanya.
"Mian, ada sesuatu yang harus aku katakan. Bukan disini. Bisa kita bertemu? " Tanya Bagas.
"Bisa..." Di saat akan menjawab, ucapan Miana terhenti. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk kaca pintu mobilnya.
"Sebentar Gas" Miana memandang ke arah Parlan.
"Alan, kita apa salah jalur berhenti ya? " Tanya Miana. Parlan pun mencari-cari plang dengan melihat keluar mobil.
"Benar... Hehehe" Sambil tersenyum Parlan tersenyum. Iya segera membuka kaca mobilnya. Sedangkan Miana segera menutup mulutnya. Berpura-pura mau muntah.
"Permisi bapak, selamat pagi" Sapa seseorang yang berseragam coklat. Polisi rambu lalu lintas.
"Iya pak, selamat pagi" Jawab Parlan. sebelumnya iya melirik ke arah Miana. Bingung dengan keadaan majikannya yang tiba-tiba menutup mulutnya.
"Bapak tahu telah berbuat kesalahan. Bapak telah...." Ucapan polisi tersebut terhenti ketika mendengar suara Miana.
"Hooeek.. Hooekkk... Hoekkk" Entah apa yang terjadi pada Miana. Iya tiba-tiba seperti orang mau muntah.
"Mas..." Panggilan Miana kepada Parlan dengan memegang lengan kiri sopirnya membuat fokus polisi tertuju kepadanya. "Pak mohon maaf, perut saya mual terus dan rasanya mau muntah. Jadi saya yang minta untuk berhenti" Miana menggunakan mata sembabnya sebagai alasan.
"Waah, nona sedang hamil ya. Mohon maaf ya. Saya tidak tahu kalau keadaan sedang darurat. Saya merasa kalau mobil ini sedang melanggar rambu lalu lintas. Kalau begitu, silahkan pindah ke tempat yang lebih nyaman tuan, nona" Polisi tersebut merasa kasihan kepada Miana.
"Baik pak, terimakasih atas bantuannya. Saya akan pindah ke tempat yang lebih aman" Kali ini Parlan yang angkat bicara. Dan Parlan pun melajukan mobilnya. Setelah kaca mobil tertutup dan menjauh, Miana tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha... Maaf Parlan. Aku malas berurusan dengan mereka. Jadi aku pura-pura mual saja... Hahaha" Miana tertawa lepas setelah berhasil mengerjai polisi lalu lintas.
__ADS_1
"Ya amppunnn... Saya kira tadi kenapa" Parlan pun ikut tersenyum dengan kelakuan Miana.
"Haloo" Dan di saat itu, mereka berdua mendengar suara dari balik telepon. Ternyata Bagas tidak mematikan panggilannya.