Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Emosi Miana


__ADS_3

"Maaf nyonya, ini adalah anak anda" seorang polisi menunjuk sebuah kantong mayat berwarna kuning. Membuat Miana benar-benar syok dengan apa yang di lihatnya. Iya menutup mulutnya, mundur beberapa langkah. Hingga akhirnya sebuah tangan kekar menopang tubuhnya tang terasa begitu lemah.


"Miana... Miana... Mamaaa" Miana mendengar suara lelaki yang memanggilnya. Bersama dengan suara Dara yang begitu iya kenali. Karena suara itu terus memanggil, Miana pun akhirnya terbangun.


"Mama..." Panggil Dara di sampignya.


"Jelita mana? " Tanya Miana saat iya sudh membuka matanya.


"Jelita belum ketemu ma" Jawab Dara dengan mengusap air mata di pipinya.


"Jadi tadi hanya mimpi? " Ucap Miana.


"Mama tadi mimpi apa? Mama tadi teriak memanggil nama Jelita. Tapi masih tidur" Tanya Dara yang ingjn tahu.


"Mama mimpi buruk. Iya, ini hanya mimpi sayang. Adikmu pasti masih hidup dan berada di sekitar sini. Mama yakin. Ayo kita lanjutkan untuk mencari Jelita kembali" Miana langsung berdiri dari duduk nya. Iya langsung mau berjalan.


"Miana..." Parlang langsung menarik Miana dalam pelukannya.


"Pencarian sudah hampir 12 jam. Mereka semua yang mencari belum menemukan Jelita" Parlan bingung mau menjelaskan seperti apa kepada Miana. Hal ini tentu saja sudah membuat hati Miana hancur se hancur- hancurnya.


"Parlan, aku yakin Jelita masih ada di sekitar sini. Aku yakin Jelita belum pergi jauh dari sini. Jelita pasti akan di temukan" Miana berkata dengan tangisannya.


"Mianaa..." Awan datang terlebih dahulu. Memanggil Miana yang terus menangis dalam pelukan Parlan. Miana tak menjawab, hanya menoleh saja.


"Miana, kenapa bisa seperti ini? " Tanya Awan.


"Ini semua salahku, aku yang mengajak dia ke sini. Hingga akhirnya iya pergi karena melihat papanya menikah dengan Tika" Miana berkata dengan lemah.


"Kita harus pulang terlebih dahulu. Kamu harus memikirkan kesehatanmu dan Dara." Ucap Awan sembari menarik Miana.


"Aku yakin Jelita masih ada di sini. Dia akan selamat" Miana mengulangi kembali kata-kata nya. Membuat semua orang di sana benar-benar tak mampu menahan air mata.


"Miana, kita pulang dulu ya. Kita harus pulang. Kita harus menunggu di rumah. Pencarian tetap harus di lakukan. Tapi kamu tidak bisa terus di sini" Awan mengatakan hal ini agar Miana tetap sehat. Awan yakin jika saat ini Miana benar-benar lemah.


"Iya mah, kita harus pulang dulu. Kita harus istirahat. Ada banyak orang yang mencari Jelita. Mama ngga boleh sakit" Dara menyadarkan sang mama. Iya tahu bagaimana rasanya kehilangan. Dan saat ini, hati Dara benar-benar berada di dalam luka yang menyayat. Akhirnya, setelah Dara yang berbicara, Miana mau di ajak naik.


"Kita pulang ya" Ucap Awan Setelah mereka berada di atas jurang. Di sana sudah di sambut oleh bu Yanti dan Tuan Heri.


"Miana" Panggil tuan Heri. Miana menoleh. Setelah tahu siapa yang memanggilnya iya segera berlari dan menghampiri nya


"Ayah... Miana... Miana menyesal. Tidak seharusnya Miana mengajak anak-anak ke sini" Dalam pelukan sang ayah tiri, Miana berkata aambil menangis.

__ADS_1


"Miana, kita istirahat dulu ya. Kita kembali ke kota" Ucap ayah Heri.


"Tidak! " Miana langsung melepaskan pelukannya dari tuan Heri.


"Miana ngga akan pulang. Miana akan di sini sampai Jelita di temukan. Miana ngga mau ninggalin Jelita sendirian di sini." Miana tak ingin kembali ke kota.


"Miana..." Ucapan Awan langsung terputus ketika Miana berkata.


"Aku tidak mau kembali ke kota tanpa Jelita" Miana masih kekeh. Hingga membuat semuanya terdiam.


"Biarkan saja Awan. Kita cari penginapan di sini terlebih dahulu." Tiba-tiba Parlan berkata.


"Tapi..."


"Apa kamu tidak kasihan melihat Miana seperti ini" Parlan kembali membela Miana.


"Baiklah... Kita cari tempat di sekitar sini" Akhirnya Awan menuruti apa yang di katakan oleh Parlan.


"Carilah rumah di sekitar sini yang layak huni" Ucap Awan kepada seorang assistan nya. Dan langsung di sanggupi.


"Miana..." Di saat suasana hening, Miana dan semua orang yang berada di sana mendengar nama Miana di panggil. Mereka menoleh untuk melihat siapa yang datang.


"Bajingan kamu Prasetyo. Kalau sampai ada apa-apa dengan Jelita, akan aku pastikan hidupmu sengsara" Awan yang melihat Prasetyo datang langsung berdiri dan menarik kerah bajunya. Prasetyo tidak melawan. Hanya diam.


"Baru sadar kamu setelah kejadian seperti ini menimpa anakmu" Awan sangat geram terhadap Prasetyo.


"Ini bukan salah Prasetyo kak. Ini salah Jelita sendiri. Dia tidak terima papa nya menikahi aku" Dengan tidak tahu dirinya, Atika berkata seperti itu. Dan Miana, mendengar apa yang di katakan oleh sang kakak langsung berdiri.


"Berani kamu menyalahkan putriku dengan mulut kotormu itu? " Tangan Miana melayang menampar pipinsebelah kiri Atika dengan sekuat tenaganya. Hingga menimbulkan bekas kemerahan.


"Kalau bukan karena ulah bangsat mu itu, aku tidak akan sampai di sini" Miana benar-benar berkata kasar. Dan tak ada seorang pun yang menghentikannya.


"Ulahku yang bagaimana yang kamu bilang bangsat? Aku dan Prasetyo saling mencintai. Dan kita hanya menyatukan cinta. Apa itu salah? " Atika berkata dengan tidak tahu diri.


"Oh yaa. Cinta? Yang aku tahu, cinta itu juga butuh luka." Sembari menjambak rambut ikal Atika, Miana berkata.


"Apa ini sakit? " Tanya Miana.


"Miana lepaskan. Kenapa kamu menjambakku" Atika terlihat sangat kesakitan. Namun tak ada satu pun orang yang membantu, termausk suaminya sendiri.


"Dari awal aku sudah terluka oleh cinta. Dan kali ini, aku tidak terluka karena lelaki brengsek menikahimu. Tapi aku menangis karena anakku harus hilang karena menghadiri pernikahan kalian. Ini untuk luka ku." Miana semakin keras menarik rambut Atika hingga wanita yang menjadi kakaknya itu kesakitan.

__ADS_1


'Bug bug bug' Miana menendang dengan keras lengan Atika yang saat ini sudah terbaring di tanah karena iya mendorongnya dengan kuat setelah menjambaknya.


"Dan ini, untuk semua luka yang di derita oleh putriku karen terjatuh ke jurang. Kalau sampai putriku mati karena terjatuh, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup karena sudah menjadi penyebab dari semua masalah ini" Miana tak malu untuk mengekspresikan rasa sakitnya.


"Hapus rekaman kalian kalau kalian tidak ingin menyesal" Teriak Miana setelah menjauh dari atika. Karena iya melampiaskan amarahnya di depan umum. Sehingga ada beberapa orang lain yang merekam kejadian tersebut. Anak buah Awan dan Bagas tidak tinggal diam, mereka mendekati orang-orang yang merekam semua kejadian itu.


"Jangan mengeluh sakit di depanku. Aku sudah banyak merasakan sakit karena cinta. Kalau hanya luka yang kamu rasakan saat ini, itu hanya setitik luka yang di goreskan Prasetyo kepadaku." Ucap Miana sebelum meninggalkan Atika. Setelah Miana menjauh, Prasetyo mendekat untuk menolong istrinya. Namun lagi-lagi Miana membuat Prasetyo terjatuh dengan mengarahkan kakinya ketika Prasetyo berjalan dengan cepat.


"Dan ini, untuk kamu yang sudah menyayatkan luka di hati anak-anak ku" Miana meninju pipi kanan dan kiri Praseto dengan kekuatan supernya.


"Jangan pernah mengaduh sakit di depanku. Kalau pada kenyataannya, luka yang kamu sayatkan tidak ada apa-apanya dengan ini" Miana merasa sangat geram kepada mantan suaminya.


"Jangan egois hanya untuk menuruti nafs kalian. Kalau sampai ada apa-apa kepada Jelita, kalian orang pertama yang akan aku hancurkan" Miana mengancam. Selebihnya, iya masuk ke dalam mobil. Setelah duduk, Dara mengikuti duduk di sampingnya.


"Kita tidak jadi menginap di sini. Lakukan terus pencarian Jelita sampai ketemu. Aku akan menunggu kabar dom rumah saja" Ucap Miana sembari menutup jendela mobilnya kembali. Parlan lalu melajukan mobil yang di tumpanginya.


Di belahan bumi lain, Seorang wanita paruh baya berusia sekitar 45 an sedang berbaring di samping gadia kecil, yang tak lain adalah Jelita yang belum sadarkan diri.


"Bangunlah lah nak. Nenek yakin kamu masih hidup. Nenek sudah membalut semua lukamu." Wanita itu berkata di samping Jelita. Hingga membuat Jelita merasa terusik. Tak lama kemudian iya tersadar.


"Alhamdulillah... Akhirnya kamu sadar juga cah ayu" Ucap Wanita itu terdengar begitu girang saat melihat Jelita membuka matanya.


"Aku di mana? " Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, Jelita bertanya kepada orang asing di depannya.


"Minumlah nak. Kamu baru sadar" Ucap wanita tua itu.


"Nenek siapa? " Tanya Jelita.


"Nanti mbok kasih tahu. Yang penting sekarang kamu sudah sadar" Wanita itu berkata dengan nada bahagia.


"Aduh... Kaki ku sakit" Jelita mengaduh keaakitan ketika akan bangun dari tidurnya.


"Kaki mu patah nak. Tapi mbok sudah mengobati sekaligus memperbannya. Kalau tidak terlalu serius, pasti akan cepat sembuh" Ucap wanita itu.


"Mbok siapa? " Tanya Jelita.


"Ini namanya mbok Darmi. Kamu bisa memanggil mbok saja. Kalau kamu namanya siapa? " Tanya Mbok Darmi.


"Aku jelita. Aku boleh pulang? " Tanya Jelita.


"Sembyhkan dulu luka mu. Nanti kalau sudah sembuh, mbok akan mengantarkanmu pulang." Ucap mbok Darmi penuh perhatian.

__ADS_1


"Tapi mbok, mama ku pasti mencari" Jelita tidak langsung menurut saja.


"Sembuh dulu ya cah ayu. Nanti kalau audah sembuh, mbok antarkan kamu pulang." Mbok Darmi berkata dengan pelan. Dan akhirnya Jelita harus menerima nasib, harus bertahan hidup di tempat ini dengan orang asing. Yang di mana nya tempat yangbsaat ini iya berada, Jelita pun tak tahu.


__ADS_2